
Kayla menatap Elvan dalam waktu yang lumayan lama.
"Kamu yakin, Van? Kita belum lama kenal, kamu belum tahu siapa aku dan begitu juga dengan aku yang belum mengenal kamu."
Elvan tersenyum. "Kamu tidak harus menjawab pertanyaan aku sekarang. Pikirkan saja dulu, aku siap menunggu kok, yang pasti aku serius sama kamu aku tidak perlu mengenal kamu lebih jauh lagi, karena aku yakin kamu adalah gadis baik-baik," ucap Elvan sembari menatap kedua bola mata Kayla.
"Aku akan memikirkan ini terlebih dahulu, terimakasih sudah memberikan aku waktu."
...****************...
Leon berjalan memasuki rumahnya dengan langkah panjangnya!
"Shania!" teriak Leon.
Shania turun dari lantai dua rumahnya dengan sedikit tergesa-gesa!
"Ya, ada apa?" sahut Shania sembari terus menuruni anak tangga.
"Shania kamu sudah makan siang?"
Shania menghentikan langkahnya! Ia sedikit terkejut mendengar perkataan Leon.
Leon berjalan menghampiri Shania lalu meraih tangan Shania dan membawa Shania ke ruang makan!
"Aku mau makan siang bareng sama kamu," ucap Leon.
"Leon kenapa kamu tidak makan di luar saja? Aku tidak masak untuk makan siang," ucap Shania kepada Leon dengan mata yang terus tertuju kepada Leon.
"Masakan tadi pagi masih ada?"
"Sudah aku berikan kepada orang yang membutuhkan," sahut Shania.
Leon menatap meja makan, memang tidak ada sedikitpun makanan di atas meja makan itu.
"Maaf, Leon. Aku gak tahu kalau kamu mau makan di rumah, jadinya aku gak masak buat kamu."
"Tidak apa-apa, Shania ini bukan salahmu. O, ya maaf ya tadi pagi aku ...." Leon menggantung ucapannya.
"Tidak apa-apa, Leon. Aku baik-baik saja kok."
"Tidak seharusnya aku membuatmu kecewa. Mau makan di luar bersamaku?"
"Tapi, Biani?"
"Tidak apa-apa. Jangan pikirkan tentang Biani."
"Leon, aku takut Biani akan marah padaku kalau tahu aku makan bareng sama kamu."
"Biani biar jadi urusanku. Kamu gak usah khawatir."
Shania tersenyum tipis. "Aku ganti baju dulu," dulu," ucap Shania.
Leon menganggukkan kepalanya. "Jangan lama-lama."
Shania segera berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua rumahnya!
Leon duduk di kursi ruang tamu rumahnya menunggu Shania yang sedang bersiap-siap.
Di kamar Shania.
Setelah mengganti pakaian yang ia kenakan, Shania duduk di depan meja rias nya lalu memoles wajahnya dengan make_up.
Sebuah senyuman terukir di bibir Shania, ada rasa tak biasa didalam hatinya karena mendapatkan sedikit perhatian dari Leon.
"Leon, apa kamu mulai peduli sama aku?" ucap Shania didalam hatinya.
Setelah selesai, Shania segera keluar dari kamarnya, dia berjalan menghampiri Leon dengan perasaan bahagia!
"Aku sudah siap," ucap Shania.
"Baiklah, ayo kita berangkat!"
Leon mengulurkan tangannya kepada Shania dengan senyum manis di bibirnya.
Shania membalas senyuman Leon yang terlihat begitu indah lalu meraih telapak tangan Leon yang terulur padanya!
Ini kali pertama Leon bersikap manis kepada Shania dan ini kali pertama juga keduanya saling memberikan senyuman terbaiknya.
__ADS_1
Leon dan Shania berjalan bergandengan menuju mobilnya!
Leon membukakan pintu mobilnya untuk Shania dan mempersilahkan Shania masuk lebih dulu.
Setelah Shania masuk kedalam mobil barulah Leon masuk kedalam mobilnya!
Leon mulai melajukan kendaraannya dengan perlahan.
Sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan diantara keduanya. Mereka berdua sama-sama sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
Setelah sepuluh menit, mereka tiba di restoran favorit Shania. Leon memarkirkan mobilnya lalu mengajak Shania turun dari mobilnya.
Keduanya berjalan bergandengan memasuki rumah makan tersebut! Beberapa pengunjung menatap Leon dan Shania dengan tatapan kagum.
Bagaimana tidak, Leon adalah putra dari pemilik perusahaan terkenal dan Shania juga putri dari pemilik perusahaan yang tak kalah terkenalnya dari perusahaan orang tuanya Leon.
Leon yang tampan dan Shania yang begitu cantik, membuat para pengunjung restoran itu tak bisa berhenti menatap keduanya.
Tak disangka ada seorang wartawan yang sedang berkunjung di restoran itu.
Wartawan itu langsung mengambil foto Leon dan Shania yang terlihat begitu serasi.
Leon menarik kursi lalu mempersilahkan Shania untuk duduk setelah Shania duduk Leon baru duduk di kursi yang berhadapan dengan Shania.
"Leon, kamu nyaman gak sih? Orang-orang banyak yang memperhatikan kita dari tadi," ucap Shania.
"Biasa saja. Mereka pasti terpesona dengan ketampanan aku," sahut Leon.
Shania tertawa kecil. "Ternyata tingkat percaya diri kamu tinggi juga."
Leon menanggapi perkataan Shania hanya dengan senyuman.
Tak lama seorang pelayan restoran itu datang mengantarkan makanan yang mereka pesan.
"Selamat menikmati," ucap pelayan restoran itu setelah menata rapi makanan yang ia bawa di meja itu.
Pelayan itu langsung pergi dari tempat itu.
"Silahkan," ucap Leon.
Setelah selesai makan, Shania menatap jam ditangannya sudah menunjukkan pukul 13:35 waktu setempat.
"Leon, kamu gak telat ke kantor? Jam makan siang sudah habis sejak setengah jam lalu," ucap Shania.
"Tidak apa-apa Shania biar Elvan dulu yang urus kantor," ucap Leon.
Seorang wartawan menghampiri Leon dan Shania lalu meminta izin untuk meliput keduanya.
Dengan senang hati Leon mengizinkan wartawan itu mewawancarai mereka.
"Leon, nanti Biani melihat kita di televisi," bisik Shania ditelinga Leon.
"Jangan khawatir." Leon mengusap pipi Shania dengan lembut.
Wartawan itu mulai bertanya-tanya seputar hubungan mereka. Leon dan Shania pun menjawab seolah hubungan mereka baik-baik saja, keduanya bekerja sama menutupi rumah tangga mereka yang sebenarnya tidak berjalan dengan baik.
Leon dan Shania bersikap romantis di depan kamera, keduanya tidak ingin mempermalukan keluarga mereka.
Setelah dua puluh menit, mereka baru bisa pulang. Wartawan itu sudah selesai dengan wawancaranya.
Leon dan Shania keluar dari restoran itu dengan berjalan bergandengan tak lupa senyum terbaik terus menghiasi bibir keduanya.
"Mereka sangat serasi," ucap pengunjung.
"Leon sangat tampan," ucap pengunjung perempuan.
"Seandainya aku yang ada di posisi Leon," ucap salah satu pengunjung laki-laki.
Para pengunjung yang kebanyakan adalah remaja, merasa ingin berada di posisi Leon ataupun Shania. Ada yang kagum kepada Leon dan Shania ada juga yang iri kepada mereka.
"Leon, aku takut," ucap Shania setelah berada didalam mobil.
"Takut kenapa?" sahut Leon.
"Biani akan marah nanti."
"Jangan takut, Biani harus menerima ini semua karena kamu memang istri aku, istri sah aku," ucap Leon sembari terus menyetir.
__ADS_1
Shania terdiam, ada rasa bahagia di hatinya karena bisa membakar Biani dengan api cemburu disisi lain ada rasa takut karena Biani bisa melakukan apa saja terhadapnya untuk melampiaskan amarah Biani kepadanya. Seperti yang sudah Biani lakukan kepadanya saat dirinya dirawat di rumah sakit.
...****************...
Biani menangis saat melihat kemesraan antara Leon dan Shania di televisi.
"Katanya kamu gak cinta sama dia, Leon tapi kamu bisa semesra itu dengannya," ucap Biani didalam hatinya.
Biani merasa sakit dan sesak mendengar perkataan Leon yang mengatakan bahwa mereka saling mencintai, Biani semakin merasa sakit saat Leon membelai pipi Shania dengan mata yang saling bertatapan.
Jacky baru pulang bekerja dan langsung emosi saat melihat Biani menangis sambil melihatmu televisi.
Jacky mematikan televisinya lalu melemparkan remote yang ia pegang ke sembarang tempat.
"Untuk apa kamu menangisi laki-laki yang jelas-jelas tidak mencintai kamu, Biani!" ucap Jacky dengan nada bicara yang tinggi.
Jenny berlari tergopoh-gopoh menghampiri Biani dan Jacky!
"Jacky ada apa? Kamu baru pulang kerja langsung marah-marah," ucap Jenny.
"Lihat anak gadis ini. Dia menangis melihat Leon yang sedang bermesraan di televisi."
"Aku mencintai Leon, Kak," ucap Biani.
"Biani buka mata kamu, Leon tidak mencintai kamu. Pakai otak kamu, Leon gak akan menikah dengan wanita lain jika dia benar-benar mencintai kamu."
"Jacky, tahan emosimu, Nak."
Jenny duduk di samping Biani lalu memeluk putrinya itu.
"Biani, kamu harus lupakan Leon. Leon sudah menjadi milik orang lain, Nak."
"Tidak, Ma. Aku sangat mencintai Leon, aku dan Leon masih berhubungan. Kami saling mencintai," ucap Biani.
Jacky mengepalkan tangannya saat tahu Biani masih berpacaran dengan Leon.
"Kurangajar! Ternyata laki-laki itu masih memberikan harapan palsu padamu."
"Tidak, Kak. Leon akan menikahi diriku."
"Biani, sudahlah, Nak. Kita tidak mungkin menjalin hubungan dengan keluarga mereka. Kamu lihat mereka, mereka hidup dengan penuh kemewahan sementara kita? Kamu sadar gak sih, Nak kita ini apa," ucap Jenny.
"Laki-laki itu harus diberi pelajaran. Berani-beraninya dia membuat adikku terus kesakitan!"
Jacky berjalan keluar dari rumahnya dengan penuh emosi!
"Kak, jangan lakukan apapun kepada Leon!"
"Jacky, jangan gegabah!" ucap Jenny sembari mengejar Jacky ke luar rumahnya.
"Ma, laki-laki itu harus diberikan pelajaran karena sudah membuat Biani seperti ini."
"Jangan Jacky. Kamu bisa masuk penjara kalau menyakiti Leon."
"Ma."
"Mereka orang kaya, Nak. Mereka akan mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka bisa saja membuat kamu dipenjara selamanya."
Jenny menangis dihadapan Jacky.
Jacky tidak tega melihatmu Mamanya menangis, ia memeluk Mamanya lalu membawanya masuk kedalam rumahnya.
"Aku akan menuruti permintaan Mama, asalkan Mama jangan menangis lagi. Aku gak bisa melihatmu Mama menangis," ucap Jacky.
"Jangan lakukan apapun terhadap Leon," ucap Jenny.
"Aku tidak akan melakukan apapun, aku janji."
Jacky menghapus air mata Mamanya dengan telapak tangannya.
Jacky memeluk Biani dan Jenny!
"Kalian jangan menangis, kalau kalian nangis aku bisa sangat benci kepada laki-laki itu."
"Aku sayang kalian," ucapan Jacky.
Bersambung
__ADS_1