Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 bab 96


__ADS_3

"Kalian, bikin kami-kami yang sudah tua jadi iri deh," sambung Arkhana.


Elvan dan Kayla saling bertatapan, terlihat keduanya saling mengukir senyuman di bibirnya.


Leon berjalan menaiki pelaminan!


"Yang baru saja sah menjadi pasangan suami istri, ternyata kalian mau menyaingi aku dan Shania ya," ucap Leon.


Elvan menatap Leon yang sedang berjalan ke arahnya.


"Maksud kamu apa?" ucap Elvan.


"Nggak-nggak, lupakan saja."


"Apa sih? Gak jelas tahu," sambung Kayla.


Shania yang berdiri di bawah pelaminan mengukir senyum terbaiknya saat melihat keluarga mereka bahagia.


"Bidadari hatiku, sini gabung," ucap Leon kepada Shania.


Shania melebarkan senyumnya lalu berjalan menghampiri Leon!


"Selamat ya, sayang," ucap Arkhana kepada Kayla.


"Terimakasih, Mam. Do'akan semoga rumah tangga kami langgeng ya," ucap Kayla.


"Pasti dong, sayang. Papa dan Mama selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu," sambung Sam.


Kayla dan Elvan tak hentinya tersenyum, saat itu kebahagiaan selalu bersama mereka.


"Kak Kayla, kak Elvan, selamat ya. Kado pernikahan untuk kalian sudah aku letakan di kamar kalian," ucap Rania.


"Terimakasih, Rania yang cantik, yang baik, perhatian dan tidak sombong," ucap Elvan.


"Sama-sama. Kakak baru tahu ya kalau aku memang, cantik, baik, perhatian dan tidak sombong."


"Sombong, dipuji malah makin sombong," ucap Elvan.


Rania tertawa kecil lalu memeluk Elvan!


"Kakak, meskipun kamu udah nikah kamu jangan lupakan aku ya, kamu tidak boleh berubah kamu harus seperti Elvan yang dulu ya," ucap Rania.


Rania mulai meneteskan air matanya karena dia sedih harus merelakan Elvan membagi kasih sayangnya antara dirinya dan juga istrinya.


"Hey, kenapa kamu menangis, kakak kan gak akan pergi jauh meski sudah menikah," ucap Elvan.


"Rania, aku tidak akan menculik kakakmu, aku hanya meminjamnya saja lagu pula aku juga tidak akan membawanya kabur kok," sambung Kayla.


Rania tersenyum tipis, bekas air matanya masih terlihat dengan jelas di pipinya.


Rania memang dekat dengan Elvan seperti dirinya dekat dengan Leon. Keluarga itu memang selalu mengutamakan kehangatan dalam keluarga, meski Elvan adalah sepupunya tapi Rania memperlakukan Elvan sama seperti dia memperlakukan Leon.


"Kalian malah nangis berjamaah, ini hari bahagia ngapain ditangisi?" ucap Rendy yang baru bergabung di tempat itu.


"Daripada nangis-nangis mending kita dansa," sambung Kendra.


"Itu ide bagus, Pak Besan," ucap Sam.


"Ayo siapa yang mau berdansa?" ucap Liana.


"Kalian saja yang dansa, aku gak bisa karena aku sedang hamil, ribet sama perut," ucap Shania yang perutnya sudah mulai membuncit.


Leon memeluknya dari belakang!


"Maaf ya, sayang aku mau dansa sama orang lain saja," ucap Leon.


Leon melepaskan pelukannya lalu mengulurkan tangannya pada Kayla!


"Maukah kamu berdansa denganku?" tanya Leon kepada Kayla.


Kayla tersenyum lalu menerima ajakan dari Leon.


Kayla meraih tangan Leon lalu mereka turun dari pelaminan!


"Maaf, jangan cemburu melihat kami berdua ya," ucap Leon sembari melangkahkan kakinya dengan perlahan.


Elvan menatap Rania lalu mengajaknya berdansa.


Rania tersenyum lalu mereka berdua turun dari pelaminan untuk menyusul Leon dan Kayla!


Mereka mulai berdansa dengan diiringi musik romantis. Beberapa tamu undangan ikut berdansa bersama mereka karena terbawa suasana orang tua mereka ikut berdansa hanya Shania saja yang tidak ikut berdansa.


Shania duduk di tempat pengantin sembari memperhatikan mereka, sebuah senyuman terukir di bibirnya. Dia bahagia melihat semua anggota keluarganya bahagia.


Leon dan semua orang keasyikan berdansa apa lagi setelah Rania dan Kayla berganti posisi, suasananya semakin romantis.


Elvan dan Kayla saling bertatap mata sambil terus mengikuti alunan musik yang membuat mereka semakin terbawa suasana.


"Kamu cantik. Aku beruntung memiliki dirimu," ucap Elvan.


"Terimakasih, aku juga beruntung memiliki dirimu," sahut Kayla.


Elvan dan Kayla terus berdansa, mereka tidak menyadari bahwa orang-orang disekitarnya sudah tidak berdansa lagi. Mereka semua berdiri mengelilingi Elvan dan Kayla sembari terus melihat Elvan dan Kayla berdansa hingga setelah beberapa lama Elvan dan Kayla saling melepaskan tatapannya mereka baru sadar bahwa hanya mereka berdua yang masih asyik berdansa.


Elvan tersenyum dan Kayla juga tersenyum, mereka berdua mengakhiri dansanya dan semua orang yang melihat mereka bertepuk tangan.


Untuk sesaat Elvan dan Kayla masih berdiri di tempat semula sampai semua orang membubarkan diri, mereka berdua baru berjalan ke tempat lain.


"Kalian sangat luar biasa, selamat menempuh hidup baru semoga kalian bahagia selalu," ucap Satya yang baru tiba saat mereka sedang berdansa tadi.


"Terimakasih, Om," ucap Elvan.


"Wah kalian pasangan yang begitu serasi, selamat ya atas pernikahan kalian," ucap Alisa.


"Terimakasih banyak, tante," ucap Kayla.

__ADS_1


Hari sudah semakin larut, satu-persatu tamu undangan mulai meninggalkan gedung itu hingga akhirnya menyisakan keluarga saja di tempat itu.


"Aku pikir, Mama sama Papa gak jadi datang," ucap Shania.


"Datang dong, sayang. Maaf ya kami datang terlambat," ucap Alisa.


"Tidak perlu minta maaf, kami tahu kalian sibuk," ucap Kendra.


Satya dan Alisa tersenyum, mereka ikut bahagia di hari itu.


Rendy melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul dua puluh tiga lewat lima belas menit, hari sudah memasuki tengah malam.


"Sudah malam, kalian istirahat ya," ucap Rendy pada Shania dan Leon dan juga pasangan pengantin baru itu.


"Iya sayang, kasihan bayi kamu pasti lelah," sambung Liana.


"Karena sudah malam, tidak mungkin Pak Satya dan istri pulang ke rumah. Kebetulan ada satu kamar yang kosong, Pak Satya bisa mengisi kamar yang masih kosong itu," ucap Kendra.


"Iya, Pa, Ma. Jangan pulang, menginap lah di sini dan ikut sarapan bersama kami besok pagi," ucap Shania.


"Baiklah kalau itu bisa membuat kamu bahagia. Mama akan menginap di sini," sahut Alisa.


"Ya udah kalau begitu kalian ke kamar duluan saja," ucap Rendy pada Leon dan Shania.


"Kalian juga," sambung Rendy pada Elvan dan Kayla.


"Kalau gitu kami permisi," ucap Elvan.


Elvan dan Kayla berjalan lebih dahulu sedangkan Leon dan Shania berjalan di belakang mereka.


Saat Elvan akan memasuki kamarnya Leon mendekati pengantin baru itu.


"Jangan lupa kunci pintu dan tutup gorden dengan rapat, kalau tidak mau ada yang mengintip," ucap Leon dengan sedikit berbisik.


"Apaan sih kamu, ini kamar hotel bukan kamar penginapan yang terbuat dari bambu atau rotan yang ada celah untuk mengintip," ucap Elvan.


Leon tertawa kecil lalu menepuk perut Elvan pelan!


"Selamat berjuang," ucap Leon.


Elvan tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.


"Kamu ada-ada saja," ucap Elvan.


Elvan segera masuk ke dalam kamarnya tanpa menunggu Leon pergi dari depan pintu kamarnya.


Karena Elvan sudah masuk ke dalam kamarnya, Leon dan Shania melanjutkan perjalanannya menuju kamar mereka.


"Kamu jangan menggoda Elvan terus, kasihan Kayla nya," ucap Shania sembari berjalan.


Mereka berjalan bergandengan, Shania menyandarkan kepalanya di bahu Leon.


"Kasihan kenapa?"


"Emang kamu tahu?"


"Ya tahu lah, kan aku juga pernah ngerasain."


Mereka terus berjalan hingga akhirnya mereka tiba di kamar mereka.


Di kamar Elvan dan Kayla.


Elvan duduk di sofa sembari membuka pakaiannya dan hanya menyisakan celananya saja sedangkan Kayla duduk di tepi ranjang. Dia membuka semua aksesoris yang menempel di seluruh tubuhnya.


Saat Kayla akan membuka resleting gaun pernikahannya, dia merasa kesulitan hingga dengan terpaksa ia meminta tolong pada Elvan.


"Mas," ucap Kayla pada Elvan.


"Apa? Tadi kamu manggil aku dengan sebutan apa?" ucap Elvan.


"Mas, aku manggil kamu dengan sebutan, Mas Elvan," sahut Kayla.


"Biasanya juga gak gitu."


"Kemarin-kemarin kan kita belum nikah, karena sekarang kita sudah nikah aku harus lebih menghormati suamiku," jelas Kayla.


"Oh, gitu. Apa, ada yang bisa aku bantu?" ucap Elvan.


Saat itu Elvan belum mengenakan baju, dia masih telanjang dada karena dia akan membersihkan diri terlebih dahulu sebelum mereka beristirahat.


"Pakai dulu bajumu," ucap Kayla.


"Aku mau mandi, masa pakai baju?"


"Kalau gitu mandi dulu sana! Aku minta tolong nya nanti saja setelah kamu mandi."


"Baiklah, aku tidak mau memaksa."


Elvan berjalan memasuki kamar mandi! Tubuhnya terasa gerah setelah seharian penuh menjalankan resepsi pernikahannya.


Kayla masih duduk di tepi ranjang, dia menunggu sang suami selesai dengan urusan mandinya.


Tidak sampai sepuluh menit, Elvan selesai dengan urusan pribadinya, dia keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya!


"Giliran kamu yang mandi," ucap Elvan.


"Iya aku tahu," ucap Kayla.


Kayla belum juga beranjak dari duduknya.


"Kenapa masih diam di sana?"


"Tolong bukain resleting bajuku, dari tadi aku kesulitan membukanya," ucap Kayla.


"Oh jadi tadi kamu mau minta tolong buat bukain resleting?"

__ADS_1


"Iya." Kayla mengulum bibirnya.


"Sini aku bukain! Urusan membuka resleting aku memang jagonya," ucap Elvan sembari mendekati Kayla.


Kayla berdiri membelakangi Elvan dan Elvan mulai membuka resleting baju Kayla dengan sedikit demi sedikit sampai menampakkan punggung Kayla yang putih dan mulus.


Elvan meneguk ludahnya, membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba terasa kering.


Saat ita adalah yang pertama kalinya Elvan melihat pemandangan yang bisa membuat juniornya merasa terpanggil untuk bangun.


"Kay," ucap Elvan.


"Iya, ada apa?" sahut Kayla.


"Aku ...."


Elvan mengangkat tangannya ingin meraba punggung mulus itu.


"Kenapa, Mas?" tanya Kayla karena Elvan belum juga melanjutkan perkataannya.


Elvan menarik tangannya lagi, dia mengurungkan niatnya untuk menyentuh punggung Kayla.


"Resleting nya sudah terbuka," ucap Elvan.


"Oh, terimakasih."


Kayla segera berjalan memasuki kamar mandi, kini giliran dirinya yang membersihkan diri!


Elvan masih duduk di tepi ranjang, dia menunggu sang istri selesai dengan urusan mandinya.


Karena Kayla lama tidak keluar juga dari kamar mandi, Elvan mulai mengantuk dan tak terasa dia tertidur.


Setelah hampir dua puluh menit, Kayla keluar dari kamar mandi, dan dia langsung mendapati sang suami sudah tertidur pulas.


Kayla berjalan ke arah Elvan!


"Kamu pasti lelah," gumam Kayla.


Kayla langsung mengenakan pakaiannya lalu ia membaringkan tubuhnya di sebelah Elvan!


Di kamar Shania dan Leon.


Saat itu Leon sudah tertidur sedangkan Shania duduk dengan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang sambil menangis.


Setelah seharian tidak beristirahat, tubuhnya terasa sakit-sakit hingga membuat dirinya tidak bisa tertidur.


Shania hanya bisa menangis, dia ingin meminta Leon untuk memijit dirinya, namun ia tak berani mengatakannya karena dia tahu suaminya itu juga pasti merasa kelelahan.


Shania terus menangis sambil memijit kakinya sendiri hingga sampai jam menunjukkan pukul tiga dini hari, Shania belum tertidur juga.


Leon terbangun karena ia merasa ingin buang air kecil, dia terkejut karena melihat sang istri sedang menangis.


"Shania, kamu kenapa?"


Leon menangkup pipi Shania dengan kedua belah tangannya!


"Kamu sakit yang mana yang sakit, dimana nya yang sakit?"


"Badanku sakit semua, aku tidak bisa tidur," sahut Shania.


"Dari tadi kamu belum tidur?"


Shania menganggukkan kepalanya.


"Astaga, kenapa kamu tidak membangunkan aku?"


"Aku gak berani karena aku tahu kamu juga pasti lelah kan."


Leon menarik nafasnya panjang lalu mengeluarkan nya dari mulut.


"Aku ke kamar mandi dulu ya."


Leon segera turun dari tempat tidurnya lalu berjalan memasuki kamar mandi!


Setelah beberapa menit dia kembali ke tempat tidur.


"Aku pijitin ya," ucap Leon.


Shania terdiam dengan air mata yang masih mengalir di pipinya.


Leon mengusap air mata Shania dengan telapak tangannya lalu membaringkan tubuh Shania!


"Yang mana dulu yang mau dipijat?" tanya Leon.


"Kaki aku terasa pegal."


"Ya udah berarti kaki dulu yang dipijat."


Leon mulai memijit kakinya Shania dengan hati-hati!


"Tidurlah, biar aku pijitin kamu."


"Tapi kamu?"


"Tadi kan aku sudah tidur, aku sudah tidak lelah lagi."


Leon terus memijat kaki Shania dan perlahan Shania mulai tertidur.


"Maaf ya, aku memang suami yang tidak peka," gumam Leon.


Leon berpindah ke tangan Shania! Dia memijat Shania dengan penuh kesabaran hingga satu jam berlalu Shania sudah benar-benar tertidur, Leon menghentikan pergerakan tangannya.


Leon merebahkan dirinya di sebelah Shania dan perlahan ia juga tertidur.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2