Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Bab 87


__ADS_3

Rendy segera berdiri lalu menghampiri sang istri!


"Sayang, kamu kenapa?" ucap Rendy penuh kekhawatiran.


Liana memalingkan wajahnya lalu berjalan menghampiri Ken yang tengah terbaring tak sadarkan diri!


"Ini hanya luka kecil, kamu gak perlu khawatir," ucap Liana.


Rendy berjalan menghampiri Liana yang kini tengah menatap Ken iba!


"Aku tidak ingin kamu terluka apalagi sampai kesakitan," ucap Rendy sembari memeluk Liana dari belakang.


Liana berbaik badan lalu melepaskan tangan Rendy yang melingkar di pinggangnya!


"Luka berdarah ini akan cepat sembuh mas tapi luka hatiku ini ... aku tidak tahu sampai kapan akan terus mengusik hati dan pikiranku," ucap Liana dengan tatapan datar.


"Maafkan aku. Aku janji setelah Ken sembuh aku akan memprioritaskan kamu dihati aku," ucap Rendy.


"Tidak perlu. Aku tahu kamu masih berhubungan dengan wanita itu jadi aku memilih mundur dari ikatan pernikahan ini," ucap Liana dengan air mata yang mulai luruh dari pelupuk nya.


Rendy menggelengkan kepalanya lalu menghapus air mata Liana dengan kedua ibu jarinya.


"Aku tidak ingin kita pisah. Maafkan aku yang sudah membuat luka dihatimu. Izinkan aku untuk menebus semua kesalahanku beri aku kesempatan sekali lagi, aku mohon," ucap Rendy penuh permohonan.


Liana berjalan menjauhi Rendy lalu menghapus air mata yang terus mengalir di pipinya!


"Aku lemah dalam hal ini, aku sakit saat mengingat kejadian waktu itu," ucap Liana.


Air mata Liana semakin deras bersamaan dengan pembicaraan yang sebenarnya tidak ingin ia bicarakan.


"Aku janji, kejadian itu tidak akan terulang lagi," ucap Rendy.


"Aku butuh waktu untuk memikirkan apakah aku harus memaafkan dirimu atau tidak," ucap Liana tanpa menatap suaminya.


Rendy meneteskan air mata penyesalannya.


"Aku gak bisa tanpa kamu, aku sudah mendapatkan hukuman atas perbuatanku apa kamu masih ingin menambah hukuman itu dengan pergi dariku?" Rendy berdiri disamping Liana dengan perasaan takut. Takut tidak dimaafkan oleh istrinya dan takut kehilangan orang yang ia cintai.


"Jujur aku mencintaimu bahkan melebihi aku mencintai diriku sendiri," lirih Liana.


Liana terdiam sesaat dan Rendy pun tak berucap sepatah katapun.


"Tapi aku gak bisa hidup dalam satu hati tapi ada dua cinta. Aku tidak mau di madu, aku tidak mau ada orang lain yang memiliki dirimu. Salah kah aku jika aku egois seperti ini? salahkan aku jika aku ingin mengejar kebahagiaanku?" Liana terus berucap sambil membelakangi Rendy.


"Kamu tidak salah, disini aku yang salah, aku yang egois karena ingin memiliki apa yang seharusnya tidak aku miliki. Izinkan aku memperbaiki kesalahan aku dan memperbaiki hubungan kita. Aku sadar bahwa aku tidak bisa hidup tanpa kamu," ucap Rendy sembari memeluk Liana dari belakang.

__ADS_1


Liana terus meneteskan air matanya kali ini ia membiarkan suaminya memeluknya karena tak bisa ia pungkiri bahwa sebenarnya ia juga sangat merindukan pelukan hangat dari sang suami.


Liana menggenggam tangan Rendy yang melingkar di pinggangnya dengan sangat erat, kepalanya ia sandarkan ke dada bidang sang suami.


Rendy mengecup kepala Liana penuh kasih.


"Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku," bisik Rendi ditelinga Liana setelah ia mengecup kepala sang istri.


Rendy memutar balikkan tubuh Liana hingga kini keduanya saling berhadapan lalu Rendy menghapus air mata Liana dengan kedua ibu jarinya!


"Aku janji setelah ini tidak akan ada air mata kesedihan yang keluar dari mata indahmu ini," ucap Rendy dengan nada lembut.


Liana tersenyum. Tanpa kata-kata ia memeluk sang suami dengan erat dalam waktu yang cukup lama.


"Aku rindu sama kamu mas. Maaf aku belum bisa percaya sepenuhnya terhadap semua kata-kata manis yang kamu ucapkan barusan," ucap Liana didalam hatinya sambil terus memeluk sang suami.


Rendy membalas pelukan Liana dengan perasaan bahagia.


"Maaf Liana, aku belum bisa mengakhiri hubunganku dengan Jenny," ucap Rendy didalam hatinya.


Rendy mengecup kening Liana berkali-kali hingga wanita itu merasa tidak nyaman.


"Mas, jangan menciumiku terus," ucap Liana. Liana mulai mengeluarkan sisi manjanya namun didalam hatinya ia tetap belum percaya sepenuhnya kepada Rendy.


"Bagaimana keadaan Ken? apa sudah ada perkembangan?" Liana berjalan menghampiri Ken lalu duduk di kursi yang ada disamping tempat tidur Ken.


Rendy langsung menjawab ucapan Liana, ia berjalan menghampiri sang istri!


"Tadi pagi Ken baru aja dinyatakan koma oleh dokter." Rendy berucap dengan nada lirih bahkan ia tak berani menatap wajah sang istri.


"Ken," lirih Liana.


Baru aja air mata Liana mengering kini sudah mengalir lagi membasahi pipinya.


Rendy merangkul Liana dari belakang lalu mengelus-ngelus lengan atas Liana!


"Do'akan yang terbaik untuk Ken," ucap Rendy dengan suara yang lembut.


Liana mengusap air matanya lalu berucap, "Kamu harus kuat Ken, kamu harus selamat."


"Sudah jangan nangis lagi, Ken pasti selamat dia pasti sembuh," ucap Rendy.


Liana tak menjawab ucapan Rendy, ia terdiam sambil terus menatap kearah Kendra yang sedang koma.


Setelah beberapa menit Liana terdiam ia baru ingat kalau ia membawa makanan untuk suami dan dua bodyguardnya sarapan.

__ADS_1


"Mas, aku bawa sarapan untuk kamu," ucap Liana sambil meraih paperbag yang ia bawa dari rumah.


"Benarkah? terimakasih," ucap Rendy.


"Aku juga bawa untuk Shila dan Sam," sambung Liana lagi.


Rendy tersenyum melihat sang istri yang sedang sibuk membongkar barang bawaannya.


"Disaat kamu sedang sedih saja kamu masih memikirkan orang lain. Hati kamu terbuat dari apa Li, sehingga kamu juga masih memperdulikan aku yang sudah menyakitimu?" ucap Rendy jauh didalam lubuk hatinya yang paling dalam.


"Ini untuk kamu, mas," ucap Liana.


"Terimakasih," ucap Rendy dengan senyuman yang baru mengembang lagi dibibirnya.


"Aku antar makanan ini ke Shila sama Sam dulu ya, biar mereka makan juga," ucap Liana sembari melangkahkan kakinya keluar ruangan.


"Shil, ini aku bawakan kalian makanan untuk sarapan," ucap Liana setelah tiba didekat Shila.


"Terimakasih. Padahal anda tidak perlu repot-repot membawakan kami makanan," sahut Shila sembari menerima paperbag dari Liana.


"Tidak apa-apa lagian aku tidak merasa kerepotan. Kalian sarapan aja dulu biar mereka yang jaga disini," ucap Liana sembari menunjuk tiga bodyguard yang mengawalnya dari rumah.


"Iya, kalian sarapan dulu biar kami yang disini," ucap salah satu bodyguard itu.


Liana segera masuk ke ruangan Ken dirawat!


"Kok gak dimakan?" ucap Liana setelah melihat makanan sang suami masih utuh.


"Aku gak nafsu makan," sahut Rendy sembari terus menatap Ken.


Liana meraih makanan itu dari meja lalu menyendok makanan itu!


"Aaaa!" ucap Liana sembari menyodorkan sesendok makanan ke mulut Rendy.


Rendy menatap wajah sang istri!


"Kamu harus makan kalau tidak nanti kamu ikutan sakit," ucap Liana sambil terus menegang sendok itu.


Rendy meraih tangan Liana lalu melahap makanan yang Liana sodorkan didepan mulutnya.


"Terimakasih. Aku beruntung memilikimu," ucap Rendy.


Liana hanya tersenyum menanggapi ucapan Rendy.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2