
Leon sedang dalam perjalanan menuju rumah Biani, Leon sangat marah kepada kekasihnya itu karena perbuatannya yang sudah melampaui batas.
Leon berkendara dalam keadaan emosi yang menyelimuti dirinya, meski begitu Leon tetep mengutamakan keselamatan jiwanya.
Setelah tiba di halaman rumah Biani, Leon turun dari mobilnya lalu berjalan dengan langkah panjang menuju pintu utama rumah sang kekasih yang sangat ia cintai itu.
Tok!
Tok!
Tok!
"Biani!"
Leon mengetuk pintu itu sembari berteriak memanggil Biani.
Jenny membuka pintu senyuman sempat terukir di bibirnya namun setelah tahu bahwa Leon yang bertamu ke rumahnya, seketika hilang begitu saja. Jenny terlihat sangat membenci Leon bahkan untuk tersenyum di depan Leon saja, dia tidak sudi.
Jenny hendak menutup kembali pintu itu namun Leon mencegahnya.
"Aku ingin bertemu Biani," ucap Leon.
Sebisa mungkin Leon menyembunyikan amarahnya dari Mananya Biani.
"Biani, tidak ada di rumah," ucap Jenny sinis.
"Aku tahu, dia ada di dalam."
"Leon, tante sudah bilang jangan pernah kamu temui Biani lagi."
Jenny berucap dengan nada tinggi.
"Sekali ini saja, Tante setelah ini aku gak akan menemui Biani lagi."
"Tidak bisa, Leon."
"Tante kalau tante melarang aku ketemu sama Biani, Biani akan masuk penjara," ucap Leon.
Jenny menatap Leon dengan penuh amarah.
"Apa kamu bilang? Masuk penjara? Kamu pikir anak saya penjahat, kamu pikir anak saya penipu!"
"Orang yang ingin menghilangkan nyawa orang lain, apa itu bukan penjahat? Aku tanya sama tante, orang yang ingin membunuh orang, penjahat atau bukan?"
Jenny yang tak mengerti dengan perkataan Leon, hanya terdiam. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan.
"Aku minta secepatnya Biani minta maaf sama istriku sebelum keluarganya melaporkan Biani ke polisi."
Leon pergi meninggalkan Jenny di tempat itu dengan amarah yang masih menyelimuti dirinya!
"Leon! Apa maksud kamu berbicara seperti itu?" ucap Jenny.
Leon tak menghiraukan pertanyaan Jenny, ia terus berjalan menuju mobilnya!
"Tanya sama anak Tante," ucap Leon sebelum masuk ke dalam mobilnya.
Leon menyalakan mesin mobilnya lalu mulai melajukan mobilnya tanpa berpamitan kepada mamanya Biani!
Jenny menatap kepergian Leon dengan pertanyaan yang memenuhi kepalanya.
"Kenapa Leon berkata seperti itu? Tak biasanya dia berkata kasar padaku," gumam Jenny.
Jenny masuk ke dalam rumahnya untuk menemui Biani di kamarnya! Jenny tak sabar ingin menanyakan tentang perkataan Leon padanya.
Saat itu sudah mulai memasuki tengah hari, namun Biani belum juga keluar dari kamarnya. Sudah dua hari gadis itu jarang keluar dari kamarnya dan jarang berbicara kepada Jenny ataupun Jacky.
Tok!
Tok!
Tok!
__ADS_1
"Bi!"
"Biani!"
"Kamu sudah bangun kan, sayang? Tolong buka pintunya, Mama ingin bicara," ucap Jenny sembari terus mengetuk pintu kamar Biani.
Beberapa menit berlalu, Jenny masih setia menunggu Biani keluar dari kamarnya, namun putrinya itu tidak keluar ataupun menyahut padanya.
"Biani!" Jenny memanggil Biani untuk yang kesekian kalinya.
Tok!
Tok!
Tok!
Jenny mengetuk pintu kamar Biani lebih keras lagi! Agar Biani dapat mendengarnya.
Biani membuka pintu kamarnya! Penampilannya terlihat berantakan seperti orang yang baru bangun tidur.
"Kamu baru bangun tidur?" tanya Jenny.
"Iya, Mama ngapain gedor-gedor pintu?" sahut Biani dengan suara khas bangun tidur.
"Cepat mandi, setelah itu temui Mama."
"Harus banget ya, Mam?"
"Iya, Mama mau bicara."
Tanpa menunggu Biani berucap lagi, Jenny segera pergi meninggalkan Biani yg berdiri di ambang pintu itu.
...****************...
"Sepertinya ada orang yang sengaja ingin melukai Leon ataupun Shania," ucap Kayla kepada Elvan.
"Mungkin, Biani. Karena Biani lah yang membuat Shania sampai harus masuk rumah sakit," ucap Elvan.
Kayla dan Elvan sengaja bertemu untuk membicarakan tentang kejadian semalam saat Kayla melakukan penjagaan pada Shania.
Gadis yang bekerja sebagai mata-mata rahasia itu terpaksa menunda misinya selama Shania di rumah sakit.
"Aku rasa ada orang lain lagi yang ingin membuat Shania ataupun Leon terluka. Aku masih menyelidiki kasus yang berhubungan dengan Leon dan Shania, nanti setelah ada informasi perkembangan kasus ini, aku pasti segera memberi tahu dirimu," ucap Kayla.
"Aku harap kamu bisa mengungkap siapa yang ada dibalik semua yang terjadi kepada Leon dan Shania karena sampai saat ini, polisi belum juga menemukan titik terang tentang terjadinya rem mobil Leon yang tiba-tiba tidak berfungsi, katanya ada yang sengaja merusaknya tapi sampai saat ini polisi belum menemukan pelakunya," jelas Elvan.
"Semoga saja."
"Karenanya ada tambahan pekerjaan yang harus kamu lakukan, jadi aku harus menunggu lama deh," ucap Elvan desa senyumnya.
Elvan mulai membicarakan tentang mereka dan mulai keluar dari pembicaraan yang serius itu.
"Maksudnya apa?"
"Maksudku aku harus menunggu lebih lama lagi waktu pernikahan kita."
"Kamu ini, lagi serius kok malah jadi bercanda." Kayla tertawa kecil.
"Aku serius Kay. Kenapa kita tidak menikah saja dulu lalu setelah itu kamu lanjutkan pekerjaanmu."
"Gak bisa, Elvan. Nanti aku gak fokus kerjanya kalau sudah menikmati."
"Kenapa? Pasti karena ingin terus nempel sama aku."
"Gak gitu juga."
Elvan meraih tangan Kayla lalu menciumnya!
"Aku akan menunggu sampai kamu siap menikah denganku."
Elvan menatap Kayla dengan tatapan mendalam. Hal itu membuat Kayla gugup, jantungnya berdebar dua kali lebih kencang dari biasanya.
__ADS_1
"Van, jangan menatapku seperti itu." Kayla memalingkan wajahnya.
Elvan meraih dagu Kayla! "Kenapa? Aku ingin melihat cinta di matamu," ucap Elvan sembari mengarahkan wajah Kayla agar menatapnya juga.
Elvan mendekatkan wajahnya ke wajah Kayla dengan perlahan!
Kayla meneguk ludahnya karena wajah Elvan semakin mendekati wajahnya.
"V_van."
Elvan meraih tengkuk Kayla tanpa sepatah kata pun yang ia ucapkan.
Kayla menutup matanya dalam pikirannya Elvan akan menciumnya.
Elvan tersenyum melihat raut wajah Kayla yang berubah menjadi panik.
Saat Kayla menutupi matanya Elvan terus memandangi wajah Kayla, perlahan ia melepaskan tangannya dari tengkuk Kayla sambil terus menata Kayla.
Beberapa menit berlalu namun Kayla tak merasakan ciuman dari Elvan, ia memutuskan untuk membuka matanya dan langsung mampu Elvan tersenyum sembari memandanginya.
"Hayo, apa yang sedang kamu pikirkan?"
"Menurutmu apa?"
"Kita belum sah, sayang. Aku gak berani mengambil sesuatu yang belum menjadi hak aku," ucap Elvan.
Kayla menatap Elvan dengan tatapan tak percaya. Ada rasa malu karena sudah berpikiran yang aneh-aneh.
"Aku pikir, kamu ...." Kayla tak melanjutkan perkataannya.
"Iya, awalnya aku ingin ini," ucap Elvan sembari menempelkan jari telunjuknya di bibir Kayla, "tapi gak jadi karena aku sadar gadisku ini bukan wanita sembarangan, aku takut digigit ataupun terkena bogem."
Kayla tertawa kecil. "Kamu pikir aku sejahat itu?"
Elvan hanya menanggapi pernyataan Kayla dengan senyuman.
"Aku tidak akan menggigit ataupun menyerang kalau tidak merasa terancam, justru aku akan menikmati setiap permainan yang kamu lakukan dan aku juga akan melakukan permainan yang tak kalah dari permainanmu."
Kayla malah menggoda Elvan dengan perkataannya yang sengaja diarahkan kepada arah area dewasa.
"Kayla, kamu?"
"Apa? Mau mencobanya?" Kayla menantang Elvan.
"Kamu berani juga ya, dalam hal ini."
"Yang mengancam keselamatan jiwaku saja aku berani, apalagi yang mengundang kenikmatan."
Elvan tak berucap lagi, dia hanya menatap Kayla dengan senyum tipis yang terukir di bibirnya.
...****************...
Saat sedang bekerja Jacky merasa tidak tenang karena terus memikirkan bagaimana cara untuk membuat Leon kehilangan orang yang dia sayangi.
Jacky sempat menyuruh orang untuk melukai Shania, namun usahanya gagal karena ada orang tak dikenal yang menghalangi orang suruhannya.
"Kenapa lo, gelisah banget?" tanya Dion.
"Biasa saja. Itu cuma perasaan lo saja," sahut Jacky.
"Lo gak bisa bohongin gue Jack."
Jacky menghentikan pergerakan tangannya lalu menatap Dion.
"Gue gak tenang sebelum melihat Leon merasakan kehilangan orang yang dia cintai," ucap Jacky.
"Jack, kenapa lo jadi pendendam gini? Sebelumnya lo gak seperti ini," ucap Dion.
"Gue seperti ini karena mereka sudah terlalu menyakiti gue. Mereka juga sudah membuat Biani tersiksa karena dipisahkan dari orang yang Biani cintai."
Jacky berucap dengan tangan yang terkepal kuat, saat ia mengingat kejadian yang mengharuskan Biani melupakan Leon, ia selalu dihampiri oleh perasaan marah dan dendam yang begitu kuat.
__ADS_1
Sakit hati memang bisa membuat orang yang awalnya baik menjadi jahat, sakit hati bisa membuat kesabaran seseorang sudah tidak bisa ditoleransi lagi.
Bersambung