
"Leon, aku mau bertemu dengan teman-temanku dan kemungkinan aku pulang larut malam. Apa boleh aku pergi?" tanya Shania kepada Leon.
Leon yang awalnya tidak menghiraukan Shania, menghentikan gerakan tangannya yang sedang bermain ponsel.
"Tidak baik perempuan keluyuran malam-malam," ucap Leon sembari menatap Shania.
Shania duduk di kursi yang ada di depan Leon!
"Satu kali ini saja, aku mohon."
Meski pernikahan mereka tidak seperti pernikahan pada umumnya, Shania tetap membutuhkan izin dari Leon saat ia akan melakukan apapun dan pergi kemanapun.
Leon menatap jam yang menempel di didinding!
"Kamu yakin mau pergi sendiri?" tanya Leon, "sekarang sudah hampir jam sembilan malam," sambung Leon.
Shania terdiam, saat itu memang sudah malam tapi ia harus pergi untuk menemui seseorang.
"Kalau kamu tidak mengizinkan, aku tidak akan melawan."
Shania beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju kamarnya!
"Shania, kamu boleh pergi."
Shania menghentikan langkahnya lalu kembali menghampiri Leon dengan raut wajah bahagia!
"Benarkah? Terimakasih Leon!"
Shania memeluk Leon karena terlalu bahagia.
Beberapa detik kemudian Shania melepaskan pelukannya, ia tersadar kalau ia baru saja melakukan kesalahan.
"Maaf," ucap Shania.
Shania tidak berani menatap wajah Leon karena terlalu malu atas perbuatan yang ia lakukan. Ia berjalan memasuki kamarnya tanpa menampakkan wajahnya kepada Leon.
Setelah beberapa menit bersiap-siap, Shania keluar dari kamarnya dengan sudah berganti pakaian dan juga sudah memoles pipinya dengan bedak tak lupa tas kecil ia pakai untuk menyempurnakan penampilannya.
"Leon, aku pergi ya."
"Mau aku antar?"
"Tidak, terimakasih."
Shania segera keluar dari rumahnya setelah meminta izin kepada Leon.
Leon menatap kepergian Shania.
"Aku tidak pernah menganggap kamu sebagai istriku, Shania tapi kenapa kamu bersikap seolah aku ini suami yang harus kamu patuhi," ucap Leon didalam hatinya.
Setelah Shania sudah tak terlihat lagi, Leon kembali fokus pada ponselnya.
...****************...
Di kediaman Kayla.
"Kay, ternyata kamu masih di rumah," ucap Arkhana kepada Kayla.
"Ini baru mau jalan, Mam."
"Kay, baiknya kamu berhenti saja dari pekerjaan ini, Papa gak tenang setiap kamu melakukan misi," ucap Sam.
"Pa, aku suka melakukan pekerjaan ini. Aku mohon jangan minta aku berhenti dari hobi aku."
"Kamu tuh anak gadis sukanya menantang bahaya terus," ucap Sam.
"sudahlah Pa, Kayla bisa menjaga dirinya kok," ucap Arkhana.
"Papa tahu, tapi kita gak tahu kan apa yang akan terjadi kepada Kayla."
__ADS_1
"Kay, gak sendiri kok Pa. Kan ada teman-teman Kayla yang selalu siap siaga membantu Kay kalau Kay ada kesulitan," ucap Kayla.
"O, ya Kay. Tentang anaknya tante Shila, kamu mau kan bertemu dengannya?"
Shila menatap Mamanya lalu beralih menatap Papanya.
"Perjodohan lagi?"
"Bukan, sayang. Kamu kenalan saja dulu, kalau cocok lanjutkan kalau nggak ya udah tinggal cari laki-laki lain," ucap Arkhana.
"Itu sama saja dengan perjodohan hanya saja Mama sama Papa memberikan hak untuk aku menolak."
"Tidak dong, kalau perjodohan, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka kamu harus menerimanya," ucap Sam.
"Kayla, kamu sudah dewasa, Nak. Kamu sudah waktunya menikah," sambung Arkhana.
"Usiaku baru 25 tahun, Ma," ucap Kayla.
Kayla meraih kunci motornya dari atas meja!
"Aku pergi dulu, nanti akan aku pikirkan tentang kemauan Mama sama Papa."
Setelah mencium punggung tangan Mama dan Papanya, Kayla langsung pergi karena tak ingin mendengar perkataan kedua orang tuanya yang selalu memintanya untuk segera menikah.
...****************...
Setelah berkendara selama lima belas menit, Shania menghentikan laju kendaraannya di sebuah tempat yang sepi dan lumayan gelap.
Shania tengah berjalan ditengah gelapnya malam, dia sengaja pergi ke tempat itu untuk mencari seseorang.
Shania mengedarkan pandangannya ke semua arah, namun ia tidak menemukan sosok orang yang ia cari.
"Aku tahu kamu pasti ada di sekitar sini," gumam Shania.
Shania duduk di atas batu besar yang ada di tempat itu.
Shania terperanjat mendengar suara yang tiba-tiba terdengar olehnya.
Shania menoleh ke belakang lalu segera berdiri!
"Aku ingin bertemu dengan kalian."
Setelah Shania melihat wajah orang itu, dia langsung mengenali orang tersebut.
"Untuk apa?"
"Berterimakasih."
Tak lama seseorang berjalan menghampiri Shania dan laki-laki itu!
Tanpa rasa takut, Shania menatap orang yang tengah berjalan menghampiri dirinya.
"Kamu? Sedang apa kamu di sini?" ucap Kayla setelah berada di depan Shania dan rekannya.
"Kamu sulit dijumpai pada siang hari, akhirnya aku mencari dirimu dimalam hari," ucap Shania.
"Ada keperluan apa sehingga kamu begitu berani keluar dimalam hari hanya untuk mencari aku?" tanya Kayla.
"Aku ingin berterimakasih dan juga ingin minta tolong lagi sama kamu."
"Terimakasih untuk apa dan butuh bantuan apa?"
"Untuk pertolongan yang sudah kamu lakukan. Aku kamu menyelidiki siapa orang yang ada dibalik terjadinya kecelakaan yang menimpa aku dan suamiku."
"Itu tugas polisi, bukan tugas aku dan rekanku."
"Aku tahu siapa kalian. Kayla, tolong bantu aku."
"Siapa? Kami hanya sekelompok orang yang tidak punya kesibukan dan akhirnya menghabiskan waktu untuk berpatroli dimalam hari."
__ADS_1
Shania tersenyum mendengar pernyataan Kayla yang terdengar sangat tidak masuk akal.
"Kami hanyalah petugas keamanan di daerah sini," ucap rekannya Kayla.
"Benarkah? Lalu bagaimana kalian bisa melakukan hal yang seharusnya tidak kalian lakukan. Aku tahu kalau kalian hanya aktif dimalam hari."
"Shania sudahlah, kami bukan siapa-siapa dan tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu dirimu. Sekarang kamu pulang karena ini sudah larut malam," ucap Kayla.
"Kayla tolong, aku ingin tahu siapa orang yang sengaja membuat kami terluka."
"Polisi sedang menyelidiki kasus ini. Percayalah sebentar lagi polisi akan menemukan pelakunya."
Shania tidak bisa memaksa Kayla untuk membantunya meski ia tahu kalau sebenarnya Kayla bukanlah orang sembarangan.
Shania pergi dari tempat itu meninggalkan Kayla dan rekannya.
"Kenapa perempuan itu bisa bertemu denganmu?" tanya Kayla setelah Shania pergi.
"Tadi dia terlihat seperti orang kebingungan, aku menghampirinya dengan niat ingin membantunya. Aku pikir dia tersesat." ucap rekannya Kayla.
"Kita tidak bisa membiarkan wanita itu terus mengganggu kita. Secepatnya kita harus selesaikan misi kita ini."
"Akan diusahakan."
...****************...
Elvan berbaring di tempat tidurnya dengan posisi terlentang, matanya menatap langit-langit kamarnya.
Elvan sempat tertidur, namun ia terbangun setelah bermimpi kurang menyenangkan dalam tidurnya.
"Ini gara-gara Mama sama Papa yang terus minta menantu, aku jadi mimpi buruk kan," gumam Elvan.
Sebuah senyuman tipis terukir di bibir Elvan saat mengingat wajah Kayla.
"Kayla, sedang apa ya dia sekarang?" tanya Elvan pada dirinya sendiri.
Elvan meraih ponselnya dari atas meja! Dia ingin menelpon Kayla.
Elvan mengurungkan niatnya untuk menelpon Kayla setelah melihat jam di layar ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 00:15 waktu setempat.
"Udah malam banget, untung aku belum menelpon Kayla," gumam Elvan lagi.
Elvan kembali meletakkan ponselnya di atas meja!
"Kayla udah punya pacar belum ya?"
Elvan terus berbicara pada dirinya sendiri.
...****************...
Shania baru tiba di rumahnya, dia masuk kedalam rumahnya dengan perlahan karena takut akan membangunkan Leon yang sudah tidur.
Tiba-tiba lampu utama menyala, Shania menatap Leon yang sedang berdiri di dekat dinding yang terdapat saklar lampu utama.
"Leon, kamu belum tidur?" ucap Shania.
"Aku menunggumu," sahut Leon.
"Maaf karena sudah membuatmu menunggu."
"Masuklah ke kamarmu lalu istirahat, sekarang sudah malam."
Shania tidak berubah lagi, ia menuruti perkataan suaminya.
Leon kembali mematikan lampu utama lalu ia juga masuk kedalam kamarnya.
Shania dan Leon tidak tidur dalam satu kamar, karena menikah tanpa cinta mereka memutuskan untuk tidur dalam kamar yang berbeda.
Bersambung
__ADS_1