
Leon kembali mengemudikan mobilnya, ia hendak pulang ke rumahnya setelah mendapatkan sesuatu yang ingin ia ketahui.
...****************...
Shania sedang menunggu Leon pulang. Meski ia tak tahu, Leon akan pergi ke mana, tapi ia yakin kalau Leon pergi ke tempat yang ia beri tahu tadi siang.
Sebuah senyuman terukir di bibir Shania.
"Leon, sebentar lagi kamu akan jatuh cinta padaku dan sebentar lagi kamu akan merasakan apa yang kamu perbuat kepadaku," ucap Shania.
"Biani. Gadis itu juga akan merasakan apa yang dia lakukan kepadaku," ucap Shania lagi.
"Kalian harus merasakan apa yang aku rasakan jika tidak, aku tidak akan bisa hidup tenang."
Shania merebahkan tubuhnya di tempat tidur! Pandangannya tertuju pada langit-langit kamarnya.
Di awal pernikahannya dengan Leon, Leon sering berkata kasar padanya dan Leon juga pernah menghinanya dengan menyebutnya sebagai j****g ditambah lagi dengan perlakuan Leon yang bercumbu mesra dengan Biani di hadapannya membuat Shania yang awalnya berniat menerima Leon apa adanya kini berubah menjadi benci.
Shania menjadi ingin membalas dendam kepada Leon atas apa yang sudah Leon lakukan kepadanya dan setelah Shania mendapat penghinaan dan kekerasan dari Biani kekasihnya Leon, Shania juga merasa ingin membuat Biani merasakan apa yang dia perbuat kepadanya.
Leon tiba di rumahnya. Saat itu waktu sudah memasuki dini hari, Leon yang tadinya ingin berbicara kepada Shania, mengurungkan niatnya karena tak ingin mengganggu tidur istrinya itu.
Leon masuk kedalam kamarnya lalu ia langsung tertidur karena sudah kelelahan.
...****************...
Keesokan harinya.
Shania sedang menyiapkan sarapan untuk dirinya dan suaminya.
Leon menghampiri Shania yang sedang sibuk dengan pekerjaannya sebagai seorang istri!
"Shania," ucap Leon.
Shania menghentikan pergerakan tangannya lalu menatap Leon.
"Apa?" ucapnya dengan raut wajah datar.
"Aku mau minta maaf, atas nama Biani. Tolong kamu jangan bawa masalah ini ke polisi," ucap Leon.
Biani tersenyum. "Siapa yang mau melaporkan kekasihmu ke polisi?" ucap Shania.
"Kamu ... ." Leon menggantung ucapannya.
"Yang sudah terjadi biarlah terjadi, aku tidak akan memperpanjang masalah itu," ucap Shania.
"Kamu tidak akan membawa masalah ini kepada pihak yang berwajib?"
"Tidak. Aku harap kamu tidak memarahi Biani, karena aku tahu, Biani melakukan itu semata-mata karena dia terlalu mencintaimu," ucap Shania.
"Shania, terimakasih banyak," ucap Leon.
"Tidak masalah. Santai saja."
Shania mengisi piring kosong dengan makanan yang sudah terhidang di meja makan!
"Sarapan," ucap Shania.
Shania meletakkan piring yang sudah ia isi dengan makanan di depan Leon!
Leon tersenyum kepada Shania. "Terimakasih," ucapnya.
Setelah hampir satu bulan menikah, ini pertama kalinya, Leon tersenyum kepada Shania.
__ADS_1
Shania membalas senyuman Leon. Dalam hatinya, Shania merasa senang karena Leon mulai bisa bersikap ramah padanya.
"Masakan mu enak," ucap Leon.
"Terimakasih," ucap Shania.
"Semoga kamu betah di rumah agar kamu lebih cepat jatuh cinta padaku dan aku bisa lebih cepat membalaskan dendam ku," ucap Shania didalam hatinya.
Setelah selesai sarapan, Leon segera bersiap untuk berangkat ke kantor.
"Mau aku bawakan makanan untuk kamu makan siang?" tanya Shania.
Leon menatap Shania.
"Jangan salah faham. Aku tidak bermaksud untuk menggoda dirimu, aku hanya menawarkan ... ."
"Tidak Shania, aku tidak berpikir seperti itu, hanya saja aku takut merepotkan dirimu," ucap Leon memotong perkataan Shania.
Shania mengukir senyum di bibirnya.
"Rupanya kamu sudah masuk perangkap ku, Leon," ucap Shania didalam hatinya.
"Tidak, sama-sekali tidak merepotkan. Aku sudah bilang padamu kalau aku akan menjalankan tugas aku sebagai seorang istri, aku tidak keberatan meski aku hanya kamu anggap sebagai istri di atas kertas saja," ucap Shania.
Leon terdiam mendengar perkataan Shania. Dalam pikirannya, Jika Shania saja bisa menerima perjodohan itu kenapa dirinya tidak? Toh dalam agama laki-laki tidak diharamkan memiliki istri lebih dari satu.
"Maaf, karena aku tidak bisa menerimamu," ucap Leon.
"Tepatnya belum bisa. Kita belum mencoba untuk saling menerima kan?" ucap Shania.
"Aku akan menunggu sampai waktu itu tiba meski harus menunggu lama," ucap Shania lagi.
"Aku sudah terlambat. Aku berangkat pergi dulu," ucap Leon.
Leon pergi meninggalkan Shania di ruang makan!
...****************...
Selama di perjalanan, Biani sudah merangkai kata yang akan ia sampai kan kepada Leon.
Setengah jam berlalu, taksi yang Biani tumpangi sudah tiba di tempat tujuan Biani.
"Mbak, kita sudah sampai," ucap sopir taksi itu.
Biani turun dari taksi itu! "Terimakasih," ucapnya kepada sopir taksi itu.
Baru Biani akan melangkah memasuki area kantor Leon, mobil yang Leon kendarai lewat di depan Biani.
Setelah mobil itu terparkir, Biani menghampiri mobil itu! Ia tahu pasti Leon yang mengendarai mobil tersebut.
Leon keluar dari mobilnya!
"Leon!" ucap Biani.
Leon menatap ke arah suara. "Biani?" ucap Leon.
Biani terus berjalan menghampiri Leon yang masih berdiri didepan pintu mobilnya!
"Biani, kamu ngapain ke sini?" tanya Leon.
"Leon, aku mau kamu kasih pelajaran sama istrimu," ucap Biani.
"Kenapa?" tanya Leon.
__ADS_1
Dalam hatinya Leon bertanya. "Bukannya Shania yang dianiaya oleh Biani, kenapa jadi Shania yang harus diberi pelajaran?"
"Dia sudah memukul perutku sampai aku kesakitan," ucap Biani jujur.
Leon terdiam, dalam rekaman CCTV ia tidak melihat Shania memukul perut Biani, ia hanya melihat Biani dan teman-temannya mengeroyok Shania tanpa henti.
"Leon!" ucap Biani.
Seketika lamunan Leon buyar begitu saja setelah mendengar Biani menyebut namanya.
"I_iya, nanti aku bicarakan sama Shania ya," ucap Leon.
Biani memeluk Leon dengan erat!
"Biani, aku harus kerja. Tolong kamu pergi dari sini ya," ucap Leon sembari melerai pelukan sang kekasih.
"Kamu mengusir ku?"
"Tidak begitu, sayang. Aku harus kerja untuk masa depan kita, kamu gak mau kan punya suami yang gak punya uang?" ucap Leon.
"Ya udah." Biani cemberut karena tak begitu mendapat respon atas pengaduannya.
"Jangan cemberut gitu dong, Bi," ucap Leon.
Biani mengulas senyum tipis di bibirnya lalu mulai pergi meninggalkan Leon!
Setelah Biani pergi, Leon segera masuk ke kantornya!
"Baru tiba?" ucap Elvan.
Leon nyengir kuda, menampakkan deretan giginya yang rapi dan putih. "Maaf," ucap Leon.
"Telat hampir satu jam nih," ucap Elvan sembari menunjukkan jam di tangannya..
"Semalam aku gak bisa tidur," ucap Leon.
Leon berjalan memasuki ruangan pribadinya dan Elvan mengikuti langkah kemana Leon pergi.
"Baru punya istri satu, udah gak bisa tidur," ucap Elvan sembari menghempaskan bokongnya ke sofa!
"Shania babak-belur karena dikeroyok oleh Biani," ucap Leon.
"Apa! Rasanya tidak mungkin," ucap Elvan tidak percaya.
Selama berpacaran dengan Leon, yang Elvan tahu, Biani adalah gadis yang baik dan membuat, Elvan tidak percaya kalau Biani bisa melukai orang lain.
"Itu benar. Semalam aku sudah melihat buktinya, dan barusan, Biani datang ke sini. Dia mengadu padaku katanya dia dipukul oleh Shania tapi dalam bukti rekaman yang aku dapat, aku tidak melihat Shania memukul Biani," jelas Leon.
"Aku gak nyangka, Biani bisa melakukan itu,"
"Aku juga tidak percaya tapi setelah melihat buktinya, aku terpaksa harus percaya dengan pernyataan Shania bahwa Shania memang mendapatkan kekerasan dari Biani," ucap Leon.
"Katanya Biani dipukul oleh Shania, apa dia terluka juga? Setidaknya kalau habis dipukul pasti meninggalkan bekas luka meski hanya memar saja," ucap Elvan.
Leon menggelengkan kepalanya! "Tidak," ucapnya.
"Shania melarang aku memarahi Biani dan dia juga sudah memaafkan Biani," ucap Leon lagi.
"Benarkah? Shania baik juga ya," ucap Elvan.
"Entahlah, tapi sampai saat ini aku tetap mencintai Biani meski aku tahu dengan sengaja dia melukai Shania," jelas Elvan.
"Apa salahnya mencoba untuk menerima Shania."
__ADS_1
Leon terdiam dan tak menjawab lagi perkataan Elvan. Hatinya mulai goyah karena sikap Shania yang selalu baik padanya.
Bersambung