Tiba-tiba Menikah

Tiba-tiba Menikah
Tiba-tiba Menikah 2 Bab 8


__ADS_3

Leon berjalan memasuki rumahnya dengan langkah cepat!


"Leon!" ucap Liana.


Leon menghentikan langkahnya!


"Dia cantik," ucap Leon yang seakan tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Mamanya.


"Bagaimana pertemuannya?" tanya Liana.


"Biasa saja, tidak ada yang istimewa," ucap Leon datar.


Leon mulai melangkah lagi meneruskan langkahnya menuju kamarnya!


Liana menatap punggung putranya sampai tak terlihat lagi.


"Kasihan anak itu," ucap Liana didalam hatinya.


Di kamar Leon.


Leon melampiaskan emosinya dengan melemparkan barang yang ada di dalam kamarnya!


Leon terus melempar barang-barang yang masih tersisa di meja.


Mendengar suara kegaduhan dari dalam kamar Leon, Rania merasa penasaran dengan apa yang sedang Kakaknya lakukan.


Tok!


Tok!


Yok!


"Kak!" ucap Rania.


Leon tak merespon.


"Kakak!" Rania mengeraskan suaranya.


Karena Rania terus menggedor pintu kamarnya, akhirnya Leon membuka pintu itu!


"Apa!" ucap Leon.


"Kakak," ucap Rania.


Rania menatap Leon yang terlihat berantakan.


"Aku mau masuk!" Rania masuk ke kamar Leon.


"Kakak, kenapa begini?" tanya Rania sembari mengedarkan pandangannya ke semua sudut ruangan.


"Ada apa kamu kesini?" tanya Leon.


"Aku mendengar suara berisik dari sini, aku penasaran dan aku juga takut Kakak ku yang hanya satu-satunya ini kenapa-kenapa," ucap Rania.


"Kakak baik-baik saja. Kakak hanya mengeluarkan amarah yang tertahan sejak beberapa hari lalu," jelas Leon.


Leon dan Rania memang tak pernah menyimpan rahasia keduanya selalu bercerita setiap ada masalah. Baik Leon maupun Rania selalu bertukar pikiran untuk menyelesaikan sebuah masalah.


"Tadi Kakak habis bertemu dengan Kak Shania?" tanya Rania.


"Iya."

__ADS_1


Rania menarik tangan Leon membawanya duduk di bibir ranjang!


"Apa dia begitu buruk? sehingga Kakak sampai semarah ini," ucap Rania.


"Tidak. Hanya saja Kakak ... ." Leon menggantung ucapannya.


"Aku tahu. Tapi apa salahnya mencoba mengenal dia lebih dekat lagi," ucap Rania.


"Tapi Biani? Kakak masih mencintai Biani dan akan selalu mencintai dia," jelas Leon.


"Kak, hubungan tanpa restu orang tua tidak akan baik nantinya," jelas Rania.


Rania yang berusia tujuh belas tahun mulai menampakan sisi dewasanya.


"Jangan bercanda," ucap Leon.


"Aku serius Kak."


"Anak kecil jangan mikirin kehidupan orang dewasa," ucap Leon.


"Aku udah dewasa, Kak. Boleh aku pacaran?" ucap Rania dengan tawa kecil.


"Anak kecil mau pacaran? Siapa yang mau?" ucap Leon.


Leon dan Rania tertawa renyah. Rania selalu bisa membuat Kakaknya melupakan masalah meski hanya sesaat.


"Siapa yang mau beresin, ini semua?" ucap Rania yang melihat kamar Leon bak pesawat jatuh.


Leon menatap Rania dengan senyum misterius di bibirnya.


"Pasti aku yang jadi korban." Rania mengerucutkan bibirnya beberapa centi.


...****************...


Dimalam itu Jacky sedang berkumpul bersama teman-temannya. Mereka duduk didepan pertokoan yang sudah tutup.


"Jack, gimana Biani?" tanya Hans.


"Dia masih sedih."


"Katanya orang tua Leon yang tidak setuju, bagaimana dengan Leon? Apa dia meninggalkan Biani demi menuruti orang tuanya?" tanya Dion.


"Saat ini, Leon masih berhubungan dengan Biani. Gue udah berniat menghancurkan keluarganya Leon tapi gue bingung harus bagaimana karena sampai saat ini yang gue tahu Leon masih mencintai Biani," jelas Jacky.


"Lo tahu gak apa alasan orang tuanya Leon membatalkan rencana pertunangan mereka?" tanya Hans.


"Tidak. Mereka tidak memberi satu alasan pun," sahut Jacky.


"Aneh juga. Awalnya mereka sayang sama Biani tapi tiba-tiba berubah menjadi benci," ucap Dion.


...****************...


"Gak bisa ngebayangin kalau aku udah jadi istrinya di kulkas itu. Bisa-bisa aku kedinginan tiap hari atau mungkin aku bisa darah tinggi karena dia selalu ngeselin," ucap Shania yang sedang berbaring ditempat tidurnya.


Shania mengingat saat pertama kali ia melihat Leon. Sebuah senyuman terukir fi bibirnya.


"Si kulkas itu ganteng juga, lumayan lah buat pamer ke teman-temanku, apalagi dia itu seorang CEO pasti sukses bikin mereka iri," gumam Shania.


Shania beranjak lalu berjalan kemeja rias!


Shania menatap wajahnya yang putih, bersih dan mulus.

__ADS_1


"Aku cantik," ucapnya.


"Jadi penasaran secantik apa pacarnya si kulkas itu." Shania terus berbicara sendiri.


Karena Shania tidak punya adik ataupun Kakak, Shania menjadi memiliki kebiasaan bicara pada diri sendiri.


Drrt!


Drrt!


Drrt!


Handphone Shania bergetar tanda ada pesan masuk.


Shania meraih ponselnya lalu membaca pesan tersebut.


"Nomor baru?" gumam Shania.


Shania membuka pesan itu lalu membacanya.


📩 "Jika orang tuamu bertanya, jangan katakan kalau kita bertemu hanya sebentar."


📩 "Katakan saja kita menghabiskan waktu bersama tadi siang."


📩 "Aku Leon."


Shania melemparkan ponselnya ke tempat tidur.


"Belum jadi suami, udah ngatur-ngatur," gumam Shania.


"Siapa yang ngatur-ngatur?" tanya Alisa yang sedang berdiri diambang pintu.


Shania menatap mamanya dengan tatapan aneh.


"Jangan-jangan, Mama dengar semua ucapanku tadi," ucap Shania didalam hatinya.


Shania mengulas senyum di bibirnya.


"Dari kapan, Mama disitu?" tanya Shania.


"Sejak beberapa menit lalu," sahut Alisa.


Shania terdiam.


"Ayo turun, Papa sudah menunggu untuk makan malam," jelas Alisa.


"Baik, Ma," ucap Shania.


Alisa dan Shania berjalan beriringan menuju ruang makan!


"Udah telat lima menit ni," ucap Satya.


"Sepertinya putri kita suka sama Leon, Pa," ucap Alisa.


"Benarkah? Bagus dong," ucap Satya.


Shania hanya tersenyum tipis.


"Suka dari mana? Orang nyebelin gitu gimana aku bisa suka," ucap Shania didalam hatinya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2