
Ken membawa Alisa ketempat yang jauh dari keluarganya!
"Siapa mereka?" tanya Alisa.
"Mbak. Eh maaf maksudku Alisa, mereka adalah keluargaku. Daripada nanti kamu ribet karena ditanya-tanya hal yang aneh-aneh sama Mamaku, lebih baik kamu cepat pergi dari sini," ucap Ken.
Bukan maksud Kendra mengusir Alisa dari tempat itu tapi karena Mamanya yang terlalu mengharapkan Ken untuk segera menikah membuatnya harus melakukan hal itu.
"Tapi kenapa, mas?" tanya Alisa yang terlihat kebingungan.
"Al, Mamaku ingin aku cepat menikah sementara aku belum punya pacar. Aku takut dia kecewa nanti kalau dia tahu kita ini hanya sekedar teman bahkan kita baru kenal," jelas Ken.
"Hem! ngomongin apa? lama banget."
Suara Rendy membuat Ken terperanjat.
"Ngagetin aja," ketus Kendra.
"Gue udah laper. Udah selesai belum bicaranya?" ucap Rendy ketus.
Sementara Alisa hanya mengulas senyum kala Rendy menatapnya.
"Udah. Ayo kita makan," ucap Ken sembari berjalan menghampiri Mamanya!
Ken berharap Alisa segera pergi dari tempat itu, namun sayangnya Rendy tak membiarkan hal itu terjadi.
Ken sudah hampir sampai dimeja tempat Liana dan Makanannya duduk.
"Mari bergabung bersama kami," ucap Rendy kepada Alisa.
"Tidak, mas. Saya mau pulang," saut Alisa sembari melangkahkan kakinya.
Langkah Alisa terhenti kala Rendy mencekal tangannya.
"Kamu kesini sama Ken, kan? berarti kamu akan pulang bersamanya juga." Rendy menarik tangan Alisa dan membawanya ke meja tempat mereka akan makan.
"Kalau bawa cewek tanggungjawab dong," ucap Rendy kepada Ken, sedangkan Alisa bersembunyi di belakang Rendy.
Ken tersedak oleh air yang diminumnya kala melihat sosok Alisa yang muncul dari belakang Rendy.
"Ken, pelan-pelan dong minumnya," ucap Elma sembari mengusap punggung Kendra.
"Liat, Ma. Anak Mama itu bawa cewek tapi gak tanggungjawab, masa kesini sama dia pulangnya suruh sendiri," ucap Rendy kepada Mamanya.
"Nggak, bukan begitu. Mbak ini ... dia."
"Tante, saya temannya Ken. Maaf ya saya harus pergi sekarang soalnya ada urusan," Alisa memotong perkataan Kendra, karena ia melihat sikap laki-laki yang telah menolongnya itu sangat gugup.
__ADS_1
"Gak makan dulu, Nak?" ucap Elma.
"Tidak, terimakasih tante. Saya pergi duluan." Alisa pergi meninggalkan keluarga itu tak lupa sebelum pergi ia mencium punggung tangan orang yang ia panggil tante lalu melempar senyuman kepada Kendra.
Ken membalas senyuman Alisa tanpa mengatakan sesuatu walaupun sebenarnya ia ingin meminta maaf kepada Alisa.
"Lupa minta nomor teleponnya lagi," rutuk Ken dalam hatinya.
"Sejak kapan lu punya pacar?" tanya Rendy seolah sedang menggoda adiknya itu.
"Apaan sih. Ayo makan," ucap Ken mengalihkan pembicaraan.
"Ken." Liana menatap Ken penuh tanya.
"Jangan bergurau terus, cepat makan Mama udah gak sabar pengen makan," ucap Elma sembari menyendok makanan yang sudah ia pesan.
Ditempat lain.
Alisa sedang duduk sambil senyum-senyum sendiri ia mengingat raut wajah laki-laki yang telah menolongnya waktu itu.
"Dia ganteng, baik, sopan lagi. Calon suami idaman," gumam Alisa.
"Mana calon suami idaman?" tanya teman Alisa yang sudah berada di samping Alisa sejak tadi namun tidak disadarinya.
Alisa menoleh kearah suara! "sejak kapan lo disini?" tanya Alisa yang baru sadar kalau temannya berada didekatnya.
"Ngelamun sambil senyum-senyum sendiri, awas kemasukan lu, Al," ucap temannya Alisa.
"Siapa laki-laki yang lo bilang calon suami idaman?" tanya temannya Alisa lagi.
"Maksud lo apa sih? gak ngerti deh gue," ucap Alisa dengan nada kesal.
Temannya Alisa menggelengkan kepalanya, "lagi ngehalu kayaknya ni anak," ucap temannya Alisa. "Udah jam berapa ni? ayo kerja!" sambungnya lagi.
Alisa dan temannya pun berjalan memasuki area perkantoran tempat mereka bekerja.
Di restauran tempat Rendy dan keluarganya makan siang.
"Ken, besok kita ke proyek pembangunan masjid yang ada di perkampungan ya," ucap Rendy kepada Kendra.
"Bukannya, minggu lalu kamu udah kesana Ren?" ucap Elma yang tidak tahu kalau waktu itu Rendy tidak jadi kesana karena ada yang menyerangnya.
"Mungkin mau ngecek lagi, Mam sudah sejauh mana proses pembangunannya," ucap Liana yang mencoba menyembunyikan Kejadian waktu itu dari Elma.
Rendy menatap wajah sang istri, yang hanya dibalas senyuman oleh Liana.
"Udah pada selesai belum makannya? kalau udah, kita kembali ke kantor. Aku masih banyak kerjaan," ucap Ken.
__ADS_1
"Ya, udah. Kita kembali sekarang," ucap Elma sembari bangkit dari duduknya.
Mereka berjalan beriringan menuju mobilnya! setelah memastikan semua sudah berada didalam mobil, Ken segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang.
"Mama mau ke kantor lagi, atau mau pulang?" Tanya Rendy kepada Mamanya.
"Sebenarnya Mama mau ngajak menantu Mama jalan-jalan. Boleh kan Ren, Mama pinjam istrimu?" ucap Elma.
"Mam. Liana gak boleh pergi tanpa aku. Jalan-jalannya nanti aja kalau aku libur ngantor," ucap Rendy, bukannya ia tidak ingin memberi kebebasan pada Liana, tapi Liana pernah mengatakan padanya kalau orang-orang suruhan kakeknya akan terus mencarinya dan membawanya ke rumah kakeknya.
"Mentang-mentang baru menikah, sampai segitunya," ucap Elma kecewa.
"Mas, boleh ya aku ikut Mama jalan-jalan. Aku janji aku akan jagain Mama," ucap Liana kepada suaminya.
"Tapi, Li. Aku takut ...," Rendy menggantung ucapannya.
"Aku tahu, Mas khawatir tapi apa kamu tega ngeliat Mama kecewa," ucap Liana dengan nada lembut.
Tak terasa mobil yang dikendarai Ken sudah tiba di parkiran kantor mereka, Ken segera memarkirkan mobil yang ia kendarai!
"Jangan berdebat mulu, bilang aja kalau lu gak bisa jauh dari Liana," ucap Ken sembari membukakan pintu mobilnya untuk Mamanya keluar.
Rendy hanya diam, ia memang tidak ingin jauh dari Liana setelah tahu kalau Liana sudah mulai mencintainya tapi itu bukan alasan utamanya untuk melarang Liana pergi tanpa dirinya.
Meski Rendy tahu kalau Liana bisa bela diri tapi ia tetap merasa khawatir terhadap istrinya itu karena sekuat apapun kekuatan Liana, tidak mungkin dapat mengalahkan orang-orang yang ditugaskan oleh kakeknya Liana untuk membawanya pergi.
"Mama mau pulang aja, kalau kamu gak izinin istri kamu pergi sama, Mama." Akhirnya Elma mengalah kepada Rendy. Putranya itu memang keras kepala setiap keinginannya harus tercapai dan setiap ucapannya harus dituruti.
"Maaf. Lain kali kita liburan bareng kalau memang mama sangat ingin mengenal Liana," ucap Rendy kepada Mamanya.
Elma pergi dari tempat itu tanpa menjawab ucapan putranya.
Sementara Rendy, Liana dan Ken berjalan beriringan memasuki kantor.
Setelah tiba di ruangan suaminya, Liana langsung duduk di sofa tempat biasa ia menunggu sang suami selesai bekerja.
"Mas, aku gak enak sama Mama," ucap Liana.
"Li, aku khawatir sama kamu, diluar sana banyak orang yang mungkin akan membahayakanmu," ucap Rendy penuh kekhawatiran.
Bersambung
Sambil nunggu 'Tiba-tiba menikah' up lagi, yuk mampir ke karya temanku, ceritanya pasti seru.
Judul: Akulah malaikat penolongmu
karya: Ummi asya
__ADS_1
Alisa adalah gadis biasa yang berwajah jelek dan cacat. Dia juga mempunyai saudara kembar bernama Alena yang rupa dan wataknya berbeda dengan Alisa. Karena suatu kejadian waktu masih kecil, wajah Alisa menjadi cacat dan jelek. Semua teman kampusnya tidak ada yang mau berteman dengannya, namun Alisa selalu percaya diri meski berwajah jelek, meski perlakuan ibunya selalu berbeda jauh padanya dibanding kembarannya yang berwajah cantik. Apakah Alisa bisa merubah dirinya menjadi cantik, setelah dia bertemu dengan Richard sang bintang kampus? bagaimanakah jadinya jika Alisa benar-benar berubah jadi cantik.