
Di sebuah kafe Rendy sedang menemui Jenny.
"Sayang, tumben kamu ngajak ketemu sepagi ini, kamu gak ke kantor?" tanya Jenny kepada Rendy.
"Aku rindu sama kamu. Nanti setelah menemuimu baru aku ke kantor, biar kerjanya semangat," ucap Rendy sembari mengelus tangan Jenny.
"Aku juga kangen sama kamu. Akhir-akhir ini kamu sulit diajak ketemu," ucap Jenny dengan gaya manjanya.
"Maaf ya, aku sibuk," sahut Rendy dengan senyum di bibirnya.
Jenny beranjak dari duduknya lalu melangkahkan kakinya mendekati Rendy!
Jenny mendekatkan wajahnya ke wajah Rendy, niatnya ia ingin mencumbu sang kekasih.
"Jangan di sini Jenny," ucap Rendy menolak perlakuan Jenny.
Jenny mendengus kesal karena ditolak oleh sang kekasih.
"Di sini banyak orang. Kalau mau, kita lakukan di tempat lain yang gak ada orang lain selain aku dan kamu," jelas Rendy.
Jenny tersenyum, ia pikir Rendy sudah tak mencintainya lagi namun ternyata kekasihnya itu ingin yang lebih dari biasanya.
"Mau ke hotel?" ucap Jenny dengan senyum menggoda.
"Boleh," ucap Rendy singkat.
Pasangan kekasih itu pergi meninggalkan kafe itu. Mereka berdua hendak pergi ke hotel untuk memadu kasih setelah sekian lama tak bertemu.
Di kantor.
"Ni anak kemana, jam segini belum tiba di kantor?" gumam Ken sembari melihat jam di tangannya.
__ADS_1
Waktu sudah menunjukkan pukul 09:45 wib.
Namun Rendy belum kunjung menampakkan batang hidungnya.
"Pasti dia ketemu sama wanita ular itu," ucap Ken didalam hatinya.
Ken mengepalkan tangannya, ada rasa marah terhadap kakaknya karena masih meneruskan hubungan gelapnya dengan wanita yang ia benci.
Ken memang mengetahui hubungan Rendy dengan Jenny karena sekecil apapun rahasia yang disembunyikan oleh Rendy dari semua orang. Rendy pasti memberitahukan rahasia itu kepadanya.
Di tempat penyekapan.
"Makan!" ucap Shila kepada dua tawanannya sembari menyodorkan dua piring berisi nasi dan lauk.
Seorang rekan Shila membuka tali yang mengikat tangan preman itu!
"Lo mau makan atau mau mati!" Shila menodongkan senjata api kepada salah satu preman yang ia sekap.
Setelah Arman dan temannya selesai makan, Shila mulai bertanya-tanya lagi kepada kedua preman itu.
Di sebuah kamar hotel.
"Kamu yakin ingin memberikan itu padaku?" tanya Rendy kepada Jenny.
Jenny sudah membuka dua kancing bajunya.
"Aku cinta sama kamu. Apapun akan aku berikan asalkan kamu tetap bersamaku," sahut Jenny sembari menghentikan pergerakan tangannya.
"Aku tidak memintanya," ucap Rendy dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Dengan senang hati aku akan melayanimu," ucap Jenny sembari mengalungkan tangannya di leher Rendy.
__ADS_1
"Kenapa kamu sangat mempercayaiku, bagaimana jika aku pergi setelah mendapatkan mahkotamu?" ucap Rendy.
Rendy belum merespon perlakuan Jenny meski kini Jenny sudah melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan olehnya.
"Aku yakin kamu akan bertanggungjawab," ucap Jenny lalu mengecup leher Rendy.
Rendy membelai pipi Jenny lalu membawanya berbaring ke tempat tidur.
Drrt! Drrt! Drrt!
Ponsel Rendy bergetar tanda ada pesan masuk.
Rendy melepaskan Jenny lalu segera berdiri untuk mengambil ponselnya yang berada di atas meja!
"Mengganggu saja," ucap Jenny didalam hatinya.
Rendy segera melihat siapa yang mengirim pesan padanya, sebuah senyuman terukir di bibirnya setelah ia membaca pesan itu.
"Jenny aku harus pergi. Ada acara mendadak yang harus aku hadir," ucap Rendy.
"Lalu bagaimana dengan aku?" ucap Jenny.
"Kamu pergi shopping saja."
Rendy mengambil uang tunai dari dalam dompetnya! secarik kertas terjatuh dari dalam dompet Rendy, namun Rendy tak menyadarinya.
Setelah Rendy pergi, Jenny mengambil kertas itu dan alangkah bahagianya Jenny setelah tahu di kertas itu ada tulisan nomor pin brankas nya Rendy dan pin keluar masuk ruangan pribadi Rendy.
"Sebentar lagi aku akan menguasai hartamu, Rendy," ucap Jenny didalam hatinya.
Sebuah senyuman licik terukir dibibir Jenny.
__ADS_1
Bersambung