Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Bab 72


__ADS_3

Di kantor.


Ken menyuruh orang kepercayaannya untuk mengurus kantor dan meng-handle semua jadwal meeting hari ini karena Rendy sedang sakit dan dia juga tidak bisa menggantikan Rendy karena ia harus mencari Liana yang tak tahu entah dimana.


Setelah asisten pribadinya mengerti dengan semua perintahnya, Ken meninggalkan kantor dengan berat hati. Sebenarnya ia tidak ingin meninggalkan tanggungjawabnya karena keadaan yang memaksanya harus pergi.


"Kemana aku harus cari Liana?" gumam Ken.


Ken terus melajukan kendaraannya tanpa arah tujuan sambil memutar otaknya mencari tempat yang tepat yang harus ia datangi untuk mencari Liana.


Hampir dua dua jam Ken berkendara tanpa tujuan hingga akhirnya ia melewati kantor tempat dahulu Liana bekerja sebelum menikah dengan Rendy.


"Ah, ya. Temannya Liana." ucap Ken dengan senyum penuh harapan.


Ken memutar balikkan arah laju kendaraannya, kini ia menuju kantor tersebut!


Setelah memarkirkan mobilnya Ken segera bergegas turun dari mobilnya!


Ken berjalan memasuki kantor tersebut dan mencari sahabatnya Liana.


"Pak Kendra? selamat pagi," ucap salah satu karyawan di kantor itu.


"Pagi," sahut Ken ramah, "dimana Pak Aldy?" tanya Ken.


"Di ruangannya, Pak," sahutnya.


Ken tersenyum, "terimakasih," ucapnya.


Ken langsung berjalan menuju ruang kerja Aldy!


Tok! tok! tok!


Ken mengetuk pintu ruangan Aldy.


"Masuk!" ucap Aldy dari dalam ruangan.


Ken membuka pintu itu lalu mulai melangkahkan kakinya menghampiri orang yang ia percaya untuk memegang cabang perusahaannya.


"Pak Ken," ucap Aldy, "Apa ada masalah, sehingga anda datang kemari secara mendadak?" sambung Aldy.


"Tidak. Saya ingin bertemu dengan sahabatnya Liana. Apa dia masih bekerja disini?" ucap Ken.


Aldy menghela nafas lega, ia pikir ia melakukan kesalahan fatal hingga bosnya datang tiba-tiba.


"Maksud anda, Wirda?" ucap Aldy.


"Iya mungkin, pokoknya yang paling dekat dengan Liana," ucap Ken.


"Iya, Wirda orangnya," ucap Aldy.


"Saya mau ketemu sama dia. Yang mana orangnya?" ucap Ken karena memang ia tak mengenali sahabatnya Liana.


"Anda tunggu saja disini, biar saya memanggil Wirda agar dia kesini," ucap Aldy lalu ia berjalan keluar ruangannya.


Ken menunggu di ruangan Aldy dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan.


"Wirda! keruangan saya sekarang," ucap Aldy.


"Baik, Pak." Wirda menatap Aldy lalu beralih menatap temannya.

__ADS_1


"Cepat, Wirda. Pak Kendra menunggu kamu," ucap Aldy karena Wirda masih terdiam ditempat duduknya.


"I-iya, Pak." Wirda beranjak dari duduknya lalu mengekor dibelakang Aldy.


"Pak Aldy! Pak Ken ngapain pengen ketemu saya? saya kan gak kenal sama dia?" tanya Wirda.


"Gak tahu? Pak Kendra juga gak kenal sama kamu," sahut Aldy.


Wirda semakin bingung, jika keduanya sama-sama tak saling kenal mengapa Ken ingin menemuinya.


"Pak, saya gak akan dipecat kan?" ucap Wirda.


"Gak tahu. Jangan nanya mulu, bawel," ucap Aldy.


Aldy membuka pintu ruangannya dan segera masuk kedalamnya.


"Pak, ini Wirda," ucap Aldy kepada Kendra.


"Oh, jadi kamu orangnya," ucap Ken.


"Iya, Pak." Wirda menundukkan kepalanya ia tak berani menatap Ken.


"Silakan, Pak Ken. Kalau gitu saya permisi dulu," ucap Aldy lalu meninggalkan Ken dan Wirda di ruang kerjanya.


"Silakan duduk," ucap Ken karena Wirda masih berdiri mematung ditempat semula ia menginjakkan kaki di ruangan itu.


Wirda tak menjawab ucapan Ken, ia langsung duduk di kursi yang ada didepan meja kerjanya Aldy.


"Saya, Kendra adiknya Rendy pemilik perusahaan ini," ucap Ken.


"Iya, Pak saya sudah tahu itu sejak lama," sahut Wirda.


"Bantuan apa?" ucap Wirda tapi tidak menatap Ken.


"Kamu tahu kemana Liana akan pergi jika dia sedang ingin sendiri?" tanya Ken.


Wirda menatap Ken, ia tak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Kendra.


"Maksudnya?" tanya Wirda, "bisa dijelaskan detailnya," sambung Wirda.


"Maksud saya, Liana pergi dari rumah sejak seminggu yang lalu. Telponnya gak bisa dihubungi saya takut terjadi apa-apa sama kakak ipar saya itu," jelas Ken.


"Bisa kamu bantu cari Liana? saya yakin kamu tahu dia dimana," ucap Ken lagi karena Wirda masih terdiam ditempatnya.


"Ada satu tempat yang sering didatangi Liana kalau ia sedang tidak ingin diganggu, tapi saya gak yakin dia ada disana sekarang," ucap Wirda.


"Bisa antar saya kesana?" tanya Ken.


"Saya mau aja nganter anda kesana tapi sekarang kan masih jam kerja," sahut Wirda.


"Saya kasih kamu cuti hari ini," ucap Ken.


"Baiklah, saya sudah bilang kalau saya tidak yakin Liana ada disana. Seandainya Liana tidak ada disana saya tidak bisa membantu Anda lagi karena saya tidak tahu tempat mana lagi yang suka Liana datangi," ucap Wirda.


"Saya mengerti. Bisa berangkat sekarang?" ucap Ken.


"Ya," sahut Wirda singkat.


Ken dan Wirda pun bergegas pergi dari kantor itu, sebelum pergi tak lupa Ken berpamitan kepada Aldy dan meminta agar Aldy memberikan cuti kepada Wirda selama ia membutuhkan bantuan Wirda.

__ADS_1


Di perjalanan tak ada percakapan diantara Ken dan Wirda keduanya sibuk dengan pemikiran masing-masing, hingga pada pertigaan yang akan dilewati oleh Ken, Wirda baru membuka suaranya.


"Belok kiri, Pak," ucap Wirda.


Ken langsung mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Wirda tanpa menjawab ucapan Wirda.


Setelah lima belas menit tak ada tanda-tanda mereka akan tiba ditempat yang dituju akhirnya Ken bertanya kepada Wirda.


"Apa masih lama?" ucap Ken.


"Sekitar satu jam lagi," sahut Wirda.


"Jalanan ini sangat sepi, apa mungkin Liana kesana sendiri?" ucap Ken lagi.


"Kenapa tidak. Tidak ada bahaya yang tidak bisa dia atasi," ucap Wirda yang sangat mengenal sahabatnya.


"Sehebat itukah seorang Liana?" ucap Ken dengan tawa kecil.


"Saya pastikan, iya." Wirda berucap dengan penuh percaya diri.


"Ya, saya percaya itu," ucap Ken.


"Didepan sana kita kearah kanan," ucap Wirda sembari mengarahkan jari telunjuknya kedepan.


Setelah mengikuti arah yang diinstruksikan Wirda, Ken melihat ada air terjun yang tak jauh dari tempat sekarang Ken mengemudi.


"Wirda! kita mau cari Liana, bukan nyari tempat rekreasi," ucap Ken.


"Saya tahu, Pak. Liana ada disana," ucap Wirda.


Ken tak berucap lagi, ia terus mengikuti jalur setapak yang kini sedang ia lewati.


Lima belas menit berlalu, Ken dan Wirda turun dari mobil setelah tiba ditempat tujuan mereka.


"Ikuti saya, Pak!" ucap Wirda sembari berjalan mendahului Ken.


Ken tak berucap lagi, ia mengekor dibelakang Wirda.


"Liana! sudah aku duga kamu pasti ada disini," ucap Wirda sambil berjalan menghampiri Liana.


"Wirda?" ucap Liana penuh tanya.


Liana mengusap air mata yang membasahi pipinya.


"Ada yang nyariin kamu," ucap Wirda.


"Siapa?" tanya Liana.


Ken berjalan menghampiri Liana dan Wirda!


"Aku yang nyari kamu," ucap Ken kepada Liana.


"Ken, ada hal penting apa sehingga kamu rela jauh-jauh datang kesini?" ucap Liana.


"Rendy ... ."


"Jangan bicarakan tentang dia," ucap Liana memotong ucapan Ken.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2