Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Bab 103


__ADS_3

Sesampainya di rumah Liana kembali bersikap manis kepada sang suami untuk menutupi keretakan rumah tangga mereka dari ibu mertuanya.


"Rendy! Liana! makan malam dulu," ucap Elma dengan sedikit berteriak.


"Iya, Mam," sahut Rendy.


Ken sudah lebih dulu turun dari lantai dua dengan perasaan bahagia yang luar biasa karena sedang dimabuk cinta.


"Bahagia banget. Ada apa hmm?" ucap Elma dengan tatapan yang tak biasa.


"Biasa aja," ucap Ken dengan senyumnya.


Rendy dan Liana menuruni anak tangga sambil bergandengan tak lupa sebuah senyuman terus menghiasi bibir Liana dan Rendy.


"Sepertinya anak-anak Mama lagi pada bahagia banget. Ada apa ya?" ucap Elma lagi saat melihat anak dan menantunya begitu romantis dengan raut wajah penuh kebahagiaan.


"Gimana gak bahagia, Ma. Sebentar lagi aku akan jadi seorang ayah," ucap Rendy dengan wajah yang berbinar.


Elma yang tahu benar bagaimana rasanya mengalami pengalaman pertama itu hanya menanggapi pernyataan Rendy dengan senyuman.


"Ayo kita makan. Liana sayang, Mama sudah buatkan makanan spesial buat kamu," ucap Elma sembari membawa Liana mengarah ke meja makan!


Liana tersenyum lalu mulai bersikap manja kepada ibu mertuanya.


"Kalau Mama tahu yang sebenarnya terjadi pada hubungan kami, apakah Mama akan sebahagia ini? " ucap Rendy sembari menatap punggung Elma dan Liana yang berjalan meninggalkannya.


Sesampainya di meja makan Liana dan Elma langsung duduk dan bersiap untuk makan.


"Rendy mana?" ucap Ken yang sudah menunggu untuk makan.

__ADS_1


"Tuh, sebentar lagi kesini," ucap Elma.


Ken tak berucap lagi, ia hanya duduk diam sambil menunggu anggota keluarga berkumpul.


"Bik, tolong panggil Shila," ucap Elma pada asisten rumah tangganya.


"Baik, Bu." Asisten rumah tangga itu segera bergegas untuk memanggil Shila!


"Shila makan bareng kita?" ucap Ken.


"Iya," sahut Elma singkat.


"Kenapa?" tanya Rendy.


"Karena, Mama pengen ada yang nemenin Mama makan," ucap Elma.


Ken tersenyum, ada rasa bahagia karena Elma sudah menyayangi Shila.


"Selamat malam. Maaf membuat kalian menunggu," ucap Shila.


Liana tersenyum tanpa menghiraukan luka hatinya.


"Tidak masalah. Shila ayo duduk disini," ucap Liana dengan ramah.


"Hati kamu terbuat dari apa sih, Li? aku sudah sangat menyakitimu tapi kamu masih bisa tersenyum selebar itu," ucap Rendy didalam hatinya.


"Mam, yang mana makanan buat Liana?" tanya Rendy sembari meraih piring kosong dari depan Liana!


"Yang itu dan itu!" ucap Elma sembari menunjukkan jari telunjuknya pada salah satu makanan yang terhidang di meja makan.

__ADS_1


Rendy mulai mengisi piring kosong yang dipegangnya!


Setelah piring itu terisi penuh, Rendy memberikannya pada Liana!


"Sayang, kamu harus makan yang banyak biar kamu sama bayi kita sehat," ucap Rendy.


"Gak sebanyak ini juga, Mas. Aku gak mungkin bisa menghabiskan makanan sebanyak ini," ucap Liana.


Didepan Elma dan keluarganya, Liana selalu bersikap seolah hubungannya baik-baik saja dengan Rendy, ia masih bisa mengukir senyuman dan bersendagurau dengan mereka.


Shila mengisi piring Elma dengan nasi dan lauk-pauk lalu memberikan kepada Elma!


"Silahkan dimakan, Bu," ucap Shila.


"Terimakasih," ucap Elma dengan senyumnya.


"Aku gak diambilin?" ucap Ken.


Shila tersenyum lalu berucap, "saya bekerja untuk Ibu, bukan untuk anda."


"Kalau gitu, kerja untuk aku juga," ucap Ken dengan tatapan genit.


Elma yang dari tadi memperhatikan Ken dan Shila, menatap Rendy lalu menatap Liana dan ketiganya tertawa bersamaan.


"Kalau cinta, lanjutin aja ke pelaminan," ucap Liana dengan tawa renyah.


Shila menatap Ken lalu memutar bola matanya malas.


Ken cuma nyengir kuda menanggapi perkataan Liana.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2