Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Bab 56


__ADS_3

Karena para preman itu tidak mau jujur juga, terpaksa Kayla harus mencari cara lain untuk mendapatkan informasi yang ia inginkan.


Siang itu, Kayla mendatangi semua rumah preman-preman itu untuk melancarkan aksinya dalam melakukan penyelidikan.


Tok!


Tok!


Tok!


Kayla mengetuk pintu rumah yang terlihat sederhana dan berada di tengah perkampungan.


"Permisi!" ucap Kayla.


Tak lama seorang perempuan sambil menggendong bayi membukakan pintu itu!


"Siapa ya?" tanya wanita itu.


"Maaf, Mbak apa benar ini rumahnya Pak Kamal?" tanya Kayla.


"Iya betul, saya istrinya," sahutnya.


Kayla menatap wanita itu dan memperhatikan bayi yang di gendongnya yang kira-kira umurnya baru beberapa bulan itu.


"Ini, anak kalian?"


"Iya, ini anak ke dua kami. Yang pertama udah berumur lima tahun."


"Maaf, Mbak boleh saya bicara di dalam?"


"Tentu saja, silahkan masuk!"


Wanita itu berjalan lebih dulu memasuki rumahnya.


"Silahkan duduk! Maaf duduknya lesehan, kami tidak punya kursi untuk duduk."


Kayla duduk di lantai dengan beralaskan karpet yang sudah usang itu!


"Tidak apa-apa, Mbak."


"Maaf ada perlu apa ya, Anda mencari suami saya?"


"Saya ...." Kayla menggantung ucapannya, ada rasa ragu untuk menceritakan yang sebenarnya terhadap wanita yang sedang duduk didepannya.


"Apa? Katakan saja, palingan Anda mau menagih hutang bekas suami saya judi. Saya tidak punya uang, untuk membeli susu anak saya saja saya ngutang ke orang tua saya," jelas perempuan itu dengan raut wajah sedih.


"Tidak, saya ingin menanyakan pekerjaan, Pak Kamal saja. Kebetulan saya pernah kenal dengannya dan sekarang saya ingin mengajaknya bekerja," ucap Kayla.


Tak ingin menambah kesedihan wanita itu, Kayla berbohong tentang Kamal.


"Dia tidak punya pekerjaan yang tetap dan sekarang sudah hampir dua minggu dia belum pulang."


"Maaf, apa Pak Kamal masih memperdulikan kalian?"

__ADS_1


"Tidak," sahutnya singkat.


Kayla terdiam, dalam hatinya ia berpikir akan percuma menggunakan mereka untuk memancing preman itu agar bicara jujur karena laki-laki itu tidak perduli dengan keluarganya sendiri.


"Kalau gitu, saya permisi. Maaf sudah mengganggu," ucap Kayla.


"Tidak apa-apa."


Kayla mengambil beberapa lembar uang kertas berwarna merah dari dalam tasnya lalu memberikan uang itu kepada wanita itu!


"Ini untuk beli susu, jumlahnya tidak banyak tapi saya harap uang ini bermanfaat untuk kalian," ucap Kayla.


Tanpa penolakan ibu dari dua orang anak itu langsung mengambil uang itu dari tangan Kayla.


"Alhamdulillah, kebetulan saya tidak punya beras dan susu anak saya," ucapnya.


Kayla tersenyum sembari mengusap kepala bayi itu.


"Permisi."


Kayla mulai meninggalkan rumah itu dan mencari rumah lain yang alamatnya ada dalam genggamannya.


...****************...


Di salah satu tempat mall besar di kota itu.


Biani sedang menghabiskan waktu bersama teman-temannya.


"Percuma gue kejar dia, dia gak mungkin menerima gue lagi," sahut Biani.


"Kenapa?" Tasya bertanya sambil mengunyah makanannya.


"Ada masa lalu antara Mama dan orang tuanya Leon yang gak bisa dimanfaatkan oleh mereka."


"Maksud lo?" tanya Kamila yang merasa penasaran


"Ceritanya panjang, dah lah gak usah bahas itu. Gue lagi pengen happy-happy."


Saat mereka sedang asyik mengobrol tiba-tiba seorang laki-laki datang menghampiri mereka.


"Hay, Bi. Kebetulan banget kita bertemu di sini," ucap Rio.


Ya Rio lah laki-laki yang datang menghampiri mereka.


"Rio, kamu di sini juga?" ucap Biani.


Rio tersenyum ramah. "Boleh gabung?" tanya Rio.


"Tentu saja," ucap Tasya.


Biani tidak menjawab, ia hanya diam dengan senyuman tipis yang terukir di bibirnya.


"Guys, kalian kalau nongkrong gini cuma bertiga saja gitu? Gak ada pacar kalian yang menemani?" ucap Rio.

__ADS_1


Rio menatap Biani dengan tatapan tak biasa, sepertinya dokter tampan itu mempunyai rasa yang lebih terhadap gadis yang berdiri di sampingnya itu.


"Biani jomblo, kalau suka tembak saja," ucap Kamila.


Biani terkejut mendengar perkataan sahabatnya, spontan ia menginjak kaki Kamila dengan sangat keras!


"Aww! Aww! Sakit Bi," ucap Kamila sembari meloncat-loncat kecil.


Biani menatap Rio tanpa menghiraukan Kamila yang kesakitan.


"Maaf ya, temanku memang gitu orangnya," ucap Biani kepada Rio.


Tasya tertawa kecil melihat Kamila yang kesakitan.


"Makanya kalau ngomong hati-hati," ucap Tasya pada Kamila.


"Emang benar kan, Biani lagi jomblo," ucap Kamila dengan nada lirih.


...****************...


Setelah mendapatkan perawatan intensif, Shania sudah mulai pulih, ia sudah memiliki tenaga untuk sekedar berdiri dan berjalan sendiri.


"Hey kamu mau kemana?" ucap Leon.


Karena Leon sudah pulih, ia sudah bebas dari perawatan dokter, kini Leon bisa setiap saat menemani Shania di ruang rawatnya.


"Aku mau ke kamar mandi, kamu mau ikut?" ucap Shania.


"Kalau boleh, aku ikut."


"Ish!" Shania memukul lengan Leon pelan.


"Udah bisa mukul berarti udah sembuh."


Leon tertawa kecil sembari menatap Shania.


"Emang aku udah sembuh kok."


Shania pergi meninggalkan Leon begitu saja!


"Aku gak tahu kenapa aku bisa tiba-tiba mencintaimu, Shania, bahkan aku bisa langsung melupakan Biani tanpa harus berusaha keras," ucap Leon didalam hatinya sembari terus menatap kepergian Shania.


Bersambung


Teman-teman mampir juga ya ke karya teman author! Dijamin ceritanya seru abis.


Terlahir sebagai putri seorang ningrat, terbiasa dengan aturan yang begitu ketat membuatnya susah didekati kaum Adam.


Terpaksa menikah karena perjodohan, tetapi sebelum pernikahan terjadi sang mempelai pria justru meninggal karena hal mistik.


Konon karena ia adalah perempuan spesial dengan sebutan "Bahu Laweyan". Akankah ia mampu bertahan di atas kutukan yang tidak pernah ia minta?


__ADS_1


__ADS_2