Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 bab 87


__ADS_3

"Apa? Jadi benar, dia pernah melakukan kejahatan seperti itu," ucap Rio.


"Ya. Semua yang Biani lakukan adalah semata-mata karena dia sangat mencintai Leon," sahut Shania.


"Aku tidak menyangka, dia bisa melakukan itu."


"Katanya cinta bisa membuat orang menjadi gelap mata. Mungkin yang seperti itulah yang dimaksud dengan yang namanya gelap mata."


"Lagi pada ngobrolin apa?" tanya Leon yang baru tiba dari toilet.


"Biasa, kangen-kangenan." sahut Rio.


"Apa?"


"Kami lagi ngobrolin masa lalu kami," sambung Shania.


"Emm, karena Leon udah kembali, aku permisi pulang duluan ya," ucap Rio.


"Loh kok pulang. Aku sama Shania mau makan sate, kamu mau ikut gak?" tanya Leon.


"Lain kali saja deh Leon, Shania sekarang aku lagi ada urusan yang gak bisa ditinggalkan."


"Ya udahlah kalau memang begitu, pulang saja sana," ucap Shania.


"Kamu tuh ya, dari dulu gak pernah berubah," ucap Rio.


"Berubah gimana?" tanya Leon.


"Nyebelin. Istri kamu ini nyebelin banget."


"Rio kamu apaan sih."


Rio tertawa kecil lalu segera pergi meninggalkan Leon dan Shania!


"Aku duluan ya," ucap Rio.


"Hati-hati, bro."


Shania tersenyum saat tahu ternyata suaminya kini sudah tidak cemburu lagi saat dirinya berduaan dengan Rio.


"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Leon.


"Nggak, lagi pengen senyum saja. Emang gak boleh?"


"Boleh sih, tapi kalau ada alasan kenapa tiba-tiba kamu senyum-senyum gitu kalau gak ada alasan yang kuat, jatuhnya kamu seperti orang gila dong."


Shania mencubit lengan Leon dengan perlahan.


"Iih kamu tuh ya, kalau ngomong suka sembarangan."


"Aww, sakit Shania," ucap Leon sembari memegangi lengannya yang baru saja kena cubit oleh Shania.


"Lagian kalau bicara tuh disaring dulu. Kalau aku beneran jadi gila gimana?"


"Ya nggak boleh lah nanti aku mau sama siapa?"


"Leon, kita makan sate di pinggir jalan saja deh."


"Apa, kamu mau makan di tempat terbuka seperti itu?"

__ADS_1


"Iya, aku penasaran gimana rasanya makanan yang jualannya di pinggir jalan."


"Oke deh, kita cari sekarang yuk! Takutnya keburu malam lagi."


"Oke, siap!"


Shania bangkit dari duduknya dengan penuh semangat.


Leon berdiri lalu menggandeng tangan Shania, mereka berjalan berdampingan tanpa menghiraukan orang-orang yang berkunjung ke sana terus melihat ke arah mereka.


"Kamu capek nggak?" tanya Leon.


"Nggak kok," sahut Shania.


"Kalau capek bilang saja ya, nanti aku akan menggendong kamu."


"Tidak, terimakasih suamiku tercinta. Aku masih kuat berjalan."


Mereka terus berhak hingga akhirnya mereka tiba di dekat mobil mereka.


Leon membukakan pintu mobilnya untuk Shania lalu ia juga masuk ke dalam mobilnya setelah Shania masuk ke dalam mobilnya terlebih dahulu!


"Berangkat," ucap Leon.


Leon mengemudikan mobilnya perlahan dengan menggunakan kecepatan rendah.


...****************...


"Kay, jangan sibuk terus. Pernikahan kamu tinggal beberapa hari lagi, kamu harus istirahat agar nanti dihari pernikahan kamu, kamu tidak jatuh sakit," ucap Arkhana.


"Iya, Ma lagi pula tadi aku hanya pergi sebentar," sahut Kayla.


"Astaga, Ma, aku bukan anak kecil lagi loh yang masih harus diurus oleh Mamanya," ucap Kayla kesal.


"Kali ini kamu harus nurut sama Mama ya."


"Memangnya, biasanya aku suka membantah perkataan, Mama ya?"


Arkhana tersenyum tipis ke arah putri satu-satunya itu.


"Tidak sayang. Istirahat sana! Kamu pasti capek."


Kayla tak berucap lagi, saat itu hari memang mulai berganti petang dirinya pergi saat jam sembilan pagi itu berarti dia pergi selama seharian penuh.


Kayla berjalan menuju kamarnya!


Arkhana menatap Kayla yang berjalan meninggalkan dirinya di tempat itu.


...****************...


Di kediaman Biani dan keluarganya.


Jenny dan Biani sedang menonton televisi bersama.


Biasanya di jam segitu, Biani baru pulang bekerja, karena hari itu dia tidak bekerja dia jadi ada waktu untuk menemani, Mamanya menonton televisi.


"Bi, Mama mau tanya, bolehkan?" ucap Jenny.


"Boleh, tanya saja Mam," sahut Biani.

__ADS_1


"Kenapa hari ini kamu pulang cepat? Biasanya kan kamu pulang sore."


"Iya, Ma tadi ada masalah di kafe tempat aku kerja."


"Masalah apa?"


"Tadi aku dipecat sama bos besar."


"Apa! Dipecat? Berarti sekarang kamu udah gak kerja lagi?"


"Ya kerja lah, Ma kalau gak kerja nanti kita makan dari mana?"


"Katanya kamu sudah dipecat?"


"Itu tadi, sekarang udah enggak lagi."


"Loh kenapa bisa begitu?"


"Mam ternyata kafe tempat aku kerja itu milik Rio dan yang pernah datang ke sini itu adalah adiknya Rio."


"Kafe itu milik Rio dan Galang adalah adiknya Rio? Maksudnya mereka adalah kakak beradik gitu?"


"Iya, Ma. Aku baru tahu tadi kalau ternyata kafe itu milik Rio dan Rio juga baru tahu tadi kalau aku ini kerja di kafe nya makanya tadi aku dipecat sama dia."


"Tapi kenapa kamu gak jadi dipecat?"


"Karena aku gak mau dipecat."


"Bi, kalau memang benar Galang adalah adiknya Rio, kenapa dia menyukai kamu?"


"Galang gak tahu bahwa aku adalah pacarnya Rio, Ma. Setelah dia tahu bahwa aku ini pacarnya Rio, dia gak ganggu aku lagi, Ma."


"Harusnya dari awal kamu bilang sama Galang kalau kamu adalah pacarnya Rio agar tidak menimbulkan masalah."


"Aku gak tahu kalau Galang itu adiknya Rio, aku tahu dia adiknya Rio setelah aku dikenalkan kepada keluarga Rio. Aku baru tahu saat itu Mam. Aku dan Galang sama-sama terkejut saat kami bertemu di rumah milik orang tuanya Rio."


...****************...


Galang sudah berada di rumahnya sejak beberapa jam yang lalu dia gelisah karena tadi kakaknya marah-marah padanya. Dia takut Rio akan memarahinya lagi kalau tahu ternyata Biani lah gadis yang dia sukai.


Galang berdiri di balkon kamarnya sembari menatap langit yang terlihat cerah di malam itu.


"Aku harus melupakan Biani," gumam Galang.


"Tapi gimana caranya? Aku sudah terlanjur sayang sama dia meski selama ini dia tidak pernah menanggapi aku."


Galang memegang pagar tralis yang menjadi pelindung balkon kamarnya dengan sangat erat. Entah kenapa dia merasa tidak rela melihat Biani bersama kakaknya tadi siang, dia terbakar oleh api cinta yang ia miliki.


"Galang, jangan gila kamu, Biani itu milik kakakmu jangan berpikir bahwa kamu akan merebutnya dari orang yang selalu ada buat kamu kapan pun, dimana pun dan dalam setiap keadaan seperti apapun," ucap Galang didalam hatinya.


Tok!


Tok!


Tok!


Galang mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya dari luar.


Galang berbalik badan lalu berjalan untuk membuka pintu kamarnya! Dia ingin tahu siapa yang ingin menemui dirinya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2