Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Bab 89


__ADS_3

Liana sedang menuju rumah orang tuanya dengan ditemani Sam. Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan diantara keduanya, Sam terus fokus mengemudi sedangkan Liana asyik dengan pemikirannya sendiri.


Setelah berkendara selama setengah jam mobil yang dikemudikan oleh Sam berhenti didepan rumah orang tuanya Liana.


"Kita sudah sampai," ucap Sam.


Liana turun dari mobil tanpa menjawab ucapan Sam!


Liana segera melangkahkan kakinya memasuki rumah orang tuanya! Liana menghentikan langkahnya karena Sam tak kunjung turun dari mobil.


"Sam!" ucap Liana.


"Ya," sahut Sam singkat.


"Kamu gak mau turun dari mobil?" tanya Liana.


"Saya disini saja," sahut Sam.


"Baiklah, saya gak lama kok," ucap Liana lalu ia segera bergegas memasuki rumah orang tuanya!


"Assalamu'alaikum!" ucap Liana sembari terus berjalan memasuki rumah orang tuanya.


"Waalaikumsalam." Ratih menjawab salam dari Liana.


"Bu!" Liana langsung memeluk ibunya dengan sangat erat.


"Sayang, ada apa, Nak?" ucap Ratih karena putrinya menangis dipelukannya.


"Aku rindu sama Ibu," ucap Liana berbohong.


Sebenarnya Liana ingin menumpahkan air mata kesedihan yang lama ia pendam. Sedih karena dikhianati suaminya, sedih karena melihat orang yang selama ini selalu berada di pihaknya sedang terbaring koma di rumah sakit.

__ADS_1


"Liana, kamu sudah menjadi istri, jangan cengeng terus," ucap Ratih dengan nada lembut.


"Sayang, wajahmu kenapa banyak luka lebam? apa jangan-jangan kamu dipukulin Rendy ya, kamu disakiti Rendy, Nak?"


Ratih menghujani Liana dengan pertanyaan, raut wajah penuh kekhawatiran terlihat di wajahnya kala itu.


"Nggak, Bu. Mas Rendy gak mukulin aku," ucap Liana.


"Dia memang menyakitiku," ucap Liana didalam hatinya.


"Terus luka ini bekas apa?" tanya Ratih sembari mengusap bekas luka di pipi Liana.


"Berantem sama preman," ucap Liana jujur.


"Astaga, ngapain berantem sama preman, Nak?" tanya Ratih lagi.


"Mereka ingin mencelakai ibu mertuaku, Bu," jelas Liana.


"Bodyguard banyak cuma mereka dikerahkan untuk menjaga Ken di rumah sakit dan sebagian lagi mencari siapa pelaku yang melukai Ken," jelas Liana lagi.


"Jadi Ken sakit karena ada yang mencelakainya?" ucap Ratih.


"Iya, Bu," sahut Liana.


"Itu berarti kamu harus berhati-hati, Nak. Bukan tidak mungkin menjadi istri dari seorang Rendy bisa saja mengancam keselamatanmu," ucap Ratih penuh kekhawatiran.


"Ibu tenang saja, ada banyak bodyguard yang bertugas melindungiku dan sedikit banyak aku juga bisa bela diri," jelas Liana.


"Tetap saja Ibu khawatir. Kamu adalah satu-satunya putri Ibu, Ibu tidak ingin terjadi sesuatu dengan kamu. Apalagi akhir-akhir ini perasaan ibu sering tidak enak kalau mengingat dirimu, Nak," ucap Ratih dengan tatapan sendu.


"Itu cuma perasaan Ibu saja. Aku baik-baik saja, Bu." Liana berucap tanpa menatap netra sang ibu.

__ADS_1


Ratih tersenyum tipis, ia tahu ada yang sedang disembunyikan oleh putrinya itu.


"Astaghfirullah, Sam." Liana menepuk jidatnya.


"Sam? siapa Sam?" tanya Ratih.


"Itu, Bu bodyguard yang mengantarkan aku kesini, aku lupa kalau dia sedang menungguku di mobil. Aku kelamaan lagi ngobrol sama Ibu," ucap Liana tanpa henti.


Ratih menggelengkan kepalanya lalu tersenyum.


"Kamu ini, Li. Bisa-bisanya lupa sama orang yang sudah berjasa terhadap keluargamu," ucap Ratih.


"Bu, aku temui Sam dulu ya!" ucap Liana sembari berjalan keluar rumah.


"Sam, maaf kelamaan. Kamu kembali ke rumah sakit aja biar mas Rendy yang jemput aku nanti sore," ucap Liana.


Liana masih ingin bersama ibunya, ia memutuskan untuk lebih lama lagi di rumah orang tuanya.


"Baik. Kalau gitu saya langsung pergi ya," ucap Sam lalu melajukan kendaraannya meninggalkan Liana di rumah orang tuanya.


Liana segera kembali ke dalam rumah untuk melepas rindu terhadap sang ibu!


"Bu, kok ayah gak pulang saat jam makan siang, biasanya kan ayah pulang?" ucap Liana.


"Ayah sibuk, Nak. Sekarang Ayah yang mengurus perusahaan kakek," jelas Ratih.


"Apa! jadi beneran kakek udah menerima keluarga kita, Bu?" ucap Liana tak percaya.


"Iya, sayang." (Ratih)


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2