
"Selamat malam, calon bidadari ku," ucap Elvan yang baru tiba di depan rumahnya Kayla.
"Elvan? Kok ke sini gak bilang-bilang?" ucap Kayla.
Kayla berlari ke dalam rumahnya! "Tunggu sebentar ya, Van," ucapnya sembari terus berlari.
"Kay!" seru Elvan sembari mengangkat sebelah tangannya dan mengatakan kepada Kayla yang sedang berlari memasuki rumahnya.
Kayla tak merespon Elvan yang memanggil namanya, dia terus berlari menuju kamarnya.
"Kayla kenapa? Seperti melihat hantu saja," gumam Elvan.
Tanpa disuruh oleh pemilik rumah, Elvan berjalan menghampiri sebuah kursi yang terdapat di teras rumahnya Kayla lalu ia duduk di kursi itu.
Beberapa menit kemudian, Kayla datang dengan mengenakan pakaian yang berbeda dari yang tadi ia kenakan saat Elvan tiba di rumahnya.
"Maaf ya, sudah membuatmu menunggu," ucap Kayla.
Elvan menoleh ke arah suara!
"Kamu kenapa, seperti orang ketakutan dan kenapa kamu mengganti pakaianmu?" ucap Elvan dengan penuh tanya.
"Gak apa-apa, aku berlari ya untuk segera mengganti pakaianku."
Karena Kayla tidak tahu bahwa, Elvan akan datang ke rumahnya, malam itu dia hanya mengenakan celana pendek yang hanya menutupi sedikit pahanya dan tanktop yang menampakkan setengah punggungnya.
Karena pakaiannya sangat terbuka, dia malu dan juga tidak ingin memperlihatkan tubuhnya kepada Elvan sebelum waktunya karena itulah Kayla segera berlari untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih tertutup.
"Kenapa harus ganti? Lebih bagus yang tadi daripada yang ini."
"Itu maunya kamu. Masuk yuk!" ucap Kayla.
"Mama dan Papamu ada di rumah?"
"Mama ada tapi Papa gak ada. Papa sedang ada pekerjaan di luar kota."
"Jadi kamu hanya berdua di rumah?"
"Iya."
Kayla berjalan memasuki rumahnya dengan diikuti oleh Elvan dari belakangnya.
"Duduk, Van!" ucap Kayla mempersilahkan Elvan untuk duduk.
"Kamu mau minum apa? Teh, kopi, susu atau apa?" tanya Kayla setelah Elvan duduk.
"Apa saja yang penting gak ada racunnya," ucap Elvan sembari menatap Kayla dengan senyuman yang sulit diartikan di bibirnya.
"Aku akan membubuhi sianida didalamnya."
"Sianida? Siap nikahin dia. Jangan Kayla kamu kan mau nikah sama aku," ucap Elvan.
"Siapa yang mau nikah sama orang lain? Lagi pula siapa yang kamu maksud dia itu?"
"Kamu bilang tadi sianida. Bukannya sianida singkatan dari siap nikahin dia?"
"Elvan, kamu kerjaannya bercanda mulu ya!"
Kayla tersenyum lalu pergi ke dapur untuk mengambilkan minuman untuk Elvan!
...****************...
Biani masih setia duduk di kursi itu sembari terus menggenggam tangan Jenny.
"Mama cepat sembuh ya," ucap Biani.
"Bi, dari mana kamu dapat uang untuk biaya pengobatan Mama? Mama pengen pulang saja, kita gak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit ini," ucap Jenny.
"Sekarang aku udah kerja, Ma. Nanti kalau aku udah gajian, aku akan membayar biaya rumah sakit kok, Ma."
__ADS_1
"Tapi Mama sudah lama di sini. Ini rumah sakit mahal Bi, bukan rumah sakit biasa."
Saat mereka sedang mengobrol tiba-tiba datang seorang suster ke dalam ruangan itu!
"Maaf mengganggu, Bu saya mau–"
"Maaf, suster saya belum ada uang untuk melunasi sisa pembayarannya," ucap Biani tanpa menunggu suster itu selesai bicara.
"Saya ke sini mau memberikan ini," ucap suster itu sembari memberikan selembar kertas kepada Biani.
Biani menerima lembar kertas itu lalu membacanya.
"Sudah dibayar," gumam Biani.
Biani menatap suster itu dengan tatapan tak percaya. Dirinya belum membayar biaya rumah sakit Mamanya namun kenapa suster itu memberikan surat pernyataan sudah dibayar.
"Suster, siapa yang membayarnya?" tanya Biani.
"Seorang gadis. Namanya ada dibawah tulisan pernyataan yang terdapat pada kertas itu. Saya permisi!"
Setelah menjelaskannya kepada Biani, suster itu langsung pergi meninggalkan ruangan itu.
Biani kembali membaca tulisan yang terdapat pada lembar kertas itu dengan teliti dan di paling bawah di sisi kanan terdapat nama beserta tanda tangan orang yang melakukan pembayaran itu.
"Kayla," ucap Biani.
"Siapa wanita bernama Kayla itu, Nak?" tanya Jenny yang mendengar perkataan Biani.
Biani menatap Jenny lalu duduk lagi di kursi tempat semula ia duduk.
"Kayla adalah polisi yang menangani kasus Kak Jacky," jelas Biani.
"Apa, dia yang membayar biaya rumah sakit Mama?"
"Iya. Sebenarnya saat pertama Mama masuk rumah sakit juga, dia yang membayar biaya administrasinya."
Biani menundukkan kepalanya. "Saat itu aku dan Kak Jacky sangat panik melihat Mama yang langsung tak sadarkan diri. Kami tidak tahu harus bagaimana, akhirnya Kayla meminta Kak Jacky untuk membawa Mama ke rumah sakit dengan menggunakan mobilnya dan setelah tiba di rumah sakit ternyata Kak Jacky tidak punya uang sepeserpun untuk membayar biaya administrasi rumah sakit ini. Kayla sudah berbaik hati membayarkan biaya administrasi, aku pikir dia akan meminta ganti ternyata tidak malah sekarang dia lagi yang melunasi sisa pembayarannya," ucap Biani panjang lebar.
"Siapa gadis itu? Kenapa dia mengorbankan uangnya demi orang yang sama sekali tidak dia kenal?"
"Yang aku tahu dia adalah seorang polisi wanita yang bekerja secara rahasia. Kemampuannya dalam menyelidiki setiap kasus yang dia kerjakan sangat tinggi, dia tidak pernah gagal dalam setiap misinya dan pergerakannya jarang sekali terendus oleh setiap penjahat yang sedang dia intai."
"Untuk apa dia melakukan semua ini? Biani, tadi dia datang ke sini katanya dia ingin tahu kondisi Mama."
"Apa, dia ke sini?"
"Iya."
...****************...
Rio sedang duduk di taman depan rumahnya, sembari terus memikirkan tentang perasaannya kepada Biani.
Dokter muda itu sudah terlanjur jatuh cinta pada Biani namun kenyataan keadaan keluarga Biani sangat tidak mungkin bisa diterima oleh orang tuanya. Bukan hanya Kakaknya Biani yang kini sedang dipenjara namun masa lalu Biani yang juga pernah dipenjara membuat harapannya untuk bersama Biani semakin menipis.
"Kenapa harus Biani, kenapa bisa seperti ini. Aku sudah sangat mencintai Biani tapi tidak mungkin Mama dan Papa menerima Biani karena masa lalunya akan menjelekkan nama ku dan juga orang tuaku," gumam Rio.
Diusianya yang masih terbilang sangat muda, Rio sudah mendapatkan gelar doktor dan dia juga sudah memiliki beberapa restoran di kota tempat ia tinggal.
Selain bekerja menjadi seorang dokter, Rio juga mengikuti jejak orang tuanya dengan menekuni usaha dibidang kuliner.
Orang tuanya Rio adalah salah satu pengusaha kuliner yang sangat sukses, mereka memiliki banyak restoran baik didalam maupun di luar negeri. Mereka sangat terpandang dan juga banyak disegani orang-orang.
Mamanya Rio berjalan menghampiri Rio yang sedang terlihat galau itu!
"Anak, Mama kenapa murung begitu?" ucap Athalya (mamanya Rio)
Rio menatap wajah Mamanya.
"Mama. Dari kapan di sini?" ucap Rio.
__ADS_1
"Dari tadi, Mama lihat kamu kok seperti ada yang sedang dipikirkan, kenapa? Kamu mikirin apa?" ucap Athalya.
"Nggak, biasa saja."
"Kamu pikir, kamu bisa membohongi Mama."
Athalya menatap putra pertamanya dengan tatapan tajam namun dengan senyuman tipis di bibirnya.
"Sebenarnya aku sedang memikirkan pasien ku, Ma."
Athalya menatap Rio lagi, kali ini dengan tatapan kebingungan.
"Mikirin pasien kok sampai segitunya?"
"Pasien ini seorang ibu yang memiliki dua orang anak. Kondisinya sangat memprihatinkan hingga aku kepikiran terus sama dia."
"Kok bisa sampai kepikiran gitu. Kamu suka sama anaknya atau memang kamu hanya perduli kepada mereka?"
Rio terdiam, dalam hatinya ia berkata.
"Ya, aku memang mencintai anak gadisnya."
"Rio!" seru Athalya.
"Kenapa malah bengong?" ucap Athalya lagi.
"Mereka bukan keluarga kaya, Ma. Untuk pembayaran biaya rumah sakit saja mereka tidak ada, karena itu lah aku kepikiran sama mereka."
"Kenapa kamu tidak membayarkan biaya rumah sakitnya?"
"Yang aku tahu semua biaya pengobatan ibu itu sudah dibayarkan oleh seseorang yang masih dirahasiakan identitasnya. Yang sedang aku pikirkan adalah bagaimana mereka bisa menyambung hidup setelah pulang dari rumah sakit?"
Athalya duduk di samping Rio lalu mengusap-usap pundak Rio.
"Kalau kamu perduli sama mereka, kamu cari tahu siapa mereka, dimana mereka tinggal dan sehari-hari bekerja apa mereka. Setelah kamu tahu kamu bisa memberikan bantuan kepada mereka berupa modal usaha, tapi ingat memberikannya dengan cara yang baik dan tepat agar mereka tidak tersinggung."
"Aku sudah tahu siapa mereka dan dimana mereka tinggal. Aku tahu tulang punggung mereka adalah Jacky yang kini sedang menjalani hukuman atas perbuatannya," ucap Rio didalam hatinya.
...****************...
"Ada, Nak Elvan ternyata," ucap Arkhana yang baru keluar dari kamarnya.
"Tante." Elvan beranjak dari duduknya lalu mencium punggung tangan calon ibu mertuanya lalu duduk lagi di tempat semula ia duduk.
"Aku pikir, Mama sudah tidur jadinya aku gak bilang Mama kalau ada Elvan," ucap Kayla.
"Belum, Mama kan belum makan malam, masa sudah tidur?"
Kayla tersenyum tipis, perkataannya memang tidak masuk akal. Tidak mungkin Mamanya tidur di jam segini.
"Tante, aku mau minta izin untuk mengajak Kayla makan malam di luar," ucap Elvan.
"Boleh, asal pulang nya jangan terlalu larut malam ya."
"Baik tante, kalau tante mau, tante juga boleh ikut bersama kami."
"Tidak perlu, Nak. Tante makan di rumah saja lagian tante gak mau jadi pengganggu diantara kalian."
"Pengganggu apa. Kami tidak akan merasa terganggu."
"Iya, Ma. Kalau mau ikut, ikut saja," sambung Kayla.
"Tidak, udah kalian berangkat saja," ucap Arkhana.
Elvan dan Kayla berpamitan kepada Arkhana lalu mulai meninggalkan rumah orang tuanya Kayla.
Mereka berdua akan makan malam bersama di restoran favorit keluarganya Elvan.
Bersambung
__ADS_1