Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Bab 93


__ADS_3

Setelah dokter pergi dari ruangan rawat Ken, Elma menghapus air mata kesedihannya dan menggantinya dengan senyum bahagia.


"Mama pikir kakakmu saja yang nakal ternyata kamu lebih nakal karena sudah membuat Mama menangis sampai selama ini," ucap Elma sembari terus memeluk Kendra.


"Pak Ken, selamat ulang tahun semoga kebahagiaan selalu membersamaimu, ucap Shila yang berdiri tak jauh dari Ken.


"Dasar adik lucknut kenapa nama yang lo sebut pertama kali nama Shila, bukan gue atau Mama?" ucap Rendy sedikit menggoda Ken yang baru sadar dari koma.


Rendy ingin mengetahui apakah setelah koma Ken akan bersikap sama seperti sediakala.


Liana mencubit perut Rendy karena menurutnya saat ini bukan waktunya untuk mengajak Ken bercanda.


"Awwh! sakit, sayang," ucapan Rendy sembari memegangi perutnya.


"Lagian bercanda aja. Ken baru aja sadar belum bisa bercanda sama kamu," ucap Liana.


Ken tersenyum ternyata sikap kakaknya masih sama seperti sebelumnya.


"Maaf, saya permisi," ucap Shila karena ia tak tahu harus berkata apa dan berbuat apa, ia memilih untuk pergi saja dari ruangan itu.


Shila mulai melangkahkan kakinya menuju pintu!


"Shila," ucap Ken dengan nada rendah.


Shila menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap Ken!


"Ya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" ucap Shila.

__ADS_1


"Terimakasih," ucap Ken dengan senyum tipis dibibirnya.


Shila membalas senyuman Ken, "sama-sama," sahut Shila.


Shila kembali melanjutkan langkahnya, ia hendak keluar ruangan itu!


"Selamat ulang tahun, sayang," ucap Elma lalu mencium pipi sang putra.


"Ken kita rayakan ulang tahun kamu bersama-sama. Kamu sudah bisa meniup lilin kan? aku membawakan kue ini khusus untuk kamu," ucap Liana.


"Sekalian kita rayakan kesembuhan kamu Ken," sambung Rendy.


Liana mengambil kue yang ia bawa tadi pagi lalu menyalakan lilin diatasnya lalu membawanya ke dekat Ken.


"Happy birthday to you, happy birthday to you." Liana bernyanyi dengan suara merdunya sembari menyodorkan kue itu kehadapan Ken.


Di luar ruangan rawat Ken.


Shila duduk di kursi yang ada didepan ruangan tempat Ken dirawat.


"Shil, gimana keadaan pak Kendra?" tanya Sam.


"Kata dokter, beliau sudah lebih baik dan kondisinya sekarang sudah mulai stabil," jelas Shila.


"Syukurlah. Beruntung ya jadi kamu?" ucap Sam lagi.


"Maksudnya, beruntung bagaimana?" tanya Shila yang tidak mengerti dengan ucapan Sam.

__ADS_1


"Kamu akan tahu nanti setelah pak Ken benar-benar pulih dan sudah pulang dari rumah sakit ini," ucap Sam.


"Jangan membuat teka-teki aku bosan dengan permainan itu," ucap Shila yang tidak suka bertele-tele.


Sam tertawa kecil. "Jalani saja dan ikuti alirannya kamu pasti menemukan apa yang aku maksud. Sebelum semuanya terjadi aku ucapkan, selamat ya," ucap Sam sembari menepuk pundak Shila beberapa kali.


"Gak pantas bodyguard seperti kamu tertawa seperti itu," ucap Shila menggoda rekan kerjanya itu.


Jauh dari tempat keluarga Rendy berada.


Satya sedang makan siang di sebuah restoran tiba-tiba bayangan senyum Liana melintas dipikirannya.


Dari pertama kali ia bertemu dengan Liana entah kenapa ia selalu melihat Liana dimana-mana.


Satya tersenyum kala mengingat kejadian waktu itu.


"Hah lucu memang. Seorang Satya diselamatkan oleh seorang perempuan," ucap teman satya yang baru tiba di tempat itu.


Seketika lamunan Satya buyar saat mendengar suara temannya itu.


"Eh lo. Dari kapan disini?" ucap Satya.


"Dari beberapa menit lalu. Melamun sambil senyum-senyum sendiri, apa yang lo pikiran?" ucap temannya Satya.


"Gadis itu. Entah kenapa gue selalu mengingat senyumnya yang ... ah lo gak bakal tahu," ucap Satya.


"Memang gue gak tahu," sahut teman Satya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2