Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Bab 47


__ADS_3

Uek!


Uek!


Shania segera berjalan memasuki kamar mandi karena akan memuntahkan isi perutnya.


"Shania, kamu kenapa?"


Leon berjalan cepat menghampiri Shania!


"Perutku mual," ucap Shania dengan nada lirih.


Leon mengelus punggung Shania dengan sangat lembut.


Shania menyandarkan kepalanya di bahu Leon!


"Leon, tubuhku terasa lemas," ucap Shania.


Tanpa berkata, Leon memangku tubuh Shania lalu membawanya ke tempat tidur!


Leon membaringkan tubuh Shania di tempat tidur!


"Aku ambil air minum dulu ya," ucap Leon sembari mengelus pucuk kepala Shania.


Shania mengangguk sembari memegangi perutnya.


Leon pergi untuk mengambil air minum hangat untuk Shania!


Uuek!


Shania terus merasakan mual pada perutnya.


"Astaga, sepertinya aku masuk angin," gumam Shania.


Leon datang dengan membawa segelas air di tangannya.


Leon berjalan menghampiri Shania lalu memberi Shania minum!


"Kamu baik-baik saja?" tanya Leon.


Shania hanya diam. "Dasar gak peka, udah tahu aku sakit. Masih nanya aku baik-baik saja," gerutu Shania didalam hatinya.


Tiba-tiba kepala Shania terasa pusing dan sakit.


"Aaah," lirih Shania sembari memegangi kepalanya.


Leon panik karena melihat Shania kesakitan.


"S_Shania, kamu kenapa?" ucap Leon.


"Leon, kepalaku sakit."


Leon merasa serba salah, ia tidak tahu apa yang harus dia lakukan.


"Kita ke rumah sakit, ya."


"Gak mau, aku takut dirawat."


"Terus aku harus apa? Aku takut kamu kenapa-kenapa."


"Palingan cuma masuk angin, nanti juga sembuh sendiri."


Leon berbaring di samping Shania lalu memiringkan tubuhnya dengan posisi menghadap Shania!


"Masih pusing?"


"Sedikit."


Leon mengelus pucuk kepala Shania dengan penuh cinta! Laki-laki yang awalnya sangat tidak menyukai Shania, kini berubah menjadi sangat mencintai Shania.


Semenjak Leon mengambil hak nya dari Shania, Leon tidak lagi menyembunyikan rasa cintanya kepada Shania, begitu juga dengan Shania yang dari awal sudah berniat menerima Leon dalam hidupnya, kini tidak lagi menyimpan dendam kepada laki-laki yang sempat membuatnya menjadi wanita pendendam.


Shania dan Leon sudah berhubungan baik layaknya seperti pasangan suami istri pada umumnya.


Leon terus mengusap pucuk kepala Shania hingga wanita itu tertidur.


...****************...


"Aku harus mendapatkan Leon kembali. Bagaimana pun caranya, Leon milikku tidak ada yang boleh memiliki Leon selain aku. Kalau pun aku tidak bisa memiliki Leon makan Shania juga tidak boleh memiliki Leon," gumam Biani.


Biani berbaring dengan posisi terlentang, matanya tertutup memikirkan bagaimana cara untuk mendapatkan hati Leon kembali.


Saat sedang memutar otaknya tiba-tiba bayangan Rio melintas di pikirannya.


Biani membuka matanya lalu merefresh pikirannya.


"Kenapa jadi ingat Rio?"


"Ingat Biani, Rio hanyalah orang yang kebetulan lewat lalu menolong dirimu," gumam Biani.


Biani berjalan keluar dari kamarnya! Ia berjalan menuju halaman rumahnya untuk sekedar mencari angin segar.

__ADS_1


"Bi, Mama mau bicara," ucap Jenny yang melihat Biani sedang berjalan menuju pintu utama.


"Bicara apa?" sahut Biani tanpa menatap Jenny.


Jenny berjalan mendekati Biani lalu meraih tangan sang putri!


"Mama mau minta maaf."


"Maaf? Maaf untuk apa?"


"Karena Mama, kamu jadi kehilangan Leon."


Biani menarik tangannya yang sedang digenggaman oleh Mamanya!


"Jangan bahas itu lagi. Aku jadi semakin benci sama Mama kalau mengingat masa lalu Mama yang penuh dengan kejahatan. Aku gak tahu kenapa Mama mengajarkan aku untuk menjadi orang yang baik sementara Mama sendiri tidak pernah berbuat baik."


Jenny mulai meneteskan air matanya, rasanya ada pisau tajam yang menusuk hatinya saat mendengar perkataan Biani.


"Biani! Jaga bicaramu!" ucap Jacky yang baru tiba di rumahnya.


"Memang itu kenyataannya Kak. Mama selalu mengajarkan kita yang baik-baik padahal dia sendiri bukanlah orang baik."


Biani berucap dengan nada tinggi.


Plak!


Jacky menampar pipi Biani dengan sangat keras hingga Biani terhuyung ke belakang.


Biani memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan Kakaknya dengan air mata yang mulai mengalir membasahi pipinya.


Jacky menatap Biani lalu menatap tangannya yang baru saja menampar pipi mulus adiknya.


"Biani," ucap Jacky dengan nada rendah.


Ini pertama kalinya Jacky menampar adik yang sangat ia sayangi. Karena tak terima adiknya itu berkata kasar kepada Mamanya tak terasa Jacky menampar Biani, kemarahan yang begitu besar membuat Jacky lupa akan pesan Papanya dahulu sebelum meninggalkan keluarganya.


"Kakak jahat."


Biani berlari memasuki kamarnya!


"Biani! Biani! Kakak tidak sengaja!"


Jacky ingin mengejar Biani namun ia tidak bisa meninggalkan Mamanya yang terlihat syok melihat perbuatannya kepada adiknya.


"Mama ... aku."


"Mama tidak percaya kamu bisa sekasar itu sama adikmu."


"Perkataan Biani memang benar, Nak. Mama memang bukan orang baik tapi Mama ingin anak-anak Mama menjadi orang baik agar tidak bernasib sama dengan Mama dan Papa kalian."


Jenny menangis deras hingga bahunya terguncang-guncang.


"Mama tidak salah, di mataku Mama tidak pernah salah, Mama yang terbaik untuk aku dan Biani."


Jacky memeluk Mamanya lalu membawa Mamanya duduk di kursi ruang keluarga. Jacky meneteskan air matanya karena tidak tega melihat kesedihan yang Mamanya rasakan.


"Mama, jangan menangis. Aku gak bisa melihat Mama menangis," ucap Jacky sembari mengusap air mata Jenny dengan kedua ibu jarinya.


Jenny menggenggam tangan putranya dengan sangat erat.


"Mama gak nangis, Mama gak akan nangis lagi. Terimakasih, kamu selalu ada untuk Mama."


"Aku sayang sama Mama karena hanya Mama satu-satunya orang tua yang aku punya."


"Kamu memang baik, Nak."


"Maafkan aku, Ma. Aku bukanlah anak yang baik, bahkan aku melakukan kejahatan sampai berkali-kali," ucap Jacky didalam hatinya.


Di kamar Biani.


Biani menangis tersedu, ia tak percaya Kakak yang selama ini menyayanginya berani menampar pipinya sampai meninggalkan bekas di pipinya.


"Apa aku salah, berkata yang sebenarnya? Kenapa Kak Jacky tega menampar ku," gumam Biani.


Tok!


Tok!


Tok!


"Biani!"


Jacky mengetuk pintu kamar Biani sembari berteriak memanggil adiknya itu.


Biani tak menghiraukan Kakaknya yang terus mengetuk pintu kamarnya sambil terus memanggil namanya.


...****************...


Shania sudah terlelap, tapi Leon belum juga tertidur, ia khawatir kepada Shania yang tiba-tiba sakit.


Leon terus menatap Shania yang sudah tertidur pulas.

__ADS_1


"Tadi kamu gak kemana-mana tapi kenapa tiba-tiba bisa masuk angin," gumam Leon.


Leon belum juga tertidur padahal malam semakin larut bahkan sebentar lagi memasuki dini hari.


Shania memeluk Leon dengan wajah yang menyusup ke leher Leon!


Leon memetakan tangannya di atas pinggang Shania, sesekali ia mengusap-usap punggung Shania.


Setelah beberapa menit, perlahan Leon ikut tertidur menyusul Shania ke alam mimpi.


...****************...


Kayla sedang menjalankan misinya yang sempat ia tinggalkan karena harus mengurus Irwan.


Kayla akan menyelesaikan misinya yang ia terima dari salah satu pengusaha ternama di kotanya.


"Semua bukti sudah terkumpul," ucap rekannya Kayla.


"Baguslah. Besok kita mulai penangkapan pada orang-orang yang sudah kita cekal datanya," ucap Kayla.


"Siap. Aku akan menyiapkan pasukan terbaik yang kita punya."


Kayla menganggukkan kepalanya lalu memeriksa identitas orang-orang yang masuk dalam data pencariannya.


"Bagaimana dengan laki-laki yang sudah kamu sekap?" tanya rekannya Kayla.


"Kita lepaskan dia."


"Apa! Lepaskan?"


"Lepaskan, bukan berarti aku melepaskan dia seutuhnya. Aku butuh informasi lagi dari Irwan karena dia tidak juga membuka suaranya."


"Maksudnya?"


"Setelah dia terlepas dari sini, dia pasti menemui orang-orang terdekatnya dan pada saat itulah aku akan mulai mencari tahu apa sebenarnya yang Irwan sembunyikan."


"Apa tidak terlalu bahaya? Bisa saja dia melarikan diri ke tempat yang jauh atau bisa juga karena terlalu takut dia menghabisi nyawanya sendiri."


"Aku akan terus mengawasinya."


"Baiklah, aku percaya sama kamu karena memang kamu tidak pernah gagal dalam semua misi."


...****************...


Uuek!


Shania merasa mual lagi.


Leon terbangun dari tidurnya, ia langsung berlari menghampiri Shania ke kamar mandi!


"Shania, kamu mual lagi?"


"Leon, aku gak tahu apa yang terjadi padaku. Perutku mual lagi dan tubuhku lemas banget."


"Sekarang sudah mau subuh, aku telpon dokter ya."


"Nanti kalau aku suruh dirawat gimana? Aku gak mau dirawat."


Leon tak berucap lagi, ia membantu Shania berjalan menuju tempat tidur!


"Kamu gak akan dirawat kok."


"Telpon temanku saja," ucap Shania.


"Dia seorang dokter?"


Shania menatap Leon. "Iya lah dia dokter masa tukang pijat."


Leon tersenyum, disaat sedang sakit pun Shania masih bisa bercanda.


Leon meraih ponsel Shania yang terletak di atas meja! Lalu menggerakkan jarinya mencari nomor ponsel sang dokter.


"Siapa nama dokter itu?"


"Rio," sahut Shania.


"Dia laki-laki?"


"Iya, dia yang pernah kamu pukul di rumah ini."


"Nggak-nggak, aku gak mau dia."


Ueek!


Shania mual lagi.


"Ya udah deh, aku telpon dia," ucap Leon.


Leon segera menelpon nomor ponsel yang diberi nama Rio oleh istrinya itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2