Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 bab 72


__ADS_3

Di sebuah taman, Kayla dan Elvan sedang bertemu, keduanya sama-sama melepaskan rindu setelah akhir-akhir ini jarang bertemu.


"Ngajak ketemuan di tempat gelap gini, kamu mau ngajak aku gelap-gelapan?" ucap Elvan.


"Gelap, segini terangnya kamu bilang gelap? Bahkan aku sering bermain di tempat yang lebih gelap dari ini," sahut Kayla.


"Di sini sangat minim penerangan, Kay. Aku takut orang-orang akan salah faham terhadap kita."


"Orang-orang banyak yang mengunjungi taman ini, kenapa kamu harus takut. selama kita tidak melakukan sesuatu yang melanggar asusila, kita akan aman-aman saja di sini."


"Justru itu, sayang aku takut aku khilaf dan akhirnya kita digerebeg warga."


"Otak mu pasti sudah mengarah pada hal-hal negatif."


Elvan tersenyum tipis sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Katanya tidak mau merusak sesuatu yang kamu sayangi," ucap Kayla lagi.


Elvan nyengir kuda, "kan sebentar lagi kita nikah, gak masalah kalau coba-coba dulu."


Kayla menatap Elvan dengan tatapan tajam bak elang yang sedang mencintai mangsanya.


"Kamu pikir, aku ini apa? Bisa dicoba-coba segala."


Elvan meraih pipi Kayla lalu mengusapnya dengan ibu jarinya!


"Aku hanya bercanda, sayang. Kamu jangan galak-galak aku kan jadi takut."


...****************...


Setelah makan malam, Shania memberikan kue yang tadi ia buat bersama Rania kepada Leon.


"Cobain deh, kue buatan aku sama Rania," ucap Shania setelah meletakkan kue itu didepan Leon.


"Buatan kamu?" ucap Leon.


"Buatan aku juga," sarkas Rania.


Leon menatap Shania lalu menatap Rania. "Aku gak yakin dengan rasanya, dari tampilannya saja udah meragukan," ucap Leon.


"Kalau gak mau, gak apa-apa biar aku saja yang menghabiskan kue ini," ucap Shania sembari kembali mengambil kue dari hadapan Leon.


Leon segera menarik piring itu agar Shania tidak bisa mengambilnya.


"Tadi nawarin aku, sekarang malah mau diambil lagi," ucap Leon.


"Tadi katanya gak mau."


"Siapa yang bilang gak mau, aku hanya bilang kalau aku ragu."


"Itu sama saja kamu gak mau makan kue yang udah capek-capek aku buat bersama Rania."


"Udah-udah. Perasaan semenjak aku di sini kalian sering berdebat deh, apa jangan-jangan kalian selalu begini?" ucap Rania.


"Kakakmu tuh, Ran," ucap Shania.


"Kamu, malah nyalahin aku," ucap Leon.


"Kalian mau ribut terus? Udah ah aku mau pergi, sakit kupingku dengar perdebatan kalian."


Rania pergi meninggalkan Shania dan Leon yang sedang duduk di kursi meja makan!

__ADS_1


Shania dan Leon menatap kepergian Rania.


"Kamu sih," ucap Leon.


"Kamu!" Shania berucap dengan sedikit menaikan nada bicaranya.


Leon tak berucap lagi, dia memotong brownies yang diberikan oleh Shania lalu melahapnya.


Satu suapan, Leon tak berkata apa pun dia melanjutkan memakan kue itu hingga setelah kue itu hampir habis, Leon menatap Shania dan sebuah senyuman mengembang di bibir Leon.


"Kue nya, enak," ucap Leon.


"Tadi katanya meragukan. Sekarang bilang enak."


"Tadi kan baru lihat penampilannya kalau sekarang udah ngerasain rasanya."


Shania tersenyum bahagia karena ternyata Leon menyukai brownies buatannya.


"Duh sakit," lirih Leon sembari memegangi perutnya.


Setelah kue itu habis dimakan oleh Leon, tiba-tiba Leon merasakan sakit pada perutnya.


"Leon, kamu kenapa?" ucap Shania.


Shania menampakkan raut wajahnya yang panik dan ketakutan.


"Sakit."


Shania bergegas menghampiri Leon! Ia meletakkan satu tangannya di pundak Leon dan yang satunya lagi meraih air minum lalu memberikannya pada Leon.


"Minum dulu," ucap Shania sembari menyodorkan gelas berisi air minum ke mulut Leon.


"Leon, kamu tuh ya, bikin aku takut saja."


Shania memukul pundak Leon perlahan!


"Perutku memang sakit, kue yang kamu buat ini sangat enak jadi aku lupa kalau ternyata aku baru saja selesai makan malam."


"Aneh, kenapa bisa sampai lupa."


"Lagian kenapa kamu takut, hmm?" ucap Leon sembari melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Shania.


"Aku takut lah, kalau kamu kenapa-kenapa gimana?"


"Aku gak apa-apa kok, sayang."


Shania tidak menanggapi permintaan Leon, karena masih kesal ia tidak ingin bicara lagi pada Leon.


Shania berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Leon yang masih duduk di tempat semula.


Melihat Shania pergi, Leon segera membuntuti Shania dari belakangnya!


Shania membuka pintu kamarnya lalu masuk kedalamnya dengan perasaan yang masih kesal kepada Leon.


"Aku mau tidur, kamu jangan ganggu aku!" seru Shania.


"Gitu saja kok marah. Aku hanya bercanda dan hanya berpura-pura."


Leon berbaring di sebelah Shania lalu memeluk Shania dari belakang karena posisi Shania yang berbaring miring membelakangi Leon.


"Maaf," ucap Leon.

__ADS_1


"Aku sudah maafin," ucap Shania tanpa menatap Leon.


"Terimakasih."


Leon tak berucap lagi setelah berterimakasih kepada Shania. Perlahan Leon tertidur beralih tempat ke alam mimpi.


"Dasar gak peka, malah tidur duluan. Gak tahu apa perut aku pengen diusap-usap seperti biasanya." ucap Shania didalam hatinya.


Shania tidak bisa tidur karena Leon tak mengusap-usap perutnya, ia sudah berusaha untuk tidur, namun ternyata tidak berhasil juga.


Hingga karena waktu semakin larut akhirnya Shania tertidur juga.


...****************...


Pagi hari.


Kayla datang ke rumah sakit untuk menjemput Jacky, ia sudah tak sabar ingin menyelesaikan tugasnya dan memberi kejutan kepada Leon dan Shania atas keberhasilannya dalam menemukan dalang dari semua masalah yang menimpa mereka.


Kayla berjalan menuju ruangan tempat Jenny dirawat!


Tok!


Tok!


Tok!


Sebelum masuk ke ruangan itu, Kayla mengetuk pintu terlebih dahulu, namun ia tak menunggu orang di dalam ruangan itu menyuruhnya masuk.


Cklek!


Kayla membuka pintu ruangan itu lalu masuk kedalamnya.


"Aku datang untuk menjemput Jacky," ucap Kayla tanpa basa-basi.


"Aku sudah siap untuk pergi," ucap Jacky sembari mengangkat kedua tangannya dihadapan Kayla.


Kayla tersenyum tipis, "aku rasa borgol ini tidak perlu digunakan. Aku yakin kamu tidak akan melarikan diri," ucap Kayla.


"Tolong, jangan penjarakan anak saya," ucap Jenny dengan nada lirih.


Kayla berjalan mendekati Jenny yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit!


"Maaf, Bu saya tidak bisa mengabulkan keinginan Anda karena saya tidak berhak mengambil keputusan dalam hal ini. Jika Anda mau, Anda bisa bicara pada Leon atau orang tuanya untuk meminta meringankan hukuman anak Anda," jelas Kayla.


Biani tak mengucapkan sepatah kata pun, dia hanya duduk sambil terus menangis.


"Ayo Jacky!" ucap Kayla pada Jacky.


Jacky mendekati Mamanya lalu memeluk Mamanya itu dengan tangis yang deras.


"Maafkan aku, Ma. Maafkan aku."


Hanya kata maaf yang bisa Jacky ucapkan kepada Mamanya sebelum dia pergi meninggalkannya.


Belum sempat Kayla dan Jacky pergi dari tempat itu, Rio datang dengan membawakan makanan untuk Biani dan keluarganya.


"Kamu? Siapa kamu?" ucap Rio sembari menatap Kayla.


"Maaf, Pak dokter sepertinya Anda tidak perlu tahu kepada saya," ucap Kayla menjawab pertanyaan Rio.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2