
Setelah Galang tahu bahwa, Biani adalah gadis yang dicintai oleh Rio, Galang berusaha untuk melupakan Biani. Dia tidak ingin ingin menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka.
Di kafe tempat Biani bekerja.
Hari itu, seperti biasa Galang nongkrong di kafe milik kakaknya itu.
Hari itu, Galang tidak menyapa Biani sedikitpun, dia tidak menghiraukan Biani yang sedang melakukan pekerjaannya.
Biani juga bersikap acuh-cuek kepada Galang. Setelah Biani tahu bahwa Galang adalah adiknya Rio dia menjadi semakin menjauh dari Galang.
"Lang, tumben kamu gak gangguin Biani?" tanya temannya Galang.
"Aku sedang tidak ingin mengganggunya," sahut Galang.
Biani menatap Galang sekilas lalu kembali melakukan pekerjaannya.
"Kenapa? Kamu merasa ada yang hilang karena tidak diganggu oleh Galang?" tanya Indah.
"Tidak. Aku merasa lebih tenang bekerja saat tidak ada yang menggangguku," sahut Biani.
"Bi, hari ini kita akan kedatangan bos besar," ucap Indah.
Biani menatap Indah. "Bos besar? Itu berarti dia pemilik restoran ini, dia kakaknya Galang?"
"Iya."
"Namanya Rio?"
"Bukan."
Biani terdiam."Bukan Rio? Terus siapa, waktu itu di rumahnya aku bertemu dengan Galang dan Rio adalah kakaknya Galang," ucap Biani didalam hatinya.
Indah memetik jarinya tepat di depan wajah Biani.
"Bi, kenapa kamu malah bengong?"
Biani terperanjat, seketika lamunannya buyar begitu saja.
"Eeh, maaf. Kamu bilang bos besar namanya bukan Rio? Terus siapa?"
Indah tertawa renyah. "Namanya Rio. Kamu tahu dari mana namanya?" tanya Indah.
"Dari siaran televisi. Dia seorang dokter dan juga pengusaha muda kan?"
"Wah Biani bahkan kamu juga sudah tahu kalau dia juga seorang dokter."
Biani tersenyum tipis. "Aku izin hari ini. Aku tidak mau bertemu dengan dia," ucap Biani.
Biani berjalan keluar dari kafe itu, dia tidak ingin teman-temannya tahu bahwa dirinya adalah kekasihnya Rio.
Saat Biani berjalan di halaman kafe nya disaat bersamaan Rio datang ke tempat itu.
"Biani, kamu?" ucap Rio dengan penuh tanya.
"Rio kamu."
"Karena kamu ada di sini, ayo masuk ke dalam kafe ku!"
Rio menggandeng Biani, membawanya masuk ke dalam kafe nya.
"Selamat siang semuanya!" Rio berucap dengan sedikit mengeraskan suaranya.
"Selamat siang, Pak," sahut semua karyawan kafe itu.
Mereka semua sudah tahu bahwa bosnya akan datang, karena itulah mereka sudah bersiap untuk menyambut kedatangan bos mereka yang hanya akan datang setiap fua atau tiga bulan sekali.
Biani berdiri di belakang Rio sambil menundukkan kepalanya.
"Biani, Biani!" ucap Indah memanggil Biani.
Karena Indah berkata dengan suara yang sedikit berbisik, Biani tidak bisa mendengar suara Indah yang memanggilnya.
"Biani, ke sini!" Indah memanggil Biani lagi, kali ini dengan sedikit mengeraskan suaranya.
Rio menatap Indah lalu menatap Biani.
"Kalian saling kenal?" ucap Rio.
"Maaf, Pak Bos Biani adalah karyawan baru di kafe ini."
"Apa, sudah berapa lama dia kerja di sini?"
"Sudah hampir dua minggu."
Rio menatap Galang yang sedang duduk di kursi yang berada tak jauh dari mereka lalu menatap Biani lagi.
Rio meraih tangan Biani lalu menariknya agar Biani berdiri sejajar dengannya!
"Perkenalkan, Dia adalah calon istri saya. Namanya adalah Biani," ucap Rio kepada semua karyawannya.
Semua karyawan tak percaya dengan pernyataan bos mereka itu.
"Biani, mulai sekarang saya pecat kamu dari kafe ini," ucap Rio pada Biani.
Biani menatap Rio dengan tatapan tak percaya.
"Apa? Kenapa kamu memecat ku, Pak Rio? Aku tidak melakukan kesalahan apa pun tapi kamu tiba-tiba memecat ku."
"Kesalahan kamu adalah bekerja di kafe ku tanpa sepengetahuan aku."
Indah menatap Biani yang sedang berdebat dengan bosnya itu.
Mereka tidak percaya bahwa Biani adalah kekasihnya Rio.
"Kalian kembali bekerja!" titah Rio pada semua karyawannya.
Rio berjalan menghampiri Galang!
"Kamu. Kenapa kamu pura-pura tidak kenal pada Biani saat Biani ke rumah?" tanya Rio pada Galang.
"Ada alasan tertentu yang kakak tidak boleh tahu tapi percayalah aku tidak bermaksud jahat padamu," sahut Galang.
"Untuk pertama kalinya kamu bohong pada Kakak."
Biani berdiri di tempat semula sembari memperhatikan Rio dan Galang yang sedang berdebat.
Merasa serba salah, Biani pergi dari kafe itu!
...****************...
Kayla sedang menemui Jacky di kantor polisi.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Kayla.
__ADS_1
"Seperti yang kamu lihat," sahut Jacky.
"Aku datang untuk menjenguk mu."
"Terimakasih, seharusnya kamu tidak perlu repot-repot ke sini hanya untuk menemui aku."
Kayla menarik nafasnya lalu membuangnya dari mulutnya.
"Jacky, entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang selalu membawa ku untuk menemui dirimu dan juga aku merasa selalu ada yang mendorong aku untuk membantu Mamamu dan juga Biani."
"Kami ini hanya orang biasa dan juga tidak mengenal kamu dan keluarga kamu. Aku sangat berterimakasih kalau kamu perduli pada kami tapi tolong katakan satu hal saja, apa yang membuat kamu selalu ingin membantu kami."
"Jacky, tidak semua kebaikan harus memiliki alasan tertentu. Aku melakukan ini karena aku tahu mereka tidak punya kepala keluarga saat ini. Kamu adalah satu-satunya orang yang selalu mereka andalkan."
...****************...
"Kita bicara lagi nanti."
Rio pergi meninggalkan Galang lalu mengejar Biani!
"Biani! Biani tunggu!"
Rio berlari mengejar Biani yang sudah jauh dari tempatnya berada.
Biani tak menghiraukan Rio yang berteriak memanggil namanya. Dia terus berjalan.
"Biani tunggu!"
Rio meraih tangan Biani agar Biani menghentikan langkahnya.
"Ada apa Rio?"
"Kenapa kamu pergi?"
"Untuk apa aku di sana? Kamu sudah memecat aku kan."
"Aku memecat kamu karena aku gak mau kamu kerja di sana."
"Terus aku harus kerja di mana? Kuliahku belum selesai, aku mau melamar kerja pakai apa? Kamu tahu kan kakakku sedang dipenjara, sekarang aku yang jadi tulang punggung keluarga kalau aku gak kerja aku mau menutupi kebutuhan sehari-hari aku dan juga Mamaku."
"Biani-Biani jangan marah seperti itu. Aku hanya tidak ingin kamu bekerja bersama bawahan ku, kamu itu kekasih aku, seharusnya kamu tidak mengerjakan pekerjaan itu."
"Rio, aku harus kerja."
"Aku akan memberikan uang untuk biaya kebutuhan kamu dan Mamamu selama kamu belum mendapatkan pekerjaan."
"Maaf ya Rio kamu memang kekasih aku tapi aku tidak bisa menerima apa pun dari kamu. Aku tidak ingin mendapatkan julukan sebagai wanita matre."
"Biani, tapi–"
"Kalau kamu tidak membolehkan aku kerja di kafe kamu itu tidak apa-apa, aku bisa kerja di tempat lain. Aku mencintaimu sampai saat ini pun aku masih mencintai dirimu tapi aku tidak bisa menuruti permintaan kamu untuk tidak bekerja dan aku juga tidak mau menerima uang dari kamu tanpa adanya tenaga yang aku keluarkan. Mencari uang itu butuh perjuangan, aku gak bisa dengan mudahnya menerima uang hasil kerja keras kamu terkecuali kamu sudah menjadi suami aku."
"Bi, kamu ...."
"Iya, aku memang begini. Seperti ini lah aku yang sebenarnya, keras kepala dan tidak mau mengalah. Silahkan kamu pikirkan apakah mau melanjutkan hubungan dengan aku atau tidak."
Rio menatap Biani dengan sebuah senyuman di bibirnya.
"Kamu memang beda dari yang lain," ucap Rio.
"Pasti beda, karena tidak mungkin ada yang sama meski satu turunan."
"Kamu bisa saja. Ya udah besok kamu kerja lagi ya di kafe aku, maaf kalau aku sudah membuat kamu marah."
...****************...
"Leon, kamu kok udah pulang?" ucap Shania.
"Aku sengaja pulang cepat karena aku rindu sama kamu," ucap Leon.
"Ish, kata-kata kamu basi tahu."
"Kamu kok gitu?" Leon duduk di bibir ranjang lalu membuka jas yang ia kenakan.
"Anak mu pengen makan sate katanya," ucap Shania.
"Anakku atau istriku yang mau sate?"
Shania tersenyum sambil mengulum bibirnya.
"Sebenarnya, Mamanya yang mau sate tapi anak dalam kandungan aku juga sepertinya sedang ingin makan sate."
"Iya, sayang sebentar lagi kita jalan. Kita makan sate ya."
"Terimakasih, suamiku."
Shania memeluk Leon dengan erat!
...****************...
"Sekarang aku antar kamu pulang ya," ucap Rio.
"Gimana kalau aku lanjut kerja saja?" sahut Biani.
"Hari ini kamu istirahat saja kerjanya besok saja."
"Rio aku ini belum jadi istrimu, kamu jangan terlalu perhatian dan banyak mengatur aku kayak gini."
"Kenapa menangnya? Kamu tidak suka?"
"Bukan tidak suka, justru aku senang karena kamu perhatian sama aku."
"Terus kenapa kamu menolak untuk diperhatikan?"
"Semakin kamu baik sama aku, semakin besar rasa cintaku untukmu dan semua itu akan membuat aku semakin sulit untuk jauh dari kamu."
"Bagus dong."
"Bagus dari mananya? Yang ada nanti kamu cepat bosan sama aku."
Biani dan Rio tertawa renyah. Mereka berdua masuk ke dalam mobil Rio secara bersamaan, Rio akan mengantarkan Biani pulang setelah mengalami sedikit masalah pada mereka berdua.
...****************...
Di kafe.
"Pantas selama ini Biani menghindari Mas Galang, ternyata dia lebih memilih kakaknya," ucap temannya Indah.
"Biani beruntung banget ya bisa mendapatkan Pak Bos," ucap Indan.
"Eh tapi, sebelumnya Biani tahu gak ya kalau ini kafe milik kekasihnya?"
"Gak tahu deh. Tapi sepertinya tidak, soalnya Biani pernah bertanya sama aku tentang siapa, Mas Galang dan siapa pemilik kafe ini."
__ADS_1
"Aku jadi pusing mikirin mereka."
"Lah ngapain kamu mikirin mereka? Kayak gak ada pekerjaan lain saja," ucap Indah.
"Lang, kok bisa sih kamu berusaha mendekati dan berusaha mendapatkan calon kakak ipar kamu sendiri," ucap temannya Galang.
"Kamu ngomong apa sih? Kalau aku tahu Biani itu pacarnya kak Rio, mana mungkin aku mencintai dia," ucap Galang.
Galang masih berada di kafe itu karena dia masih syok dengan kejadian barusan. Dia belum pernah dimarahi oleh Rio, karena itulah ia merasa kaget saat Rio marah-marah padanya.
"Kapan kamu tahu bahwa Biani itu pacarnya kak Rio?"
"Kemarin malam, kak Rio membawa Biani ke rumah untuk makan malam bersama. Jujur aku kaget dan juga kecewa saat tahu gadis yang dikenalkan oleh kak Rio itu adalah Biani."
"Terus?"
"Ya aku pura-pura gak kenal saja dan kami berjabat tangan sebagai tanda perkenalan kami. Saat itu aku gak bisa mikir dengan jernih, aku patah hati."
"Apa kamu akan mengikhlaskan Biani untuk kak Rio?"
"Aku akan berusaha mengalah karena memang kak Rio yang lebih dulu mencintai Biani."
...****************...
Setelah mengantarkan Biani pulang Rio mampir ke sebuah toko yang ada di pinggir jalan untuk membeli minuman. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering dan akhirnya dia membeli air mineral di toko kecil itu.
Saat Rio akan kembali ke mobilnya dia melihat Leon dan Shania sedang berjalan di taman yang berada di sebrang jalan yang sedang ia lewati.
Rio menatap Leon dan Shania dengan waktu yang cukup lama untuk memastikan bahwa dia tidak salah melihat.
"Benar itu adalah Leon dan Shania," gumam Rio.
Rio masuk ke dalam mobilnya lalu melajukan mobilnya menuju taman itu!
Tak butuh waktu lama, Rio tiba di taman itu. Dia berjalan memasuki taman setelah memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang tersedia di taman itu.
Rio terus berjalan semakin jauh, Rio berusaha mencari Leon dan Shania.
"Kemana, mereka?" gumam Rio.
Rio mengedarkan pandangannya ke semua arah.
"Nah itu mereka," gumam Rio.
Rio berjalan dengan langkah panjangnya, dia ingin cepat sampai pada tempat Leon dan Shania duduk.
"Hai Leon, Shania,"ucap Rio setelah dekat dengan pasangan suami istri itu.
Leon dan Shania menoleh ke arah suara!
"Rio?" ucap Shania.
Rio tersenyum ke arah Shania.
"Kamu di sini juga? Sama siapa?" tanya Leon.
"Sendiri. Tadi pas aku lewat aku melihat kalian ada di sini, karena lama gak ketemu ya udah aku ke sini saja," ucap Rio.
"Oh, gitu."
"Iya. Boleh aku gabung?" tanya Rio.
"Boleh dong, sini duduk!" ucap Shania.
Shania menggeser posisi duduknya, memberikan tempat untuk Rio duduk.
"Ganggu gak nih? Kalau ganggu aku pergi saja."
"Nggak-nggak, Rio sama-sekali kamu tidak mengganggu kami," ucap Leon.
Rio duduk di kursi taman itu bersama dengan Leon dan Shania.
"Aku ke toilet sebentar ya," ucap Leon.
"Ke toilet saja sana," ucap Shania.
"Bro, aku titip istri aku ya, awas jangan sampai dia hilang atau pun terluka," ucap Leon pada Rio.
"Tenang saja aku gak akan biarin orang lain membawa Shania gitu aja," sahut Rio.
Leon tersenyum tipis sebelum akhirnya dia pergi.
"Shan, ada yang mau aku tanyakan sama kamu?" ucap Rio setelah Leon pergi jauh.
"Tanya apa?" sahut Shania dengan santainya.
"Waktu di kantor polisi itu kita bertemu kan? Aku udah lama pengen nanyain ini tapi belum ada waktunya."
"Tanyakan saja sekarang."
"Kamu kenal sama Biani dan keluarganya?"
"Tidak, aku hanya tahu dia sedikit saja."
"Tapi kenapa Mamanya Biani terlihat seperti mengenali kalian dan juga sepertinya Leon sangat membenci mereka."
"Mereka memang saling kenal wajar saja mereka terlihat seperti sudah kenal lama karena memang mereka sudah saling kenal sejak lama."
"Kok kamu gak tahu dan tidak kenal sama mereka juga?"
Shania tersenyum tipis yang terlihat dipaksakan.
"Biani adalah mantan kekasihnya Leon."
Mendengar perkataan Shania, Rio teringat dengan semua pengakuan yang Biani katakan saat setelah Jacky ditangkap oleh polisi.
"Berarti Jacky ditangkap polisi karena melakukan penculikan dan penyekapan terhadap kamu? Dan dia juga melakukan kejahatan lain kepada kalian?"
"Tidak. Siapa yang bilang?"
"Shania jangan menutupi kesalahan orang lain. Aku mohon."
"Rio, kenapa kamu tiba-tiba menanyakan tentang itu?"
"Karena aku ingin tahu tentang siapa kalian di kehidupannya Biani."
"Biani? Kamu kenal sama dia?"
"Sebenarnya sekarang ini dia adalah kekasih aku."
"Biani adalah mantan kekasihnya Leon. Mereka putus karena orang tuanya Leon tidak menyetujui hubungan mereka karena Leon terus berhubungan dengan Biani, orang tuanya Leon menjodohkan Leon dengan aku. Sebenarnya mereka sempat melanjutkan hubungan percintaan mereka setelah Leon menikah denganku tapi hubungan itu tidak berlangsung lama karena Biani pernah melakukan percobaan pembunuhan terhadap diriku," jelas Shania panjang lebar.
Bersambung
__ADS_1