Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 bab 62


__ADS_3

Jacky menyeringai menampakkan keganasan nya terhadap Rania, dan mulai melakukan kekerasan terhadap Rania.


Sedikit pun, Rania tidak menampakkan wajah ketakutan kepada Jacky. Ia terus menatap Jacky dengan tatapan tajamnya, saat Jacky ingin menampar nya lagi, dengan sigap Rania menangkis tangan Jacky lalu menghempaskan nya dengan kasar!


"Rupanya lo mau bermain-main sama gue," ucap Jacky.


"Gue tidak punya urusan dengan lo, yang gue lakukan ini adalah untuk membela diri gue."


Rania berjalan hendak masuk ke dalam mobilnya untuk melanjutkan perjalanannya!


Jacky tak membiarkan Rania pergi begitu saja, dia menarik tangan Rania dan berusaha menaikan tubuh Rania ke motornya!


"Lepaskan!"


Rania menggeliatkan tubuhnya agar terlepas dari pegangan Jacky lalu ia menarik tangannya dengan kuat setelah terlepas dari pegangan Jacky!


"Kuat juga lo."


Jacky yang awalnya hanya ingin menculik Rania tanpa harus melukainya kini berubah pikiran karena ternyata Rania melakukan perlawanan terhadapnya.


Akhirnya Jacky melakukan kekerasan terhadap Rania, dia memukul dan menjambak rambut gadis berumur tujuh belas tahun itu!


Tak ingin dirinya terluka parah, Rania melawan Jacky dengan kekuatan yang ia punya.


Rania terus melawan setiap serangan yang Jacky lakukan padanya!


Rania memang bisa bela diri, semua itu ia pelajari dari Mamanya. Sebagai seorang wanita, Rania memutuskan untuk belajar ilmu bela diri untuk menjaga keselamatannya.


Rania adalah gadis yang mandiri, dalam hal apa pun ia tidak pernah bergantung kepada orang lain termasuk seperti saat seperti ini.


Merasa Rania adalah lawan tangguh, Jacky mulai mengeluarkan semua kemampuannya untuk melumpuhkan Rania.


Rania terus melawan tanpa rasa takut sedikit pun.


Perkelahian antara keduanya terus berlangsung selama beberapa menit, hingga Rania berhasil mengalahkan Jacky barulah perkelahian itu berakhir.


Beberapa orang berdiri sembari menyaksikan aksi Rania dan Jacky, orang-orang pengguna jalan itu tidak ada yang berani melerai Rania dan Jacky karena takut terkena bogem dari mereka.


Salah satu pejalan kaki ada yang mereka perkelahian itu dan membagikan videonya ke sosial media.


"Jangan pernah macam-macam lagi sama perempuan apalagi sama gue!" ucap Rania kepada Jacky yang terkapar di aspal.


Tanpa menghiraukan orang-orang yang memperhatikannya, Rania masuk ke dalam mobilnya lalu langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Sedikit pun, Rania tidak penasaran dengan wajah siapa yang berada di balik penutup wajah itu, ia tidak pernah berpikiran yang tidak-tidak. Saat itu dalam pikirannya laki-laki yang menyerangnya hanyalah begal yang berusaha mencari mobil dan barang berharga miliknya.


Orang-orang itu langsung membubarkan diri setelah Jacky ngamuk-ngamuk karena tidak berhasil menculik Rania.


...****************...


"Apa yang sedang mereka bicarakan? Aku tidak bisa mendengarnya," ucap Shania didalam hatinya.

__ADS_1


Shania berjalan beberapa langkah lagi mendekati Leon dan Biani agar bisa mendengar pembicaraan mereka!


"Mau apa kamu ngajak aku ketemu?" tanya Leon setelah beberapa menit tidak ada yang memulai pembicaraan di antara mereka.


"Aku hanya ingin minta maaf sama kamu atas perbukitan yang sudah aku lakukan kepadamu dan juga kepada istrimu," sahut Biani.


"Kamu sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal dengan melakukan percobaan pembunuhan terhadap Shania."


"Aku tahu kesalahan ku tidak bisa dimaafkan tapi aku tidak bisa tenang sebelum minta maaf sama kamu. Sebenarnya aku ingin minta maaf sama istrimu juga tapi aku takut dia akan menolak bertemu dengan ku."


Leon tidak berucap, dia hanya diam sambil terus menatap danau.


"Aku sudah berburuk sangka pada mereka," ucap Shania yang mendengar pembicaraan mereka dengan jelas.


"Hubungan kita belum selesai kan?" ucap Biani.


Leon menatap Biani dengan tatapan datar.


"Hubungan kita sudah selesai sejak lama, Biani."


Biani tersenyum tipis, ia tetap bersikap tenang meski Leon berkata dengan nada tinggi.


"Kamu benar Leon, hubungan kita sudah selesai sejak lama. Aku mengajakmu bertemu untuk membicarakan hal itu. Setelah aku pikir-pikir kita memang tidak bisa bersatu karena adanya permasalahan dalam masa lalu orang tua kita, aku sudah ikhlas melepaskan dirimu untuk Shania tapi aku harap meski kita tidak bisa bersatu dalam cinta kita masih bisa berteman."


"Biani, aku–"


"Hanya berteman. Aku pastikan kita hanya berteman, hubungan percintaan kita sudah usai aku harap hubungan kita bisa terus terjalin meski dengan status yang berbeda."


Shania segera kembali ke mobilnya lalu mulai melajukan mobilnya menuju arah jalan pulang!


"Ternyata Biani tidak seburuk yang kupikirkan," gumam Shania.


Shania berkendara dengan kecepatan tinggi agar bisa cepat sampai ke rumahnya.


...****************...


"Aku tidak bisa memutuskannya sekarang, aku perlu berpikir lagi untuk bisa kembali menjalin hubungan denganmu meski hanya sebagai teman saja," ucap Leon.


"Aku tidak akan memaksa, aku hanya ingin memperbaiki hubungan kita. Masalah orang tua kita biarlah mereka yang tahu, kita tidak perlu ikut campur kedalamnya."


"Aku tahu, tapi pernyataan Papaku tentang Mamamu sangat membuat aku terkejut sekaligus takut."


"Ya, aku tahu. Kamu pasti takut aku akan melakukan hal yang sama seperti yang Mamaku lakukan pada Papamu kan?"


Biani mulai menangis membicarakan hal itu, ia sedih karena masa lalu orang tuanya yang membuat dirinya kehilangan orang yang ia sayangi dan ia cintai.


"Biani, kamu ...."


"Tidak, tidak Leon, aku tidak apa-apa. Kamu tidak perlu khawatir."


"Kenapa kamu menangis? Bukankah kamu sudah menerima kenyataan bahwa kisah cinta kita sudah berakhir?"

__ADS_1


"Aku sudah mengikhlaskan semua itu. Aku hanya menyesali pertemuan kita waktu itu. Seandainya kita tidak pernah bertemu, aku tidak akan mengetahui masa lalu kelam Mamaku, aku tidak akan membenci dia karena aku hanya tahu kalau Mamaku itu adalah wanita yang baik, wanita yang sempurna, seorang ibu yang begitu membanggakan aku yang tidak mungkin orang lain bisa memiliki seorang ibu seperti dia."


Biani menangis saat mengutarakan isi hatinya kepada Leon.


"Jujur, sampai saat ini aku masih membenci Mamaku karena dia yang membuat kita tidak bisa bersatu," sambung Biani.


"Biani, Papaku tidak bermaksud untuk menghancurkan keluarga kamu."


"Aku tahu Leon, aku tahu itu. Tapi setelah aku tahu semuanya, entah kenapa aku menjadi sangat membenci orang yang selama ini aku banggakan."


...****************...


"Jacky! Lo kenapa?" tanya Dion yang melihat sahabatnya itu penuh luka lebam dan sedikit darah yang keluar dari sudut bibirnya dan hidungnya.


Jacky merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Dia tak menggubris pertanyaan Dion, ia terus berjalan tertatih mendekati Dion.


"Bawa gue ke rumah sakit," ucap Jacky dengan nada rendah.


Dion segera membantu Jacky masuk ke dalam mobilnya lalu segera membawa sahabatnya itu ke rumah sakit!


...****************...


Rania baru tiba di rumahnya. Dia berjalan memasuki rumahnya sembari mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah segar!


"Rania, kamu kenapa kok terluka seperti ini?" ucap Liana panik.


"Aku tidak apa-apa, Ma. Ini hanya luka kecil," sahut Rania.


Liana merasa khawatir terhadap putrinya itu.


"Luka kecil gimana? Kamu berdarah loh, memangnya kamu habis berantem sama siapa?"


"Gak tahu, tadi di jalan ada orang yang tiba-tiba mencegat ku dan berusaha melukai aku. Aku tidak tahu siapa dia dan apa mau dia dari aku."


"Tapi kamu ingat sama wajahnya kan?"


"Dia memakai penutup kepala dan wajah, aku tidak tahu bagaimana rupa wajahnya."


"Astaga, Rania. Untung kamu tidak apa-apa."


"Ini karena ilmu bela diri yang Mama ajarkan padaku," ucap Rania sembari membersihkan lukanya.


"Sini, biar Mama saja yang membersihkan luka mu."


"Tidak perlu, Ma. Aku baik-baik saja kok, Mama jangan khawatir ya."


Liana menatap Rania dengan tatapan sendu, baru kali ini ada orang yang tiba-tiba menyerang putrinya itu.


"Siapa yang melakukan ini padamu?" ucap Liana.


"Sudahlah, Ma jangan dipikirkan mungkin itu orang yang berniat mencuri, aku kan tidak apa-apa, udah ya jangan pikirkan masalah ini," ucap Rania menenangkan Liana yang merasa khawatir padanya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2