Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Bab 40


__ADS_3

"Leon!"


"Jacky!"


Rendy dan Jenny menyebutkan nama anaknya Masing-masing secara bersamaan.


"Jadi, sebelumnya kalian pernah saling mengenal," ucap Jacky dengan nada bicara yang tidak percaya.


Rendy dan Jenny saling tatap lalu kembali menatap Leon dan Jacky.


"Mama, kesalahan apa yang Mama perbuat kepada Papanya Leon sehingga mereka sangat membencimu kita?" tanya Jacky kepada Jenny.


Jenny menelan ludahnya, membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba terasa kering. Rahasia yang sangat ia jaga akhirnya diketahui juga oleh anaknya.


Jenny masih terdiam diposisi semula, mulutnya seakan terkunci rapat hingga membuat dirinya kesulitan berucap.


"Pa, tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Aku merasa dipermainkan kalau seperti ini," ucap Leon.


"Sepertinya sekarang memang waktunya kamu untuk mengetahui kenapa Papa tidak meresmikan hubungan kamu dengan Biani," ucap Rendy.


Jenny sangat merasa terkejut mendengar perkataan Rendy kepada Leon barusan.


Rendy menarik nafasnya panjang lalu mengeluarkannya perlahan, mengumpulkan keberanian untuk menceritakan masa lalunya bersama Jenny.


"Papa pernah sangat mencintai wanita yang berdiri di samping Papa ini, tepat dihari pernikahan kami, wanita ini melarikan diri dengan membawa uang perusahaan yang Papa gak ingin menyebutkan nilainya tapi yang pasti hampir membuka Papa mengalami kebangkrutan."


Leon terkejut mendengar cerita Papanya. Jacky juga tak kalah terkejutnya dari Leon.


"Tidak. Mamaku tidak mungkin seperti itu," ucap Jacky.


"Karena tamu undangan sudah hadir di acara pernikahan itu, Papa tidak ingin mempermalukan keluarga karena batal menikah, akhirnya Papa memaksa Mamamu untuk menggantikan posisi wanita ini," jelas Rendy lagi.


"Ma, Mama tidak mungkin melakukan itu kan?" ucap Jacky lagi.


Jenny tak menjawab pertanyaan Jacky, ia menundukkan kepalanya tak berani menatap putranya. Jenny merasa malu terhadap putranya sendiri.


"Ma, jawab! Jangan diam saja." Jacky berucap dengan sedikit menaikan nada bicaranya.


"Kenapa, Papa tidak mengatakan ini dari awal?" ucap Leon.


"Papa tidak ingin kamu merasakan apa yang Papa rasakan dulu karena itulah Papa ingin menjauhkan kamu dari Biani. Papa takut Biani akan mewarisi sifat orang tuanya dan ternyata ketakutan Papa itu benar, Biani mencoba menyingkirkan Shania dari kehidupan kamu sama persis seperti yang wanita ini lakukan terhadap Mamamu dulu," jelas Rendy lagi.


Jenny tak mengucapkan sepatah kata pun, wajahnya tertunduk kebawah dan air matanya mulai menetes dari pelupuknya.


Jacky menggelengkan kepalanya, ia tak percaya dengan perkataan Rendy tentang Mamanya.


"Rendy aku mohon, bebaskan Biani dari penjara, aku tidak pernah mendidik dia menjadi diriku yang dulu. Aku tidak tahu kenapa Biani bisa melakukan itu pada istrinya Leon," ucapan Jenny kepalanya Rendy.


Jenny mengesampingkan rasa malunya terhadap putranya, ia memohon kepada Rendy agar memaafkan kesalahan yang sudah Biani perbuat kepada keluarganya.


...****************...


"Malam, Mam, Pa," ucap Elvan yang baru tiba di rumahnya.


"Tumben pulang telat?" ucap Ken.


"Iya, Pa aku lagi banyak kerjaan."


Elvan duduk di kursi ruang keluarga bergabung bersama kedua orang tuanya!


"Anak, Mama pasti capek," ucap Shila.


Elvan tersenyum tipis kearah Mamanya.


"Biasa saja. Capeknya langsung hilang setelah melihat senyum Mama yang manis yang selalu membuat Papa mabuk."


"Kok kamu jadi ngerayu Mama sih, Van."


"Dia mau merayu siapa lagi, Ma kalau bukan Mama kan Elvan belum punya istri," ucap Ken sembari menatap Elvan lalu menatap sang istri.


"Sebentar lagi." Elvan terkekeh.


Shila dan Ken tertawa renyah mendengar perkataan putranya.


"Pa, Ma aku ke kamar dulu ya. Gerah mau mandi," ucap Elvan.


Tanpa menunggu Papa dan Mamanya berucap, Elvan langsung berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai dua rumahnya.


Setelah masuk ke dalam kamarnya, Elvan tak langsung membersihkan diri, dia malah rebahan di tempat tidurnya karena ia sangat lelah setelah seharian bekerja.

__ADS_1


Tiba-tiba Revisi teringat dengan Leon yang diajak Papanya ke rumah sakit.


"Leon mau ngapain ya, ke rumah sakit?" gumam Elvan.


Elvan mengambil ponselnya dari dalam saku celananya lalu menelponnya Leon.


Tak lama Leon langsung menerima telepon darinya.


📞 "Halo," ucap Leon dari sebrang telepon.


📞 "Kamu dimana?"


📞 "Di jalan, aku baru mau pulang."


📞 "Papa ngapain ngajak kamu ke kantor polisi?"


📞 "Besok aku ceritain sama kamu," ucap Leon.


Leon mematikannya sambungan teleponnya secantik sepihak.


Elvan menatap ponselnya. "Kebiasaan, orang belum selesai bicara malah dimatiin," ucap Elvan dengan nada kesal.


Tring!


Suara notifikasi pesan masuk ke ponsel Elvan.


Elvan yang sedang menatap layar ponselnya langsung melihat nama Kayla di sana.


Elvan segera membaca pesan dari kekasihnya itu.


📩 "Selamat alam, kekasihku."


📩 "Kesini dong, kita makan malam berdua."


Elvan mengukir senyuman di bibirnya setelah membaca pesan dari sang kekasih.


Tring!


Sebut pesan masuk lagi ke ponselnya dari nomor yang sama.


📩 "Cuma dibaca doang."


📩 "Padahal aku udah siapin kejutan buat kamu kalau kamu mau menemui aku."


Elvan langsung mengetik sebuah pesan untuk Kayla.


📩 "Aku belum mandi. Kamu share lock saja, nanti setelah aku mandi aku langsung berangkat."


📩 "I love yu."


Elvan melemparkan ponselnya ke tempat tidurnya lalu ia segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya!


Sepuluh menit berlalu, akhirnya Elvan sudah selesai dengan urusan mandinya. Setelah berpakaian, ia langsung berjalan keluar dari kamarnya tak lupa ia membawa ponselnya.


Elvan berjalan santai menghampiri Mama dan Papanya yang sedang menunggu ia di ruang makan.


"Pa, Ma aku pergi dulu ya," ucap Elvan.


"Pergi kemana?" tanya Shila.


"Makan malam dulu, Van," ucap Ken.


"Aku mau makan malam di luar," ucap Elvan tanpa melihat ke meja makan.


Elvan mulai melangkahkan kalinya meninggalkan ruang makan.


"Yakin gak mau makan di rumah?"


Elvan menghentikan langkahnya, saat mendengar suara yang sudah tidak asing baginya.


Elvan membalikkan tubuhnya lalu melihat sosok Kayla yang tersenyum manis padanya.


"Kay?"


"Aku udah share lock, kamu belum baca?" ucap Kayla.


Elvan meraih ponselnya lalu membaca pesan dari Kayla. Elvan tertawa kecil karena Kayla mengirim lokasi rumahnya sendiri.


"Kamu ...."

__ADS_1


Ingin sekali Elvan mencubit hidung Kayla tapi ia takut terlihat oleh kedua orang tuanya.


"Kenapa?" ucap Kayla.


"Kamu kesini kok gak bilang-bilang."


"Aku udah bilang kok, kan tadi aku udah kirim lokasi dimana aku berada," ucap Kayla.


"Ingin sekali aku menerkam dirimu," bisik Elvan ditelinga Kayla.


"Lakukan saja. Aku tidak takut," ucap Kayla dengan berbisik juga.


Kayla mencium pipi Elvan setelah berucap ditelinga Elvan, "balas aku,kalau kamu berani," sambung Kayla lalu segera melangkahkan kakinya menuju meja makan!


Elvan menatap Kayla sembari memegangi pipinya, barusan pertama kalinya ia merasakan dicium oleh seorang wanita.


Elvan tak menyangka teryata, Kayla lebih berani untuk melakukan hal itu padanya.


Setelah beberapa menit, Elvan tak juga berbagi dengan keluarganya yang sudah menunggunya untuk makan malam bersama.


"Van, kamu mau makan gak!" ucap Shila.


"I_iya, Ma. Tunggu sebentar!" sahut Elvan.


Elvan berjalan dengan langkah panjang menghampiri keluarganya ke ruang makan!


Semenjak pertemuan pertama keluarga mereka, Kayla langsung dekat dengan keluarganya Elvan, apalagi setelah dirinya dan Elvan memutuskan untuk menikah, ia menjadi tidak memberi jarak antara dirindukan dengan keluarganya Elvan.


...****************...


"Baru pulang?" ucap Shania kepada Leon.


"Iya, aku habis dari kantor polisi dulu," sahut Elvan.


"Kantor polisi?" Shania menatap Leon penuh tanya.


"Papa melaporkan Biani ke polisi."


"Apa! Lalu bagaimana?"


"Bagaimana apanya?"


"Ya, Biani nya lah."


"Dia di penjara. Sekarang dia di penjara."


"Nggak-nggak, Leon, Biani gak boleh di penjara. Kasihan dia."


Leon menatap Shania dengan tanpa sepatah kata pun yang terucap dari mulutnya.


"Hati kamu terbuat dari apa sih, Shania? Kenapa kamu tidak dendam sedikitpun terhadap Biani," ucap Leon didalam hatinya.


Shania menggerakkan tangannya didepan wajah Leon!


"Leon, kok kamu malah bengong sih?"


Leon terenyuh dari lamunannya.


"Eh, iya Shania, maaf aku kurang fokus."


"Kenapa tidak meminta Papa untuk mencabut laporannya?"


"Keluarganya Biani sudah meminta Papa untuk melakukan itu, tapi Papa menolak."


Shania tidak berucap lagi, sebenarnya ia bahagia karet ternyata Papa mertuanya itu sangat memperdulikannya tapi ia juga merasa kasihan kepada Biani karet harus mendekam dibalik jeruji besi. Meski Biani sudah berbuat jahat padanya tapi ia tahu Biani melakukan hal itu karena Biani ingin mendapatkan Leon kembali.


"Shania, asisten rumah tangga kita sudah datang belum?" ucap Leon mengalihkan pembicaraan.


"Sudah, dia sedang istirahat karena baru saja tiba."


Leon hanya menanggapi perkataan Shania dengan anggukan.


"Aku mandi dulu ya," ucap Leon.


"Gak makan dulu?"


"Nanti saja."


Leon berjalan menaiki anak tangga untuk sampai ke kamarnya yang berada di lantai dua rumahnya!

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2