
Pagi ini Elma sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat, ia ingin mengunjungi teman lamanya yang baru tiba di tanah air beberapa minggu lalu setelah sekian lama menetap di negeri tetangga.
"Shil, gimana perkembangan kasusnya Ken?" tanya Elma.
"Saya masih mencari bukti yang cukup untuk menangkap mereka," sahut Shila sembari terus fokus berkendara.
"Apa sebaiknya kita lapor polisi lagi untuk melanjutkan kasus ini?" ucap Elma.
"Sepertinya jangan dulu, kita selidiki secara pribadi dulu lagipula saya sudah mengantongi satu identitas dari tiga pelakunya," jelas Shila.
"Bu, sepertinya ada yang mengikuti kita," ucap Shila yang dari tadi sudah menyadari adanya bahaya yang mengintai.
"Apa, siapa mereka dan mau apa?" ucap Elma sembari melihat kearah belakang.
Elma mulai panik dan ketakutan, setiap ia keluar rumah pasti selalu saja ada yang ingin mencelakakan dirinya.
"Kita cari aman aja ya, Bu. Saya akan beralih arah ke jalan yang lebih ramai," ucap Shila.
"Gimana baiknya aja," sahut Elma dengan raut wajah ketakutan.
Shila segera menambah kecepatan mobilnya mengarah ke jalan yang lebih ramai lalu lalang kendaraan.
Setelah sepuluh menit berkendara dengan kecepatan tinggi, Shila mulai menurunkan kecepatan mobilnya karena ia rasa sudah sedikit aman.
"Sepertinya mereka sudah tidak mengikuti kita," ucap Shila.
"Syukurlah," ucap Elma.
Jauh dibelakang mobil yang dikendarai Shila.
Sonny berdecak kesal karena tertinggal jauh oleh target yang sudah ia incar.
"Aah Sial! kita kehilangan jejak wanita tua itu," ucap Sonny.
"Sabar, Bos kita cegat aja mereka saat pulang nanti," ucap anak buahnya Sonny.
__ADS_1
Di tempat Lain.
Liana sedang duduk disalah satu restoran dengan ditemani oleh Satya.
"Makasih ya, udah mau ketemu sama aku," ucap Satya pada Liana.
Liana tersenyum. "Jangan berterimakasih kepada seorang teman," ucap Liana.
Satya menatap Liana dengan tatapan aneh.
"Gak ada yang marah nih kita makan berdua?" ucap Satya sambil terus menatap wajah Liana.
"Ada ... pasti ada," ucap Liana dengan santai.
"Siapa? pacar kamu?" tanya Satya.
"Pacar kamu lah, aku gak punya pacar," ucap Liana lalu menyeruput minumannya.
"Aku gak punya pacar. Kamu gak punya pacar juga?" tanya Satya dengan antusias.
"Nggak. Punyanya suami," ucap Liana jujur.
"Pelan-pelan minumnya," ucap Liana sembari menepuk-nepuk punggung Satya.
"Suami ... jadi kamu punya suami?" ucap Satya yang masih merasa tidak percaya.
"Punya," ucap Liana jujur.
"Aku pikir kamu masih sendiri?" ucap Satya yang merasa kehilangan kesempatan.
"Dah lah jangan bahas tentang itu, aku malas," ucap Liana.
"Kalau kamu punya suami. Kenapa kamu bisa menemuiku, apa suamimu tidak marah kalau tahu kamu ketemuan dengan laki-laki lain?" tanya Satya.
"Aku sud ... ."
__ADS_1
Baru Liana akan menjawab pertanyaan Satya, tiba-tiba Jenny datang langsung melabrak Liana.
"Oh jadi ini kelakuan lo dibelakang Rendy?" ucap Jenny dengan suara lantang.
Liana berdiri menghadap Jenny yang sedang berkacak pinggang.
"Gue laporin lo ke Rendy sekarang juga," ucap Jenny lagi.
Liana masih terdiam dengan tenang.
"Dasar pelakor rendahan. Belum cukup lo rebut Rendy dari gue!" ucap Jenny dengan nada bicara tinggi.
Satya yang tak mengerti dengan perkataan yang diucapkan oleh Jenny hanya diam tanpa kata dan pergerakan.
"Lo punya cermin gak? coba lo berkaca pasti lo liat siapa sebenarnya pelakor itu," ucap Liana tanpa memperlihatkan kemarahannya sedikitpun.
"Gue mau telpon Rendy biar dia tahu gimana kelakuan lo dibelakangnya," ucap Jenny sembari mengutak-atik ponselnya.
"Silahkan, gue gak takut dengan ancaman seorang pelakor rendahan seperti lo," ucapan Liana dengan santainya.
Jenny marah karena tak ingin disebut pelakor oleh Liana.
"Memang lo yang pelakor. Jelas-jelas gue adalah istri sah nya Rendy. Ngapain lo masih berusaha merebut dia dari gue," ucap Liana.
Jenny semakin marah dengan perkataan Liana, Jenny hendak menampar Liana namun tangannya ditangkis oleh Liana!
"Jangan sentuh gue dengan tangan kotor lo," ucap Liana sembari mencengkram pergelangan tangan Jenny dengan kencang.
"Gue yang pertama mencintai Rendy!" ucap Jenny.
"Tapi gue orang yang pertama jadi istrinya Rendy," ucap Liana.
"Sudah jangan ribut! kamu pergi dari sini!" ucap Satya mengusir Jenny.
Ada banyak pertanyaan didalam kepala Satya yang harus ditanyakan kepada Liana. Ia sudah sangat mengharapkan Liana namun ternyata Liana sudah memiliki suami.
__ADS_1
Satya sangat penasaran dengan setiap perkataan yang diucapkan oleh dua wanita itu saat berdebat barusan.
Bersambung