Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Bab 66


__ADS_3

Setelah lima belas menit menunggu akhirnya Ridwan datang dengan beberapa orang yang tidak Ken kenal dan kurang lebih sepuluh bodyguard yang membersamsinya.


"Kakeknya Liana sudah datang," ucap Ken kepada Shila.


"Yang mana?" ucap Shila karena ia tak mau salah orang jika nanti terjadi perkelahian.


"Yang berjalan paling depan, yang mengenakkan jas berwarna putih," jelas Ken.


"Lalu yang lainnya?" tanya Shila lagi.


"Aku juga gak tahu," ucap Ken, "kita cari tahu nanti," sambung Ken.


"Pak, saya rasa banyak yang memperhatikan gerak-gerik kita," bisik Shila.


"Mana?" ucap Ken pura-pura tidak tahu.


"Disetiap titik ada satu orang yang terus mengawasi kita," ucap Shila.


"Itu cuma perasaanmu saja kali," ucap Ken.


"Tidak. Selama ini insting saya tidak pernah salah," ucap Shila mantap.


Ken tersenyum mendengar ucapan Shila.


"Insting kamu memang kuat pantas saja kamu menjadi satu-satunya wanita pengintai profesional yang saya kenal," ucap Ken.


Shila tak menjawab ucapan Ken, ia rasa Ken terlalu memujinya.


"Mereka adalah orang-orang yang aku tugaskan untuk berjaga-jaga kalau nanti ada sesuatu yang tidak diinginkan," jelas Ken.


Shila mengangguk. "Lalu bodyguard siapa yang berdiri seperti pagar itu," ucap Shila.


"Mereka orang-orangnya Kakeknya Liana," jelas Ken.


"Mereka lawan yang handal," ucap Shila.


"Maksudnya?" tanya Ken karena ia tak mengerti dengan ucapan Shila.


Shila mengambil sesuatu dari dalam tas kecil yang ia bawa!


"Lihat ini," ucap Shila sembari menunjukkan sebuah lencana.


Ken menatap benda kecil yang berkilau itu dengan seksama.


"Mereka juga memiliki ini," ucap Ken.


"Ya, kami lembaga yang sama," jelas Shila.


"Jadi, kamu kenal dengan mereka?" tanya Ken.


"Tidak. Jika diumpamakan dengan sekolah, mereka adalah adik-adik kelasku," jelas Shila.


Ken mengangguk paham, dalam pikirannya berarti Shila lebih kuat dari mereka.

__ADS_1


Tak lama Rendy dan Liana tiba di tempat itu. Rendy mengedarkan pandangannya mencari dimana keberadaan Ridwan.


"Mas, orang-orang itu ... ?" ucap Liana yang mengenal bodyguardnya Ridwan.


"Kamu tenang, sayang ada aku disini," ucap Rendy sembari menggenggam erat tangan Liana.


"Mereka disana!" ucap Rendy sembari menunjukkan jarinya pada suatu tempat.


Pandangan Liana mengikuti kemana arah telunjuk Rendy.


"Kakek?" ucap Liana sembari menatap sang suami.


"Ya," ucap Rendy singkat, "kamu jangan takut, ada aku disini dan ada Ken juga yang akan membantu kita jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," sambung Rendy.


Liana tak menjawab ucapan Rendy, ia tak mengerti kenapa suaminya membawanya bertemu dengan kakeknya padahal Rendy tahu kalau selama ini kakeknya selalu memburu Liana.


"Ayo! jangan takut." Rendy membawa Liana menghampiri kakeknya.


"Ayah, Ibu," ucap Liana setelah ia mengetahui ada Ayah dan Ibunya disana.


Rendy yang tidak tahu kalau Ridwan akan mengajak ayah dan ibu mertuanya merasa ada yang salah dengan semua ini.


"Kalian sudah datang," ucap Ridwan dengan senyum bahagia.


"Ayah, Ibu ada apa ini?" tanya Liana.


Selama ini orang tuanya Liana tidak pernah bertemu dengan kakeknya karena memang selama ini hubungan mereka renggang karena kakeknya Liana tidak menyetujui pernikahan antara Ratih dengan Herdiawan.


"Duduk dulu sayang," ucap Ratih dengan senyum penuh kebahagiaan yang selama ini jarang terlihat.


Rendy menganggukkan kepalanya mengisyaratkan agar Liana duduk bersama keluarganya.


"Silahkan, kakek," ucap Rendy dengan tenang.


"Sebelumnya kakek ingin berterimakasih kepada kamu karena kamu mau mengajak Liana kesini," ucap Ridwan kepada Rendy.


Liana menatap sang suami penuh tanya. Tidak mungkin suaminya menyerahkannya kepada kakeknya begitu saja.


"Langsung pada intinya saja, Kek. Istri saya mulai ketakutan," ucap Rendy tak ingin bertele-tele.


"Baiklah. Seperti pembicaraan kita kemarin, perkenalkan mereka anak dan menantu saya," ucap Ridwan.


"Saya tahu," ucap Rendy dengan wajah datarnya.


"Baiklah, orang ini adalah sahabat sekaligus partner bisnis saya yang cucunya akan saya jodohkan dengan Liana," jelas Ridwan.


Deg! jantung Liana seperti ada yang menghantam begitu keras. Ia mulai berpikir buruk terhadap suaminya.


"Mungkinkah, mas Rendy sengaja melakukan semua ini?" batin Liana.


Rendy menatap sang istri yang mulai ketakutan dan wajahnya pun sudah mulai pucat. Rendy menggenggam tangan Liana erat.


"Semua akan baik-baik saja," ucap Rendy mencoba menenangkan Liana.

__ADS_1


"Liana maafkan kakek. Selama ini kakek sudah banyak salah kepadamu dan kepada kedua orang tuamu," ucap Ridwan dengan raut wajah penuh penyesalan.


Liana terdiam dalam seribu bahasa.


"Kakek sudah membatalkan perjodohan kamu dengan cucu dari sahabat kakek," ucap Ridwan lagi.


"Bagaimana cara agar kami percaya dengan ucapan anda?" ucap Rendy tegas.


Rendy tak ingin ambil resiko dengan mempercayai Ridwan begitu saja, rasa cinta dan sayangnya terhadap sang istri membuat Rendy tidak ingin gegabah dalam mempercayai seseorang meski orang itu adalah kakek dari istrinya sendiri.


"Ini bukti bahwa saya sudah membatalkan perjodohan itu," ucap Ridwan sembari memberikan sebuah berkas kepada Rendy.


Rendy membaca isi berkas itu dengan seksama tanpa ada satu huruf pun yang terlewatkan, ia tak ingin ada kesalahan dalam hal sepenting ini.


Setelah selesai membacanya Rendy memberikan berkas itu kepada Liana agar istrinya itu mengetahui isi berkas tersebut.


Belum merasa puas dengan bukti yang ia baca, Rendy menanyakan bukti lain lagi.


"Ada satu bukti lagi yang kakek bawa," ucap Ridwan.


Rendy dan Liana saling pandang sementara Ratih dan Herdiawan hanya diam membiarkan Rendy menyerang Ridwan dengan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya ingin mereka tanyakan juga.


"Tolong katakan pada cucuku ini yang sebenarnya terjadi," ucap Ridwan kepada sahabat yang katanya adalah kakek dari orang yang akan dijodohkan dengan Liana.


"Kakekmu benar, Nak. Kami sudah membatalkan perjodohan itu karena saya juga tidak ingin cucu saya merebut istri orang," jelas orang itu.


Setelah merasa puas dengan bukti-bukti yang Ridwan bawa, Rendy mulai percaya dengan kakeknya Liana.


Lama mereka berbincang hingga pada akhirnya Ridwan mendapat kesempatan untuk memeluk Liana.


Ini kali pertama Ridwan memeluk cucunya dan hari ini juga hari pertama mereka bersama setelah tiga puluh tahun Ratih memilih menghindari Ridwan karena memilih hidup bersama Herdiawan.


Senyum bahagia terukir dibibir Ratih dan raut wajah penuh kebahagiaan terlihat disana.


Disela perbincangan hangat mereka Rendy melihat sosok Jenny berada diantara pengunjung lain yang berada disana.


Rendy mulai gugup dan salah tingkah.


Jenny yang dari tadi memperhatikan Rendy memberi isyarat agar Rendy menemuinya di tempat yang agak jauh dari mereka.


"Saya ke toilet sebentar ya," ucap Rendy dengan gelisah.


Liana menyadari bahwa suaminya tengah gelisah, tak ingin berpikiran buruk terhadap suaminya Liana berpikir mungkin suaminya terlalu tegang tadi.


Rendy berjalan menuju toilet disusul dengan Jenny dibelakangnya.


"Jenny kenapa kamu disini?" ucap Rendy panik.


"Sudah aku bilang, aku ingin bertemu denganmu," ucap Jenny.


Jenny memeluk Rendy dengan mesra namun Rendy menolak pelukan hangat dari sang kekasih.


"Jenny, tolong jangan disini. Aku takut Liana tahu," ucap Rendy.

__ADS_1


"Kenapa? kamu takut dia pergi? seharusnya kamu bahagia kalau dia pergi karena kita bisa menikah nanti," ucap Jenny.


Bersambung.


__ADS_2