
"Mama, Papa aku kangen," ucap Shania saat menemui kedua orang tuanya di rumahnya.
Alisa memeluk Shania dengan penuh kasih sayang!
"Mama juga kangen sama kamu," ucap Alisa.
"Tidak baik mengobrol didepan pintu. Ayo masuk, Nak!"
Satya mengajak anak dan menantunya masuk ke dalam rumahnya.
Leon tersenyum ramah lalu berjalan mengikuti ayah mertuanya memasuki rumah!
"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Satya.
"Aku baik-baik saja, Pa. Shania juga baik-baik saja," sahut Leon.
"Kami berdua baik-baik saja, Pa gimana dengan Papa dan Mama?" tanya Shania.
"Papa sama Mama juga baik-baik saja."
"Kalian sengaja datang ke sini atau habis ada keperluan lain?" tanya Alisa yang baru datang dari dapur dengan membawa beberapa gelas teh untuk mereka semua.
"Kami dari kantor polisi," ucap Leon.
Alisa yang sedang menata minuman yang ia bawa di atas meja menghentikan pergerakan tangannya.
"Apa? Kantor polisi?" ucap Alisa.
"Habis ngapain kalian ke kantor polisi?" tanya Satya.
Leon menatap Shania. "Tanya saja pada anak Papa dan Mama ini," ucap Leon dengan senyum tipis di bibirnya.
Satya dan Alisa saling pandang lalu beralih menatap Shania.
"Ada apa, Nak?" ucap Alisa dengan raut wajahnya yang dipenuhi dengan kekhawatiran.
"Tidak ada apa-apa, Ma aku hanya ingin bertemu dengan Pak polisi saja," sahut Shania.
"Tepatnya bertemu dengan Pak polisi berkumis dan dengan santainya anak Mama ini memainkan kumis milik Pak polisi itu," ucap Leon.
"Apa, apa kamu tidak sedang bercanda?" ucap Satya tidak percaya.
"Tidak, Pa aku serius. Sebenarnya aku gak mau nganterin Shania ke kantor polisi untuk menemui polisi itu tapi anak Papa ini memaksaku."
"Leon, kamu kok gitu," ucap Shania.
Alisa tertawa terbahak-bahak, dia tidak kuasa menahan tawanya.
"Terus gimana? Polisi itu membolehkan Shania mainin kumisnya?" tanya Alisa.
"Nah itu dia, Ma yang bikin aku terheran-heran. Polisi itu dengan begitu ikhlas nya membiarkan Shania bermain-main dengan kumisnya."
Alisa dan Satya tertawa melihat Leon yang kesal pada istrinya.
"Maaf ya, Pa, Ma kalau aku tahu orang hamil suka pengen yang aneh-aneh, mungkin aku gak bikin Shania hamil dulu," ucap Leon tanpa rasa malu.
"Kenapa?" tanya Alisa.
"Karena ternyata butuh mental yang besar buat menghadapi wanita hamil. Bayangkan saja Ma, pernah waktu itu, malam-malam aku disuruh beli es kelapa pakai bakso dan aku sampai cari ke sana kemari sampai mau subuh dan setelah aku dapat ternyata Shania udah gak mau makan es kelapanya malah dia pengen tidur lagi tapi dipeluk sama aku," ucap Leon panjang lebar.
Satya tersenyum kala mendengarkan semua keluh kesah nya Leon.
"Ya kalau kamu gak mau ya jangan dituruti," ucap Alisa.
"Gimana gak dituruti, Ma Shania terus merengek sebelum keinginannya di kabulkan dan anehnya aku juga selalu oke-oke saja dengan semua itu."
"Kita merasakan nasib yang sama rupanya, Menantu," ucap Satya pada Leon.
"Maksud Papa?" Leon menatap Papa mertuanya.
"Dulu saat Mamanya Shania mengandung Shania, setiap hari minta yang aneh-aneh bahkan dulu Mama pernah minta jalan-jalan ke beberapa tempat tapi harus selesai dalam satu hari sedangkan tempat yang ingin dia datangi beda-beda kota. Kan aneh."
"Kalian malah membicarakan itu. Udahlah, wanita hamil itu istimewa jadi jangan mengeluh dengan semua keinginannya," ucap Alisa.
"Kita sebagai suami memang tidak pernah mengeluh, Ma tapi permintaan kalian yang aneh membuat kami kesulitan," ucap Satya.
"Aduh," lirih Shania sembari memegangi kepalanya.
Saat mereka sedang berbincang tiba-tiba Shania merasa sakit di kepalanya.
"Shania."
Leon segera mendekati Shania lalu meraih kedua belah pipi Shania.
"Kamu kenapa? Ada yang sakit, dimana yang sakit, apanya yang sakit?" ucap Leon dengan penuh kekhawatiran.
"Sayang, kamu kenapa?" Alisa juga tak kalah khawatirkan dari Leon.
"Kepalaku sakit," lirih Shania.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" seru Satya.
"Iya, ayo kita ke rumah sakit," ucap Leon.
Mereka bersiap untuk membawa Shania ke rumah sakit.
"Gak perlu ke rumah sakit. Aku mau istirahat saja," ucap Shania.
__ADS_1
"Tapi Shania," ucap Leon.
"Ini sudah biasa kan, aku hanya perlu istirahat sebentar."
"Ya udah, Leon bawa Shania ke kabarnya ya! Mungkin memang Shania perlu istirahat," ucap Alisa.
"Tapi Ma, Shania–"
"Dia baik-baik saja Pa. Papa ingat waktu Mama hamil dulu? Bukankah Mama juga sering tiba-tiba merasa sakit dan pusing, mual sampai muntah juga."
"Iya, tapi Papa tetap khawatir sama Shania."
"Dia baik-baik saja Pa. Papa tenang ya."
Di kamar Shania.
Leon membaringkan Shania di atas tempat tidurnya!
"Yakin gak mau ke dokter?" tanya Leon.
Shania menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah. Tidurlah."
"Temenin," ucap Shania dengan gaya manjanya.
"Serius?"
Shania mengangguk pelan.
"Gak malu sama Mama dan Papa?"
"Kenapa harus malu? Mereka tidak akan ke sini."
Leon mengukir senyum di bibirnya lalu naik ke atas tempat tidur!
Leon memeluk Shania dengan penuh cinta.
"Tidurlah biar sakitnya cepat hilang."
Perlahan Shania menutup matanya dan mulai tertidur.
...****************...
Biani baru tiba di depan rumahnya dia langsung melihat Rio yang sedang duduk di kursi yang ada di teras rumahnya.
"Rio," gumam Biani.
Biani berjalan menghampiri Rio yang mungkin sedang menunggunya!
Rio tersenyum manis kepada Biani.
"Aku ke sini untuk menemui dirimu tapi ternyata kamu nya gak ada," sahut Rio.
"Aku ... aku baru selesai dengan pekerjaanku."
"Aku tahu, Mama mu sudah menceritakannya padaku."
"Masuklah dan beristirahatlah! Aku mau pulang saja."
"Rio, kamu ke sini untuk menemui aku kan? Kenapa malah kamu mau pulang saat aku sudah ada dihadapan mu?"
"Kamu capek, habis bekerja. Aku gak tega mengganggu mu."
"Tapi kamu sudah jauh-jauh ke sini."
"Tidak apa." Rio meraih pipi Biani lalu mengusap-usapnya dengan ibu jarinya.
"Besok saat jam makan siang kita ketemu ya. Ada yang mau aku bicarakan sama kamu," ucap Rio lagi.
Biani tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya.
"Nanti aku jemput kamu ke tempat kerja kamu ya, besok kamu share_lock saja tempat kerja kamu."
"Tidak perlu, nanti aku samperin kamu ke tempat kita akan bertemu saja," ucap Biani.
"Ya sudah, terserah maunya kamu saja. Aku pulang ya, selamat malam dan selamat beristirahat."
Biani tak berucap lagi, dia hanya menatap kepergian Rio.
"Oh ya satu lagi, Bi. Salam sama Mamamu ya, bilang padanya kalau aku pulang."
"Iya, nanti aku sampaikan."
Biani tetap berdiri di tempat semula, dia terus memandangi Rio yang mulai melajukan mobilnya hingga sampai mobil yang dikemudikan oleh Rio itu tidak terlihat lagi. Biani baru masuk ke dalam rumahnya.
...****************...
"Aku langsung pulang ya," ucap Elvan setelah menurunkan Kayla di depan gerbang rumahnya sedangkan Elvan tetap di dalam mobilnya
"Gak mampir dulu?" ucap Kayla.
"Lain kali saja deh."
"Kenapa?"
"Sudah malam, sayang. Memangnya kamu masih ingin bersamaku setelah seharian kita menghabiskan waktu berdua?"
__ADS_1
"Iya eh tidak begitu juga. Aku hanya menawarkan kalau kamu gak mau mampir dulu ya gak apa-apa."
"Jujur saja kalau gak mau jauh dari aku."
"Nggak. Biasa saja kok."
"Belum mau jujur? Ya sudah, nanti juga aku tahu sendiri. Aku pulang ya."
"Iya, cepat pulang sana! Awas jangan belok ke rumah gadis lain."
"Tenang saja, aku gak akan ke rumah gadis lain, karena aku maunya ke rumah janda sebelah."
Kayla tertawa kecil.
"Pulang sana! Malah cari ribut."
"Iya, aku pulang. Jangan lupa mimpiin aku ya."
Elvan mulai menjalankan mobilnya dengan perlahan.
"Dah Sayang! I love you!" ucap Elvan.
"I love you to."
Kayla langsung masuk ke dalam rumahnya tanpa menunggu Elvan pergi jauh.
...****************...
Biani baru akan tidur, tiba-tiba ponselnya bergetar tanda ada pesan masuk.
Biani langsung melihat siapa yang mengirim pesan padanya.
"Nomor baru? Nomor siapa?" gumam Biani.
Biani langsung membaca pesan itu.
["Selamat malam."]
"Siapa ini? Gak jelas banget."
Biani tak menghiraukan pesan dari nomor tak dikenal itu. Menurutnya pesan itu tidak penting.
Biani meletakkan ponselnya lagi di atas meja namun beberapa saat kemudian sebuah pesan kembali masuk ke dalam ponselnya.
Biani mengambil lagi ponselnya lalu membaca pesan dari nomor yang sama.
["Kok cuma dilihat? Gak dibalas?"]
"Siapa sih nih orang?" ucap Biani.
Biani mengetik sebuah pesan untuk nomor tak dikenal itu.
["Maaf dengan siapa ya?"]>kirim.
Tak berselang lama pesannya sudah bercentang warna biru menandakan bahwa orang itu sudah membaca pesannya.
["Coba tebak, siapa aku?"]
Orang itu membalas pesan Biani dengan pertanyaan.
"Gak jelas banget sih nih orang."
Karena kesal, Biani mematikan ponselnya lalu ia segera tidur. Tubuhnya terasa lelah setelah seharian bekerja.
...****************...
"Kalian gak usah pulang. Nginap saja di sini," ucap Satya.
"Iya, sekarang sudah malam, sudah waktunya istirahat," sambung Alisa.
"Baru jam segini, Ma belum sampai jam sepuluh malam," ucap Shania.
Saat itu waktu menunjukkan pukul 21:23 waktu setempat.
Setelah sempat tertidur akhirnya Shania sudah tidak merasakan sakit lagi pada kepalanya.
"Kalau mau nginap, nginap saja sayang. Aku selalu siap dengan semua keputusan kamu," ucap Leon pada Shania.
"Kita pulang saja. Besok kan kamu harus ke kantor," ucap Shania.
"Gak ke kantor sehati saja gak akan kenapa-kenapa. Aku tinggal hubungi Elvan dan mengatakan bahwa aku tidak bisa masuk kantor."
"Aku mau pulang saja."
"Shania, ini sudah malam, Nak," ucap Alisa.
"Mama, biarkan mereka pulang. Lagian anak kita itu kan sangat keras kepala, kita tidak akan bisa menahannya di sini," ucap Satya.
Leon tersenyum lebar. "Nah, untung Papa tahu bahwa anaknya keras kepala," ucap Leon.
Shania hanya diam sembari mengulum bibirnya. Dia merasa memang dia keras kepala.
"Ya sudah, sebelum larut malam. Cepat kalian pulang!"
Alisa berucap dengan nada ketus. Dia kecewa karena putrinya tidak mau menginap di rumahnya.
Bersambung
__ADS_1