Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Bab 43


__ADS_3

Leon baru pulang dari kantor, ia langsung menemui Shania yang ia tinggalkan di kamarnya.


Leon membuka pintu kamarnya, ia langsung melihat Shania yang sedang duduk di atas tempat tidurnya dengan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.


Shania menatap Leon sekilas lalu mengarahkan pandangannya ke tempat lain.


Leon yang sudah terlanjur jatuh cinta kepada Shania, berjalan memasuki kamarnya, mendekati Shania! Lalu mencium kening Shania dengan sangat lembut.


Shania membuang mukanya karena tak ingin melindungi Leon!


"Maafkan aku, Shania. Jujur aku mencintaimu dan aku cemburu saat melihat kamu berduaan dengan laki-laki," ucap Leon.


Shania meneteskan air matanya, ia sangat kecewa dengan perlakuan Leon kepada dirinya.


"Shania, jangan menangis." Leon menghapus air mata Shania dengan telapak tangannya.


"Kenapa kamu harus melakukan ini padaku Leon?" ucap Shania dengan suara parau.


"Aku hanya ingin memiliki dirimu seutuhnya, aku gak mau ada orang lain lagi yang memiliki dirimu."


Shania berubah tanpa menatap Leon sedikitpun.


Leon meraih dagu Shania lalu mengarahkan wajah Shania agar menatap matanya.


"Shania, aku benar-benar mencintaimu. Tatap mata aku! Aku tidak mungkin berbohong soal ini."


Shania enggan berucap, wajahnya memang sejajar dengan wajah Leon namun Shania menutup matanya karena tidak ingin menatap Leon.


"Bicaralah, Shania jangan terus diam seperti ini. Aku tahu kamu marah, tapi aku gak bisa didiamkan seperti ini."


"Kamu cemburu saat melihat aku bersama dengan laki-laki lain, kamu marah dan merasa kesakitan saat melihatmu aku berduaan bersama laki-laki lain selain dirimu. Kamu sadar gak Leon kalau aku pernah merasakan hal yang sama dengan kamu?" ucap Shania.


Leon terdiam mencoba mencerna setiap perkataan Shania.


"Dulu setelah kita menikah aku sudah ikhlas dan menerima perjodohan yang orang tua kita lakukan, aku ikhlas menerima setiap perkataan kasar dirimu, aku ikhlas hanya dianggap sebagai istri di atas kertas olehmu tapi satu hal yang membuatku menjadi benci dan ingin menyudahi pernikahan ini, saat aku melihat kamu bercumbu dengan gadis itu. Kamu tahu Leon, meski saat itu aku tidak mencintai kamu tapi sebagai istri sah kamu, aku sangat merasa kesakitan dan merasa direndahkan," jelas Shania panjang lebar.


"Shania," lirih Leon.


Leon menggenggam tangan Shania, ia baru sadar bahwa ia sudah menyakiti Shania sangat dalam.


"Aku pernah berniat membalas dendam padamu tapi ternyata aku tidak mampu melakukan itu padamu dan akhirnya setelah lama dengan tanpa sengaja kamu merasakan sakit seperti yang aku rasakan dulu. Sekarang apa yang terjadi? Saat kamu merasakan sakit dan cemburu kamu malah melakukannya ini padaku, kamu mengambil mahkota yang selama ini aku jaga kesuciannya bahkan kamu mengambilnya dengan paksa," ucap Shania lagi.


"Aku tidak berniat menyakitkan dirimu, saat itu dalam pikiran aku hanyalah bagai mana cara untuk memiliki dirimu."


"Kamu egois, Leon."


"Ya, aku memang egois. Aku tidak ingin ada orang lain di hatimu, aku hanya ingin ada aku saja yang ada dalam hatimu."


Leon sudah jujur tentang perasaannya kepada Shania, kini tinggal menunggu apakah Shania juga mencintai Leon sama seperti Leon mencintai Shania.


...****************...


"Misimu sudah selesai?" tanya Elvan kepada Kayla.


"Sudah," sahut Kayla singkat.


"Berarti kita sudah bisa melangsungkan pernikahan kita?"


"Ngebet banget pengen nikah. Aku harus mencari tahu siapa orang yang sudah sengaja merusak rem mobil Leon yang menyebabkan Leon dan Shania mengalami kecelakaan," jelas Kayla.


Elvan menatap Kayla dalam waktu yang lumayan lama.


"Kenapa menatapku seperti itu? Ini tugas darimu kan?"


"Kayla aku, ingin segera menikah denganmu."


"Bersabarlah sebentar lagi, aku tidak akan pindah ke lain hati kok."


"Bukan itu, aku tahu kamu tidak akan selingkuh, aku hanya ...." Elvan menggantung ucapannya.

__ADS_1


"Hanya kenapa?" Kayla menatap Elvan.


"Tidak ada, lupakan saja."


Kayla tersenyum sembari menatap Elvan. "Jangan bilang kalau kamu sudah tidak tahan."


"Apa maksud kamu Kay?"


"Aku yakin kamu pasti mengerti dengan perkataan aku."


Kayla berjalan mendekati Elvan lalu memeluk tubuh Elvan.


"Kalau hanya peluk atau sedikit ciuman, kamu boleh melakukannya asal jangan minta lebih," ucap Kayla.


"Kalau minta yang lain?"


"Bersiap-siaplah untuk menerima bogem mentah dariku."


Elvan tersenyum tipis. "Aku pikir karena cinta, kamu akan memberikan segalanya."


"Hanya perempuan bodoh yang tidak punya pemikiran panjang yang melakukan kesalahan sebesar itu."


"Itu bukan bodoh Kay tapi termasuk dalam pembuktian cinta terhadap pasangannya."


"Bukti cinta tidak harus seperti itu Van."


"Lalu?"


"Cukup dengan menjaga hati agar tidak jatuh pada orang lain, itu sudah termasuk pembuktian cinta. Kalau menyerahkan kesucian sebelum menikah, itu bukan bukti cinta tapi itu nafsu yang akan membuat penyesalan diakhir nanti."


"Kalau aku memaksa?"


"Itu berarti kamu tidak benar-benar mencintaiku. Sebenarnya kamu hanya ingin merusak diriku tapi sebelum itu terjadi aku akan memberikan dirimu sesuatu yang tidak pernah kamu dapatkan."


"Kamu galak banget Kay, pantas Papa dan Mamamu memilih menjodohkan kamu."


"Tidak, aku hanya bercanda. Ngomong-ngomong kamu serius gak mau lepas dari aku nih?" ucap Elvan.


Kayla baru ingat kalau ia masih memeluk Elvan. Kayla menarik tangannya lalu tersenyum malu terhadap Elvan.


Elvan menarik tangan Kayla lalu mencium pipi Kayla sekilas, itu adalah kali pertama Elvan mencium seorang wanita selain dari Mamanya.


Kayla memegangi pipinya sambil tersenyum tipis.


"Sungguh tidak akan bisa aku lupakan," ucap Kayla.


"Aku akan memberikan yang lebih dari itu saat kita sudah menikah nanti."


...****************...


Di kediaman orang tuanya Leon.


"Jadi, Papa sudah membebaskan Biani dari penjara?" tanya Liana.


"Iya," sahut Rendy singkat.


"Kenapa?"


"Papa kasihan sama dia."


"Baru kasihan setelah tiga bulan di penjara."


"Papa hanya ingin memberikan pelajaran terhadap Biani agar tidak lagi melakukan kejahatan kepada orang lain."


Liana tersenyum tipis ke arah suaminya.


"Leon sudah tahu tentang ini?" tanya Liana.


"Belum. Papa sengaja tidak memberi tahukan Leon tentang ini, Papa tidak ingin Leon tahu karena Papa takut Leon akan kembali berhubungan dengan Biani," jelas Rendy.

__ADS_1


"Nanti juga Leon tahu, Pa karena Biani pasti akan menemui Leon kan."


"Tidak akan, karena Papa sudah meminta pada polisi untuk menyuruh Biani untuk tidak pernah menemui Leon lagi."


Liana mengangguk pelan. "Polisi tidak memantau Biani terus kan. Bisa saja gadis itu diam-diam menemui Leon."


Rendy menatap Liana dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Kenapa, Pa?"


"Mama benar. Gadis itu pasti diam-diam menemui Leon lalu meminta Leon untuk melanjutkan hubungan yang sempat terhenti."


"Semua gara-gara, Papa nih. Jadi ribet kan urusannya."


"Mama kok nyalahin, Papa?"


"Iya, emang salah, Papa. Coba kalau Papa tetap membiarkan Biani bersama Leon, kejadiannya gak akan seperti ini."


"Papa tidak ingin memiliki hubungan dengan Jenny lagi."


"Kenapa? Papa takut jatuh cinta lagi sama Jenny karena sampai saat ini Jenny masih cantik seperti dahulu."


"Hus! Mama jangan bicara sembarangan."


Liana tertawa kecil. "Bercanda, Pa."


...****************...


Jacky sedang duduk di kursi ruang keluarganya. Dia tampak seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Aku sudah tahu kenapa keluarganya Leon tidak menyetujui hubungan Leon dengan Biani, tapi kenapa aku tetap membenci mereka bahkan sekarang aku masih menyimpan dendam terhadap keluarga mereka," ucap Jacky didalam hatinya.


Jacky duduk di tempat itu sudah lumayan lama, karena ia merasa bosan, ia beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju kamar Biani!


Perlahan ia membuka pintu kamar Biani yang tidak terkunci itu, ia melihat Biani sedang berbaring dengan posisi telungkup terlihat bahu gadis itu terguncang-guncang.


"Pasti dia lagi nangis," ucap Jacky didalam hatinya.


Tok!


Tok!


Jacky mengetuk pintu kamar Biani sembari melangkahkan kakinya memasuki kamar adiknya itu!


"Bi," ucap Jacky.


"Aku lagi ingin sendiri. Tolong jangan ganggu aku," ucap Biani.


Jacky terus berjalan mendekati adiknya lalu duduk di tepi tempat tidur Biani.


"Kamu masih mencintai Leon?" tanya Jacky.


"Aku tahu, Kakak pasti sudah tahu jawabanku," sahut Biani.


"Kakak tidak akan melarang kamu untuk mengejar cinta Leon tapi Kakak harap kamu jangan bersikap dingin terus sama Mama biar bagai mana pun juga, Mama tetap orang tuamu yang sudah melahirkan dan membesarkan dirimu," ucap Jacky.


"Tapi semua yang terjadi padaku adalah gara-gara Mama, coba kalau dulu Mama tidak berbuat jahat terhadap keluarganya Leon, mungkin sekarang tidak seperti ini kejadiannya."


"Biani, yang sudah terjadi biarlah berlalu, biarkan semua itu menjadi masa lalu, sekarang kita jalani saja kehidupan yang sedang dijalani. Kejarlah semua yang kamu inginkan tanpa harus membawa-bawa masa lalu."


"Tapi karena masa lalu Mama, aku menjadi seperti ini. Keluarganya Leon menjadi tidak menyukaiku dan Leon juga sudah menikah dengan wanita lain."


"Biani, cobalah untuk mengerti."


"Aku tidak ingin mengerti, aku benci sama Mama, aku tidak bisa memaafkan Mama, aku benci dengan semua yang sudah membuat aku kehilangan Leon."


Biani terus menangis sambil terus berbicara kepada Kakaknya menumpahkan kekesalan yang menumpuk di hatinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2