Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Bab 61


__ADS_3

Saat ini waktu baru menunjukkan pukul sepuluh pagi, namun handphone Rendy tak berhenti berdering tanda ada panggilan masuk dari seseorang, notifikasi pesan pun tak ada hentinya.


Rendy membaca pesan yang dikirim oleh Jenny.


📩 "Sayang aku pengen ketemu sekarang."


📩 "Sayang kamu beneran cinta kan sama aku?"


📩 "Sayang angkat dong teleponku."


📩 "Kalau kamu gak nemuin aku disini biar aku yang ke kantor kamu ya."


Rendy panik saat membaca pesan terakhir dari Jenny, tidak mungkin ia membiarkan Jenny ke kantornya karena rencananya hari ini Liana juga akan ke kantor.


Rendy segera membalas pesan dari kekasihnya itu.


📩 "Aku kesana sekarang."


📩 "Kamu tunggu aja disitu."


Rendy beranjak dari duduknya lalu berjalan cepat menuju tempat dimana mobilnya terparkir!


"Pak, ini berkas yang harus anda tandatangani," ucap salah satu karyawan Rendy.


"Kasih Ken aja," sahut Rendy tanpa menghentikan langkahnya.


Karyawan itupun menuruti perintah Rendy, ia langsung mengetuk pintu ruangan Ken!


Tok! tok! tok!


"Masuk!" terdengar suara Ken yang mempersilahkannya untuk masuk kedalam ruangan Ken.


Karyawan itupun segera masuk kedalam ruangan Ken lalu memberikan berkas yang ia pegang.


"Ada apa?" tanya Ken.


"Saya mau memberikan berkas yang harus ditandatangani oleh Pak Rendy," ucap karyawan itu.


"Kenapa dikasih ke saya? kan Pak Rendy ada di ruangannya," ucap Ken yang tak tahu kalau Rendy sudah pergi.


"Pak Rendy tidak ada. Barusan dia keluar dengan tergesa-gesa, mungkin ada sesuatu yang terjadi," jelas karyawan itu.


"Keluar? yaudah kamu kembali kerja lagi aja ya," ucap Ken sembari mengambil berkas itu dari tangan karyawannya.


"Baik, Pak. Permisi," ucap karyawan itu.


Setelah karyawan itu pergi, Ken mengambil ponselnya lalu menelpon Rendy.


Lama Rendy tak mengangkat telepon dari Ken, hingga Ken harus menelpon kakaknya itu berkali-kali.


Setelah lebih dari sepuluh kali Ken berusaha menghubungi Rendy, akhirnya Rendy menerima telepon darinya.


📞 "Halo!" (Rendy)


📞 "Mau kemana lo?" tanya Ken tanpa basa-basi.


📞 "Ada urusan sebentar," sahut Rendy.

__ADS_1


📞 "Lo tahu kan, ini masih jam kerja?" ucap Ken mengingatkan Rendy.


📞 "Gue keluar gak sampai satu jam kok," jelas Rendy.


📞 "Jangan lama. Berkas yang harus lo periksa dan lo tandatangani udan numpuk di meja gue," ucap Ken lalu mematikan telepon secara sepihak.


Rendy mempercepat laju kendaraannya untuk menghemat waktu, karena memang saat ini ia sedang banyak pekerjaan.


Tak sampai dua puluh menit Rendy sudah tiba di tempat ia akan bertemu dengan Jenny.


Rendy turun dari mobil setelah memarkirkan mobilnya! Rendy berjalan memasuki kafe tersebut dan ia langsung mendapati Jenny sedang duduk manis menunggunya.


Jenny langsung berhamburan memeluk Rendy!


"Sayang, kamu lama banget," ucap Jenny dengan gaya nanyanya.


"Aku sibuk di kantor," sahut Rendy sembari merapikan anak rambut Jenny yang berantakan.


"Setelah lama kita tidak bertemu, aku jadi sering kangen sama kamu. Kita jalan yuk ke mall biar gak boring," ucap Jenny.


"Jenny, sudah aku bilang aku sibuk. Jalannya lain kali aja ya," ucap Rendy dengan penuh kehati-hatian karena ia tak mau kalau Jenny sampai marah padanya.


Jenny mengerucutkan bibirnya beberapa centi lalu berkata, "janji ya, kalau kamu gak sibuk kita jalan berdua."


"Iya, sayang. Aku janji, kapan sih aku bohong sama kamu," ucap Rendy sembari terus mengelus punggung tangan Jenny dengan lembut.


Jenny tersenyum lalu kembali memeluk Rendy!


"Terimakasih karena selalu menjadi yang terbaik untukku," ucap Jenny manja.


Rendy tak menjawab ucapan Jenny dalam hatinya ia mulai khawatir takut Liana sudah tiba di kantor tapi malah ia tidak ada disana.


Jenny menggelengkan kepalanya! "aku mau nyalon aja," ucap Jenny.


Rendy mengambil dompetnya lalu mengambil sejumlah uang!


"Segini, cukup?" ucap Rendy sembari memberikan uang itu kepada Jenny.


"Cukup," sahut Jenny singkat sembari menyambar uang itu penuh semangat.


"Aku balik ke kantor ya," ucap Rendy sembari mengelus lembut rambut Jenny lalu mencium pipinya sekilas.


Jenny tersenyum manis, "tiap hari kita ketemu ya," ucap Jenny.


"Akan aku usahakan," ucap Rendy lalu pergi meninggalkan Jenny di tempat itu.


Jenny menatap kepergian Rendy dengan senyuman penuh kemenangan.


Setelah Rendy benar-benar pergi, Bram muncul dari persembunyiannya.


"Gimana hasilnya?" ucap Bram kepada Jenny.


Jenny mengipas-ngipaskan uang dari Rendy di depan mata Bram!


"Tidak terlalu sulit untuk masuk kembali kedalam kehidupan laki-laki bodoh itu," ucap Jenny dengan tawa kecil.


"Kamu memang hebat sayang," ucap Bram lalu memeluk Jenny dengan mesra.

__ADS_1


"Siapa dulu, Jenny gitu loh," ucap Jenny menyombongkan diri.


"Apa rencana selanjutnya," ucap Bram.


"Selanjutnya aku akan menyuruh Rendy menceraikan istrinya agar aku bisa leluasa keluar masuk lagi ke kantornya," jelas Jenny.


"Apa kamu yakin?" tanya Bram.


"Karena kamu tidak mungkin bisa masuk lagi ke kantor Rendy terpaksa aku yang harus berusaha masuk kesana lagi untuk mengambil separuh saham perusahaan milik Rendy," jelas Jenny panjang lebar.


"Kamu memang pintar sayang," ucap Bram dengan senyum licik.


"Jalan-jalan?" ucap Jenny.


"Ayo kita pergi."


Bram dan Jenny melangkahkan kakinya menuju mobil lalu pergi meninggalkan tempat itu.


Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit Rendy tiba di kantornya.


"Dari mana lo?" tanya Ken yang kesal karena Rendy mulai keluar lagi pada saat jam kerja.


"Dari ... dari." Rendy kesulitan mencari alasan.


"Gue banyak kerjaan," ucap Rendy lalu pergi ke ruangannya meninggalkan Ken yang masih berdiri di tempat semula.


Ken menggelengkan kepalanya, "anak itu kenapa?" gumam Kendra.


Ken kembali ke ruangannya untuk mengambil beberapa berkas yang harus Rendy tandatangani.


Setelah mengambil beberapa berkas itu, Ken segera mengantarkannya ke ruangan Rendy.


Ken masuk ke ruangan Rendy tanpa mengetuk pintu. Dilihatnya kakaknya sedang duduk di kursi kebesarannya terlihat raut wajah gelisah disana.


"Kenapa lo gelisah begitu?" ucap Ken.


"Tidak apa-apa, aku hanya kecapekan," sahut Rendy.


"Lo gak bisa bohong sama gue," ucap Ken lalu duduk di kursi yang ada di depan meja kerjanya Rendy.


"Jenny kembali," sahut Rendy.


"Aku tahu itu," ucap Ken.


"Dia ingin melanjutkan hubungan yang sempat terhenti," ucap Rendy dengan nada pelan.


"Terus?" ucap Ken penuh tanya.


"Jujur gue masih mencintainya," ucap Rendy mengakui perasaannya.


"Terus lo mau ninggalin Liana gitu aja setelah apa yang lo lakukan sama Liana?" Ken bertanya penuh amarah.


"Gue juga mencintai Liana." Dengan mudahnya Rendy mengatakan bahwa ia juga mencintai Liana.


"Lo bisa fokus pada satu tujuan gak sih, Ren? gak mungkin satu hati ada dua cinta." (Ken)


"Tapi gue gak mau kehilangan Jenny dan Liana. Gue mencintai mereka berdua." (Rendy)

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2