Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Bab 3


__ADS_3

Pada saat jam makan siang, Jenny pergi untuk menemui Rendy dan Liana.


Jenny pergi dengan menggunakan taksi online karena kehidupannya yang sekarang tidak seperti dulu lagi. Sekarang Jenny hidup dalam kesederhanaan tanpa adanya kemewahan yang menghiasi hidupnya.


Untuk biaya sehari-hari dan biaya kuliahnya Biani, Jenny hanya mengharapkan gaji dari anak pertamanya.


Semenjak Bram meninggal, Jacky lah yang jadi tulang punggung keluarga. Bukannya Jenny dan Biani tak ingin membantu Jacky tapi Jacky yang melarang Jenny ataupun Biani bekerja.


Tiga puluh menit melakukan perjalanan, akhirnya Jenny tiba di rumah mewah yang dulu sering ia kunjungi itu.


Jenny turun dari mobil lalu mulai melangkahkan kakinya memasuki area rumah sang mantan kekasih!


"Permisi!" ucap Jenny dari depan gerbang rumah milik Rendy.


Seorang satpam menghampiri Jenny!


"Iya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" ucap Satpam itu.


"Saya ingin bertemu dengan Pak Rendy dan Bu Liana," sahut Jenny.


"Ibu siapanya mereka?"


Bukannya satpam itu ingin tahu urusan orang tapi ia harus memastikan orang yang bertemu dengan tuannya bukanlah orang jahat.


"Saya teman lamanya Liana," ucap Jenny.


"Maaf, Bu saya tidak bisa mengizinkan Anda masuk sebelum mendapat izin dari Ibu Liana. Ibu tunggu sebentar ya, saya mau kasih tahu Ibu Liana dulu," ucap Satpam itu.


Jenny tersenyum. "Silahkan, Pak," ucapnya.


Satpam itu masuk kedalam rumah mewah itu sedangkan Jenny setia menunggu didepan gerbang sampai satpam itu kembali.


"Pak, ada yang ingin bertemu dengan Ibu dan Bapak," ucap Satpam itu setelah berhasil menemui Rendy di ruang keluarga.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Rendy.


"Nama Ibu Jenny."


"Jenny?"


"Iya, Pak," ucap satpam itu.


"Ngapain wanita itu kesini?" ucap Rendy dalam hatinya.


"Pak, tamunya mau disuruh masuk atau tidak?" tanya satpam itu karena melihat Rendy yang melamun.


"Gak usah, biar saya yang ke sana," ucap Rendy.


Satpam itu kembali ke tempat ia berjaga.


Setelah mempersiapkan diri untuk menemui Jenny, Rendy berjalan kearah pintu gerbang rumahnya!


Rendy tidak mengajak Jenny masuk kedalam rumahnya, Rendy mengajak Jenny berbicara di halaman rumahnya.


"Tolong restui hubungan Biani dan Leon," ucap Jenny tanpa basa-basi.


"Tidak akan pernah. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah merestui hubungan mereka." Rendy berucap dengan menaikan nada bicaranya.


"Kasihan mereka. Mereka saling mencintai, kenapa kamu tidak mengerti dengan perasaan mereka?" ucap Jenny dengan nada memelas.


"Aku tidak perduli. Aku tidak ingin berhubungan dengan keluarga kalian lagi."


"Rendy ... ."


"Keputusanku tidak bisa diubah lagi. Silahkan pergi dari rumahku," ucap Rendy sinis.


Rendy pergi memasuki rumahnya, sedangkan Jenny menatap kepergian Rendy yang tanpa permisi dengan tatapan pilu.

__ADS_1


Setelah Rendy sudah tidak terlihat lagi, Jenny pergi meninggalkan rumah milik Rendy dengan perasaan sedih dan pilu yang menghujam hatinya.


"Pa, jangan terlalu kasar sama Jenny. Kasihan dia," ucap Liana yang sedari tadi memperhatikan Rendy dan Jenny.


"Orang seperti mereka memang pantas mendapatkan perlakuan seperti ini, Mam."


"Sebaiknya jangan sangkut pautkan anak-anak dengan masa lalu kita. Mereka tidak tahu apa-apa," ucap Liana.


"Mama, gak ngerti perasaan Papa," sahut Rendy.


"Pa, Biani tidak salah, yang salah itu Jenny kenapa Papa tidak mengerti juga," ucap Liana.


"Mama yang tidak mengerti. Sudahlah jangan berdebat. Papa akan menjodohkan Leon dengan putrinya Pak Satya dalam waktu dekat," ucap Rendy.


Rendy pergi meninggalkan Liana di ruangan itu.


Liana menatap Rendy lalu menggelengkan kepalanya.


...****************...


"Biani, percaya sama aku. Apa pun yang terjadi aku tetap mencintaimu," ucap Leon berusaha membuat Biani percaya padanya.


"Aku juga cinta sama kamu tapi bagaimana kita bisa bersatu kalau orang tuamu saja tidak merestui hubungan kita," ucap Biani.


Leon menggenggam tangan Biani dengan lembut!


"Kita buat Papa merestui hubungan kita lagi, kita akan berusaha sama-sama," ucap Leon.


Biani tersenyum tipis dengan air mata yang masih mengalir di pipinya.


"Kamu janji, kamu akan tetap mencintaiku walau apa pun yang terjadi?" ucap Biani dengan nada lirih.


"Aku janji." Leon mengusap air mata Biani yang membasahi pipinya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2