
"Aku suapi ya," ucap Rio.
"Aku bisa makan sendiri Rio," sahut Biani.
Rio memberikan satu porsi makanan kepada Biani dan membiarkan Biani makan sendiri.
"Ya uda, ayo kita makan sama-sama," ucap Rio.
Rio menyendok makanannya lalu mulai memakannya.
Biani juga mulai memakan makanan miliknya.
"Rio ini kepedasan," ucap Biani sambil mengunyah makanannya.
"Benarkah?"
"Iya. Nih kamu cobain ya."
Biani menyendok makanannya lalu menyuapi Rio!
"Aku coba ya." Rio memakan makanan milik Biani dengan disuapi oleh Biani.
"Emm, sepertinya ketukar dengan milikku," ucap Rio sembari mengunyah makanannya.
Rio menyendok makanannya lalu menyuapi Biani!
"Coba punya aku," ucap Rio sembari menyodorkan satu sendok makan miliknya ke depan mulut Biani!
Biani memakan makanan itu.
"Yang ini pas. Pedasnya hanya sedikit," ucap Biani.
"Berarti beneran ketukar," ucap Rio.
Mereka menukar makanan mereka lalu mulai makan bersatu.
Saat sedang makan, Rio melihat ada bumbu makanan yang Biani makan belepotan di sudut bibir Biani.
Rio mengusap bibir Biani menggunakan ibu jarinya, matanya menatap Biani dengan tatapan dalam.
Biani meraih tangan Rio sembari terus menatap Rio dengan tanpa berkedip.
"Ada makan yang tersisa di bibirmu," ucap Rio.
Biani tersenyum tipis, "terimakasih," ucap Biani.
Rio tak langsung menurunkan tangannya dari pipi Biani, dia lanjut membelai lembut pipi sang kekasih.
"Kalau gini terus, kapan kita makannya?" ucap Biani.
Rio menarik tangannya! Sebuah senyuman terukir di bibirnya. "Maaf," ucapnya singkat.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka selesai dengan urusan makannya.
Rio mengambil minum untuknya dan untuk Biani.
...****************...
"Galang, jangan dengan gampang nya kamu memberikan barang berharga milik mu," ucap Rania sembari mencegah Galang yang akan mengambil dompet miliknya dari saku celananya.
"Tapi Rania, mereka akan melukai kita," ucap Galang.
"Jangan."
"Tolong kalian pergi dari sini dan jangan ganggu kami lagi, kalau kalian ingin uang kerja bukan membegal kendaraan seperti ini," ucap Rania kepada empat laki-laki yang mengelilinginya dan juga Galang.
"Lo jangan main-main sama kami ya, cepat serahkan dompet dan kunci mobilnya sekalian dengan kunci motor lo!" ucap salah satu dari empat laki-laki itu.
"Rania berikan saja, aku takut kamu terluka. Mereka membawa senjata tajam," ucap Galang.
"Galang, kamu kan laki-laki, masa takut sama mereka?"
"Jumlah mereka dua kali lipat dengan aku. Mereka berempat sedangkan aku ...."
Galang belum selesai bicara, satu preman itu menyerang Rania.
Dengan sigap, Galang melindungi Rania!
Mereka mulai menyerang Galang secara berbarengan.
Untuk beberapa saat, Rania membiarkan Galang melawan mereka namun setelah melihat Galang yang sangat kewalahan menghindari serangan mereka, akhirnya Rania ikut melawan mereka.
Rania menarik baju salah satu dari preman itu dari belakang lalu menampar nya dengan sangat keras.
"Jangan beraninya main keroyokan lo. Sini lawan gue!" seru Rania.
"Rania! Kamu apa-apaan? Cepat pergi dari sini!" teriak Galang sembari terus melawan mereka.
"Oh, ternyata berani juga lo ya."
Preman itu hendak menjambak rambut Rania namun Rania menepis tangan laki-laki itu.
Merasa mendapat perlawanan, preman itu menyeringai dan mulai menyerang Rania seperti mereka menyerang Galang.
Rania menerima setiap serangan dari laki-laki itu hingga beberapa kali preman itu hendak memukul Rania, Rania terus berhasil menghindari dari serangannya.
Tak ingin berlama-lama bermain dengan mereka, Rania mulai mengeluarkan kemampuannya. Sakit pada lututnya tak dirasakan lagi, Rania memang bukan gadis yang manja yang bisanya hanya bergantung pada orang lain.
Setelah dua menit, satu preman tergeletak tak berdaya karena kalah oleh Rania.
Galang menatap Rania dengan penuh kebingungan sekaligus kagum, bagaimana bisa gadis cantik dan nampak lembut itu ternyata bisa berkelahi bahkan bisa dikatakan Rania jago bela diri.
Bugh!
Salah satu preman itu memukul Galang dari belakang dengan menggunakan sikut nya hingga Galang jatuh tersungkur ke aspal!
"Galang!" teriak Rania.
Para preman itu juga mulai menyerang Rania dengan bersama-sama.
"Dasar preman cemen lo, beraninya main keroyokan," ucap Rania.
Rania terus melawan para preman itu.
Galang segera bangkit lalu mulai membantu Rania lagi.
Mereka berdua bekerja sama untuk mengalahkan mereka!
Setelah hampir sepuluh menit, Rania dan Galang berhasil mengalahkan empat preman itu.
Rania meraih kerah baju salah satu preman itu lalu menariknya!
"Jangan pernah mengambil hak orang lain. Jika setelah ini, gue lihat kalian seperti ini lagi, gue gak akan segan-segan untuk menghabisi kalian semua," ucap Rania.
"M_maaf, kami tidak akan melakukan ini lagi. A_ampun," ucap preman itu.
Rania melepaskan cengkraman nya dengan sangat keras sehingga seperti melemparkan preman itu.
Para preman itu berlari meninggalkan Rania dan Galang di tempat itu.
"Rania kamu gak apa-apa?" tanya Galang.
"Tidak. Kamu sendiri?"
"Aku juga tidak apa-apa. Terimakasih ya, sudah membantu aku," ucap Galang.
Rania tersenyum tipis, "tidak usah berterimakasih, kan kamu yang melawan mereka," ucap Rania.
"Tidak, kamu yang membuat mereka ketakutan."
__ADS_1
"Tidak juga."
"Kamu benar-benar gadis yang luar biasa."
"Biasa saja, jangan berlebihan seperti itu."
"Rania, kamu memang luar biasa."
"Jangan memuji ku seperti itu, karena aku tidak seperti itu. Aku sama saja dengan gadis-gadis lain kok."
Galang tersenyum sembari memegangi lengannya yang terkena goresan pisau.
"Kamu terluka. Kamu punya kotak P3K?"
"Ada," sahut Galang singkat.
"Dimana? Biar aku obati luka kamu dulu."
"Ada di bangku belakang mobil ku."
Rania langsung mengambil kotak P3K itu karena dia harus segera mengobati luka di tangan Galang.
"Duduk sini, Lang!"
Rania mengajak Galang duduk di bahu jalan.
Tanpa kata, Galang mengikuti perkataan Rania, dia duduk di samping Rania.
"Bukan jaket mu!" titah Rania.
perlahan Galang membuka jaketnya dengan dibantu oleh Rania.
"Lukanya cukup dalam ini," gumam Rania saat melihat luka pada lengan atas Galang.
Galang meringis kesakitan saat Rania membersihkan luka nya.
Rania menatap Galang, "maaf ya," ucapnya.
Rania melanjutkan pergerakan tangannya yang sedang membersihkan darah ditangan Galang.
"Ini akan terasa sedikit sakit. Tahan ya," ucap Rania.
Galang mengangguk pelan tanpa sedikitpun suara yang keluar dari mulutnya.
"Aaaa."
Galang mengerang kesakitan. Tanpa dia sadari dia meremas baju Rania.
"Lukanya cukup dalam, kita ke dokter saja ya," ucap Rania.
"Tidak perlu, Rania ini sudah cukup."
"Tidak, Galang. Ini hanya pertolongan pertama saja, ini tidak bisa menyembuhkan lukamu."
...****************...
Kayla sedang dalam perjalanan menuju kantor polisi, seperti biasa dia akan menemui Jacky setiap satu minggu sekali!
Dua puluh lima menit berkendara dengan menggunakan motor trail miliknya, akhirnya Kayla tiba di kantor polisi yang ditujunya.
Kayla memarkirkan motornya di depan kantor polisi itu lalu segera masuk untuk menemui Jacky.
"Selamat siang, Pak," ucap Kayla kepada polisi yang berjaga di sana.
"Siang," sahut polisi itu.
"Saya ingin menemui Jacky."
"Silahkan, Bu Kayla. Anda tidak perlu mendapatkan izin dari kami."
Kayla tersenyum tipis lalu meraih kunci pintu tahan Jacky!
Kayla berjalan tanpa rasa takut, dia terus berjalan menghampiri Jacky yang sedang duduk di dalam sel tahanannya.
"Hai juga," sahut Jacky.
Jacky segera berdiri lalu menghampiri Kayla yang sedang membuka gembok yang mengunci pintu jeruji besi itu.
"Apa kabar?" tanya Kayla.
"Seperti biasa, aku rasa kamu sudah tahu dengan kabarku."
"Ayo duduk, aku nah mau bicara!" ucap Kayla.
Jacky menuruti perkataan Kayla, dia duduk di kursi tempat biasa, dia berbicara dengan Kayla.
"Ada apa?" tanya Jacky.
"Aku ingin memberitahu kamu tentang orang tuamu," ucap Kayla.
"Mama ... kenapa dengan Mamaku?" tanya Jacky.
"Tentang kenapa mereka jarang bahkan tidak pernah menjenguk kamu ke sini."
"Aku tidak mau mendengarnya, aku tidak mau tahu tentang mereka."
"Jacky, mereka tidak pernah ke sini karena–"
"Sudahlah, Kayla! Aku sudah bilang, aku tidak mau mendengar tentang mereka."
"Tapi Jacky, kamu harus tahu agar kamu tidak terus berprasangka buruk tentang mereka."
"Aku tidak pernah berprasangka buruk terhadap mereka. Aku tahu mereka tidak ingin menemui diriku karena mereka malu."
"Tidak begitu Jacky. Akhir-akhir ini kesehatan Mamamu tidak stabil jadi Biani tidak bisa mengizinkannya pergi terlalu jauh dan Biani juga sibuk bekerja jadinya dia gak bisa datang ke sini untuk bertemu dengan kamu."
"Kayla, sudahlah. Jangan mencari tahu tentang mereka lagi, aku sudah ikhlas dengan apa yang sedang aku jalani ini."
...****************...
Di rumah sakit.
Rio membelai rambut Biani dengan penuh kemesraan.
"Bi, maaf ya," ucap Rio.
"Maaf untuk apa?"
"Gara-gara aku, kamu jadi terluka."
"Sekarang aku maafin, jangan diulang lagi ya."
"Iya, aku janji."
Biani menyandarkan kepalanya di bahu Rio!
"Aku gak mau menjadi orang yang menyebabkan kerusakan dalam hubungan kamu dengan Galang. Kalian kan saudara kandung, tidak baik jika saling bermusuhan."
"Tidak Biani, kamu jangan berpikir seperti itu. Aku sama Galang memang sering berantem dalam semua hal, tapi kami tidak pernah sampai berlangsung lama. Kami akan kembali seperti semula setelah beberapa menit atau beberapa jam kemudian."
"Bisakah kamu memeluk aku? Sebentar saja," ucap Biani.
Tanpa kata, Rio memeluk Biani dengan penuh kasih sayang!
"Terimakasih," ucap Biani.
"Bi, aku takut," ucap Rio.
"Takut apa?"
__ADS_1
"Takut, Mamamu tidak akan mengizinkan aku pergi bersama kamu lagi."
"Kenapa?"
"Kamu seperti ini karena aku kan. Kalau, Mamamu tahu dia pasti akan marah dan tidak percaya lagi padaku."
"Tidak akan, Mama tidak akan pernah tahu tentang ini."
"Gimana gak tahu, masih terlihat jelas di pipi kamu ada luka lebam."
"Aku tidak mungkin memberitahu Mama bahwa aku begini karena ulah mu. Kalau dia tahu dia pasti menyuruh aku untuk meninggalkan kamu."
"Nggak, Bi, aku gak mau hubungan kita berhenti sampai di sini."
...****************...
"Kamu pasti tidak bisa nyetir sendiri. Boleh aku antar kamu pulang?" tanya Rania.
"Mmm, tapi ...."
"Kamu mau menolak tawaran aku?"
"Tidak, Rania. Bagaimana dengan motormu?"
"Biarkan saja di sini, aku tinggal telpon orang rumah untuk mengambilnya ke sini."
"Baiklah. Maaf ya sudah merepotkan kamu."
"Tidak masalah, kita kan teman."
Galang tersenyum tipis. "Teman, ya kita sudah berteman."
Rania membantu Galang untuk masuk ke dalam mobil milik Galang lalu dia juga masuk ke dalam mobil setelah Galang duduk dengan benar.
"Oke, kita mulai perjalanan kita," ucap Rania.
Rania mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Sepanjang perjalanan, Galang terus menatap Rania, dia kagum terhadap gadis yang sedang berada bersamanya itu.
"Jangan terus menatapku seperti itu," ucap Rania.
Galang mengalihkan pandangannya.
"Maaf, aku hanya ingin lebih mengenal wajahmu."
"Kita ke arah mana?"
Rania bertanya saat didepannya ada jalan pertigaan.
"Lurus saja," sahut Galang.
Rania mengikuti petunjuk dari Galang.
"Apa masih jauh?"
"Tidak, palingan sekitar lima sampai sepuluh menit lagi. Tergantung kecepatan mobilnya."
"Oke, mau ngebut?"
"Terserah."
"Aku rasa tidak. Kalau ngebut, bisa-bisa luka mu semakin parah."
Tak lama mobil yang dikendarai oleh Rania tiba di depan sebuah gerbang tinggi yang menutupi semua yang ada di dalamnya.
"Berhenti di sini," ucap Galang.
"Kita sudah sampai?" tanya Rania.
"Ya, ini rumahku."
Galang membunyikan klakson mobilnya agar satpam yang berjaga membukakan gerbang itu.
Tak lama seorang satpam membuka gerbang itu lalu mempersilakan mereka masuk.
Rania segera memasuki area rumah mewah itu! Dan memarkirkan mobilnya di samping mobil yang berjejer yang terdapat di halaman rumah Galang.
"Waw rupanya kamu anak Sultan," gumam Rania.
"Biasa saja. Ayo turun dan masuk dulu ke rumahku, tepatnya rumah milik orang tuaku."
Galang dan Rania turun dari mobil lalu berjalan menuju pintu utama rumah itu!
Rania mengedarkan pandangannya ke semua arah, melihat kemewahan di sana, Rania merasa Galang adalah anak dari seorang konglomerat.
"Silahkan masuk!" ucap Galang.
"Terimakasih."
Rania berjalan mengekor dibelakang Galang!
"Sayang kamu udah pulang?" tanya Athalya.
"Iya, Mam."
"Siapa ini?"
"Tante, perkenalkan nama saya, Rania," sahut Rania.
Rania mengulurkan tangan kepada Athalya! Dia ingin mencium tangan wanita paruh baya itu.
Athalya tersenyum ramah lalu mengajak Rania duduk di kursi ruang tamu!
"Bik! Tolong bawakan minum untuk tamu saya ya," ucap Athalya kepada asisten rumah tangganya.
Galang membuka jaketnya karena mengganggu kenyamanannya, gesekan jaketnya membuat lukanya terus terasa sakit!
"Astaga, Galang! Kamu kenapa, Nak?"
Athalya terkejut saat melihat ada luka pada lengan Galang yang ditutupi perban.
"Bukan apa-apa, Mama tidak usah khawatir," ucap Galang.
"Tidak usah khawatir gimana? Kamu terluka loh."
"Tidak apa-apa, serius Mam."
Athalya merasa khawatir terhadap Galang karena baru pertama putranya itu terluka.
"Galang, kamu jangan bohong sama Mama, kamu kenapa?"
"Tante tenang dulu ya. Tadi ada sekelompok orang yang menghentikan mobil Galang dan ternyata mereka adalah komplotan begal. Untungnya anak tante ini jago berkelahi hingga akhirnya mereka kalah meski Galang harus terluka seperti ini," jelas Rania.
Saat mereka sedang berbicara, seorang asisten rumah tangga di rumah itu datang dengan membawakan teh untuk mereka.
Setelah menaruh teh itu di atas meja, asisten rumah tangga itu langsung pergi lagi untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Silahkan minum, Nak," ucap Athalya.
"Terimakasih, Tante."
Rania langsung meminum teh itu.
"Astaga, Galang lain kali kalau ada yang menghentikan mobil di tengah jalan jangan berhenti. Kamu bawa anak orang, untung saja Rania tidak kenapa-kenapa."
"Emang dia gak kenapa-kenapa, Ma orang preman nya saja takut sama dia," ucap Galang.
"Kamu apaan sih, Galang."
__ADS_1
Athalya menatap Rania dengan tatapan aneh, dari sorot matanya terlihat seakan Athalya mengisyaratkan sesuatu kepada gadis yang baru dikenali oleh Galang.
Bersambung