Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Bab 41


__ADS_3

Ken tidak menjawab ucapan kakaknya, ia lebih memilih meninggalkan Rendy.


Diana yang dari tadi hanya duduk dalam diamnya ia juga ikut meninggalkan bosnya di tempat itu.


Saat Diana akan melangkahkan kakinya, Rendy memanggil namanya. Diana berbalik, kini ia berhadapan dengan bosnya.


"Iya Pak. Ada apa?" ucap Diana.


"Apa kata dokter, Ken baik-baik saja kan?" tanya Rendy kepada karyawannya itu.


"Saya tidak tahu, saat saya tiba di rumah sakit Pak Ken sudah siap untuk pulang jadi saya tidak bertemu dengan dokter yang menangani Pak Ken," jelas Diana, "kenapa anda tidak bertanya langsung kepada Pak Ken?" sambung Diana.


"Jangan bilang sama Ken kalau saya menanyakan tentang keadaannya. Anggap saja pertanyaan saya tidak pernah ada," ucap Rendy lalu meninggalkan Diana tanpa berterimakasih.


Diana menggelengkan kepalanya, "khawatir tapi gengsi untuk mengakuinya, dasar aneh," gumam Diana.


Di ruangan Rendy.


Liana sedang duduk sambil memainkan ponselnya.


"Dari mana?" tanya Liana saat melihat suaminya sudah berada di dalam ruangannya.


"Menemui Ken," saatnya singkat.


"Ken ada disini?" tanya Liana sembari melangkah menghampiri suaminya.


"Iya. Dia baru pulang dari rumah sakit," ucap Rendy.


"Apa! rumah sakit? ini pasti karena ulahmu mas," ucap Liana yang merasa terkejut saat tahu Ken masuk rumah sakit.


"Salahnya sendiri, jangan nyalahin aku," ucap Rendy tangannya terus sibuk dengan berkas yang ada dimeja kerjanya.


Liana bergegas ke ruangan Ken untuk melihat kondisinya saat ini. Setelah ia berada di depan pintu ruangan Ken tanpa mengetuk pintu Liana langsung masuk kedalam ruangan Ken.


"Liana," ucap Ken saat melihat sosok Liana berdiri di ambang pintu.


"Ken kenapa gak bilang kalau kamu masuk rumah sakit kemarin? maaf ya, aku benar-benar minta maaf sama kamu," ucap Liana dengan nada lirih.


Liana menatap bekas luka yang terdapat diwajah Ken dan juga luka lebam dibagian tubuh lainnya akibat ulah suaminya.

__ADS_1


"Tidak, ini bukan salahmu. Lagian sekarang aku baik-baik saja kan," ucap Ken sembari merapikan berkas yang akan ia bawa pulang.


Ken memutuskan untuk bekerja di rumah hari ini sekujur tubuhnya masih terasa sakit membuat ia tidak mungkin mengerjakan pekerjaannya di kantor.


Rendy yang melihat dan mendengarkan perbincangan diantara Ken dan Liana dari luar ruangan Ken, hanya diam tak melakukan sesuatu apapun.


"Maaf Ken, sebelum gue mendapatkan Liana, gue akan tetap bersikap acuh padamu," ucap Rendy didalam hatinya.


Liana baru sadar kalau suaminya tengah memperhatikan ia dan Kendra. Liana berjalan menghampiri suaminya lalu menarik tangannya agar Rendy masuk ke ruangan Ken.


"Lihat tuh adikmu. Gara-gara kamu dia harus masuk rumah sakit," ketus Liana.


Rendy hanya menanggapi perkataan Liana dengan tatapan tajam. Sedangkan Ken memilih untuk tidak membuka suaranya.


"Mas, seharusnya kamu minta maaf sama Ken," ucap Liana yang mulai kesal.


"Kenapa harus minta maaf? semua itu karena salahnya sendiri," ucap Rendy dengan menaikan nada bicaranya.


"Sudahlah, Li. Dia gak bakal percaya sama kita. Orang yang sedang cemburu memang suka begitu, tidak pernah melihat kebenaran," ucap Ken.


Ken berjalan dengan membawa berkas yang akan ia kerjakan di rumah.


Sedangkan Rendy membiarkan adiknya pulang karena ia tahu Ken butuh istirahat.


Setelah Ken pergi Liana juga pergi meninggalkan Rendy sendiri di ruang kerja Ken. Melihat Liana pergi Rendy bergegas mengejar istrinya itu.


"Ngapain ngikutin aku?" ketus Liana.


"Gak boleh?" Rendy bertanya balik sambil terus men-sejajarkan langkahnya dengan Liana.


"Kamu, kakak macam apa sih? Adiknya digebukin sampai masuk rumah sakit." Liana mulai kesal dengan sikap kekanak-kanakan suaminya.


Rendy tak dapat menjawab ucapan Liana, dalam hal ini memang ia yang salah tapi ia terlalu gengsi untuk meminta maaf kepada Ken dan juga Liana.


"Aku cuma gak mau milikku diambil orang, Li. Apa salah kalau aku cemburu melihat istriku sedekat itu dengan orang lain? bahkan aku saja tidak pernah berada diposisi Ken waktu itu," ucap Rendy yang masih tak mau mengakui kesalahannya.


Liana tidak menjawab ucapan suaminya, ia terus berjalan menuju ruangan Rendy!


Setelah berada di dalam ruangan suaminya, Liana duduk di kursi yang ada didepan meja kerja suaminya.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya kalau aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Ken?" tanya Liana dengan nada bicara agak tinggi.


"Banyak. Pertama kamu harus mencium aku setiap pagi dan malam sebelum tidur, kedua kamu harus peluk aku sebanyak yang aku minta, ketiga kita tidur dalam satu kamar dan satu tempat tidur, keempat kamu harus ngasih hak aku sebagai suami, kelima kamu harus jadi ibu dari anak-anakku, keenam ... ."


"Stop! itu permintaan atau bon belanja bulanan? banyak banget," ucap Liana sembari menempelkan jari telunjuknya di bibir Rendy.


"Itu cara kamu membuktikan kalau kamu tidak ada hubungan dengan Ken dan juga bukti kalau kamu sudah mencintai aku." Rendy berucap tanpa ragu.


"Oke aku siap, tapi yang keempat dan kelima aku butuh waktu untuk mempersiapkannya," ucap Liana menyetujui syarat dari suaminya.


"Dua minggu. Aku kasih kamu waktu dua minggu untuk mempersiapkan diri untuk memenuhi syarat yang keempat, soal syarat yang kelima tidak ada batas waktu kapan aja boleh terserah yang kamu mau," ucap Rendy dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Dua minggu lagi aku udah bukan perawan lagi dong," ucap Liana, namun kata-kata itu hanya terucap didalam hatinya.


"Malah bengong. Gimana kamu setuju gak? kalau gak setuju berarti kamu ada main sama Ken," ucap Rendy yang secara tidak langsung memaksa Liana untuk menyetujuinya.


"Aku butuh waktu lebih dari dua minggu," protes Liana.


"Kalau gitu satu ... ."


"Deal! satu bulan." Lagi-lagi Liana memotong perkataan Rendy.


"Siapa yang ngasih waktu satu bulan? orang aku mau bilang satu minggu," ucap Rendy dengan senyuman menggoda.


"Aku maunya satu bulan," ucap Liana.


"Astaga Liana, diajak senang-senang kok susahnya minta ampun. Aku kasih waktu dua minggu, titik gak pakai koma," tegas Rendy.


"Nikah udah Berbulan-bulan. Nyicipin bibirnya aja belum pernah," ucap Rendy didalam hatinya.


Liana terdiam sambil menundukkan kepalanya, entah kenapa ia merasa belum siap untuk melepaskan mahkota yang selama ini ia jaga, memang Rendy berhak atas dirinya tapi entah kenapa ada rasa ragu dihatinya.


"Gimana istriku sayang?" Rendy bertanya lagi.


Liana mendongakkan kepalanya lalu menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan, "baiklah. Dua minggu, ingat sebelum dua minggu walaupun kita tidur satu kamar dan satu ranjang kamu tidak boleh melakukan apapun," ucap Liana setelah mempertimbangkan keputusannya.


"Deal," ucap Rendy sembari tersenyum kegirangan.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2