Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Bab 11


__ADS_3

Jacky membawa Biani ke dalam kamarnya lalu menyuruh adik tercintanya itu untuk segera membersihkan diri dan mengenakan pakaian hangat.


"Cepat mandi! habis itu Kakak ingin bicarakan," ucap Jacky.


"Kalian hujan begini kenapa maksa untuk pulang? Kalau terjadi apa-apa bagaimana?" tanya Jenny.


Biani menatap Mamanya lalu menatap Jacky.


"Mandi dulu, cepat!" titah Jacky.


Biani melangkahkan kakinya menuju kamar mandi!


Setelah Biani pergi. Jacky memintanya Mamanya untuk menyiapkan pakaian hangat untuk adiknya dan meminta untuk membuatkan teh hangat juga.


"Biani menangis, gak tahu nangisin apa," ucapan Jacky.


"Apa?" ucapan Jenny.


"Aku mandi dulu Ma," ucap Jacky.


Jenny tak menjawab karena Jacky langsung berlalu.


Setelah menyiapkan pakaian untuk Biani, Jenny segera pergi ke dapur untuk membuat teh hangat untuk anak-anaknya!


sepuluh menit berlalu, Jacky dan Biani sudah berada di ruang keluarga. Mereka menikmati teh yang dibuatkan oleh Mamanya.


Setelah memastikan Biani sudah tidak kedinginan lagi, Jacky mulai membuka percakapan antara mereka.


"Sedang apa kamu tadi di sana?" tanya Jacky dengan nada datar.


"Aku ... aku ... ." Biani kesulitan mencari alasan.


"Apa, Biani?" ucap Jacky dengan menaikan nada bicaranya.


"Aku habis ketemu sama Leon," ucap Biani jujur.


Jacky mendengus kesal.


"Dia memutuskan hubungannya denganmu karena dia mau menikah dengan wanita lain." Jacky berucap seolah dia tahu dengan apa yang telah terjadi pada adiknya.


"Tidak, seperti itu."


"Lihat saja. Lihat apa yang akan aku lakukan kepada laki-laki itu karena sudah menyakiti adikku," ucap Jacky dengan emosi yang memuncak.

__ADS_1


"Tidak, Jacky. Jangan lakukan apapun kepada Leon dan keluarganya!" ucap Jenny.


Nama Jenny sudah buruk dimata keluarga Rendi, ia tak ingin anak-anaknya juga terlihat seperti itu.


"Mereka sudah menyakiti Biani, Ma!" Jacky berucap masih dengan nada tinggi.


Biani menangis, ia merasa serba salah dalam situasi seperti itu. Biani ingin membalas dendam kepada orang tuanya Leon karena telah memisahkan dirinya dengan Leon, disisi lain Biani sangat mencintai Leon tidak mungkin ia mencelakai orang yang Leon sayangi karena itu akan membuat Leon bersedih nantinya.


...****************...


Leon berjalan cepat memasuki rumahnya!


"Leon kenapa kamu basah kuyup gitu?" tanya Liana yang melihat putranya basah kuyup.


"Ma, kenapa Mama undang Biani ke pernikahan aku sama Shania?" Leon berucap dengan nada tinggi.


"Itu, Papa. Mama gak tahu kalau Papa mengundang Biani," ucap Liana.


"Aaah! Mama sama Papa gak ngerti perasaan aku. Kenapa kalian tega menyakiti anak kandung kalian sendiri? Apa mungkin aku hanyalah anak pungut yang kalian ambil dari jalanan atau panti asuhan," ucap Leon.


"Leon! Apa yang kamu pikirkan? Kamu anak Mama sama Papa!" Liana menaikan nada bicaranya.


"Papa lakukan ini demi kebaikan kamu, Leon!" Rendy berjalan menghampiri Leon dan Liana.


"Leon! Turuti saja kemauan Papa. Papa tahu yang terbaik untuk kamu," ucap Rendy.


Leon dan Rendy terus berdebat sementara Liana tak memiliki kesempatan untuk membuka suaranya.


Liana merasa tidak tahan dengan perdebatan antara suami dan putranya.


"Sudah! Sudah! Jangan berdebat lagi!" ucap Liana dengan sedikit berteriak.


"Pa! Sudahlah," ucap Liana. "Kamu, Leon cepat masuk kamarmu dan ganti pakaianmu!" sambung Liana lagi.


"Leon harus diberi pengertian, Ma," ucap Rendy.


"Aku pasti mengerti kalau Papa memberi alasan kenapa Papa tiba-tiba tidak menyetujui hubungan aku dengan Biani," ucap Leon.


Rendy tak berucap lagi, ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kepada Leon.


Leon berjalan menaiki anak tangga dengan perasaan marah dan kesal!


Rania menatap kepergian Leon lalu menatap kedua orang tuanya yang sedang berdebat.

__ADS_1


"Kenapa keluarga kita jadi seperti ini? Dimana kebahagiaan dan keharmonisan keluarga kita yang dulu?" ucap Rania.


Rendy dan Liana menatap Rania yang sedang berdiri didekat tangga.


"Pa, Ma, aku rindu saat-saat kita bersama, saat kita menghabiskan waktu bersama dengan bercerita, tertawa bersama, bahagia bersama."


"Sayang, setiap hari kita selalu bersama kan," ucap Liana.


"Iya memang setiap hari kita tinggal bersama tapi akhir-akhir ini tidak ada kebahagiaan, hanya ada perdebatan diantara kalian dan Kakak," ucap Rania.


Rendy dan Liana hanya diam tak menjawab perkataan Rania, mereka sadar kalau yang dikatakan oleh putrinya itu benar.


Rania berjalan menuju kamarnya, ia merasa kasihan kepada Leon yang setiap hari harus dipaksa untuk mengikuti keinginan Papanya.


...****************...


Di kediaman Kendra.


"Van! Leon udah mau nikah, kapan kamu nikah?" ucap Shila.


"Ada pertanyaan lain gak, Ma selain nanyain kapan aku nikah?" ucap Elvan.


"Banyak, tapi Mama maunya nanyain itu," sahut Shila.


"Mama kebelet pengen punya menantu, kayaknya," ucap Ken.


"Ih, Papa juga kan," ucap Shila sembari menatap Kendra.


Ken tersenyum, "sebenarnya iya, tapi Papa gak mau maksa soalnya Papa juga gak mau dipaksa," ucap Ken.


Elvan tersenyum, merasa Papanya membela dirinya.


"Betul itu, Pa," ucap Elvan.


"Tapi kalau bisa secepatnya kamu nyusul Leon ke pelaminan," ucap Ken dengan senyum jahilnya.


"Papa, kalau gitu sama saja," gerutu Elvan.


Shila tertawa renyah.


"Papa maksa tapi dengan cara halus."


Elvan dan orang tuanya tertawa bersama menikmati kehangatan dalam keluarga.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2