Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Bab 83


__ADS_3

"Ken kenapa, Dokter?" ucap Elma dengan air mata yang mulai mengalir.


Rendy merangkul Elma dari belakang lalu mengusap-usap lengan atas Elma.


"Mama ... jangan nangis, Dokter belum mengatakan apa-apa," ucap Rendy dengan suara sedikit berbisik.


"Pasien kritis. Kami sudah melakukan yang terbaik tapi sepertinya ... ." (Dokter)


"Tidak! anak saya pasti baik-baik saja. Anda pasti sedang berbohong," ucap Elma memotong perkataan dokter.


Elma tak ingin mendengar kabar buruk, namun rupanya yang ia takutkan kini terjadi juga.


Elma menangis dipelukan Rendy, ia tak kuasa menahan kepedihan yang melanda hatinya.


"Saat ini kami tidak bisa berbuat banyak untuk kesembuhan pasien. Kita ber_do'a saja semoga Tuhan memberikan kesembuhan kepada pasien," ucap dokter itu dengan nada pelan.


"Apa tidak ada cara lain lagi yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan Ken?" tanya Rendy.


Rendy berusaha untuk tetap tenang, ia tidak boleh menunjukkan sisi rapuhnya terhadap sang ibu. Meski sebenarnya ia merasa sangat terpukul dengan kabar dari dokter itu.


Dokter itu menggelengkan kepalanya! "tidak ada," sahut dokter itu.


Setelah selesai dengan pembicaraannya Rendy dan Elma keluar dari ruangan dokter itu!


Elma tak kuasa menopang berat tubuhnya hingga ia berjalan sembari dipapah oleh Rendy.

__ADS_1


"Ken," lirih Elma. Tangisnya semakin sulit reda karena Elma tak ingin kehilangan putranya secepat itu.


"Mama, jangan sedih. Ken pasti selamat," ucapan Rendy mencoba menguatkan Elma padahal ia sendiri merasa tak yakin dengan ucapannya


Setelah berjalan beberapa meter, Elma pingsan.


"Mama!" Dengan sigap Rendy menahan tubuh mamanya agar tidak jatuh ke lantai!


Liana, Shila dan Sam yang melihat kejadian itu langsung berlarian menghampiri Rendy dan Elma!


"Ibu," ucap Shila sembari meraih tangan Elma.


"Dokter! dokter!" teriak Liana panik.


Rendy dan Sam segera membawa Elma ke ruang periksa!


Setelah lima menit lebih dokter itu keluar dari ruangan itu! "kalian boleh masuk," ucap dokter itu.


Rendy dan Liana masuk ke ruangan itu sedangkan Shila dan Sam menunggu diluar ruangan.


"Mama saya kenapa, Dok?" tanya Rendy.


"Ibu Elma butuh istirahat," ucap dokter itu singkat.


Liana yang sedang menggenggam tangan ibu mertuanya sambil terus menatap wajah sang mertua berkata. "Berarti Mama harus pulang untuk beristirahat."

__ADS_1


"Mama gak mau pulang, Mama mau disini nungguin Ken," ucap Elma yang masih berbaring di hospital bed.


"Baik dokter, saya akan memastikan Mama saya istirahat dalam waktu beberapa hari ini," ucap Rendy kepada dokter itu.


"Kalau gitu saya permisi," ucap dokter itu, "Ibu Elma jangan banyak pikiran dan istirahat yang cukup ya," sambung dokter itu sebelum pergi dari ruangan itu.


"Mama pulang ya, biar aku yang jagain Ken disini," ucap Rendy dengan nada lembut.


Elma menggelengkan kepalanya! "bagaimana Mama bisa tenang sedangkan anak Mama sedang berjuang diantara hidup dan matinya," ucap Elma dengan air mata yang mulai mengalir membasahi pipinya.


"Ken pasti baik-baik saja, Ma. Mama pulang yuk sama aku biar mas Rendy yang disini jagain Ken," ucap Liana sambil terus menggenggam tangan ibu mertuanya.


"Liana benar, Ma. Mama pulang terus istirahat disini aku sama Sam yang akan jagain Ken dua puluh empat jam," ucap Rendy.


Setelah hampir dua puluh menit berbicara akhirnya Elma menuruti permintaan Rendy untuk pulang.


"Liana tolong temenin Mama di rumah ya," ucap Elma.


Liana tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


"Rendy, kamu jaga adikmu baik-baik ya," ucap Elma kepada Rendy.


"Mama tenang saja," sahut Rendy.


Elma pulang dari rumah sakit bersama Liana tanpa adanya pengawalan dari para bodyguardnya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2