
Setelah sampai di kamar Liana, Rendy membaringkan tubuh istrinya di tempat tidur lalu menutup tubuh istrinya dengan selimut.
Rendy memandang wajah istrinya tanpa berkedip sekalipun, lama Rendy memandangi wajah cantik yang sedang tertidur pulas itu. Rendy tersenyum, ada pikiran ia ingin mengecup sang istri tapi ia segera membuang jauh keinginannya itu karena ia tidak ingin membuat istrinya marah kepadanya.
"Untung, mama cuma semalam nginap disini, kalau tidak, bisa-bisa aku sudah menerkam makhluk manis ini," ucap Rendy dalam hatinya.
Rendy meninggalkan Liana di kamar itu lalu ia masuk ke dalam kamarnya. Tubuh Rendy terasa sangat lelah malam ini, ia segera tidur mengumpulkan tenaga baru untuk besok ia kembali bekerja.
Di kamar Ken.
Saat ini Ken belum bisa tidur, entah kenapa tangisan Liana selalu terbayang didalam ingatannya. Ken merasa bersalah karena sudah memaksa Liana untuk menikah dengan kakaknya.
Sekilas senyum Liana juga ikut terbayang olehnya. Ken segera menghubungi Markonah lagi untuk menanyakan apakah sudah mendapatkan bukti yang cukup kuat untuk ditunjukkan kepada Rendy.
Ken semakin bersemangat untuk membongkar siapa Jenny dan Bram yang sebenarnya, ia ingin membuang jauh kesedihan yang dialami Liana, ia ingin senyum manis yang selalu terbayang olehnya tidak akan pernah pudar dari bibir Liana yang kini telah menjadi kakak iparnya.
"Tidak akan kubiarkan kamu bersedih lagi, Li," ucap Ken lalu ia membaringkan tubuhnya ditempat tidur.
Dikediaman Ridwan.
Laki-laki yang sudah tidak muda lagi itu tidak bisa memejamkan matanya, ia gelisah karena anak buahnya belum juga berhasil membawa Liana ke rumahnya.
Laki-laki tua itu sangat gila harta dan jabatan, jika Liana tidak dinikahkan dengan cucu dari sahabatnya itu, ia akan kehilangan banyak uang karena sahabatnya itu akan membatalkan kontrak kerja sama dengan perusahaannya.
"Apa sudah ada kabar dari orang-orang yang bertugas mencari Liana?" tanya Ridwan kepada asisten pribadinya.
"Belum. Tuan apa sebaiknya kita batalkan saja perjodohan ini, kasihan nona muda jika harus menikah dengan pria cacat," ucap asisten pribadinya Ridwan.
"Tapi kita akan kehilangan kontrak kerja sama dengan perusahaan besar itu," ucap Ridwan.
"Tuan, tidak ada salahnya berkorban demi kebahagiaan orang yang kita sayangi," ucap asisten pribadinya lagi.
Ridwan terdiam, ia teringat kala dulu ia memaksa putrinya untuk menuruti keinginannya, yang ternyata bukan kebahagiaan yang Ratih rasakan namun hanya kepedihan yang Ratih rasakan dalam hidupnya.
Hingga saat ini putrinya itu tidak pernah pulang ke rumahnya lagi.
"Kamu benar. Selama ini saya terlalu mengejar harta sehingga saya kehilangan kebahagiaan dari putri saya." Ridwan mulai menyadari sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupnya.
"Sekarang anda tidurlah. Besok akan saya urus semua keperluan untuk membatalkan perjodohan ini. Dan saya harap secepatnya anda meminta maaf kepada ibu muda sebelum semuanya terlambat," ucap asisten pribadinya Ridwan.
Sebenarnya asisten pribadinya Ridwan ini sangat menyayangkan sikap Ridwan terhadap Ratih dahulu, namun karena ia bukanlah siapa-siapa di keluarga Ridwan ia memilih untuk menuruti semua keinginan bosnya itu.
*** *** ***
__ADS_1
Beberapa bulan berlalu, kini hubungan Rendy dan Liana semakin membaik keduanya sudah semakin dekat tapi masih tinggal di kamar yang berbeda.
Ken juga sudah mengumpulkan bukti-bukti untuk membongkar siapa Jenny yang sebenarnya.
Ken tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkan bukti itu kepada Rendy.
Siang ini seperti biasa Liana sedang berada di kantor hanya untuk menemani sang suami bekerja.
"Mas, aku bosan. Boleh aku jalan-jalan sebentar di taman?" ucap Liana sembari menghampiri suaminya yang tengah duduk di kursi kebenarannya.
"Pergi aja, tapi ingat jangan lama-lama diluar sana banyak bahaya yang mengintaimu," ucap Rendy tanpa menoleh kearah Liana.
"Siap, Pak Bos." Tanpa basa-basi Liana langsung melangkahkan kakinya, meninggalkan suaminya.
Sementara Rendy hanya menggelengkan kepalanya melihat sang istri yang pergi begitu saja.
Setelah tiba di taman itu Liana duduk sembari memandangi bunga-bunga yang sedang bermekaran. Senyum Liana mengembang kala melihat kupu-kupu yang berterbangan.
Ken yang sejak tadi hanya memperhatikan Liana, kini ia berjalan menghampiri Liana.
"Li, sendirian aja. Rendy mana?" ucap Ken sembari terus melangkah menghampiri Liana.
Liana menoleh ke arah suara, lalu tersenyum kepada Ken.
"Kebetulan aku abis dari luar, terus aku liat kamu disini. Yaudah aku samperin aja, aku kira kamu sama Rendy," jelas Ken.
"Nggak. Aku sendiri disini, aku bosan mandangin wajah bosmu terus," ucap Liana dengan senyuman manisnya.
Ken membalas senyuman Liana.
"Boleh aku duduk disampingmu?" ucap Ken.
"Tentu." Liana bergeser memberikan tempat untuk Kendra duduk disampingnya.
"Terimakasih," ucap Ken sembari menghempaskan bokongnya ke kursi itu.
Hubungan Ken dan Liana sudah dekat bahkan mereka sudah menjadi sahabat baik sejak awal Liana menikah dengan Rendy.
Keduanya berbincang dalam waktu yang lumayan lama, karena bosan duduk sambil memandangi bunga-bunga itu akhirnya Liana beranjak menghampiri bunga yang sedang bermekaran itu.
Liana memetik beberapa bunga lalu mencium aroma wangi dari bunga yang telah ia petik.
"Kamu suka dengan aroma bunga itu?" tanya Ken yang masih duduk ditempatkan semula.
__ADS_1
"Aku suka dengan semua jenis bunga," saut Liana tanpa melihat kearah Ken.
"Termasuk bunga bangkai juga?" tanya Ken lagi.
Liana tertawa lepas, "tentu saja. Aku sudah bilang kalau aku suka semua jenis bunga," ucap Liana sembari terus mengusap kelopak bunga yang sedang dipegangnya.
Ken tidak menjawab ataupun bertanya kepada Liana ia lebih memilih memainkan ponselnya. Sementara Liana berjalan lebih jauh dari tempat semula, menghampiri bunga-bunga yang lainnya.
Di dalam kantor.
Rendy berkali-kali melihat jam tangan yang ia pakai, sudah dua jam lebih Liana pergi namun belum ada tanda-tanda Liana akan kembali.
Rendy mulai khawatir dengan keselamatan istrinya itu. Rendy menutup laptopnya lalu melangkahkan kakinya, ia hendak menyusul Liana ke taman.
Di taman.
Liana sedang asyik bermain dengan bunga-bunga itu, ia menyentuh satu persatu bunga yang berada didekatnya tanpa ia sadari ada ulat bulu yang merayap di bajunya.
Liana terus berjalan menghampiri bunga-bunga yang indah itu hingga ia merasakan ada sesuatu yang merayap ditangannya.
Liana melihat ada apa ditangannya itu dan, "aaaaa!" Liana berteriak sekeras-kerasnya.
Ken yang sedang duduk di kursi taman sambil memainkan ponselnya, terkejut kala mendengar suara teriakan Liana.
"Liana!" Ken berlari kearah Liana mencari tahu apa yang terjadi pada wanita yang ia kagumi dalam diam itu.
"Kamu kenapa, Li?" tanya Ken yang melihat Liana sedang loncat-loncat sambil berteriak.
"Ken tolong ada ulat, aku takut!" ucapan Liana sambil berlari menghampiri Ken.
Saat Liana hampir sampai didekat Ken, Liana menginjak batu kecil yang membuatnya terpeleset.
Melihat Liana akan terjatuh, dengan sigap Ken menangkap tubuh Liana namun Ken kehilangan keseimbangan dan akhirnya mereka berdua jatuh ke tanah bersamaan dengan posisi Ken menindih tubuh Liana.
Sesaat pandangan mereka beradu, tak ada kata-kata yang terucap dari keduanya.
"Kendra! Liana!" teriak Rendy yang melihat pemandangan yang tidak bisa itu.
Bersambung.
Rekomendasi novel yang sangat bagus untuk kalian baca, jangan lupa mampir ya, ceritanya pasti seru.
__ADS_1