
Setelah Galang pergi dari rumah sakit itu. Rio berjalan menuju ruangan tempat Jenny dirawat.
Setelah beberapa hari menghindar dari Biani, hari ini dia akan menemui kekasihnya untuk membicarakan hubungan mereka yang sempat terhenti.
Perlahan Rio membuka pintu ruangan tempat Jenny dirawat!
"Selamat malam," ucap Rio.
Jenny dan Biani menoleh ke arah suara! "Rio," ucap Biani.
Rio berjalan menghampiri, Biani yang sedang duduk di samping Jenny!
"Ada yang mau aku bicarakan sama kamu, Bi."
"Tenang apa?"
"Tentang aku dan kamu tentang kita."
Biani terdiam di tempat duduknya.
"Pergi saja, Nak. Bicarakan apa yang seharusnya kalian bicarakan," ucap Jenny.
"Tante, aku pinjam Biani sebentar ya," ucap Rio pada Jenny.
"Silahkan, asalkan jangan lama-lama."
"Mama. Mama pikir aku ini apa? Kok dipinjamkan segala," ucap Biani.
"Tadi kan Rio izinnya minjam."
Rio terkekeh dalam senyuman yang terukir di bibirnya.
"Kan nanti aku balikin kamu ke mana kamu. Kalau aku mau bawa kamu ke KUA baru aku izinnya minta, karena gak akan pernah aku kembalikan lagi ke mama kamu," ucap Rio.
Biani tertawa kecil. "Kamu bisa saja."
"Ma aku izin keluar sebentar ya," ucap Biani pada Jenny.
"Iya, hati-hati ya sayang."
Rio dan Biani pun pergi meninggalkan Jenny sendirian di ruang rapatnya!
Mereka berjalan menuju taman kecil yang dimiliki oleh rumah sakit itu!
"Mau bicara apa?" tanya Biani.
"Duduklah dulu," ucap Rio sembari menghempaskan bokongnya ke kursi taman.
Biani duduk di samping Rio.
"Apa?" ucap Biani lagi.
"Kamu tidak rindu kah padaku?"
"Kenapa bertanya seperti itu?" Biani bertanya balik.
"Sudah beberapa hari aku tidak menemui dirimu tapi kamu tidak ada menelpon atau mengirim pesan padaku untuk menanyakan kabar ku atau sekedar ingin mengobrol denganku."
"Jika seseorang pergi tanpa kabar, untuk apa aku mencari tahu tentangnya. Aku sudah cukup tahu diri siapa lah aku ini."
"Kamu bicara apa, Bi?" ucap Rio pura-pura tidak mengerti dengan perkataan Biani.
"Aku tahu beberapa hari lalu kamu menghindari aku untuk mengenang diri dan menjernihkan pikiran. Aku sengaja tidak menelpon atau pun mengirim pesan padamu karena aku tahu kamu butuh waktu untuk sendiri."
"Biani, aku cinta sama kamu. Jujur aku sangat mencintai dirimu ...."
"Lalu?"
"Aku tidak yakin orang tuaku bisa menerima kamu dengan masa lalu yang kamu miliki dan lagi sekarang, Kakakmu sedang dipenjara. Hal itu akan semakin mempersulit kita untuk bersatu."
"Pergi saja Rio. Pergi, cari gadis yang lain yang direstui oleh orang tuamu. Aku tidak akan berusaha mengejar mu karena aku tahu aku tidak akan bisa mengejar mu, aku ikhlas."
"Aku sangat mencintai dirimu Bi."
"Aku juga sangat mencintai dirimu tapi kita tidak akan bisa bersama kan? Lebih baik kita jalani hidup kita masing-masing, aku bahagia kalau kamu juga bahagia."
"Kita tidak akan bahagia jika kita tidak bersama."
"Rio, semua orang pasti menemukan kebahagiaannya masing-masing."
"Biani, tolong jangan pergi. Kita jalani saja dulu hubungan kita ini. Aku akan bicara pelan-pelan pada kedua orang tuaku."
__ADS_1
"Baiklah, Rio tapi aku tidak memaksa untuk direstui oleh orang tuamu. Kalau memang mereka tidak mengizinkan kamu hidup bersamaku maka carilah gadis yang lain yang kamu cinta yang pastinya direstui oleh kedua orang tuamu."
"Bi aku harap kamu bisa bertahun-tahun denganku dalam setiap cobaan yang datang dalam hubungan kita ini. Aku tidak ingin bermain-main lagi, aku ingin menjadikan kamu wanita terakhir dalam hidupku."
"Rio, aku pasti bertahan. Justru aku yang harusnya meminta kamu untuk mempertahankan aku karena aku tahu kalau orang tuamu tahu tentang diriku, mereka akan memisahkan kita."
"Aku pasti mempertahankan dirimu karena aku tahu dan aku yakin sebenarnya kamu dan juga keluargamu adalah orang baik-baik.
"Terimakasih."
"Bi, maaf ya aku sempat menghentikan hubungan kita yang usianya baru beberapa hari ini."
Biani tersenyum tipis. "Aku tahu kamu pasti butuh waktu untuk berpikir, karena itu lah aku sengaja tidak mengubungi dirimu."
...****************...
Shila berdeham saat melihat Elvan yang sedang memeluk Kayla dari belakang.
"Belum halal ya," ucap Shila.
Elvan dan Kayla terperanjat saat mendengar suara Shila.
Elvan segera melepaskan pelukannya!
"M_mama. Aku mau mencoba pakaian ku juga," ucap Elvan.
"Tunggu lah beberapa hari lagi, setelah itu kalian bebas melakukan apapun yang kalian mau," ucap Shila.
Kayla hanya berdiri mematung, rasa malu yang sangat besar pada calon ibu mertuanya membuatnya kesulitan berucap.
Elvan menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan senyuman aneh di bibirnya.
Shila tersenyum melihat raut wajah putranya dan calon menantunya kala itu. Didalam hatinya ia tertawa lepas, menurutnya anak dan calon menantunya itu sangat lucu.
"Mama mau ke toilet dulu," ucap Shila yang tidak kuasa menahan tawanya.
Shila melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan khusus untuk mencoba pakaian itu!
"Kamu, sih," ucap Kayla.
"Kok kamu nyalahin aku?" sahut Elvan.
"Kan kamu yang meluk aku."
Kayla mengulum bibirnya saat mendengar perkataan Elvan, dirinya memang merasa nyaman saat Elvan sedang memeluknya.
...****************...
Di kediaman keluarga Widjaja.
Galang sedang duduk di kursi yang terdapat di balkon lantai dua rumahnya. Dia nampak sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya bahagia.
Galang terdiam, matanya menatap kearah depan namun dengan tatapan kosong. Dia senyum-senyum sendiri seperti orang yang baru menemukan kebahagiaan.
"Hayo lagi mikirin apa?" ucap Athalya.
Galang melihat siapa yang mengganggu lamunannya.
"Eh, Mama," ucap Galang.
Athalya duduk di kursi yang terdapat di samping putra keduanya itu.
"Dari tadi, Mama perhatian kamu senyum-senyum sediri kayak orang gila saja," ucap Athalya.
"Ish, Mama masa anaknya dibilang kayak orang gila."
"Habis sikap kamu mencurigakan."
"Ma, aku ketemu sama seorang gadis yang cantik tapi dia jutek dan sedikit galak."
"Iya, terus?"
"Aku suka sama dia."
"Suka boleh tapi jangan berlebihan ingat Kakakmu belum menikah dan lagi kamu masih kuliah jangan mikirin pacaran dulu. Pertama, selesaikan dulu kuliahmu. Kedua, cari kerja dulu atau bikin usaha sendiri seperti yang Kakakmu lakukan. Ketiga, baru kamu nikah."
"Mama mikirnya kejauhan tahu. Aku gak mikirin nikah kok, Mama tahu? Mikirin mata kuliah saja aku sudah mumet apa lagi mikirin nikah."
"Lah itu tadi kamu bilang suka sama gadis itu."
"Mama pikir cari cewek gampang apa? Boro-boro mikirin nikah lah orang aku saja gak kenal sama gadis itu."
__ADS_1
"Kamu ini aneh ya, Lang. Tadi kamu bilang suka sama dia tapi sekarang malah bilang gak kenal sama dia, yang benar yang mana?"
"Dua-duanya benar Ma. Aku ketemu sama dia baru dua kali dan aku belum mengenalnya karena dia susah diajak kenalan."
"Lagi pada ngomongin apa? Dari tadi serius banget anak sama Mamanya, Papa gak diajak?" ucap Widjaja yang baru tiba di tempat itu.
"Papa, sini Pa!" ucap Athalya sembari melambaikan tangannya pada sang suami.
Widjaja berjalan menghampiri istrinya dan juga anaknya! Dia langsung duduk bergabung bersama mereka.
"Ini loh, Pa ternyata anak kita ini sedang jatuh cinta."
"Apa sih, Mama. Nggak kok Pa jangan percaya ucapan Mama," ucap Galang.
Widjaja tersenyum kearah Galang.
"Jatuh cinta boleh-boleh saja, asal jangan keterlaluan saja."
"Nggak kok Pa, aku sedang tidak memikirkan wanita. Saat ini aku sedang memikirkan tugas-tugas kampusku," ucap Galang.
Galang memang tertutup pada Papanya, dia tidak ingin Papanya tahu banyak tentangnya menurutnya Papanya tidak asyik diajak curhat. Dia lebih suka curhat dengan Mamanya karena Mamanya selalu mendukungnya dan mengartikannya.
"Oh gitu, bagus lah. Kamu fokus kuliah dulu baru mikirin cewek, kalau pacaran bisa membuatmu semakin semangat, boleh-boleh saja kamu pacaran tapi ingat jangan sampai keterlaluan," ucap Widjaja.
"Iya, Pa," ucap Galang dengan senyum tipis di bibirnya.
Saat mereka sedang asyik berbincang, Rio datang ke tempat itu.
Rio baru pulang dari rumah sakit tempat dirinya bekerja.
Sebelumnya dia mencari-cari anggota keluarganya yang tidak terlihat di lantai utama rumahnya namun saat dirinya akan masuk kedalam kamarnya, ia melihat orang tuanya dan adik satu-satunya sedang berkumpul sambil berbincang di balkon rumahnya.
"Ternyata pada di sini, pantas di bawah sepi," ucap Rio.
"Kamu udah pulang, Nak?" ucap Athalya.
"Iya, Ma. Aku langsung ke kamar deh, maaf gak bisa gabung sama kalian," ucap Rio.
"Iya, sayang. Istirahat saja dulu," ucap Athalya.
"Rio setelah kamu istirahat, Papa mau bicara," ucap Widjaja.
"Iya, Pa. Aku mandi dulu ya!" Rio langsung berlalu dari tempat itu lalu memasuki kamarnya yang berada tak jauh dari tempat itu.
"Kakak pasti capek," ucap Galang.
"Kerja ya, capek mana ada kerja yang tidak capek," ucap Widjaja.
"Kalau aku jadi pemimpin negara kita, aku akan menciptakan pekerjaan yang tidak capek," celetuk Galang.
Widjaja tertawa kecil. "Kerjaan apa yang gak capek?"
"Misalnya apa ya?" Galang berpikir sesuatu.
"Ah sudahlah, aku batal menjadi pemimpin negara, cukup jadi pemimpin keluarga yang baik dan berhasil saja seperti Papa," sambung Galang.
Mereka semua tertawa lepas mendengar perkataan Galang.
...****************...
"Leon aku ngantuk," ucap Shania.
"Ngantuk ya, tidur sayang," ucap Leon.
"Aku gak bisa tidur kalau gak dipeluk sama kamu."
Leon yang sedang duduk di sofa segera beranjak dari duduknya lalu mulai berjalan menghampiri Shania yang sudah terbaring di tempat tidurnya!
Leon berbaring di sebelah Shania dengan posisi miring menghadap Shania.
"Sini Papa peluk, sayang," ucap Leon sembari mengusap perut Shania.
Shania menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Leon dan tidak menyisakan jarak sedikitpun diantar mereka.
Leon membawa Shania kedalam pelukannya lalu mencium kening sang istri.
"Tidurlah, istirahatlah dengan nyaman," ucap Leon.
Shania menyusupkan wajahnya ke dada bidang sang suami, dia selalu menemukan kenyamanan di sana.
Perlahan Shania memejamkan matanya dan mulai pergi ke alam mimpi.
__ADS_1
Bersambung