
Rendy menoleh kearah Ken lalu tertawa kecil.
"Gue tau. Lo tentang aja gue gak bakal ngapa-ngapain Liana kok," ucapan Rendy kepada Kendra.
"Baguslah, kalau lo ngerti," saut Ken.
"Kalian ngomongin apaan sih?" tanya Liana pura-pura tidak mengerti.
"Li, kamu bisa turunin kecepatan gak? sedikit saja. Kita sedang tidak balapan," ucap Ken meminta Liana agar menurunkan kecepatan mobilnya.
"Gak bisa. Udah lama aku gak nyetir bawaannya pengen ngebut terus," ucap Liana dengan santai.
Ken dan Rendy menatap Liana dengan tatapan tak percaya.
Liana tertawa kecil, "aku hanya bercanda. Kenapa kalian sangat terkejut," ucap Liana.
"Li, kamu ... ," Ken menggantung ucapannya. Ia rasa saat ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya-tanya kepada Liana.
"Apa. Katakan saja," saut Liana.
"Iya. Lo mau ngomong apa? jangan bilang kalau lo suka sama istri gue," ucap Rendy kepada Kendra.
"Istri? emang kalian berdua udah ... ?"
"Diam lo, ah. Jangan ikut campur urusan gue sama Liana," ketus Rendy memotong perkataan Kendra.
Saat Rendy dan Kendra berdebat, Liana terus fokus berkendara tanpa menghiraukan dua laki-laki yang membersanainya.
Karena Liana mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tak butuh waktu lama akhirnya mereka tiba di kediaman Rendy dan Liana.
Liana segera memarkirkan mobilnya dan mengajak dua laki-laki yang sering berantem itu turun dari mobilnya.
Setelah ketiganya masuk kedalam rumah, Rendy dan Ken duduk di kursi yang ada diruangan keluarga sedangkan Liana mengambil kotak P3K untuk untuk mengobati dan membersihkan luka yang terdapat pada Rendy dan Kendra.
Setelah beberapa menit Liana kembali ke ruang keluarga dengan membawa peralatan yang ia butuhkan untuk mengobati luka.
Liana terlebih dahulu mengobati luka yang terdapat pada pelipis Rendy.
"Mas, aku bersihkan dulu lukamu. Tahan ya," ucap Liana yang hanya dibalas anggukan oleh Rendy.
Liana mulai membersihkan luka yang masih terdapat bekas darah mengering itu, diusapnya luka itu menggunakan kapas dengan perlahan. Liana sangat hati-hati dalam membersihkan luka pada pelipis Rendy.
"Awh! pelan-pelan Li. Sakit tahu," ucap Rendy sambil meringis.
Liana menghentikan pergerakan tangannya, "Ini juga pelan-pelan, mas."
__ADS_1
"Pelan tapi sakit," ucap Rendy lagi.
"Namanya juga luka, pasti sakit lah," ketus Liana sembari terus membersihkan luka yang terdapat pada pelipis Rendy.
Setelah selesai membersihkan lukanya, Liana lanjut mengobati luka itu dengan obat khusus untuk luka yang mengeluarkan darah, setelah itu Liana mengompres luka lebam dibagian pipi dan sudut bibir Rendy.
Selesai mengurus Rendy kini Liana tinggal mengobati luka, Ken.
"Ken, sini aku bantu untuk mengobati lukamu," ucap Liana kepada Kendra.
"Gak perlu. Aku bisa sendiri," ucap Kendra sembari mengusap lukanya menggunakan saputangan basah.
Liana mengambil alih saputangan itu dari tangan Ken lalu mulai membersihkan luka yang terdapat pada sudut bibir Ken.
Tatapan mata Ken tertuju pada wajah Liana yang sedang serius membersihkan lukanya itu bahkan mata Ken enggan sekali untuk berkedip. Tanpa Ken sadari Rendy telah memperhatikannya.
"Woi! bini gue tuh. Sampai segitunya mandangin istri orang," ucap Rendy kepada Ken. Entah kenapa ia merasa cemburu padahal dihatinya masih ada nama Jenny.
Liana terdiam sejenak dan Ken pun mengalihkan pandangannya kearah Rendy.
Ken yang tau kalau ia bersalah, hanya diam tak menjawab ucapan Rendy.
setelah beberapa saat Ken meminta maaf kepada Rendy karena sudah membuat Rendy cemburu.
"Kalian mau berantem lagi? berantem aja terus kaya anak kucing dan anjing," ucap Liana sembari melangkahkan kakinya menuju dapur.
"Kenapa dia yang marah?" ucap Rendy, "seharusnya kan aku yang marah," sambung Rendy lagi.
"Lo beneran cemburu?" tanya Ken.
Rendy terdiam sebenarnya ia juga tidak tahu apakah ia sedang cemburu atau tidak.
"Kalau cemburu bilang aja. Gak usah gengsi," ucap Ken lagi.
"Aku gak tau," saut Rendy singkat.
Saat keduanya sedang berbincang Liana menghampiri mereka bersamaan dengan Elma yang baru tiba di rumah Rendy.
"Ken! Rendy! kalian kenapa, kok babak belur gitu?" tanya Elma penuh kekhawatiran.
Ken dan Rendy menoleh kearah suara!
"Mama!" ucap Rendy dan Ken secara bersamaan.
"Kalian kenapa?" Elma mengulang pertanyaannya karena kedua putranya tak kunjung menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
"Gapapa kok, Ma. Ini cuma ... ," Rendy menggantung ucapannya karena ia tidak tahu harus berkata apa. Tidak mungkin Rendy mengatakan yang sebenarnya kepada Mamanya itu.
"Kenapa? jawab pertanyaan Mama," tanya Elma penuh rasa penasaran.
"Mereka berdua diserang oleh orang yang tidak dikenal, Ma. Kemungkinan besar yang menyerang mas Rendy dan Ken adalah pesaing bisnisnya," ucap Liana yang tidak ingin Elma tahu kalau sebenarnya yang menyerang mereka adalah orang-orang suruhan kakeknya.
"Apa! lagi-lagi ada yang menyerang kalian?" ucap Elma yang terkejut dengan penjelasan Liana.
"Sepertinya kita harus lapor polisi untuk mencari tahu siapa yang sudah melakukan hal kotor seperti ini," ucap Elma.
Elma yang khawatir terhadap putra-putranya itu menyarankan agar Rendy melaporkan kejadian ini kepada pihak yang berwajib.
"Jangan dulu, Ma. Saat ini kita sudah menyuruh orang untuk menyelidiki siapa dibalik kejadian yang menimpa kita berdua," ucap Rendy.
Terpaksa Rendy harus berbohong kepada Mamanya karena ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Jika sampai Elma melapor polisi bisa-bisa Elma tahu siapa yang menyerang dirinya dan Kendra.
"Yasudah kalau begitu. Tapi kalau terjadi lagi, Mama akan lapor polisi," ucap Elma sembari mengusap lengan atas Rendy.
"Mama, khawatir sama anak-anak Mama. Apalagi Liana, Mama sangat takut terjadi apa-apa sama kamu sayang," ucap Elma lagi, kini ia beralih mengusap pucuk kepala menantunya itu.
"Aku baik-baik saja, Ma. Kan ada Mas Rendy dan Kendra yang melindungiku," ucap Liana mencoba membuat mertuanya sedikit tenang.
"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja," ucap Elma kepada Liana.
"Sepertinya sekarang, Mama lebih mengkhawatirkan Liana dibandingkan dengan aku," ucap Rendy yang melihat Mamanya sangat khawatir kepada istrinya.
"Dasar anak nakal. Kalau Liana kenapa-napa nanti orang tuanya akan memarahimu dan tidak akan mempercayai kamu lagi," jelas Elma kepada Rendy.
Elma terus memeluk Liana tak lupa ia memeriksa setiap bagian tubuh Liana yang tidak tertutup baju, memastikan kalau menantunya itu benar-brnar tidak terluka.
"Mama, jangan berlebihan seperti ini. sudah kukatakan kalau aku baik-baik saja," ucap Liana yang merasa kalau mertuanya terlalu mengkhawatirkannya.
"Aku mau pulang," ucap Ken sembari menyambar kunci mobil yang tergeletak diatas meja.
"Ken, kenapa tidak menginap saja. Mana juga mau nginap disini," ucap Elma.
Rendy mulai panik saat ia tahu kalau Mamanya akan menginap di rumahnya.
Bukannya ia tidak membolehkan Mamanya menginap di rumahnya. Tapi jika Mamanya tahu kalau ia dan Liana pisah kamar, bisa-bisa Mamanya itu marah besar kepadanya.
Bersambung.
Rekomendasi novel yang bagus untuk kalian baca.
Pertemuan pertama, ia di cela tapi pertemuan kedua ... ia dicari. Maysaroh safir, anak seorang pedagang lontong sayur keliling. tanpa sengaja gerobak ayahnya menyenggol mobil mewah seorang cek muda. Saat bertemu lagi untuk kedua kalinya dengan pemuda itu, ia menyelamatkan nyawanya. Pria itu kemudian mencarinya dan menjadikannya bodyguard. Petualangan dimulai, hingga tanpa disadari tumbuh bunga-bunga cinta diantara mereka.
__ADS_1