
Ken terus berjalan menghampiri Liana!
"Aku datang sebagai adik ipar mu," ucap Ken lirih.
"Aku tidak mau kembali," ucap Liana.
"Maaf, aku permisi ya," ucap Wirda yang tahu kalau Ken dan Liana sedang membicarakan urusan pribadi.
Wirda pergi menjauh dari Ken dan Liana, ia tak ingin mendengar pembicaraan antara Ken dan Liana.
"Aku tidak akan memaksamu untuk kembali. Aku hanya ingin meminta tolong padamu," ucap Ken.
"Tolong apa?" ucap Liana.
"Rendy sedang kritis. Tolong temui dia karena dia selalu menyebut namamu," ucap Ken penuh harap.
"Rendy kritis?" ucap Liana mengulangi perkataan Ken.
"Ya," sahut Ken singkat.
"Aku tidak bisa menemui Rendy, aku tidak bisa melupakan pengkhianatannya padaku," ucap Liana dengan air mata yang mulai menetes membasahi pipinya.
"Temanmu bilang kamu adalah wanita yang kuat. Aku yakin kamu bisa melewati ini semua," ucap Ken.
"Itu beda Ken. Aku bisa menahan sakit karena pukulan, aku juga bisa menahan sakit karena terkena senjata tajam tapi aku ini seorang wanita, aku tidak bisa menahan sakit karena diselingkuhi," ucap Liana dengan tangis yang semakin deras.
"Kamu mau nyerah gitu aja? sebelum kamu berusaha merebut apa yang sudah jadi milikmu?" ucap Ken lagi.
"Cinta tidak bisa dipaksakan, Ken. Jenny adalah wanita yang dicintai Rendy sebelum bahkan setelah kami menikah, aku tidak bisa menggantikan posisi Jenny dihati suamiku sendiri," ucap Liana.
"Kamu salah, buktinya Rendy terus menyebut namamu disaat dia sedang tak sadarkan diri," ucap Ken.
"Tolong, Aku tidak mau Rendy mati karena cintamu," ucap Ken.
"Ken, jangan bicara seperti itu," ucap Liana dengan sedikit menaikan nada bicaranya.
"Sekarang dia sekarat, Liana. Jika kamu memang tak ingin kembali sama Rendy, setidaknya kamu temui dia dan bicara baik-baik sama dia. Aku tahu Rendy yang bersalah dalam hal ini tapi tidak seharusnya kamu menghukumnya seperti ini," ucap Ken mencoba untuk membuat Liana mengerti dengan keadaan kakaknya sekarang ini.
"Kamu gak tahu rasanya dikhianati," ucap Liana dengan air mata yang tak pernah surat.
Liana melangkahkan kakinya beberapa langkah hingga kini ia membelakangi Kendra!
"Aku mencintai Rendy bahkan sangat mencintainya," lirih Liana.
"Kalau gitu ayo kita pulang," ucap Ken, "Rendy sedang menunggu kedatanganmu," sambung Ken.
Drrt! drrt! drrt!
Handphone Ken berbunyi tanda adanya telepon masuk.
__ADS_1
Ken segera menerima telepon dari nomor yang tak dikenal itu.
📞 "Halo," ucap Ken.
📞 "Halo, apa benar anda keluarganya pasien atas nama Rendy? kami dari pihak rumah sakit," ucap seseorang dibalik telepon.
📞 "Iya betul, saya keluarganya. Ada apa ya?" tanya Ken.
📞 "Kondisi pasien menurun drastis. Kami butuh persetujuan dari pihak keluarga untuk bertindak lebih lanjut," ucap wanita itu dari sebrang telepon.
📞 "Baik. Saya segera kesana," ucap Ken lalu menutup teleponnya.
"Kondisi Rendy menurun. Aku harap kamu dapat menemaninya disaat seperti ini, biar bagaimana pun Rendy masih suamimu," ucap Ken lalu meninggalkan Liana di tempat itu.
Ken melangkahkan kakinya dengan cepat ia tidak ingin sampai terlambat datang ke rumah sakit.
"Ken di rumah sakit mana dia dirawat?" tanya Liana dengan berteriak karena Ken sudah jauh darinya.
Ken menghentikan langkahnya, "di rumah sakit xxx."
"Aku ikut," ucap Liana sembari berlari kecil menghampiri Kendra.
Ken tersenyum bahagia, "terimakasih," ucapnya.
Ken mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan diatas rata-rata!
"Wirda terimakasih karena sudah membantu saya," ucap Ken sembari terus fokus berkendara.
"Sama-sama, Pak," sahut Wirda.
Setelah memasuki perkotaan Wirda meminta untuk turun dari mobil Ken ia memilih naik angkutan umum atau taksi karena arah kantornya dengan arah rumah sakit yang dituju oleh Ken dan Liana berlawanan arah.
"Pak, saya turun disini aja," ucap Wirda.
"Kenapa?" tanya Ken.
"Arah tujuan kita berlawanan," ucapan Wirda.
"Gakpapa, kamu turun disini?" ucap Ken.
"Tidak, Pak. Saya biasa naik taksi ataupun angkutan umum lainnya," jelas Wirda.
Ken menepikan kendaraannya lalu Wirda segera turun dari mobil Ken!
"Maaf ya bukanya saya gak tanggung jawab, tapi sekarang saya lagi buru-buru. O, ya kamu langsung pulang aja karena kan hari ini kamu cuti kerja," jelas Ken.
"Siap, Pak," ucapan Wirda.
"Yang sabar ya, aku tahu kamu pasti bisa ngelewatin ini semua," ucap Wirda berbisik ditelinga Liana.
__ADS_1
Liana tersenyum, "terimakasih," ucapnya.
Setelah Wirda naik angkutan umum, Ken segera melajukan kendaraannya lagi.
"Liana maaf ya," ucap Ken.
"Maaf ... maaf untuk apa?" ucap Liana. Suaranya masih terdengar parau karena terlalu lama menangis.
"Untuk semua," sahut Ken.
"Jangan meminta maaf atas kesalahan orang lain," sahut Liana.
"Aku yang memaksa kamu untuk nikah sama Rendy. Seandainya waktu itu aku tidak memaksa kamu, mungkin kamu gak akan ngalamin hal seperti sekarang ini," ucap Ken merasa bersalah kepada Liana.
"Tidak, ini bukan salahmu mungkin ini takdir hidupku," ucap Liana.
"Aku tidak akan memaksa kamu kembali sama Rendy aku hanya ingin kakakku selamat. Soal kamu mau pergi atau tetap bertahan, itu urusan kamu, aku tidak akan memaksa," ucap Ken.
Liana tak menjawab ucapan Ken, karena ia sendiri tidak tahu harus apa. Saat ini ia memang marah dan benci terhadap suaminya tapi sebesar apapun ia marah kepada suaminya tak bisa menghilangkan rasa cinta untuk suaminya.
Setelah hampir satu jam melewatkan jalanan yang padat oleh lalu-lalang kendaraan, akhirnya Ken tiba di rumah sakit tempat Rendy dirawat.
Ken dan Liana segera turun dari mobil lalu berlari ke arah ruangan Rendy dirawat!
"Den," ucap asisten rumah tangga di rumah Rendy setelah melihat Ken membuka pintu dan berjalan kearahnya.
"Gimana, Bik?" ucap Ken, "Dokternya mana?" sambung Ken lagi.
"Dokternya udah pergi, Tuan sudah baikan setelah dokter mengatakan kalau Non Liana akan datang sebentar lagi," ucap asisten rumah tangga itu.
"Syukurlah, kalau begitu," ucap Ken.
"Den, kata dokter kalau bisa Non Liana menemani Tuan Muda disini katanya biar kondisinya cepat stabil," jelas asisten rumah tangga itu.
Liana melangkahkan kakinya perlahan menghampiri Rendy yang sedang terbaring lemah!
Liana duduk di kursi yang ada disamping tempat tidur pasien, Liana menggenggam lembut tangan yang terasa dingin itu.
"Mas, kenapa bisa seperti ini?" lirih Liana. Air mata mulai menetes dari pelupuknya.
Liana terus menggenggam tangan Rendy sembari terus menciumi tangan itu, tak bisa dipungkiri kalau sebenarnya ia sangat merindukan sang suami.
Ken menatap Liana dengan intens, masih terlihat begitu besarnya cinta Liana untuk kakaknya itu.
"Jika setelah ini Liana bisa memaafkan lo. Lo akan jadi orang yang paling beruntung karena punya istri seperti Liana," ucap Ken kepada Rendy namun kata-katanya itu hanya terucap didalam hatinya.
Liana masih setia duduk sambil terus menggenggam tangan sang suami pandangannya tak berpaling dari wajah sang suami yang terlihat pucat.
Bersambung
__ADS_1