Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Bab 35


__ADS_3

Leon duduk di kursi yang berada di samping Shania yang terbaring di atas hospital bad, tangannya terus menggenggam jemari Shania dengan tatapan yang terus tertuju kepada wajah sang istri.


"Shania kenapa kamu tidak pernah mengatakan padaku kalau Biani pernah berusaha menghabisi nyawamu saat kamu di rumah sakit," ucap Leon didalam hatinya.


"Leon," lirih Shania.


"Ya, aku disini. Bersamamu," sahut Leon.


"Terimakasih, kamu sudah menolongku."


"Apa yang kamu katakan? Aku ini suamimu yang memang seharusnya menjaga dan melindungi dirimu."


Shania mengulas senyum di bibirnya, ia tak berucap lagi karena merasa sangat lemah.


Leon terus menggenggam tangan Shania sambil sesekali menciumnya, tangan Leon yang satunya lagi terus mengelus pucuk kepala Shania dengan lembut.


Merasakan kelembutan dari Leon membuat Shania merasakan adanya getaran tak kasat mata didalam hatinya, apalagi melihat Leon yang begitu mengkhawatirkan dirinya membuat Shania lupa akan rasa sakitnya.


Shania yang awalnya diselimuti rasa dendam kepada Leon, kini rasa dendam itu musnah bersamaan dengan kelembutan yang Leon berikan padanya.


Di lobby rumah sakit.


Elvan berlari memasuki rumah sakit, dia langsung menuju ruangan yang sudah Leon beritahukan kepadanya!


Setelah berada di depan pintu ruangan tempat Shania dirawat, Elvan melihatmu Shania yang sedang berbaring dengan ditemani oleh Leon yang terus menggenggam tangan Shania.


Cklek!


Perlahan Leon membuka pintu ruangan itu lalu berjalan menghampirimu Shania dan Leon.


"Bagaimana keadaannya Shania?" tanya Elvan kepada Leon.


"Shania masih lemah." Leon berucap tanpa menatap Elvan, tatapannya terus tertuju pada wajah Shania.


Tak lama Alisa dan Satya datang ke ruangan itu!


Alisa langsung berlari menghampiri putrinya yang sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit!


"Sayang!"


Alisa langsung memeluk Shania! Tangisnya tak dapat tertahankan lagi melihat putrinya yang harus masuk ke rumah sakit untuk yang ke dua kalinya.


"Mama, jangan nangis," lirih Shania.


Alisa terus menangis meski putrinya melarangnya menangis.


Satya membungkukkan tubuhnya lalu mengusap pucuk kepala putri satu-satunya itu!


"Kenapa bisa begini, Nak?" ucap Satya dengan nada lirih.


Leon hanya diam tak menjawab pertanyaan ayah mertuanya itu, ia membiarkan Shania yang menjawabnya ia siap menerima semua keputusan Shania terhadap Biani.


"Pa, ini musibah. Ada beberapa pencuri yang masuk ke rumah, mereka panik karena ketahuan mencuri dan akhirnya mereka mencoba membunuhku," sahut Shania.


"Shania, kenapa kamu gak bilang saja sama orang tuamu kalau Biani yang melakukan ini padamu?" ucap Leon didalam hatinya.


Leon terus terdiam sambil menatap Shania, ia tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Shania yang mencoba menyembunyikan kejahatan kekasihnya dari kedua mertuanya.


"Papa akan melaporkan kasus ini ke polisi," ucap Satya.


"Jangan, Pa," lirih Shania.


"Kenapa, sayang? Orang yang sudah membuatmu hampir kehilangan nyawa, tidak bisa dibiarkan hidup bebas. Dia harus dipenjara," sambung Alisa.


Saat mereka sedang serius berbicara, Rendy dan Liana datang ke ruangan itu!


Mereka berdua berjalan beriringan menghampiri Shania dan keluarganya!

__ADS_1


"Shania, bagaimana keadaanmu, Nak? tanya Liana.


"Aku baik-baik saja, Ma."


Rendy menatap Shania yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan tatapan sendu.


"Pa, Ma, aku titip Shania sebentar," ucap Leon kepada kedua orang tuanya.


"Kamu mau kemana?" tanya Rendy.


"Aku mau melaporkan kasus ini ke polisi."


"Biar aku saja yang melapor," ucap Elvan.


Shania meraih tangan Leon lalu menggelengkan kepalanya!


Leon menatap Shania. "Aku harus melakukan ini."


"Tidak, Leon. Tidak ada yang hilang di rumah kita, kenapa harus melapor kepada polisi," ucap Shania.


"Orang itu sudah membuatmu seperti ini, dia harus menerima akibat dari perbuatannya."


"Jangan."


"Shania, kenapa kamu melarang Leon untuk melaporkan ini ke polisi? Mereka sudah mengancam keselamatan jiwamu," ucap Liana.


Shania terdiam, ia tak bisa berucap lagi, apa yang dikatakan keluarganya memang benar tapi ia ingin tahu seberapa besar Leon memperdulikannya.


"Leon, bisa kita bicara di luar?" ucap Elvan.


Leon menatap Elvan lalu menatap Shania lagi.


"Shania, aku bicara sama Elvan dulu sebentar ya," ucap Leon kepada Shania sembari melepaskan genggaman tangannya.


Shania membiarkan Leon pergi.


Elvan dan Leon berjalan beriringan menuju halaman rumah sakit!


"Biani yang melakukan ini pada Shania," ucap Leon.


"Apa! Biani?"


Elvan terkejut mendengar pernyataan Leon.


"Aku baru tahu juga kalau ternyata waktu Shania dirawat di rumah sakit saat aku dan Shania mengalami kecelakaan, Biani juga berusaha menghabisi nyawa Shania," jelas Leon.


Leon berbicara dengan menundukkan kepalanya, ia sendiri merasa tidak percaya Biani bisa melakukan hal itu, tapi ia sudah melihatnya sendiri dan juga sudah mendengar dari mulut Biani tentang percobaan pembunuhan itu.


"A_apa? Biani melakukan itu?"


Elvan juga tidak percaya mendengar pernyataan dari Leon.


"Aku tidak menyangka Biani tega melakukan tindakan kriminal."


"Leon, kamu lagi bicara jujur kan?"


"Ini serius, Van. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, tadi Biani mencekik leher Shania hingga Shania tak sadarkan diri."


Elvan menatap wajah Leon yang memang terlihat bicara jujur padanya.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan?"


"Aku tidak tahu, jujur aku masih mencintai Biani tapi aku gak yakin bisa mempertahankan hubungan kami atau tidak setelah kejadian ini."


"Leon, aku harap kamu memilih yang terbaik untuk dijadikan teman hidupmu."


"Kak Leon!"

__ADS_1


Saat Leon dan Elvan sedang berbicara, Rania datang ke tempat itu.


"Rania," ucap Leon dan Elvan berbarengan.


Rania terus berlari menghampiri Leon dan Elvan.


"Kakak gimana sih, kok gak jagain Kak Shania? Semenjak menikah dengan Kakak, kak Shania sudah dua kali masuk rumah sakit, Kakak bis–"


"Rania, jangan teriak-teriak di sini. Ini rumah sakit," ucap Elvan memotong perkataan Rania.


"Aku kesal Kak!" ucap Rania masih dengan nada bicara yang tinggi.


"Lebih baik kamu lihat keadaan, Kak Shania di dalam ya," ucap Elvan kepada Rania.


Leon tak berucap sepatah kata pun yang Rania katakan memang benar semenjak menikah dengannya, Shania sering terancam jiwanya.


Rania pergi meninggalkan Leon dan Elvan di tempat itu!


"Aku memang tidak bisa menjadi suami yang baik untuk Shania," gumam Leon.


"Aku harap kamu bisa memperbaiki kesalahan yang sudah kamu perbuat."


...****************...


Di kejauhan, seseorang sedang memperhatikan Leon dan Elvan.


Orang itu berusaha mendengarkan pembicaraan Leon dengan Elvan namun tidak berhasil karena jarak mereka terlalu jauh.


"Sedang apa mereka di rumah sakit," ucap orang itu.


Jacky, ya orang yang sedang memperhatikan Leon dan Elvan adalah Jacky.


Jacky ingin membuat kehidupan Leon dan keluarganya tidak tenang. Ia mulai mencari tahu lebih banyak lagi tentang Leon dan keluarganya agar ia lebih mudah dalam melancarkan rencananya.


Semenjak Rendy membatalkan rencana pertunangan Leon dengan adiknya tanpa alasan yang jelas, Jacky menjadi benci kepada keluarganya Leon apalagi setelah Rendy mengatakan bahwa keluarganya tidak sepadan dengan keluarga mereka, Jacky merasa dihina dan sampai saat ini Jacky masih menyimpan dendam kepada keluarganya Leon.


...****************...


Di rumah Jenny.


Biani tidak bisa tentang, dia takut Leon melaporkannya ke polisi, ia tidak ingin tidur dibalik jeruji besi selain itu ia juga takut mamanya akan kecewa kepadanya.


"Bi, kamu kenapa sepertinya gelisah banget?" ucap Jenny.


"Ng_nggak kok, Ma aku gak apa-apa," sahut Biani.


Biani gugup saat ditanya oleh mananya keringat mulai keluar dari keningnya.


"Bani, kamu kenapa sampai berkeringat gitu? Kamu lagi gak enak badan?" ucap Jenny lagi.


Melihat gelagat putrinya yang tidak biasa membuat Jenny penasaran dengan apa yang terjadi kepada putrinya.


"Aku sudah bilang kalau aku tidak apa-apa, Ma. Aku baik-baik saja!"


Biani meninggalkan Jenny di ruang keluarga rumahnya, Biani masuk ke dalam kamarnya lalu mengunci pintu kamarnya dari dalam karena takut Jenny akan terus bertanya-tanya padanya.


Jenny menatap Biani dengan tatapan aneh, tak bisanya putrinya itu berkata sekeras itu padanya.


"Ada apa dengan anak itu?" gumam Jenny lalu menggelengkan kepalanya.


Jenny pergi ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya!


Di dalam kamarnya.


Biani berjalan bolak-balik sambil memikirkan bagaimana cara ia bisa lari dari masalah yang sengaja ia perbuat.


"Mikir-mikir, Biani," ucap Biani kepada dirinya sendiri.

__ADS_1


Biani memukul-mukul kepalanya pelan dengan menggunakan tangannya.


Bersambung


__ADS_2