
Ken sudah tiba lebih dulu di kantor.
Sesuai permintaan Ready, Ken memarkirkan mobilnya agak jauh dari gerbang kantornya.
"Sepertinya anak itu belum datang," gumam Ken.
Ken meregangkan tubuhnya yang terasa kaku! lalu menyandarkan punggungnya di kursi mobilnya.
Tak lama mobil Rendy tiba dan berhenti tepat dibelakang mobil Ken.
Ken segera turun dari mobilnya lalu berjalan menghampiri kakaknya!
"Liana?" ucap Ken saat melihat Liana turun dari mobil dengan hanya menggunakan pakaian tidur.
Liana tak membuka suaranya karena ia kesal suaminya sudah memaksanya untuk ikut.
"Ayo kita masuk! mobil tinggalkan disini saja," ucap Rendy sembari merangkul pinggang Liana.
Ken menggaruk kepalanya yang tidak gatal! "aneh," gumamnya lalu berjalan mengekor dibelakang Rendy dan Liana!
"Katanya mau nonton bioskop. Ngapain ke kantor?" Liana menggerutu didalam hatinya.
"Ren, ngapain coba ngajak ketemu malam-malam gini?" ucap Ken.
"Diam. Jangan berisik, kita sudah memasuki area kantor," ucap Rendy.
Rendy mengambil ponselnya dari saku celananya! lalu membaca pesan dari seseorang.
"Ruangan gue?" ucap Ken dengan nada rendah.
__ADS_1
Rendy membuka pintu ruangan Ken, membuat Ken semakin penasaran dengan apa yang ingin Rendy lakukan di ruangannya.
Rendy membuka lalu menyalakan sebuah laptop yang disambungkan pada CCTV rahasia yang terpasang di kantornya.
"Sayang, kita nonton bioskop disini ya," ucap Rendy kepada Liana.
Ken menautkan kedua alisnya karena tak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh kakaknya itu.
Tidak ada gambar apapun di layar laptop itu. Hanya ada kegelapan di sana.
"Ken titip Liana. Aku pergi sebentar," ucap Rendy lalu melangkahkan kakinya.
"Apapun yang terjadi, jangan keluar dari ruangan ini," ucap Rendy lagi sebelum menutup pintu ruangan itu.
Liana mulai menangis, ia merasa tak tahan dengan sikap Rendy yang semakin aneh dan suka memaksa.
Liana mengusap air matanya dengan telapak tangannya!
"Ken, apa aku salah kalau aku menginginkan kehidupan yang lebih dari ini?" ucap Liana.
"Tidak. Semua orang berhak memilih jalan hidupnya sendiri, tapi kalau Tuhan sudah menghendaki sekuat apapun kita mencoba berlari kita tidak akan bisa menghindarinya," ucap Ken.
Liana masih berdiri ditempat pertama ia menginjakkan kaki di ruangan itu.
Ken mengambil kursi dan menyuruh Liana untuk duduk!
"Orang hamil tidak baik berdiri terlalu lama."
Ken mengarahkan Liana untuk duduk!
__ADS_1
"Kita nonton bioskop berdua saja tanpa ada penonton lain dan dalam ruangan yang sempit ini. Bukankah akan lebih romantis?" ucap Ken dengan tawa kecilnya.
Liana tersenyum lalu memukul lengan Kendra!
"Ada-ada aja." (Liana)
Ken dan Liana memperhatikan layar laptop yang disediakan oleh Rendy.
"Ken." Liana menunjuk layar laptop itu!
"Ken lihat, ada orang di ruangan Rendy," sambung Liana.
Ken mengikuti arah jari telunjuk Liana.
"Iya. Siapa dia? sepertinya seorang perempuan," ucap Ken.
"Perempuan? kamu tahu dari mana? dia kan pakai penutup wajah," ucap Liana.
Orang yang berada di ruangan Rendy memang memakai penutup wajah agar orang yang melihatnya tidak gampang mengenalinya.
"Itu, ada sesuatu yang menonjol di bagian dadanya," ucap Ken.
Sekali lagi Liana memukul lengan Kendra!
"Dasar, mesum." (Liana)
"Sepertinya ini film yang Rendy siapkan untuk kita tonton," ucap Ken sembari terus menatap layar laptop itu.
Bersambung
__ADS_1