
Setelah berkendara selama lima belas menit akhirnya Rio tiba di kafe nya.
Rio turun dari mobilnya setelah memarkirkan mobilnya di tempat yang seharusnya.
"Selamat siang semuanya!" Sapa Rio kepada semua karyawannya.
"Selamat siang, Pak," sahut semua karyawan di sana.
"Biani, aku mau bicara," ucap Rio kepada Biani.
"Bicara apa? Aku rasa semuanya sudah jelas dan tidak perlu ada yang kita bahas lagi," sahut Biani.
Rio meraih tangan Biani lalu membawanya ke tempat yang agak jauh dari karyawan lainnya!
"Rio kamu apa-apaan sih? Lepaskan aku.
Biani menarik tangannya agar bisa terlepas dari genggaman Rio.
"Biani, aku gak mau kita putus aku ingin kita tetap bersama seperti dulu lagi."
"Tidak bisa, Rio. Hubungan kita tidak mungkin bisa dilanjutkan, tolong mengertilah."
"Aku tidak bisa melupakan kamu begitu saja, aku sudah sangat mencintai kamu."
"Rio aku rasa keputusan aku sudah tidak bisa diganggu gugat lagi dan aku rasa alasan aku untuk menyudahi hubungan kita ini cukup jelas."
"Tapi aku tidak bisa. Aku sangat mencintai kamu."
Biani menatap Rio dengan tatapan dalam.
"Rio tatap mata aku! Aku yakin kamu melihat cinta untukmu dimata ku."
"Kalau benar begitu, kenapa kamu bersikukuh untuk menyudahi hubungan kita ini?"
"Rio ada hubungan yang lebih dari sekedar percintaan yang harus kamu jaga. Kamu tahu jika kita melanjutkan hubungan kita, hubungan kamu dengan Galang akan rusak dan kamu juga harus tahu ada yang namanya mantan istri atau suami tapi tidak ada yang namanya mantan adik atau kakak. Aku tidak mau kalian saling membenci satu sama lain, lebih baik aku yang mengalah karena tidak ada mantan adik ataupun kakak maka diantara kita akan ada mantan kekasih."
Rio terdiam sembari menatap Biani dalam pikirannya kenapa Biani bisa dengan mudahnya mengikhlaskan sesuatu yang sebenarnya sangat dia inginkan dan dua harapkan.
Untuk sesaat di sana hanya ada keheningan hingga sampai Galang tiba di tempat itu baru ada yang memecahkan keheningan itu.
"Selamat siang kak," ucap Galang dengan senyuman ramah di bibirnya.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Rio dengan nada ketus.
"Aku mau ...." Galang menggantung ucapannya.
"Kamu mau godain Biani lagi, iya?"
"Tidak Kak, aku ke sini mau menepati janji aku semalam," sahut Galang.
"Sayang, sini deh!" Galang memanggil seseorang yang sedang duduk di dalam mobilnya.
Rania turun dari mobil Galang dengan memasang senyum terbaiknya. Dia berjalan dengan anggunnya menghampiri Galang dan kakaknya!
Galang mengulurkan tangannya menyambut Rania dan dengan cepat Rania menerima uluran tangan Galang.
Setelah Rania bergabung bersama mereka, Galang menatap Rio lalu menatap Biani.
"Biani tolong kembalilah pada kakakku, dia gak bisa hidup tanpa kamu," ucap Galang pada Biani.
__ADS_1
"Maaf, aku tidak bisa," sahut Biani.
"Tolonglah Biani. Masa aku punya pacar sedangkan kakakku tidak."
"Galang kamu bicara apa sih?" tanya Rio.
"Aku bicara apa? Kakak gak dengar apa, aku sedang bicara apa?" sahut Galang.
Biani menatap Galang lalu menatap Rania, dua anak muda itu terus bergandengan tangan.
"Aku sadar kalau ternyata aku tidak mencintai Biani kak, aku baru sadar kalau ternyata aku cintanya sama Rania," ucap Galang.
"Galang kamu?"
"Iya Biani, ternyata rasa cinta aku ke kamu itu tidak benar-benar tulus ternyata aku lebih mencintai Rania yang umurnya seumuran dengan aku."
Biani tersenyum bahagia, dia menatap Rio yang juga terlihat sedang berbahagia, lalu Biani menatap Galang yang sedang menatapnya.
Sebuah senyuman dan anggukan kecil Galang suguhkan untuk Biani.
"Sebenarnya aku tidak mau bertemu dengan kamu, Biani karena aku masih membenci kamu atas perbuatan kamu terhadap keluargaku tapi karena ini menyangkut kebahagiaan Galang dan kak dokter dan tentunya kebahagiaan kamu juga, aku bersedia untuk datang ke sini bersama Galang," ucap Rania.
"Rania maafkan aku," ucap Biani dengan nada lirih.
"Aku sudah memaafkan kamu, semoga kamu bahagia bersama kak dokter dan semoga saja dengan kebahagiaan ini kamu tidak akan mengganggu kak Leon dan kak Shania lagi."
"Rania aku berani bersumpah demi apapun kalau aku sudah tidak lagi menginginkan Leon."
"Aku tahu, kamu tidak perlu menjelaskan apa pun dan tidak perlu bersumpah untuk itu."
Rio memeluk Biani dengan sangat erat! Dia bahagia karena bisa bersatu kembali dengan Biani tanpa adanya Galang sebagai penghalang hubungan mereka.
Teman-teman mampir juga ke karya author yang lain ya dengan judul: Terpaksa Menikah
Cuplikan Bab:
Satu minggu telah berlalu, Rea dan Raka sudah saling kenal dan hubungan mereka juga baik-baik saja.
Rea menganggap Raka sebagai kakaknya sendiri begitu juga dengan Raka yang menganggap Rea sebagai adiknya.
Suatu hari Raka ada pekerjaan yang tidak bisa ia tinggalkan, akhirnya hari itu Raka lembur pada hari itu.
Waktu menunjukkan pukul 02:25 wib.
Raka baru tiba di rumah, semua lampu sudah dimatikan dan semua orang di rumah itu sudah tidur. Perlahan Raka berjalan menaiki anak tangga satu-persatu dengan minimnya pencahayaan.
Raka membuka pintu kamarnya perlahan lalu ia merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Karena terlalu lelah dan mengantuk Raka langsung tertidur tanpa membersihkan diri atau mengganti pakaiannya terlebih dahulu.
*** *** ***
Pagi sudah tiba, matahari mulai menampakan sinarnya.
Rea baru bangun dari tidurnya, ia membuka matanya perlahan dan, "Aaaaa!"
Rea berteriak sekuat tenaga saat ia melihat Raka sedang tertidur di tempat tidurnya.
Suara teriakan Rea yang begitu kencang membuat Raka dan semua orang di rumah itu terkejut.
__ADS_1
Rea memukuli Raka dengan bantal yang ia pegang! tak disadari air mata Rea sudah membanjiri pipinya.
"Kakak ngapain tidur disini, kakak apain aku semalam?" ucap Rea sembari terus memukuli Raka dengan bantal.
"Re aku gak apa-apain kamu. Dengar dulu penjelasanku," ucap Raka.
Sebenarnya Raka juga kebingungan kenapa ia berada di kamar Rea.
Rea terus berteriak dan tangisnya pun semakin pecah.
Tika yang mendengar ada keributan langsung menghampiri Rea dan Raka di kamar yang berada di lantai dua rumahnya.
"Ada apa pagi-pagi sudah ribut?" tanya Tika yang baru tiba di kamar Rea.
"Ma, semalam dia meniduri aku," ucap Rea dengan air mata yang terus mengalir.
"Nggak, Tante. Aku bisa jelasin semuanya," ucap Raka sembari mendekati mamanya Rea.
"Kamu ini apa-apaan sih, Raka! tega ya kamu lakuin ini sama anak tante," ucap Tika yang mulai emosi.
"Tante ini tidak seperti yang tante dan Rea bayangkan. Dengerin dulu penjelasanku," ucap Raka pada Tika.
"Kamu harus bertanggungjawab." Tika berjalan menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa!
Raka mengekor dibelakang Tika untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Tika mengambil telpon genggamnya lalu menelpon Santi.
📞 "Halo." Santi mulai berbicara pada Tika.
📞 "San, sekarang juga kamu kesini," ucap Tika dengan nada tinggi.
📞 "Ke bandung? ada hal penting apa hingga kamu meminta aku datang secara mendadak seperti ini?" tanya Santi.
📞 "Anakmu meniduri Rea."
📞 "Apa!" Santi shock saat mendengar ucapan Tika.
📞 "Aku ingin Raka bertanggungjawab atas perbuatannya."
📞 "Tik kamu jangan apa-apain Raka. Aku kesana sekarang ya."
Santi memutuskan sambungan teleponnya. Ia segera bergegas pergi menuju kota bandung.
"Raka, apa yang kamu lakukan," lirih Santi.
Selama diperjalanan Santi terus memikirkan kenapa putranya bisa melakukan hal itu padahal selama ini Raka adalah anak yang baik dan setahunya Raka tidak pernah dekat dengan wanita.
Di rumah Tika.
"Tante, aku gak sengaja tidur di kamar Rea tolong tante dengar dulu penjelasanku." Raka terus mencoba meyakinkan Tika kalau ia tidak melakukan apa-apa terhadap Rea.
"Semua laki-laki akan berbicara seperti itu untuk menutupi kebusukannya," ketus Tika.
"Tante ... ."
"Kamu harus bertanggungjawab atas apa yang sudah terjadi semalam," ucap Tika.
"Tapi semalam tidak terjadi apa-apa. Bahkan aku baru sadar kalau aku salah masuk kamar setelah mendengar teriakan Rea," jelas Raka.
__ADS_1