Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Bab 55


__ADS_3

Ken tersenyum mendengar ucapan Elma. Memang benar apa yang dikatakan oleh mamanya itu.


Ken menggaruk kepalanya yang tak gatal!


"Gimana Shil, mau gak besok kita jalan?" tanya Ken kepada Shila.


"Boleh. Saya gak bisa nolak permintaan tuan muda," ucap Shila.


"Kalau gak mau juga gakpapa, Shil. Jangan karena Ken anak saya, kamu harus menuruti permintaan Ken," ucap Elma sembari mengelus lengan Shila.


"Iya, Shil. Kalau gak mau tinggal bilang aja," ucap Ken tanpa ragu.


"Saya mau kok nemenin anda." Shila tersenyum ramah.


"Syukurlah. Besok aku jemput kamu jam sembilan pagi ya," ucap Ken dengan senyum bahagia.


Shila hanya menganggukan kepalanya, mengiyakan ucapan Kendra.


"Langsung aja bawa ke KUA Shila nya," ucap Elma menggoda putra keduanya.


Shila menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.


"Mama! mulai deh," ucap Ken dengan nada malas.


Elma tertawa melihat Shila dan Kendra salah tingkah.


"Sepertinya kalian berdua cocok," ucap Elma.


"Mam, udah dong bercandanya," ucap Ken.


"Nggak bercanda. Mama serius Ken." Elma sedikit menaikan nada bicaranya.


"Permisi, saya mau ke toilet dulu," ucap Shila sambil melangkahkan kakinya ke luar ruangan Ken.


Shila memilih pergi meninggalkan Elma dan Ken di ruangan itu ia tak ingin mendengar perdebatan antara ibu dan anak itu.


Shila tak ingin banyak berharap walaupun sebenarnya ia menyukai tuan mudanya.


Ken melanjutkan pekerjaannya setelah Shila pergi dari ruangannya.


"Kerja lagi ... Cari jodoh Ken jangan cari uang terus," ucap Elma kesal.


"Iya nanti aku cari jodoh ya, Mam." Ken berucap sambil terus fokus pada layar laptopnya.


"Selalu seperti itu jawabanmu." Elma menggerutu sambil melangkahkan kakinya meninggalkan Kendra.


Ken menggelengkan kepalanya melihat sikap mamanya.


"Mama gak tahu kalau cari jodoh itu susah," gumam Kendra.


Elma terus melangkahkan kakinya menuju lobby!


"Shil, ayo kita pergi," ucap Elma saat melihat Shila tengah berjalan menghampirinya.


"Siap," ucap Shila singkat lalu ia berjalan mengikuti Elma dari belakang.


"Tumben jalannya cepat," ucap Shila namun kata-kata itu hanya terucap didalam hatinya.


Di rumah Rendy.


Rendy dan Liana baru selesai makan malam, seperti biasa Rendy selalu mampir ke taman kecil yang ada di belakang rumahnya.


Rendy duduk di kursi taman ditemani oleh sang istri yang duduk disampingnya sambil menyandarkan kepalanya di bahu Rendy.


Rendy membelai lembut rambut sang istri dengan penuh cinta.

__ADS_1


"Aku yakin kalau aku mencintaimu Liana, tapi kenapa aku tidak bisa melupakan Jenny? malah aku merasa bahagia saat Jenny ingin kembali," ucap Rendy jauh didalam lubuk hatinya yang paling dalam.


Rendy terus mencoba meyakinkan dirinya sendiri kalau ia memang benar-benar mencintai Liana.


"Mas," ucap Liana.


"Ya," jawab Rendy singkat.


"Kamu melamun?" Liana bertanya sambil menatap sang suami penuh kekhawatiran.


"Sedikit," sahut Rendy sembari mengusap pipi mulus Liana dengan ibu jarinya.


"Mikirin apa?" ucap Liana penasaran.


"Mikirin kamu." ucap Rendy dengan senyum nakalnya.


Terpaksa Rendy berbohong kepada Liana karena tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya kepada istrinya itu.


"Aku serius, mas," ucap Liana lagi.


"Aku malah dua rius," ucap Rendy lalu ia tertawa kecil.


"Langit malam ini indah ya mas?" ucap Liana sembari menatap langit.


"Lebih indah wajahmu," ucap Rendy.


"Gombal mulu," ucap Liana dengan senyum yang selalu menghiasi bibirnya.


"Langit indah karena adanya bulan dan bintang-bintang yang menghiasinya tapi kalau wajah ini indah karena ada senyum yang selalu membuatku mabuk," ucap Rendy sembari menangkup pipi Liana dengan kedua tangannya.


"Kamu abis makan apa sih, mas? tiba-tiba suka membuat aku melayang," ucap Liana.


"Gimana kalau kita terbang bersama?" ucap Rendy.


"Ngawur."


Tanpa berkata-kata Rendy memangku Liana lalu membawanya masuk ke dalam rumah.


"Mas, turunin aku. Kamu mau bawa aku kemana?" ucap Liana.


"Gak mau. Aku mau bawa kamu ke kamar lalu kita akan terbang ke surga dunia," ucap Rendy dengan senyum nakalnya.


Liana baru mengerti dengan kata terbang yang diucapkan suaminya.


"Kalau minta jatah tinggal bilang aja gak usah pakai bahasa yang sulit dimengerti," ucap Liana didalam hatinya.


Liana mengalungkan tangannya di leher sang suami!


"Mas." (Liana)


"Hmm." (Rendy)


"Aku ... ." (Liana)


"Aku gak mau ada penolakan," ucap Rendy memotong ucapan Liana.


"Aku gak akan nolak," sahut Liana.


"Lalu?" ucap Rendy.


"Bekas kemarin ... ." Liana menggantung ucapannya.


"Kenapa, sayang?" ucap Rendy sembari membaringkan Liana di tempat tidur!


"Masih sakit," sambung Liana.

__ADS_1


Rendy mengernyitkan dahinya.


"Boleh aku periksa," ucap Rendy dengan senyum jahil.


"Jangan dong," ucap Liana.


Rendy tertawa kecil, "masih malu aja. Udah berapa lama jadi istriku?" ucapan Rendy.


Liana mengulum bibirnya yang membuat Rendy merasa gemas dan ingin segera menerkam mangsanya.


"Boleh ya?" ucap Rendy memelas.


Liana menggelengkan kepalanya.


"Ya," sambung Rendy.


Liana masih terdiam dalam seribu bahasa.


"Ya, sayang," Rendy mengulang perkataannya.


Liana tersenyum geli melihat sikap sang suami yang seperti anak kecil merengek meminta uang jajan.


Liana mengecup bibir Rendy sekilas lalu membawa Rendy kedalam dekapannya.


"Boleh?" (Rendy)


"Tidak," ucap Liana dengan senyuman yang terlihat menawan dimata Rendy.


Rendy tak membuka suara lagi, ia berbaring di tempat tidur dengan posisi membelakangi Liana.


Liana menatap sang suami iba ada rasa kasihan karena ia sudah menelantarkan suaminya itu.


Liana berbaring di samping Rendy lalu meminta agar Rendy membalikkan badannya.


"Apa, Li. Aku ngantuk," ucap Rendy.


"Peluk aku," ucap Liana manja.


Rendy menarik nafas panjang lalu membuangnya perlahan, Rendy memutar badannya hingga ia menghadap Liana lalu memeluk Liana erat.


Liana tersenyum melihat raut wajah sang suami yang terlihat kusut seperti baju yang belum disetrika.


"Mas, buka matamu," ucap Liana setelah membuka kancing bajunya yang paling atas.


Rendy menuruti permintaan Liana. Ia membuka matanya dan langsung nampak pemandangan yang membuat ia harus menelan salivanya untuk membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba terasa kering.


"Kamu menggodaku," ucap Rendy.


"Tidak. Ini memang untukmu," ucap Liana sembari mengusap pipi sang suami.


"Tadi gak boleh," ucap Rendy.


"Aku gak bisa menelantarkan suamiku sendiri," ucap Liana.


Merasa sudah tak tahan Rendy segera menyerang Liana tanpa henti.


Dua puluh menit berlalu akhirnya Rendy selesai dengan urusan pribadinya, ia berbaring di samping Liana sembari menatap sang istri yang terlihat kelelahan.


"Maaf ya," ucap Rendy.


Liana tersenyum tipis lalu memejamkan matanya. Sementara Rendy belum bisa tidur, ia menatap sang istri.


"Aku tidak tahu seberapa besar cintaku padamu tapi yang pasti aku gak mungkin bisa hidup tanpamu," ucap Rendy lirih.


Rendy mencium kening Liana lalu mencium pipinya juga.

__ADS_1


"Love you," ucap Rendy lalu ia memejamkan matanya menyusul Liana ke alam mimpi.


Bersambung


__ADS_2