
Rendy mengernyitkan dahinya, ia tak mengerti dengan ucapan Ken.
Rendy ingin bertemu dengan orang yang sudah bekerja untuk Ken bukan bertemu dengan mamanya.
"Di rumah mama? jangan bercanda Ken," ucap Rendy, raut wajahnya terlihat kesal.
"Aku gak bercanda. Sekarang orang itu kerja sama mama," jelas Ken.
"Kalau gitu, ayo kita ke rumah mama," ucap Rendy penuh semangat, "tapi mama mau mencari informasi tentang apa dan siapa sehingga harus mempekerjakan orang itu?" sambung Rendy.
"Bukan untuk mencari informasi, tapi untuk jadi bodyguard mama," jelas Ken.
"Bukannya bodyguard mama udah banyak, ngapain nambah lagi?"
Rendy terus bertanya untuk menghilangkan rasa penasarannya.
"Aku gak tahu Ren. Kamu kok mendadak jadi wartawan? dari tadi nanya melulu." Ken mulai kesal karena Rendy terus bertanya kepadanya.
Rendy nyengir kuda menampakkan deretan giginya yang bersih dan rapi.
"Maaf Ken. Gue cuma penasaran aja," ucap Rendy tanpa perasaan bersalah.
"Sekarang gue yang nanya. Lo serius gak cinta sama Liana?"
"Nanya lagi. Kan gue udah bilang gue udah cinta dan sayang sama Liana," ucap Rendy dengan mantap.
"Awas aja kalau lo nyakitin Liana," ketus Ken.
"Jadi ceritanya lo ngancam gue?"
"Iya."
"Segitu pedulinya lo sama istri gue? jangan-jangan ... ."
"Jangan-jangan apa? buang prasangka buruk lo itu," ucap Ken memotong perkataan Rendy.
"Gue gak mau liat sahabat gue nangis gara-gara disakitin sama kakak gue. Nanti gue bingung mau berpihak sama siapa?" ucap Ken.
"Nggak lah. Gue udah cinta sama Liana gue gak mungkin nyakitin dia," ucap Rendy.
"Bagus kalau begitu. Buang jauh-jauh nama Jenny dari hati dan ingatan lo."
"Tidak perlu di suruh. Gue sedang berusaha," ucap Rendy.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat saat ini jam menunjukan pukul 14:50 wib.
Ken hendak pulang karena ia masih ada urusan lain selain pekerjaannya.
Saat Ken akan masuk ke mobilnya Rendy menarik tangan Ken!
"Apa sih Ren? jangan ganggu gue."
"Kita ke rumah mama sekarang," ucap Rendy dengan sedikit memaksa adiknya itu.
"Ogah, gue mau pulang," ucap Ken menolak permintaan kakaknya itu.
"Sekarang gue bicara sebagai bos lo bukan sebagai kakak lo. Jadi sekarang lo turunin kemauan gue atau gue pecat lo dari kantor!" Rendy berucap dengan menaikan nada bicaranya.
__ADS_1
Ken menatap Rendy kesal sementara Rendy hanya tersenyum menanggapi kekesalan adiknya itu.
Ken masuk kedalam mobil Rendy. Terpaksa ia harus menuruti keinginan kakaknya itu.
"Cepat masuk! kalau gak gue tinggal nih," ucap Ken yang kesal karena kakaknya itu selalu mengancamnya.
Rendy masuk ke mobilnya! "jangan marah ya Ken. Nanti cepet tua," goda Rendy.
Ken melakukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia meluapkan kekesalannya dengan cara ngebut di jalanan.
"Ken, hati-hati gue belum mau mati. Gue belum melakukan malam pertama dengan Liana," ucap Rendy.
Ken menghentikan mobilnya secara mendadak!
"Aww! mau ngerem jangan mendadak sakit nih kepala gue gara-gara kepentok," ucap Rendy sembari memegang keningnya.
"Tadi lo bilang lo belum mau mati karena lo belum melakukan malam pertama sama Liana. Sekarang gue berentiin ni mobil malah lo ngomel kayak emak-emak kurang belanja," ucap Ken.
"Lo bawa mobil pelan-pelan aja. Lo mau sahabat lo jadi janda muda?" ucap Rendy dengan nada kesal.
Tanpa menjawab ucapan Rendy, Ken mulai melajukan mobilnya kembali kini ia mengemudi dengan kecepatan sedang.
Tak ada perdebatan lagi diantara keduanya.
Tak lama mobil yang dikendarai Ken tiba didepan rumah Elma. Ken segera memarkirkan mobilnya.
Rendy dan Ken turun dari mobil lalu berjanji beriringan memasuki rumah Elma.
"Hai Shila," ucap Ken saat melihat Shila sedang duduk diteras rumah sambil memainkan ponselnya.
Shila tersenyum ramah kepada dua putra majikannya.
Ken tak menjawab pertanyaan Rendy.
"Shil, ada yang mau ketemu sama kamu nih," ucap Ken, pandangannya mengarah pada Rendy.
Shila yang mengerti kode dari Ken, mengikuti kemana arah mata Ken.
"Kakak anda?" ucap Shila, "mau apa?" sambungnya lagi.
"Ken gue mau ketemu sama orang yang udah kerja buat elu, bukan seorang gadis. Gue udah punya Liana," ucap Rendy berbisik ke telinga Ken.
"Besok kita ketemuan di kafe xxx saat jam makan siang," ucap Ken kepada Shila.
"Saya tidak bisa jika tidak ada izin dari ibu anda," saut Shila.
"Soal itu biar aku yang minta izin sama mama," ucap Ken.
"Baiklah," ucap Shila lalu ia pergi ke sekitar halaman untuk memastikan rumah majikannya aman dari segala ancaman.
"Ken, lo aneh banget ... ."
"Ssst! dia itu orang yang sudah bekerja untuk gue," ucap Ken sembari menempelkan jaringannya di bibir Rendy.
"Apa?" ucap Rendy tak percaya, "seorang wanita," sambung Rendy.
Yang Rendy bayangkan orang itu adalah seorang laki-laki tapi ternyata dugaannya salah.
__ADS_1
Ternyata seorang wanita yang terlihat biasa saja itu, mempunyai kemampuan diluar dugaannya.
Rendy masih tidak percaya dengan semua ini, bagaimana bisa seorang wanita menjadi agen rahasia yang setiap hari pekerjaannya mengancam keselamatan.
"Iya. Mama gak tahu kalau dia seorang wanita pengintai, jangan pernah beri tahu mama tentang siapa dia sebenarnya," jelas Ken kepada kakaknya.
"Ken, lo pinter banget cari partner kerja. Dia cantik multi fungsi lagi," ucap Rendy.
"Multi fungsi. Woi Shila manusia bukan barang elektronik," ucap Ken sembari memukul lengan Rendy.
"Becanda Ken." Rendy langsung nyelonong masuk kedalam rumah mamanya.
Disusul dengan Ken dibelakangnya.
"Kalian? kapan dateng, Nak?" ucap Elma kepada dua putranya.
"Baru aja, Mam," saut Rendy.
"Mam, sebenarnya aku mau minjem Shila. Boleh gak?" ucap Ken tanpa basa-basi.
"Buat apa?" tanya Elma.
"Nemenin makan siang besok," saut Ken.
"Buat nemenin kamu seumur hidup juga gak apa-apa," ucap Elma sedikit menggoda putranya.
"Setuju," sarkas Rendy dengan penuh semangat.
"Apaan sih, kok lo jadi ikut-ikutan," ucap Ken kepada Rendy.
"Suka-suka gue," saut Rendy.
"Mulai deh. Berdebat mulu kayak gak ada kerjaan lain aja," ucap Elma kepada Rendy dan Ken.
Elma sudah biasa dengan sikap dua putranya yang selalu mempermasalahkan segala hal.
"Rendy, istrimu gak ikut kesini?" tanya Elma.
"Nggak, Mam. Liana lagi mindahin bar ... ." Rendy menghentikan ucapannya dengan paksa.
"Bar? bar apa?" tanya Elma penasaran.
Ken tertawa kecil saat mendengar kakaknya hampir saja keceplosan berbicara.
"Eum itu, Ma. Em anu." Rendy kebingungan mencari jawaban yang tepat.
"Mam, aku mau makan malam disini," ucap Ken mencoba mengalihkan pembicaraan antara Elma dan Rendy.
"Boleh dong sayang," ucap Elma.
Elma berjalan menuju meja makan sambil menggandeng putra keduanya.
Sedangkan Rendy tersenyum sambil menatap Ken dan mamanya yang pergi begitu saja tanpa menghiraukannya.
Bersambung.
Terimakasih sudah mampir. Jangan lupa mampir di Terpaksa menikah juga ya.
__ADS_1