
"Pacaran?" ucap Liana mengulang ucapan Rendy.
"Ya," sahut Rendy singkat.
"Pacarannya nanti aja di rumah biar seru," ucap Liana dengan senyumnya.
Rendy tertawa kecil, "aku pegang ucapanmu," ucapnya.
*** *** ***
Berbulan-bulan menjadi wanita simpanan Rendy, kini Jenny mulai berani keluar masuk kantor kekasihnya itu.
Merasa sudah bosan terus membantu Rendy menyembunyikan kebohongannya, Kendra tak ingin lagi ikut campur dalam urusan pribadi kakaknya itu.
Siang ini Jenny sedang berada di ruangan Rendy, pasangan kekasih itu asyik bercumbu mesra didalam ruangan tersebut.
Ken yang tidak tahu dengan keberadaan Jenny tak bisa mengingatkan Rendy agar berhati-hati dalam berhubungan dengan Jenny, mengingat gaya pacaran mereka sangatlah ekstrim.
Di lobby kantor Liana sedang berjalan santai memasuki kantor milik suaminya dengan senyum bahagia.
Hari ini adalah hari ulang tahun sang suami, Liana ingin memberi kejutan kepada suami tercintanya dengan menemuinya di kantor dengan hadiah yang sudah ia siapkan didalam tas yang ia bawa.
"Selamat siang, Bu," ucap salah satu karyawan kepada Liana.
"Siang," sahut Liana ramah.
Setelah Liana hampir sampai didepan pintu ruangan Rendy tiba-tiba Diana melarangnya masuk karena katanya Rendy sedang ada tamu penting.
"Bu, maaf tadi suami anda melarang siapapun masuk kedalam ruangannya," ucap Diana dengan berat hati.
Liana tersenyum, sedikitpun ia tak menaruh curiga kepada suaminya.
"Termasuk saya?" tanya Liana.
Diana terdiam memang Rendy tak mengatakan kalau Liana juga tidak boleh masuk, tapi karena Diana tahu siapa Jenny, ia memilih melarang Liana masuk untuk menghindari hal yang tak diinginkan.
"Didalam sedang ada tamu penting," ucap Diana.
"Baiklah saya akan menunggu disini," ucap Liana.
Diana mengangguk lalu melanjutkan pekerjaannya lagi.
Didalam ruangan Rendy.
"Sayang, kapan kita liburan lagi?" ucap Jenny.
"Nanti kalau ada waktu yang pas," sahut Rendy sembari mengelus pipi mulus Jenny.
"Janji ya," ucap Jenny manja.
__ADS_1
Rendy menanggapi perkataan Jenny dengan senyuman.
Setelah hampir setengah jam menunggu, Liana mulai penasaran siapa tamu penting itu sehingga bertamu dalam waktu yang cukup lama.
Liana melangkahkan kakinya menuju ruangan Rendy tanpa perasaan curiga sedikitpun.
Setelah sampai didepan pintu ruangan Rendy, Liana mendengar suara tawa seorang wanita dari dalam ruangan suaminya.
Suara itu terdengar samar, Liana merasa penasaran lalu ia membuka pintu itu perlahan ia ingin memastikan apakah ia tidak salah dengar.
Liana mengintip dari pintu yang terbuka sedikit. Alangkah terkejutnya ia saat mendapati sang suami sedang bercumbu mesra dengan seorang wanita.
Wanita itu duduk dipangkuan Rendy dengan mengalungkan tangannya di leher sang suami.
Liana juga mendengar obrolan keduanya, tak terasa air mata Liana luruh begitu saja.
"Inikah sifat aslimu, mas," ucap Liana setelah ia membuka pintu itu dengan kasar.
Rendy dan Jenny terperanjat mendengar suara gebrakan yang cukup keras.
"Liana!" ucap Rendy sembari menyingkirkan Jenny dari pangkuannya.
"Aku kecewa sama kamu," ucap Liana lalu berlari meninggalkan Rendy dan kekasih gelapnya di ruangan itu!
"Liana! Liana tunggu dulu!" Rendy mengejar Liana.
Saat Rendy melewati ruangan Ken ia berpapasan dengan Ken yang kebetulan Ken ingin keluar untuk mengambil sesuatu.
"Liana ngeliat gue sama Jenny di ruangan gue," ucap Rendy sambil terus melangkahkan kakinya.
"Bodoh. Kenapa lo bodoh banget Rendy, cepat kejar Liana!" ucap Ken dengan meninggikan nafas bicaranya.
Liana terus berlari menuju mobilnya, dan Rendy terus berusaha untuk mengejar Liana.
Di ruangan Rendy.
Jenny masih asyik duduk di kursi kerja Rendy dengan tawa bahagia karena memang hal ini yang ia inginkan.
"Liana!" Rendy terus berteriak memanggil Liana.
Liana tak menghiraukan Rendy yang dari tadi berteriak memanggilnya.
Liana masuk kedalam mobilnya lalu segera menyalakan mesin mobilnya dan bersiap melajukan mobilnya.
Rendy mengetuk kaca mobil Liana!
"Liana, dengar dulu penjelasan aku. Liana aku mencintaimu," ucap Rendy sembari terus mengetuk kaca mobil Liana.
Liana tak menghiraukan ucapan Rendy, dengan air mata yang tak terbendung lagi Liana menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Rendy segera berlari menuju mobilnya secepat yang ia bisa! Rendy segera masuk kedalam mobilnya dan langsung mengejar mobil yang dikemudikan oleh Liana.
Setelah Rendy dapat mensejajarkan mobilnya dengan mobil Liana, Rendy terus mencoba menghentikan Liana.
"Liana! jangan seperti ini kamu bisa celaka!" teriak Rendy.
Liana tetap tak menghiraukan suaminya itu, ia tetap melajukan kendaraannya dengan kecepatan diatas rata-rata.
Tiba di depan rumahnya, Liana menghentikan mobilnya disembarang tempat! Liana berlari menuju kamarnya lalu mengemasi pakaiannya.
Grep! Rendy memeluk Liana dari belakang!
"Liana please, dengar penjelasan aku dulu," ucap Rendy lirih.
Liana masih terdiam dalam hati yang pilu, air matanya terus mengalir tak kuasa menahan duri-duri tajam yang menusuk hatinya secara tiba-tiba.
Setelah hampir dua puluh menit Rendy memeluknya, Liana melepaskan pelukan itu dan mulai membuka suara.
"Kenapa kamu melakukan ini padaku, kenapa?" ucap Liana lirih.
"Maafkan aku," ucap Rendy, "aku bisa jelasin semuanya," sambungnya.
"Kenapa kamu melakukan ini setelah aku benar-benar mencintaimu, setelah aku sangat-sangat mengagumimu? atau kamu sengaja ingin menghancurkan aku," ucap Liana dengan air mata yang tak pernah surut.
"Aku tidak bermaksud menyakitimu. Tolong jangan tinggalkan aku," ucap Rendy penuh permohonan.
Liana tak menghiraukan setiap perkataan Rendy, rasa sakit dan kecewa yang terlalu dalam membuat Liana tak merasakan iba sedikitpun.
Liana berjalan sambil menyeret koper yang berisikan pakaiannya!
"Tolong urus perceraian kita. Secepatnya," ucap Liana lalu berlalu meninggalkan Rendy di kamarnya.
"Liana tunggu. Liana aku gak mau kita pisah, aku gak mungkin bisa tanpa kamu disisi aku," ucap Rendy sembari mengekor dibelakang Liana.
Di kantor.
Ken merasa muak dengan Jenny, ia tak ingin melihat wajah wanita licik itu sampai Ken menyuruh orang untuk mengusir Jenny yang masih berada di ruangan Rendy.
Namun sepertinya urat malu wanita itu sudah putus hingga ia tak bergeming saat ada beberapa orang yang memintanya pergi dari tempat itu.
Orang-orang yang Ken suruh tidak bisa memaksa Jenny untuk pergi dari tempat itu karena mereka semua diancam akan dipecat jika berbuat sesuatu yang tidak menyenangkan kepada Jenny.
"Pak, maaf kami tidak bisa mengusir Nona Jenny dari ruangan pak Rendy," ucap salah satu karyawan yang ia suruh untuk mengusir Jenny.
"Saya juga tidak bisa, Pak. Nona Jenny mengancam akan menyuruh pak Rendy memecat kami," jelas karyawan yang satu lagi.
"Dasar wanita ular," ucap Ken dengan penuh kekesalan.
"Kalian balik kerja lagi aja, biar saya yang urus wanita tak tahu malu itu," ucap Ken.
__ADS_1
Ken berjalan cepat menuju ruangan kakaknya dengan emosi yang mulai menguasai dirinya!
Bersambung