Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Bab 55


__ADS_3

Di gubug tua bekas tempat Shania disekap, Kayla me jadikan tempat itu juga untuk menyekap preman-preman yang sudah menculik dan menyekap Shania.


Mereka semua diikat pada kursi yang mereka duduki sama persis seperti yang mereka lakukan pada Shania.


"Aku haus," ucap salah satu preman itu.


Kayla duduk di kursi menghadap ke arah mereka.


"Apa? Haus? Ini belum sampai dua hari dua malam tapi kamu sudah merasa kehausan," ucap Kayla dengan santainya.


"Jika kamu tidak bersedia memberi kami makan setidaknya beri kami minum."


"Kalian memintaku untuk mengasihani kalian. Apa kalian mengasihani Shania saat kalian menyekapnya?"


Para preman itu tidak memiliki jawab pertanyaan Kayla, mereka hanya diam dalam seribu bahasa.


Kayla berjalan mendekati bos preman itu! Lalu membungkukkan tubuhnya agar wajahnya sejajar dengan wajah preman itu.


"Tidak. Kalian tidak mengasihani Shania, kalian membiarkan wanita hamil itu kelaparan dan kehausan, lalu sekarang ... sekarang kalian memintaku untuk mengasihani kalian?"


Kayla tersenyum sinis sambil menatap tajam salah satu preman itu.


"Katakan padaku, siapa yang menyuruh kalian untuk menculik Shania?" ucap Kayla dengan nada tinggi.


Kayla sudah bertanya berkali-kali pada mereka namun mereka tidak menjawab pertanyaannya.


"Tidak ada yang menyuruh kami."

__ADS_1


Preman itu masih bertahan dengan jawaban yang pertama dia ucapkan.


"Masih tidak mau mengaku juga. Oke-oke, gue kasih waktu sampai besok pagi, kalau kalian tidak menjawab pertanyaan gue dengan jujur ... jangan harap kalian akan pulang selamat."


Dari tadi Elvan hanya berdiri memperhatikan Kayla sambil bersedekap dada.


"Kami sudah berkata jujur. Tidak ada yang menyuruh kami atau membayar kami untuk melakukan penculikan itu. Semua itu kami lakukan atas keinginan kami sendiri."


"Tunggu saatnya tiba, saat kalian akan menemui akhir dari hidup kalian masing-masing!"


Kayla duduk di tempat semula dengan tatapan terus tertuju kepada para preman itu!


Elvan berjalan menghampiri Kayla lalu berdiri di sampingnya, tangannya ia letakan di atas pundak Kayla!


"Sebaiknya kalian jujur saja sebelum gadis berdarah dingin ini menghabisi nyawa kalian. Kalian tahu? Gadis ini tidak pernah membunuh secara langsung, gadis ini lebih suka menghabisi nyawa lawannya secara pelan-pelan tapi pasti," ucap Elvan kepada para preman itu.


"Gue tunggu sampai besok pagi. Semoga saja jawaban kalian tidak sama dengan jawaban hari ini," ucap Kayla penuh penekanan.


Kayla beranjak dari duduknya lalu pergi meninggalkan mereka dalam keadaan terikat!


...****************...


"Shania, kamu baik-baik saja?" ucap Leon yang sedang duduk di samping Shania yang terbaring du atas hospital bad.


"Aku sudah bilang, aku baik-baik saja," sahut Shania.


"Bayi kita gimana, apa dia membuatmu pusing dan mual lagi?"

__ADS_1


Shania mengusap-ngusap perutnya yang masih rata!


"Sepertinya bayi ini tahu kalau, Mamanya sedang sakit. Dia belum membuatku mual atau pun pusing."


Leon tersenyum tipis lalu meletakkan tangannya di atas perut Shania! Perlahan ia mengelus perut rata itu.


"Anak pintar, jangan nakal ya di dalam sana. Mamamu lagi sakit, kalau mau dimanja nanti saja kalau Mama sudah sembuh," ucap Leon dengan nada lembut sembari mendekatkan wajahnya ke perut Shania.


"Kalian ini, bikin Papa iri saja," ucap Rendy sembari berjalan menghampiri Shania dan Leon!


Liana dan Alisa menyusul di belakang Rendy sedangkan Satya masih di area parkiran rumah sakit itu.


Leon dan Shania menatap ke arah suara, Leon segera menarik tangannya yang sedang mengelus perut Shania! Sebuah senyuman malu-malu terukir di bibir Shania dan Leon.


Leon menjadi salah tingkah saat perlakuannya terhadap Shania ketahuan oleh orang tuanya dan Ibu mertuanya.


"P_papa, Mama, kalian membuat aku terkejut," ucap Leon.


Shania hanya diam, pipinya berubah menjadi memerah karena malu.


"Cie-cie ada yang malu-malu," ucap Liana menggoda dua orang yang sedang dilanda cinta itu.


"Mama senang kalian bisa sedekat ini, meski kalian menikah karena dijodohkan," ucap Alisa sembari mengelus pucuk kepala Shena.


"Perjodohan tidak selalu mendatangkan kebencian, Ma perjodohan juga bisa mendatangkan cinta yang tidak terduga justru cinta yang datang tiba-tiba begitu terasa lebih indah daripada cinta yang biasa yang awalnya sudah saling mengenal satu sama lain," ucap Leon.


"Kamu benar, Nak," ucap Rendy yang pernah merasakan hal yang sama, bedanya dirinya bukan menikah karena dijodohkan melainkan terpaksa menjadikan Liana sebagai pengantin pengganti karena calon istrinya kabur.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2