
Dua jam sudah Liana setia menunggu sang suami hingga akhirnya tangan Rendy bergerak lalu menggenggam tangan Liana.
"Liana," gimana Rendy.
"Mas, aku disini," ucap Liana dengan nada rendah.
Liana mengangkat tangan Rendy yang tengah menggenggam tangannya erat lalu mencium tangan sang suami.
Rendy membuka matanya perlahan memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi.
Setelah membuka matanya terlihat Liana sedang duduk disampingnya.
Liana mengusap air matanya lalu tersenyum kepada sang suami.
"Liana," lirih Rendy.
Rendy meraih pipi Liana lalu mengusap air mata yang masih membasahi pipi sang istri.
"Ya, mas. Aku disini," ucap Liana sembari menggenggam tangan Rendy yang berusaha menghapus air matanya.
Rendy meneteskan air mata menyesali perbuatannya ternyata ia sangat tersiksa tanpa Liana disisinya.
"Maafkan aku," lirih Rendy.
"Jangan bicarakan itu sekarang," ucapan Liana.
Rendy terus menggenggam tangan Liana dengan erat sedetikpun ia tak pernah melepaskan tangan sang istri dari genggamannya.
"Cepat sembuh ya, mas. Aku disini untukmu," ucap Liana lirih.
Di kantor.
Setiap hari Jenny bolak-balik ke kantor Rendy untuk menemui Rendy, namun ia tak pernah bertemu dengan Rendy karena memang Rendy sedang sakit dan dirawat di rumah sakit.
Setiap hari juga Jenny menelpon Rendy sampai berkali-kali bahkan puluhan kali tapi Rendy tak pernah menerima telepon darinya.
Saat ini Jenny sedang berada di kantor Rendy tak ada bosannya wanita itu terus datang ke kantor meski tak bertemu dengan kekasihnya.
"Pak, Rendy ada gak?" tanya Jenny kepada security.
"Tidak ada, Non mungkin beliau tidak masuk kantor lagi," sahut security itu.
"Ken ada?" tanya Jenny lagi.
"Beliau juga tidak ada," sahut bapak security.
"Kalau gitu saya mau ke ruangan Rendy sebentar!" ucap Jenny sembari melangkahkan kakinya memasuki area kantor.
"Maaf, Non. Pak Kendra melarang siapapun masuk kedalam ruangan Pak Rendy," ucap security itu.
"Bapak tahu kan siapa saya?" ucap Jenny.
"Pak Ken melarang siapapun masuk kedalam ruangan Pak Rendy termasuk anda," jelas security itu.
__ADS_1
Jenny mendengus kesal. Bisa-bisanya ia disamakan dengan orang asing di kantor kekasihnya sendiri.
Jenny mengepalkan tangannya lalu pergi dari kantor Rendy!
"Awas lo Ken. Lo akan menyesal karena sudah mempermalukan gue didepan semua karyawan," ucap Jenny didalam hatinya.
Jenny berkendara dengan emosi yang terpendam. Setelah menyusuri jalan hampir setengah jam akhirnya Jenny tiba ditempat tujuannya.
Jenny mengedarkan pandangannya mencari dimana keberadaan kekasih hatinya. Tepat dibawah pohon besar ia melihat Bram sedang duduk mungkin sedang menunggunya.
"Sayang!" ucap Jenny kepada kekasihnya.
"Hai. Lama banget, kamu?" ucap Bram.
"Si bodoh itu tidak ada di kantor. Sudah seminggu aku bolak-balik kesana tapi Rendy selalu gak ada," ucap Jenny kesal.
"Kamu gak coba tanya sama karyawan disana?" ucap Bram sembari memeluk Jenny dari belakang.
"Udah, tapi mereka gak tahu. Malah hari ini Ken juga gak ada," ucap Jenny dengan gaya manjanya.
"Itu kesempatan bagus, sayang. Kamu bisa ambil lagi uang Rendy yang ada di brankasnya," seru Bram penuh semangat.
"Si anak pungut itu tidak membolehkan siapapun masuk ke ruangan Rendy termasuk aku," jelas Jenny.
"Kurangajar si Ken itu. Rupanya dia ingin bermain dengan kita, sayang," ucap Bram.
"Iya. Pokoknya kamu harus bikin si Ken itu ma*p*s biar gak jadi penghalang rencana kita," ucap Jenny.
"Kamu tenang, sayang. Ken biar jadi urusan aku, kamu urus aja si bodoh Rendy itu bikin dia pisah sama istrinya dan kamu kuasai hartanya," ucap Bram dengan senyum licik.
Bram tertawa bahagia. "Kamu pintar, sayang," ucapnya.
Jenny dan Bram tertawa bahagia melihat kehancuran Rendy yang kini berada didepan mata.
Dua hari berlalu, kini kondisi Rendy sudah membaik namun belum mendapat izin pulang dari dokter.
Pagi ini di ruangan tempat Rendy dirawat Liana sedang memberi suaminya sarapan.
"Mas, sarapan dulu, habis sarapan kamu minum obat," ucap Liana.
Rendy menuruti perkataan Liana tanpa protes.
"Gimana keadaan lo?" ucap Ken yang baru tiba di ruang rawat Rendy.
"Seperti yang lo lihat. Lo gak ke kantor?" ucap Rendy.
"Gue kesini dulu liat keadaan lo, habis dari sini baru ke kantor," jelas Ken.
"Oh," sahut Rendy singkat.
"Li, kamu udah sarapan?" ucap Ken.
"Belum," sahut Liana.
__ADS_1
"Gue gak ditanyain?" ucap Rendy.
"Gue tahu lo baru abis sarapan. Ngapain gue nanya lo," ucap Ken.
"Mau sarapan apa? biar aku belikan atau kalau kamu mau sarapan diluar, boleh. Biar aku yang jagain Rendy," ucap Ken.
"Nggak, aku sarapannya nanti aja. Mama mau kesini sekalian bawa makanan buat aku," ucap Liana.
"Mama mau kesini, sepagi ini?" ucap Ken.
"Iya," ucap Liana singkat.
"Yaudah kalau gitu aku ke kantor dulu ya, udah siang nih," ucap Ken.
"Lo cepat sembuh. Kerjaan lo banyak," ucap Ken kepada Rendy.
"Maaf," sahut Rendy singkat.
"Minta maaf mulu, kapan lo maafin orang?" ucap Ken sembari berjalan meninggalkan ruangan tempat Rendy dirawat.
Rendy terdiam mendengar ucapan Ken.
"Jangan dipikirkan, mungkin Ken hanya bercanda," ucap Liana sembari yang sibuk menyiapkan obat Rendy.
"Aku ... ." (Rendy)
"Assalamu'alaikum," ucap Elma yang baru tiba di ruangan Rendy dirawat.
Liana dan Rendy menolih ke arah suara! "Waalaikumsalam," ucap Liana dan Rendy bersamaan.
"Sayang, kenapa gak kasih tahu, Mama kalau Rendy sakit," ucap Elma kepada Liana.
Elma memang tak tahu kalau Rendy sakit, asisten rumah tangga di rumah Rendy tak berani memberitahu Elma karena Rendy dan Ken melarangnya memberitahukan kalau Rendy sedang sakit.
"Kapan kamu pulang, Nak?" tanya Elma kepada Liana.
Setahu Elma, Liana pergi untuk merawat kakeknya yang sedang sakit.
"Dua hari lalu, Ma," sahut Liana.
"Gimana keadaan kakekmu?" tanya Elma lagi.
"Sudah baikan, sekarang sudah pulang dari rumah sakit," ucap Liana berbohong karena sebenarnya kakeknya tidak sakit, ia pergi karena ada masalah dengan suaminya.
"Syukurlah," ucap Elma.
"Rendy, kenapa sampai seperti ini?" ucap Elma kepada Rendy.
"Aku sering telat makan karena gak ada Liana yang ngingetin aku untuk makan," sahut Rendy.
"Dasar anak nakal. Kamu sudah dewasa jangan seperti anak kecil terus," ucap Elma kesal.
"Kamu tahu kamu punya masalah dengan lambung. Mulai sekarang kamu gak boleh bergantung sama Liana terus dia istrimu bukan babysitter yang setiap waktu makan akan menyuapimu," ucap Elma lagi.
__ADS_1
"Bukan itu yang terjadi, Mam. Maafkan aku karena sudah membohongi, Mama," ucap Rendy didalam hatinya.
Bersambung