
Sudah satu minggu Ken belum juga sadar dari koma, hari ini Liana yang menemani Ken di ruang rawatnya karena Rendy harus ke kantor untuk mengurus perusahaannya.
Di rumah sakit.
Liana duduk disamping Ken yang tengah terbaring di hospital bed. Liana menatap Ken sendu, hatinya merasa sakit melihat Ken belum juga sembuh seperti sedia kala.
"Ken, kamu bangun dong aku gak ada tempat untuk curhat, kamu tahu gak kemarin ada yang mencoba untuk melukai mamamu. Ken aku mohon bangunlah ada banyak kisah yang akan aku ceritakan padamu." Liana terus berbicara kepada Ken meski ia tahu Ken tidak akan menjawab semua perkataannya.
Liana mulai menangis, ia menggenggam tangan Ken lembut lalu mengusap-ngusap tangan Ken!
"Ken kamu merasakan sentuhan tanganku kan? aku disini menunggumu, aku butuh kamu, aku ingin marah padamu karena kamu sudah memaksa aku untuk menikah dengan kakakmu itu, aku ingin memukulmu, aku ingin mencubitmu," ucap Liana dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.
Liana terus berucap berharap ada respon dari adik ipar sekaligus sahabatnya itu.
Setelah satu jam Liana duduk disamping Ken, ia mulai lelah karena Ken tidak merespon semua perkataannya. Liana menghapus air matanya lalu meraih ponselnya yang tergeletak di meja!
Liana menelpon Rendy untuk meminta izin kalau ia akan keluar sebentar, namun setelah beberapa kali menelpon Rendy, Rendy tak juga menerima telepon dari Liana.
"Mungkin dia sedang sibuk," gumam Liana.
Liana berjalan mendekati Ken! "Ken aku pergi dulu ya," ucap Liana kepada Ken meski ia tahu kalau Ken tidak akan menjawab ucapannya.
Liana melangkah keluar ruangan!
"Shil, kamu temani Ken dulu ya aku ada urusan sebentar," ucap Liana kepada Shila.
"Baik," sahut Shila singkat.
"Sam dan yang lainnya tetap berjaga," ucap Liana kepada Sam bodyguard lainnya.
"Lalu, anda pergi dengan siapa?" ucap Sam.
"Sendiri," sahut Liana.
"Tidak boleh. Pak Rendy melarang anda pergi sendiri kalau mau bawa dua atau tiga bodyguard untuk menemani perjalanan anda," ucap Sam.
"Saya pergi gak jauh kok," ucap Liana.
__ADS_1
"Saya tidak mau ambil resiko. Pak Rendy sudah menginstruksikan seperti itu, jadi kami tidak bisa membantah perintahnya dan lagi keselamatan anda juga menjadi prioritas kami," jelas Sam pada Liana.
"Hah yasudah. Siapa yang mau antar aku?" ucap Liana pasrah.
"Saya saja," ucap Sam sigap.
Liana melangkahkan kakinya tanpa menjawab ucapan Sam sedangkan Sam mengekor dibelakang Liana mengikuti kemana arah langkah Liana pergi!
Di ruangan Ken.
Kini Shila yang sedang duduk disamping Ken sembari menatap orang yang selalu memaksanya untuk melakukan sesuatu untuknya.
Shila tersenyum getir. "Anda tahu pak? saya sangat merasa kerepotan saat anda terbaring seperti ini," ucap Shila kepada Ken.
"Oh ya, pak saya rindu saat anda memaksa saya untuk membantu anda 'aku tidak ingin ada penolakan' saya rindu dengan kata-kata itu. Apa anda tidak rindu dengan sikap saya yang selalu membuat anda kesal?" Shila terus berucap mengajak Ken mengobrol karena ia tahu orang yang sedang koma masih bisa mendengar suara disekitarnya.
"Pak cepat bangun, air mata saya udah mau jatuh nih saya gak bisa melihat anda seperti ini kasian Ibu Elma yang terus menangisi dan memikirkan anda," ucap Shila lagi.
Di kantor.
Rendy baru mau keluar dari kantor hendak menemui klien tiba-tiba langkahnya terhenti saat Jenny berdiri didepannya.
"Aku sibuk, bisa kamu gak usah ganggu aku dulu?" ucap Rendy sembari melanjutkan langkahnya.
"Tapi aku kangen sama kamu akhir-akhir ini kamu sulit dihubungi dan sudah beberapa hari aku kesini tapi kamu tidak pernah masuk kantor," ucap Jenny sembari mengekor dibelakang Rendy!
"Jenny, aku lagi pusing tolong kamu jangan bikin aku tambah pusing." Rendy sedikit menaikan nada bicaranya.
"Pusing kenapa? wanita itu yang membuat kamu pusing, kenapa kamu jadi marah sama aku? tinggalkan saja istrimu itu jika dia tidak berguna," Jenny menaikan nada bicaranya tak ingin kalah dengan Rendy.
Rendy menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba.
"Bukan istriku yang membuat aku pusing tapi kamu yang membuat aku pusing kamu terus saja minta ini dan itu kamu selalu menuntutku untuk selalu bersamamu. Kamu tahu gak sekarang Ken lagi koma," ucap Rendy dengan amarah yang mulai memuncak.
"Apa! Ken koma?" ucap Jenny pura-pura tidak tahu.
Jenny dan Bram memang selalu memantau perkembangan keadaan Ken lewat orang yang mereka suruh untuk memberikan informasi tentang Ken dan keluarganya.
__ADS_1
"Ada orang yang sengaja mencelakai Ken," ucap Rendy lirih.
"Yaampun sayang aku baru tahu. Dimana Ken dirawat?" ucap Jenny dengan nada lembut.
"Kamu gak usah kesana," sahut Rendy tanpa memberitahukan alamat rumah sakit tempat Kendra dirawat.
"Sayang, apa salahnya jika aku ingin menjenguk calon adik iparku sendiri," ucap Jenny.
"Kamu mau bikin mamaku jantungan?" sarkas Rendy.
"Memang itu yang aku inginkan, kalau bisa langsung mati aja mamamu itu Rendy," ucap Jenny didalam hatinya.
"Nggak lah, sayang. Yaudah aku gak akan kesana," ucap Jenny.
"Sekarang kamu pergi dari sini dan ingat jangan pernah temui aku di kantor lagi," tegas Rendy.
"Sayang, kamu kok gitu. Sekarang kamu berubah kamu udah gak sayang lagi sama aku," ucap Jenny dengan gaya manjanya.
"Sudahlah Jenny jangan seperti ini terus, kamu jangan pernah hubungi aku kecuali aku yang menghubungimu," ucap Rendy dengan tatapan datar.
"Bagaimana dengan hubungan kita? aku tidak ingin digantung," ucap Jenny.
"Kalau gitu sudahi saja hubungan kita ini," ucap Rendy.
Sebenarnya ia tidak ingin mengatakan hal itu tapi karena Jenny terlalu manja dan selalu memaksanya untuk meminta waktu lebih untuknya akhirnya kata-kata itu keluar dari mulut Rendy tanpa dipikirkan terlebih dahulu.
"Jadi kamu lebih memilih wanita cadangan itu," ucap Jenny dengan air mata kepalsuan yang biasa ia jadikan senjata untuk mencari perhatian Rendy.
"Aku tidak bisa meninggalkan Liana dan kamu harus tahu, dia bukan wanita cadangan tapi dia istriku istri sah aku yang aku nikahi tanpa adanya paksaan," tegas Rendy.
Jenny terus menangis sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Aku mencintaimu tapi inikah balasan cinta tulus yang aku berikan padamu?" ucap Jenny disela tangisnya.
Ucapan Jenny membuat Rendy serba salah, ia masih mencintai Jenny namun disisi lain ia juga sangat mencintai Liana yang sudah ia nikahi hampir satu tahun itu.
"Aku tidak ingin hubungan kita berakhir sampai disini saja. Aku ingin selamanya kita bersama, kalau pun ada yang harus kamu lepaskan, itu istrimu bukan aku," lirih Jenny dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
__ADS_1
Rendy tertegun mendengar ucapan Jenny, ia tak tahu harus bagaimana dua nama wanita yang terukir dihatinya sangat sulit untuk dihapuskan.
Bersambung