
Liana mengerucutkan bibirnya beberapa centi. "Ini aja masih sakit, masa mau nambah lagi," ketus Liana.
"Iya kalau kamu ngizinin, aku mau lagi." Rendy tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.
"Kamu mau menyiksaku?" ucap Liana.
"Nggak dong sayang," ucapan Rendy sembari memeluk Liana.
"Jangan pegang-pegang!" Liana melepaskan tangan Rendy yang melingkar di perutnya.
"Kenapa?"
"Aku gak mau," ucapan Liana.
"Tapi aku mau." Rendy terus menggoda Liana.
"Mas aku mau mandi. Tolong kamu pergi dulu," ucap Liana sedikit memelas.
Bukan hanya tidak nyaman dengan sikap Rendy, sebenarnya Liana juga malu karena saat ini keduanya sama-sama belum mengenakan pakaian.
"Mandi bareng?" ucap Rendy dengan gaya nakalnya.
"Gak mau."
"Kalau gitu aku gak mau lepasin kamu," ucapan Rendy sambil terus memeluk Liana.
"Tangan kamu bisa diam gak sih?" ucapan Liana karena memang tangan Rendy terus memainkan sesuatu miliknya.
"Gak bisa." Rendy terus menggerayangi tubuh Liana.
Sebagai wanita normal, hasrat Liana mulai terpancing tapi ia mencoba untuk menahannya karena tidak mungkin melakukan untuk yang kedua kalinya.
Liana balik memeluk Rendy dan merapatkan tubuhnya hingga tidak ada jarak yang tersisa lalu ia membenamkan wajahnya di leher sang suami.
"Aku ingin tahu, mas sebesar apa sayangmu kepadaku," ucap Liana didalam hatinya.
"Sayang apa yang kau lakukan? kau membangunkan sesuatu yang sudah tidur," ucap Rendy tanpa mengubah posisinya.
"Mas, kamu boleh melakukannya lagi," ucap Liana dengan senyum tipis yang terukir dibibirnya.
"Tadi kamu bilang masih terasa sakit?" ucapan Rendy sembari membelai rambut Liana.
"Iya, memang masih sakit. Aku gak mau jadi istri durhaka," ucap Liana karena ia belum mendapatkan jawaban atas keingintahuannya.
"Tidak, sayang. Aku tidak mau kamu kesakitan sampai dua kali dalam jarak waktu beberapa jam saja," ucap Rendy sembari terus mengusap-usap rambut Liana.
Liana tersenyum karena ia sudah mendapatkan jawaban yang ingin ia ketahui. Ternyata memang Rendy sudah cinta dan tak ingin membuatnya terluka.
"Siapa yang mau mandi duluan, aku atau kamu?" ucap Rendy.
"Aku saja," ucap Liana sembari melerai pelukannya.
Saat Liana akan duduk ia merasa sakit dibagian kewanitaannya. Liana sedikit meringis menahan rasa sakitnya.
"Kenapa, sayang?" Rendy mulai panik karena melihat sang istri kesakitan.
"Gak tahu, mas rasanya sakit," ucap Liana.
Dengan sigap Rendy membantu Liana untuk duduk.
"Biar ku bantu. Mau aku antar ke kamar mandi?"
__ADS_1
"Kamu aja dulu deh yang mandi duluan," ucap Liana.
"Yaudah, kamu baik-baik disini ya aku mandi duluan." Rendy segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah Rendy masuk ke dalam kamar mandi, Liana tersenyum bahagia karena ternyata Rendy adalah sosok laki-laki penyayang.
Dua puluh menit sudah berlalu, Rendy sudah selesai dengan ritual mandinya dan dia juga sudah mengenakan pakaiannya.
Rendy berjalan menghampiri sang istri yang tengah duduk di tempat tidur!
"Apa masih sakit?" Rendy mengelus lembut kepala Liana.
Liana mengangguk memang benar ia masih merasa panas dan perih dibagian kewanitaannya.
"Maaf ya," ucap Rendy seakan ia merasa bersalah.
"Tidak apa, mas," ucapan Liana sambil berusaha berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.
Rendy tak tega melihat sang istri kesakitan dan kesulitan berjalan, tanpa bertanya Rendy menggendong Liana lalu mengantarkannya ke dalam kamar mandi.
"Kalau mandinya sudah selesai panggil aku aja ya, biar aku yang membawamu keluar dari kamar mandi," ucap Rendy setelah menurunkan tubuh istrinya di kamar mandi.
Liana mengangguk paham.
Rendy tersenyum bangga saat melihat bercak darah di sprei.
"Gadis asli," gumam Rendy dalam hatinya.
Tanpa disuruh Rendy mengganti sprei itu dengan yang baru.
Setelah dua puluh menit lebih Liana baru membuka pintu kamar mandi. Rendy segera berlari menghampiri Liana.
"Aku tidak apa-apa kok, mas," ucap Liana.
"Gakpapa gimana? itu caramu berjalan seperti orang yang sedang kesakitan," ucapan Rendy penuh kekhawatiran.
Liana mengulum bibirnya, memang benar saat ini ia sedang kesakitan.
Tanpa berkata-kata Rendy segera memangku Liana lalu membawanya ke tempat tidur yang sudah ia ganti sprei nya.
"Mau pakai baju apa, warna apa dan yang mana?" ucap Rendy setelah menurunkan Liana dari pangkuannya.
"Aku mau cari sendiri," ucap Liana.
"Jangan, kamu diam aja disini biar aku yang ambilkan bajumu," ucap Rendy sembari mengarahkan Liana untuk duduk di tempat tidur.
Karena tak ingin berdebat, Liana menurut saja kepada suaminya.
Saat Rendy sedang sibuk mencari pakaiannya, Liana tersenyum tipis ada rasa bahagia karena memilih suami yang baik dan pengertian seperti Rendy.
"Pakai yang ini aja," ucap Rendy setelah menemukan pakaian yang ia sukai.
"Mas, aku gak mau pakai yang itu," ucap Liana.
"Kenapa? ini bagus kok. Kamu belum pernah pakai baju ini kan?" Rendy tersebut berjalan menghampiri Liana.
"Iya memang bagus tapi sebenarnya ... ." Liana menggantung ucapannya.
"Kenapa?"
"Aku malu," lirih Liana.
__ADS_1
Rendy tersenyum, "gak usah malu sayang."
Rendy memberikan pakaian kurang bahan itu kepada Liana.
Liana masih terdiam sambil menatap pakaian yang ia pegang.
"Kita makan malam disini aja, nanti aku akan ambil makanan untuk kita berdua," ucap Rendy sembari mencolek dagu Liana.
Liana tersenyum akhir suaminya mengerti juga dengan apa yang ada dalam pikirannya.
Liana segera mengenakan pakaian itu. Setelah beberapa menit Liana selesai mengenakan pakaian itu.
Liana berdirinya didepan cermin sambil menatap pantulan dirinya didalam cermin itu.
"Mas, nanti aku masuk angin kalau pakai baju kurung bahan gini," ucap Liana.
Rendy menghampiri Liana lalu memeluk sang istri dari belakang.
"Kamu cantik pakai baju ini," bisik Rendy.
"Tapi aku gak nyaman."
"Nanti juga terbiasa. Sebenarnya kalau di kamar gak pakai baju juga gak apa-apa," ucap Rendy sedikit menggoda Liana.
"Mas." Liana memukul lengan atas Rendy.
"Masih sakit?" tanya Rendy.
Liana hanya mengangguk.
"Berapa hari aku harus libur?" ucap Rendy lagi.
"Gak tahu, mas."
"Nanti kalau udah gak sakit, bilang ya." Rendy mencium leher belakang Liana.
"Iya," sahut Liana singkat.
"I love you," bisik Rendy.
Liana berbalik badan, dan kini Liana menghadap suaminya.
"I love you to." Liana memberikan kecupan hangat di bibir Rendy.
Liana berjalan menuju tempat tidur! ia ingin beristirahat sejenak karena ia masih merasa lelah setelah menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.
"Gaya jalan kamu aneh," ucap Rendy sembari tertawa kecil.
"Ini karena ulahmu. Aku gak mungkin seperti ini kalau kamu gak melakukan itu," ucap Liana kesal.
Rendy berjalan menghampiri istri ke tempat tidur.
"Maaf." Rendy mencium tangan Liana.
Liana hanya diam tak menghiraukan perkataan suaminya.
Bersambung.
Teman-teman mampir juga yuk ke karya baru ku! judulnya hampir sama tapi ceritanya beda loh.
__ADS_1