
Dua hari sudah Shania di rawat, namun dia belum diperbolehkan pulang orang dokter.
Shania masih menjalani masa pemulihan dan masih dipantau oleh dokter.
Biani masuk kedalam ruang rawat Shania dengan tergesa-gesa! Dia pikir Leon yang dirawat namun ternyata Shania lah yang terluka parah dan harus menjalani perawatan dari dokter.
Shania terbangun dari tidurnya saat mendengar suara pintu tertutup dengan lumayan keras.
"Kamu! Mau ngapain kamu ke sini?" ucap Shania yang sedang terbaring di hospital bad.
"Oh ternyata lo yang dirawat di sini. Dimana pacar gue?"
Shania tidak menjawab pertanyaan Biani, dia hanya diam sambil terus menatap wanita yang ia benci.
"Lo tuh cuma jadi pembawa sial buat Leon. Seharusnya lo mati saat kecelakaan itu terjadi!" ucap Biani sembari menunjuk wajah Shania dengan jari telunjuknya.
"Kamu gak bisa nuduh aku seperti itu."
"Itu kenyataan, Shania. Sebelum Leon kenal sama lo, Leon gak pernah ngalamin hal seperti ini tapi setelah Leon nikah sama lo, udah dua kali dia hampir kehilangan nyawanya."
"Itu murni kecelakaan, bukan karena aku."
"Lo gak pantas sama Leon, hanya gue yang boleh memiliki Leon."
Biani berjalan lebih dekat lagi dengan Shania lalu berusaha menghabisi Shania dengan mencekik leher Shania!
"Biani, apa yang kamu lakukan?"
Shania berusaha melepaskan tangan Biani yang mencekik lehernya! Namun karena kondisinya masih lemah, ia tidak bisa melawan Biani.
Shania terbatuk dan mulai kesulitan bernafas.
"B_biani l_lepaskan aku," ucap Shania terbata.
Nafas Shania tersekat oleh tangan Biani yang mencekiknya semakin kencang.
"Shania!"
Rendy berlari lalu segera melepaskan tangan Biani yang berusaha menghabisi nyawa Shania!
Rendy mendorong Biani hingga Biani terjatuh ke lantai!
Liana segera menghampiri Shania lalu memberi Shania minum agar menantunya itu menjadi sedikit tenang.
"Shania, kamu gak apa-apa, Nak?" ucap Liana.
Shania menggelengkan kepalanya, wajahnya masih memerah akibat dicekik oleh Biani.
Liana memeluk Shania yang syok dengan kejadian yang baru menimpanya.
"Kurang ajar kamu ya, Biani. Rupanya kamu memang seperti orang tuamu yang selalu menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginanmu."
"Cukup, Om!" Biani berucap dengan nada bicara yang lumayan tinggi.
"Jangan pernah Om hina orang tuaku karena aku tidak akan pernah menerima penghinaan itu." Biani mulai meneteskan air matanya.
Liana melepaskan pelukannya lalu berjalan mendekati sang suami!
"Pa, sabar," ucap Liana.
"Papa gak bisa sabar. Anak ini harus tahu dan harus diberi pelajaran agar dia tidak berani lagi mengancam keselamatan Shania dan keluarga kita."
__ADS_1
"Pa, ini rumah sakit. Jangan buat keributan di sini," ucap Liana lagi.
Biani berlari meninggalkan ruangan tempat Shania dirawat dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya!
Di lobby rumah sakit, Biani berpapasan dengan Rania~adiknya Leon.
"Kak Biani," ucap Rania.
Biani menatap Rania sesaat lalu kembali melanjutkan langkahnya!
"Kak Biani, tunggu!" ucap Rania.
Rania berlari mengejar Biani!
"Kakak kenapa menangis?" tanya Rania setelah berhasil mengejar Biani.
Biani tidak menjawab pertanyaan Rania, tidak mungkin ia mengatakan kalau ia ketahuan ingin menghabisi nyawa Shania.
"Kak, katakan Kakak kenapa?"
Rania memang sudah dekat dengan Biani sejak Leon mengenalkan Biani pada keluarganya dan memutuskannya untuk menikah setelah Biani lulus kuliah.
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja," ucap Biani.
"Lalu kenapa Kakak menangis? Kalau ada masalah cerita sama aku."
"Tidak perlu. Bisa kamu biarkan aku pergi? Aku ingin pulang."
Rania terdiam lalu menganggukkan kepalanya.
Rania masuk ke dalam rumah sakit untuk melihat keadaan Kakak iparnya!
"Kamu baik, Rania tapi sayang orang tuamu punya sifat yang kurang baik," ucap Biani didalam hatinya.
Biani mulai melangkah pergi meninggalkan area rumah sakit tersebut.
Di ruangan rawat Shania.
"Shania, maaf ya karet kami meninggalkan kamu sendiri, kamu jadi mengalami hal yang mungkin bisa membuat kami menyesal seumur hidup," ucap Rendy.
"Tidak apa-apa, Pa. Lagipula ini bukan salah Papa sama Mama, kalian tidak perlu merasa bersalah seperti itu."
"Papa akan melaporkan kejadian barusan ke polisi."
"Jangan, Pa. Aku sudah memaafkan Biani."
Shania mencegah Rendy yang akan melaporkan kasus itu ke polisi.
"Ada apa ini?" ucap Rania yang baru tiba di ruangan itu.
"Tidak ada apa-apa," ucapan Shania.
Rania berjalan menghampiri Shania!
"Kakak sudah baikan?" tanya Rania.
"Lumayan," sahut Shania dengan senyum tipis di bibirnya.
"Cepat sembuh ya, Kak," ucap Rania. "Aku gak bisa lama-lama karena aku harus kuliah," sambung Rania.
"Iya, terimakasih ya, kamu sudah menyempatkan untuk menjenguk Kakak."
__ADS_1
"Itu memang sudah seharusnya kan Kak, malah seharusnya aku yang jagain Kakak di sini, bukannya Papa sama Mama."
"Tidak apa-apa, sayang. Kamu kan harus kuliah," ucap Liana kepada Rania.
Rania tersenyum kepada Mananya. "Ya udah, aku pergi ya, Ma, Pa," ucap Rania.
"Iya, sayang."
"Kak Shania, cepat sembuh ya."
Rania mencium punggung tangan orang tuanya dan Kakak iparnya secara bergantian lalu segera pergi dari tempat itu.
"Ma, Pa, tolong rahasiakan kejadian barusan dari Leon dan juga orang lain, aku tidak ingin ada orang yang tahu selain kita bertiga," ucap Shania.
"Kenapa, Shania? Leon harus tahu tentang ini," ucap Rendy.
"Tidak, Pa. Biarkan ini menjadi rahasia diantara kita dan tolong, Papa juga jangan laporkan Biani ke polisi ya."
"Shania, Biani harus menanggung akibat dari perbuatannya," ucap Liana.
"Jangan, Ma. Kasihan Biani kalau harus dipenjara."
Rendy dan Liana saling pandang, keduanya tidak mengerti kenapa Shania tidak ingin ada orang lain yang mengetahui kejahatan Biani kepadanya dan juga Shania tidak ingin Biani merasakan dinginnya tidur dibalik jeruji besi.
"Kalian gak boleh memberitahu orang lain dan gak boleh membiarkan Biani dipenjara karena aku yang akan membongkar semua kejahatan Biani dan aku yang akan memberikan pelajaran kepada kekasih suamiku itu," ucap Shania didalam hatinya.
Di halaman rumah sakit.
Leon sedang berjalan memasuki rumah sakit!
Leon baru akan melihat keadaan Shania setelah beristirahat selama setengah hari di rumahnya. Leon memang terluka pada saat kejadian itu, namun lukanya tidak terlalu parah dan tidak perlu menjalani perawatan intensif seperti Shania, ia hanya disuruh istirahat yang cukup selama masa pemulihan lukanya.
"Ternyata lo masih hidup, Leon," ucap Jacky yang sedari tadi membuntuti Leon.
"Lo gak akan pernah hidup tenang Leon, selama lo dan keluarga lo meminta maaf kepada keluarga gue terutama Ibu dan Biani," gumam Jacky lagi.
"Selamat siang!" ucap Leon sembari memasuki ruangan Shania dirawat.
"Leon, kenapa kamu kesini, Nak?" ucap Liana.
"Aku mau tahu perkembangan kondisi Shania, Ma," sahut Leon.
"Tapi Leon, seharusnya kamu istirahat di rumah. Kan ada Papa sama Mama yang jagain Shania," ucap Rendy.
"Tidak apa-apa, Pa. Lagian aku suntuk di rumah terus."
Saat mereka sedang mengobrol, Elvan datang dan meminta Leon dan Rendy berbicara di luar ruangan.
"Ada apa Van?" tanya Leon.
"Polisi sudah memeriksa mobil kamu yang jatuh ke jurang dan mereka menemukan bukti kalau ternyata ada orang yang sengaja memotong kabel rem mobil kamu," jelas Elvan.
"Apa! Siapa yang tega melakukan itu?" ucap Rendy.
"Polisi akan menangani kasus ini sampai tuntas, sampai mereka menemukan siapa pelakunya," jelas Elvan.
"Van selama ini kita tidak punya saingan dalam perusahaan bukan?" ucap Leon.
"Aku rasa tidak."
"Sepertinya sekarang kita mulai mempunyai saingan yang akan mencoba mengalahkan perusahaan kita," ucap Leon.
__ADS_1
Bersambung