
Pagi ini di kediaman Rendy, semua orang sudah siap untuk melakukan aktivitasnya masing-masing. Meski Rendy dan Ken mendapat luka saat diserang kemarin tapi mereka tetep pergi ke kantor.
"Sebaiknya kalian libur kekantor dulu," ucap Elma kepada Rendy dan Ken.
Sebagai seorang ibu, Elma merasa khawatir terhadap dua putranya itu. Luka bekas kemarin saja belum sembuh, Ia takut ada yang ingin mencelakai anak-anaknya lagi, saat dalam perjalanan ke kantor.
"Gak bisa, Mam. Di kantor lagi banyak kerjaan," ucap Rendy, sedangkan Ken hanya mengangguk, mengiyakan perkataan kakaknya.
"Mas, aku gak ikut ke kantor ya, aku mau di rumah aja sama Mama," ucap Liana, meminta izin kepada Rendy.
Liana tidak mungkin meninggalkan ibu mertuanya sendiri di rumah, waktu itu ia sudah mengecewakan ibu mertuanya karena tidak menemaninya jalan-jalan dan sekarang ia ingin mengganti waktu yang sudah terlewat itu dengan menemani ibu mertuanya.
"Tapi, sayang ... ."
Bukannya Rendy tidak ingin mengizinkan Liana, menemani Mamanya. Rendy yang tahu sifat Mamanya tidak ingin Liana mengalami kesulitan dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari Mamanya yang mungkin akan sulit untuk Liana menjawabnya.
Apalagi hubungan diantara Rendy dan Liana kini belum utuh sepenuhnya, meski keduanya sudah menikah tapi mereka memilih untuk melakukan pengenalan terlebih dahulu dengan cara berpacaran.
"Mas ... tolong izinkan aku untuk mengenal Mama lebih jauh lagi," ucap Liana memohon kepada suaminya.
"Sayang, anak nakal ini memang keras kepala. Kamu ikut saja ke kantor, Mama gak apa-apa. Lagipula Mama mau pergi menemui teman lama," ucap Elma kepada Liana, berbohong.
Sebenarnya Elma tidak ada acara apapun hari ini, karena Elma tahu jika keinginan putranya tidak dituruti putranya itu tidak akan fokus bekerja dan akan marah-marah gak jelas, Elma tidak ingin Ken jadi sasaran kekesalan Rendy.
"Beneran, Mama gapapa?" tanya Liana kepada ibu mertuanya.
Liana tidak enak hati kepada ibu mertuanya karena suaminya itu tidak pernah mengizinkan ia menemani Elma.
"Beneran, sayang. udah kalian berangkat sana, nanti kesiangan," ucap Elma.
Rendy, Liana dan Ken pun segera beranjak dari duduknya mereka bertiga berpamitan kepada Mamanya, tak lupa mereka mencium tangan Elma secara bergantian.
Setelah ketiganya masuk kedalam mobil, Ken segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang!
Rendy dan Liana duduk di bangku belakang.
Tak ada kemesraan diantara keduanya seperti layaknya sepasang suami-istri.
Mereka berdua asyik dengan pemikirannya masing-masing.
Hening, tidak ada sepatah katapun yang terucap dari mulut Liana ataupun Rendy.
__ADS_1
"Kalau sikap kalian seperti ini terus, bisa-bisa Mama curiga dengan hubungan kalian," ucap Ken memecah keheningan di dalam mobil yang ia kemudikan.
"Maksudnya?" tanya Liana kepada Ken.
"Hubungan kalian itu, gak ada manis-manisnya. Tidak seperti pasangan suami-istri pada umumnya," saut Ken.
"Ken. Bisa gak kalau ngomong, langsung pada intinya aja. Ucapan kamu itu terlalu berbelit-belit," ucap Liana yang tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Kendra.
"Astaga, gitu aja gak ngerti. Kalian sebagai sepasang suami-istri harusnya mesraa gitu. Jangan kaya sekarang, duduk aja berjauhan," jelas Ken.
Liana dan Rendy sama-sama terdiam. Yang Ken ucapkan memang benar adanya.
"Kalau kita mesra-mesraan disini nanti lu pengen. Apa lu, lupa kalau lu jomblo?" ucap Rendy.
Rendy sengaja mengalihkan pembicaraan, karena ia tidak ingin membahas tentang kedekatannya dengan Liana.
"Ken, kamu udah nemu calon menantu buat Mama belum?" tanya Liana kepada Ken.
"Belum. Kalian siapin cucu aja buat Mama, biar Mama gak nyuruh gue nikah mulu," ucap Ken.
"Cucu lagi, cucu lagi. Emang lu pikir bikin anak gampang apa?" ucap Rendy dengan nada kesal.
"Kalian bisa gak sih, gak berdebat sehari aja," ucap Liana yang tak mau mendengar dua laki-laki itu berdebat masalah yang menurutnya sensitif.
Ken memarkirkan mobilnya lalu ketiganya segera keluar dari mobilnya.
Baru Rendy akan melangkah tiba-tiba ia dikejutkan oleh Liana yang tiba-tiba menggandeng tangannya, senyum manis nampak dibibir istrinya itu.
"Ken, apa begini terlihat mesra?" tanya Liana sembari menyandarkan kepalanya di lengan atas Rendy.
Ken menatap Rendy dan Liana lalu tertawa kecil.
"Mesra sih tapi kaya dibuat-buat," ucap Ken lalu segera melangkah meninggalkan keduanya.
"Emang dibuat-buat."
Liana melepaskan gandengan tangan Rendy lalu kembali menjaga jarak dengan Rendy.
"Aku lebih nyaman kaya barusan, Li," ucapan Rendy dengan gaya nakalnya.
"Barusan itu cuma latihan, biar nanti gak gerogi kalau mau pura-pura mesra," ucap Liana sembari melangkahkan kakinya menyusul Ken yang sudah masuk lebih dahulu ke dalam kantor.
__ADS_1
Rendy berlari kecil agar dapat mensejajarkan langkahnya dengan Liana!
"Bisa diulang lagi gak latihannya?" tanya Rendy.
Liana tak menjawab pertanyaan suaminya, ia terus berjalan menuju ruangan Rendy! sesampainya di ruangan yang ia tuju, seperti biasa pekerjaan Liana hanyalah duduk manis menemani suaminya bekerja.
Di kediaman Herdiawan.
Ridwan sedang marah-marah kepada Ratih, karena kemarin semua anak buahnya babak belur dihajar oleh Liana dan dua laki-laki yang tidak Ridwan kenali.
Pria tua itu terus mencaci putri satu-satunya itu. Sementara Ratih hanya diam, dalam hatinya ia bahagia karena putri kesayangannya bisa menjaga diri dengan baik.
"Papa minta sama kamu Ratih, bujuk Liana agar mau menuruti keinginan Papa," ucap Ridwan dengan nada tinggi.
"Aku tidak mau. Liana sudah menikah, tidak mungkin dia akan menikah lagi," ucap Ratih.
"Kamu suruh Liana bercerai dengan suaminya," seru Ridwan.
Ridwan yang tidak tahu siapa sebenarnya suami dari cucunya, terus meminta agar Liana bercerai dengan suaminya.
Selama ini Ridwan mengukur kebahagiaan dengan harta dan jabatan, ia tidak pernah tau kalau sebenarnya kebahagiaan tidak cukup hanya dengan memiliki harta saja.
"Tidak, aku tidak mau. Mereka saling mencintai. Kenapa Papa selalu memaksa, Papa tidak berhak ikut campur dengan urusan hidupku dan juga Liana!" ucap Ratih dengan menaikan nada bicaranya.
Suara Ratih bergetar saat mengatakan bahwa 'mereka saling mencintai' sebenarnya Ratih juga tidak tahu apakah putrinya bahagia atau tidak hidup dengan suaminya.
Ratih tidak bisa mengobrol dengan putri satu-satunya itu, karena akhir-akhir ini rumahnya sering diawasi oleh anak buah Papanya sehingga Liana tidak bisa pulang ke rumah, bahkan untuk sekedar melepas rindu saja tidak bisa.
"Pa, aku mohon jangan paksa Liana lagi. Aku sudah merasakan pahitnya perjodohan, aku tidak mau Liana juga mengalaminya. Tolong Papa mengerti," ucap Ratih dengan nada lirih.
Ratih mulai meneteskan air matanya, ia tidak ingin Liana merasakan apa yang ia sudah rasakan dahulu.
"Suaminya Liana seorang pengusaha sukses. Jika Papa menjadikan harta sebagai tolak ukur sebuah kebahagiaan, maka aku pastikan Liana bahagia hidup dengan suaminya," lirih Ratih.
Ridwan tak menjawab ucapan putrinya itu, jika yang dikatakan Ratih benar adanya ia tidak mungkin bisa memaksakan keinginannya untuk menjodohkan Liana.
Bersambung.
Terimakasih sudah mampir. untuk mendukung author jangan lupa Like, komen dan potenya.
Teman-teman yuk mampir ke novel temanku, ceritanya seru loh.
__ADS_1
Hubungan jarak jauh tidaklah mudah. Apalagi jika keadaan yang sangat memaksa membuat mereka terpaksa menjalaninya. Walaupun Lily lebih muda tujuh tahun dari Zack Alexander. Lily dapat membuktikan bahwa dia dapat bertahan dengan ketulusan cintanya. Tujuh tahun bukanlah waktu yang singkat dalam menjalani hubungan jarak jauh. Pada tahun kelima Zack menghilang. Lily kehilangan kontak dan semua skses terhadap Zack. Dua tahun kemudian mereka bertemu kembali.. Namun Zack telah memiliki keluarga kecil. Akankah Lily menyerah tanpa menuntut penjelasan Zack?