Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Bab 71


__ADS_3

"Lagi pada ngapain, serius banget? Sampai salam ku nggak dijawab," ucap Leon sembari berjalan menghampiri Shania dan Rania yang sibuk di dapur.


"Kakak udah pulang?" ucap Rania.


"Ditanya malah balik nanya."


"Kita lagi beres-beres dapur," ucap Shania.


"Emang si Bibik kemana? Kenapa kalian yang beres-beres?"


"Ada. Sesekali aku bekerja di dapur, gak apa-apa lah. Biar aku bisa menjadi istri yang baik buat suamiku nanti," ucap Rania.


"Masih kecil udah mikirin ke situ," ucap Leon.


"Nggak mikir ke pernikahan, aku cuma mempersiapkan diriku."


"Rania betul, dia harus mempersiapkan dirinya untuk menjadi seorang istri, karena kita tidak tahu siapa yang akan jadi jodohnya nanti," ucap Shania.


"Maksud kamu apa?"


"Maksudku gimana kalau setelah menikah, suaminya Rania tidak mau membayar jasa asisten rumah tangga? Otomatis Rania yang melakukan semua pekerjaan rumah dari mulai beberes, masak, nyuci dan masih banyak lagi pekerjaan rumah yang menyibukkan istri. Kalau Rania gak belajar dari sekarang, kapan lagi?"


"Rania gak boleh nikah sama laki-laki kere dia harus nikah sama orang yang sudah mapan."


"Nikah sama yang udah mapan juga tidak bisa menjamin akan memelihara asisten rumah tangga di rumahnya. Buktinya berbulan-bulan aku mengerjakan pekerjaan rumah sendiri, suamiku yang kaya ini tidak mau membayar jasa asisten rumah tangga dengan alasan, apa yang akan dikerjakan oleh istri kalau semua dikerjakan oleh pembantu?" ucap Shania.


Leon menatap Shania dengan tatapan dalam, ia mengingat betapa kejamnya dia pada Shania saat awal-awal mereka menikah.


"Kak Leon kenapa diam?" ucap Rania.


Leon beralih menatap Rania namun bibirnya tetap bungkam dari seribu bahasa.


"Aku mau mandi dulu," ucap Leon sembari pergi meninggalkan Shania dan Rania.


Dua wanita itu menatap kepergian Leon lalu keduanya saling tatap seolah sama-sama saling bertanya.


Shania menaikan bahunya lalu menurunkannya lagi.


"Entahlah," ucap Shania.


"Aneh, kenapa Kakak jadi begitu?" ucap Rania.


"Sudahlah, biarkan saja. Kakakmu memang sering bersikap aneh, untung aku orangnya sabar," ucap Shania dengan tawa kecilnya.


Dua wanita beda usia itu tertawa renyah.


"Ternyata seru ya, punya saudara perempuan?" ucap Rania.


"Iya, aku baru ngalamin kebersamaan dengan seorang adik karena aku tidak punya adik atau pun Kakak yang menemaniku," ucap Shania.


"Jadi Kak Shania anak tunggal?"


"Ya. Menjadi anak tunggal adalah hal yang paling menyebalkan."


"Pasti setiap hari, Kakak sendirian?"


"Tidak, dulu aku ditemani sama pengasuh ku saat orang tuaku kerja dan saat mereka libur, baru aku bisa menghabiskan waktu bersama dengan mereka."


"Tapi sekarang Kakak selalu ditemani Kak Leon kan? Dan sebentar lagi akan hadir Leon junior."


Shania tersenyum lebar, "kamu bisa saja."

__ADS_1


...****************...


Biani belum berhenti menangis, seharian penuh dia terus mengeluarkan air matanya, hingga matanya terlihat sembab.


"Bi, sudahlah jangan menangis terus," ucap Jacky.


"Gimana aku gak nangis, Mama sakit, besok Kakak akan pergi. Aku sama siapa, gak ada orang lain lagi yang aku miliki selain Kakak dan Mama."


Jacky memeluk Biani dengan penuh kasih sayang!


"Maafkan, Kakak ya, Bi semua ini salah Kakak. Kakak sudah menyimpan dendam pada mereka sehingga Kakak lupa akan semua yang selalu diajarkan oleh Mama," ucap Jacky.


Air mata Jacky menetes dari pelupuk nya, betapa ia sangat menyesali perbuatannya.


"Kenapa Kakak melakukan semua itu, Kakak tahu kan aku pernah dipenjara karena melakukan kebodohan itu."


"Karena itu lah, Kakak menjadi sangat benci kepada mereka. Kakak tidak terima kamu dipenjarakan oleh mereka, saat Kakak sering melihatmu menangis, Kakak berpikir untuk menculik Shania agar Leon kembali kepadamu lagi. Jujur Kakak gak tega melihat kamu menangis disetiap harinya."


"Yang Kakak lakukan ini demi kebahagiaan aku kan, tapi kenapa Kakak tidak berpikir dua kali sebelum melakukan semua itu."


"Semua sudah terjadi, maafkan Kakak."


Saat keduanya sedang berpelukan tiba-tiba Rio datang menghampiri mereka!


"Biani?" ucap Rio.


"Rio," ucap Biani.


Biani tidak berkata apa-apa, dia hanya terdiam sembari menatap Rio.


"Kamu sedang apa di sini dan siapa laki-laki ini?" tanya Rio.


Sebisa mungkin Rio bersikap tenang meski sebenarnya ia sangat merasa cemburu. Rio yang berprofesi sebagai seorang dokter itu tahu benar bahwa tidak boleh ada keributan di dalam rumah sakit.


"Aku pikir, dia ...."


"Aku tahu kamu pasti berpikir buruk tentangku."


"Maaf, aku ... bukannya aku tidak percaya sama kamu tapi aku pernah dikhianati oleh orang yang aku sayang."


Rio menatap wajah Biani yang masih cantik meski sehabis menangis.


"Kamu sabar, ya. Semoga Mamamu baik-baik saja."


"Terimakasih," ucap Jacky dengan suara rendah.


"Sejak dua hari lalu aku bekerja di rumah sakit ini, kalau boleh tahu siapa, dokter yang menangani Mamamu?"


"Kamu bekerja di sini?" ucap Biani.


"Rio tidak boleh tahu kalau aku ini seorang penjahat yang akan masuk penjara. Aku tahu mereka memiliki hubungan yang lebih dari teman, jangan sampai Biani kembali kehilangan orang yang dicintainya," ucap Jacky didalam hatinya.


Melihat Biani yang dekat dengan Rio, Jacky menyimpulkan bahwa mereka sudah memiliki hubungan yang lebih dari sekedar teman bisa.


"Kalian di sini saja ya. Aku mau menemui Mama," ucap Jacky.


Jacky segera masuk ke ruangan tempat Jenny dirawat! Dia sengaja pergi meninggalkan mereka karena mungkin Biani dan Rio perlu ngobrol berdua.


Di dalam ruangan rawat Jenny.


Saat itu Jenny terbaring lemah di atas hospital bad dengan matanya yang tertutup rapat.

__ADS_1


Perlahan Jacky berjalan mendekati Mamanya lalu duduk di kursi yang tersedia di samping ranjang rumah sakit itu.


Jacky kembali menangis menyesali perbuatannya yang membuat, Mamanya sampai dirawat di rumah sakit.


"Semua ini salahku, maafkan aku Ma," lirih Jacky.


Jacky menggenggam erat tangan Jenny! Air matanya tidak bisa berhenti mengalir, betapa ia sangat-sangat menyesali perbuatannya.


"Jika saja aku mendengarkan semua perkataan, Mama mungkin Mama tidak akan ada di sini, di ruangan ini," ucap Jacky.


Di ruang tunggu yang berada di luar ruangan tempat Jenny dirawat.


"Rio, ada sesuatu yang harus kamu ketahui tentang aku dan tentang keluargaku," ucap Biani.


"Aku tidak ingin tahu apa-apa tentang keluargamu, aku mencintaimu dengan tulus," sahut Rio.


"Kamu harus tahu ini, sebelum semuanya terlambat dan sebelum kamu tahu dari orang lain."


"Memangnya ada apa dengan keluargamu? Sehingga kamu terus memaksaku untuk mendengarkan dirimu."


Saat Biani akan berkata seseorang memanggil Rio.


"Dokter Rio, Keluarga pasien yang Anda tangani ingin bertemu dengan Anda."


"Oh, ya. Katakan padanya, saya tunggu di ruangan saya. Sebentar lagi saya ke sana," ucap Rio.


Setelah suster yang memanggilnya pergi, Rio menatap Biani dengan tatapan dalam.


"Kita bicara lagi, nanti ya. Sekarang aku harus menemui keluarga pasien ku dulu," ucap Rio.


Biani mengangguk pelan, menanggapi perkataan Rio.


Rio pergi meninggalkan Biani di tempat itu, sebelum pergi, Rio memberikan sebuah saputangan berwarna putih kepada Biani.


"Hapus air matamu," ucap Rio sembari memberikan saputangan itu kepada Biani.


Biani menatap kepergian Rio, ia terus menatap punggung Rio meski laki-laki yang baru beberapa hari menjadi kekasihnya itu sudah pergi jauh.


"Jika sekarang tidak ada waktu untuk berbicara padamu maka besok kamu akan tahu dari orang lain," gumam Biani.


Biani terus menatap ke arah perginya Rio meski Rio sudah tidak terlihat lagi.


"Akan aku terima semua keputusan kamu besok. Jika setelah kamu tahu tentang keluargaku kamu masih bisa mencintaiku, aku akan sangat bersyukur dan akan menjaga cinta ini hanya untukmu tapi jika kamu memilih untuk pergi, aku tidak akan menahan kepergian dirimu akan aku ikhlas kan semua yang harus hilang dariku," ucap Biani didalam hatinya.


"Mama ingin bertemu denganmu," ucap Jacky yang baru tiba di dekat Biani.


Biani menoleh ke arah suara!


"Kakak, sejak kapan Kakak di sini?" ucap Biani.


"Baru saja."


"Mama udah sadar?"


"Udah. Cepat kamu temui Mama."


Biani bangkit dari dulunya lalu bergegas memasuki ruangan tempat Mamanya dirawat!


"Mama," ucap Biani dengan nada lirih.


Biani berjalan dengan langkah pelan, menghampiri Mamanya yang sedang terbaring lemah.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2