Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Bab 142


__ADS_3

Di kediaman Ken dan Shila.


"Aww-awwh! Pelan-pelan dong," ucap Shila.


"Maaf ya. Sedikit lagi masuk," sahut Ken dengan raut wajah serius.


"Jangan dipaksa, nanti bisa lecet," lirih Shila.


"Kayaknya lubangnya kekecilan deh, Shil," ucap Ken lagi.


"Iya, emang kekecilan makannya jangan dipaksa," sahut Shila sambil sesekali merintih kesakitan.


"Tapi nanggung, Shil dikit lagi masuk semua." (Ken)


Shila mendelik kearah Ken.


Ken tersenyum manis saat melihat istrinya merasa kesal padanya.


"Pakai losion ya, biar licin nanti gampang masuknya," ucap Ken.


"Aneh, maksa banget. Nanti kalau gak bisa dilepas gimana?" ucap Shila sembari mengerucutkan bibirnya.


Ken merasa gemas dengan sikap sang istri, ternyata dibalik kekuatan Shila yang mampu menangkap penjahat ada sifat manja didalamnya.


Ken mencabut cincin yang sudah setengah masuk ke jari tengah milik sang istri!

__ADS_1


"Yaudah, besok cincinnya kita tukar dengan ukuran yang lebih besar biar muat di jari kamu," ucap Ken sembari meletakkan cincin itu ditempatnya.


"Lagian, orang gak muat juga," ketus Shila.


Niatnya Ken ingin memberi kejutan kepada sang istri namun kejutannya gagal karena cincin yang ia beli tidak sesuai dengan ukuran jari Shila.


Ken meraih tangan Shila lalu memperhatikan jari tengah Shila apakah ada lecet atau tidak.


"Lagi ngapain?" tanya Shila.


"Lagi mastiin, jari kamu terluka gak," sahut Ken.


Shila membiarkan Ken melakukan apa yang ingin dia lakukan.


"Ternyata istri tangguhku ini bisa manja juga ya," ucap Ken dengan tatapan jahilnya.


*** *** ***


"Mas, maaf ya." Tiba-tiba Liana meminta maaf kepada sang suami.


"Maaf untuk apa? Kamu gak salah," ucap Rendy.


"Kemarin aku sudah berburuk sangka padamu dan aku sering berkata kasar padamu bahkan aku sering mengabaikan dirimu," ucap Liana sembari mengelus bunga yang sedang mekar.


Rendy menghampiri Liana lalu memeluknya dari belakang! Tangan kanannya menggenggam tangan Liana yang sedang asyik menyentuh bunga didepannya.

__ADS_1


"Kamu gak salah. Itu semua murni kesalahanku," ucap Rendy.


"Tetap saja aku merasa bersalah. Sebagai seorang istri, tidak seharusnya aku bersikap seperti itu terhadap suamiku sendiri. Kalau saja aku tahu yang sebenarnya, aku tidak mungkin bersikap seperti itu padamu," ucap Liana.


Sebagai manusia kita tidak bisa menilai orang dari luar saja karena yang kita lihat belum tentu sifat asli dari orang itu. Yang kita lihat buruk belum tentu hatinya buruk begitu juga dengan sebaliknya, yang kita lihat baik belum tentu orang itu benar-benar baik. Sebagai sesama manusia kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari satu sudut pandang saja dan lagi kita tidak berhak menilai seseorang karena yang berhak menilai baik buruknya manusia hanyalah dia yang maha kuasa yang menciptakan alam beserta isinya.


"Kalau memang kamu merasa bersalah, aku sudah memaafkan kamu," ucap Rendy.


"Terimakasih."


Rendy mengusap perut Liana yang mulai membuncit!


"Apa kabar dengan Rendy junior?" ucap Rendy.


"Pastinya kabar baik dong. Kemarin kata dokter, bayi kita sehat," sahut Liana.


Rendy membawa Liana duduk di kursi yang ada di taman itu! lalu mengelus perut Liana dengan lembut setelah mereka duduk.


"Sayang, Papa udah gak sabar pengen ketemu kamu," ucap Rendy.


Liana tersenyum bahagia. Kini ia merasa kebahagiaannya sudah sempurna.


"Mas, terimakasih karena sudah menjadi suami dan calon ayah yang baik," ucap Liana.


Rendy membelai rambut Liana lalu mencium kening sang istri!

__ADS_1


"Terimakasih juga karena kamu sudah menjadi istri yang terbaik untukku." Rendy memeluk Liana dengan penuh cinta.


Tamat


__ADS_2