
Satu minggu berlalu sejak Ken menolong wanita itu.
Selama itu, Ken terus bolak-balik ditempat terjadinya kejadian satu minggu lalu. Dalam hati, Ken berharap dipertemukan kembali dengan gadis yang
pernah ia tolong.
Ken sudah pernah ke kontrakan tempat gadis itu tinggal, namun semuanya sia-sia karena gadis itu sudah pindah dari kontrakan itu.
Tidak ada lagi yang bisa Ken lakukan selain menunggu takdir yang mempertemukan mereka kembali, karena tidak mungkin ia menanyakannya pada orang-orang tentang gadis itu, sedangkan namanya saja ia tidak tahu.
Siang ini dikediaman Herdiawan sudah tidak ada lagi orang-orang-orang suruhan Ridwan. Mereka sudah pergi karena Liana tak kunjung kembali ke rumah orang tuanya itu.
Dikediaman Ridwan, Beberapa orang sedang duduk diruangan pribadi Ridwan, mereka tengah membicarakan bagaimana caranya untuk membawa Liana ke rumah Ridwan.
"Kalau Liana tidak kunjung pulang, kalian cari dia dimanapun saya tidak mau tahu saya ingin cucu saya secepatnya kalian bawa kesini!" tegas Ridwan kepada beberapa orang bayaran itu.
"Baik, Tuan. Akan kami usahakan," saut salah satu diantara orang-orang itu.
Orang-orang itu segera pergi dari ruangan itu, meninggalkan dua orang didalamnya.
"Satu minggu lagi teman saya akan datang dengan cucu laki-lakinya. Saya harap Liana ada disini, agar pernikahan mereka bisa langsung dipastikan. Kalau Liana tidak ada disini perusahaan yang kita kelola sejak lama akan terancam," jelas Ridwan kepada orang kepercayaannya.
"Apa tidak ada jalan lain?" tanya orang kepercayaan Ridwan.
Ridwan menggelengkan kepalanya, "Tidak ada. Sebenarnya saya juga kasihan terhadap Liana, karena cucu dari rekan bisnis kita itu katanya cacat," jelasnya.
"Apa sebaiknya dibatalkan saja perjodohan ini. Lagi pula saya dengar nona Liana sudah menikah," ucap orang kedua di perusahaan Ridwan itu.
"Saya juga menginginkan seperti itu, tapi kalau kita membatalkan perjodohan ini, mereka akan mencabut kontrak dengan perusahaan kita dan kita harus mengganti rugi dengan jumlah besar," saut Ridwan.
"Anda istirahatlah. Saya akan memikirkan bagaimana cara membatalkan perjodohan ini tanpa menyinggung perasaan mereka."
Orang kedua di perusahaan Ridwan itu pergi meninggalkan Ridwan di ruangannya.
Dikediaman Rendy.
Elma sedang duduk di ruang keluarga menunggu anak dan menantunya pulang dari kantor, sayangnya waktu masih menunjukkan pukul 11:30 wib. waktu yang lama jika ia harus menunggu mereka di rumah.
Akhirnya Elma memilih pergi untuk menemui mereka di kantor.
Sementara di kantor, seperti biasa Liana hanya duduk manis disofa yang ada diruangan suaminya sedangkan Rendy duduk di kursi kebesarannya sembari mengerjakan tugasnya.
"Li, mau makan siang dimana?" tanya Rendy tanpa menatap sang istri, pandangannya terus tertuju pada berkas yang sedang ia tandatangani.
"Dimana aja."
Liana melangkahkan kakinya menuju meja kerja suaminya lalu duduk dikursi yang ada didepan meja itu.
__ADS_1
Kini Rendy dan Liana duduk dengan posisi berhadapan.
"Belum selesai kah pekerjaanmu?" tanya Liana sembari mengetuk-ngetuk meja dengan bolpoin.
"Sebentar lagi," saut Rendy dengan tangan yang terus sibuk dengan berkas-berkas itu.
"Li ...," Rendy menggantung ucapannya.
"Apa," saut Liana singkat.
"Aku mau bertanya hal serius sama kamu," ucap Rendy sembari menatap netra Liana.
"Tanya apa? katakan saja," ucap Liana penuh penasaran.
Rendy terdiam sesaat, "Tapi kamu jangan marah ya."
Tok! tok! tok!
Seseorang mengetuk pintu dari luar, membuat Rendy mengurungkan niatnya untuk bertanya tentang siapa Liana sebenarnya.
Tak lama pintu terbuka nampak sosok Elma sedang berdiri didepan pintu yang baru terbuka itu.
Liana melempar senyum kepada ibu mertuanya itu lalu menjemput sang mertua kedepan pintu dan mengajaknya duduk disofa.
"Mam, baru kita berdua mau keluar untuk makan siang," ucap Rendy kepada mamanya.
"Kalau gitu makan siang bareng aja sekalian ajak Ken juga," ucap Liana memberi saran.
"Yaudah, kita berangkat sekarang." Rendy menyambar kinci mobil yang terletak diatas mejanya.
Mereka bertiga berjalan beriringan.
"Mam, aku ajak Ken dulu," ucap Rendy.
Elma dan Liana berjalan lebih dulu menuju tempat dimana mobil Rendy terparkir. Sedangkan Rendy berjalan menuju ruangan Kendra! namun setelah tiba diruangan tersebut, Rendy tak mendapati Ken diruangannya.
Rendy mengambil ponselnya dari saku celananya! ia mencari kontak Ken lalu segera menelponnya.
Setelah Ken menerima telponnya, Rendy segera bertanya dimana Ken berada?
"Dimana lu?" tanya Rendy lewat sambungan telepon.
Ken mengatakan kalau ia sedang dijalan untuk makan siang.
"Lu, share lock dimana restauran tempat lu mau makan. Kita makan siang bareng, ada Mama juga," ucap Rendy.
"iya," saut Ken lalu memutuskan sambungan teleponnya.
__ADS_1
Rendy berjalan menyusul istri dan Mamanya!
Setelah tiba dimobil miliknya Rendy menyuruh agar istri dan Mamanya masuk kedalam mobil karena mereka akan menyusul Ken ke restauran tempat Ken akan makan siang.
Kini Ken sudah tiba di restauran tempat ia akan makan siang bareng keluarganya Ken segera mengirim alamat restauran tersebut kepada Rendy, karena ia terlalu fokus dengan ponselnya secara tidak sengaja Ken menabrak seorang wanita yang sedang berjalan didepannya hingga wanita itu terjatuh.
"Aduh! mas kalau jalan hati-hati dong," ucap wanita itu sembari mengusap lututnya yang terasa sakit.
"Maaf-maaf, Mbak. Saya gak sengaja," ucap Ken, "mari saya bantu untuk berdiri!" sambungnya sembari meraih bahu wanita itu.
Wanita itu menggeliat menghindari tangan Ken yang hendak meraih bahunya! "gak usah. Saya bisa bangun sendiri," ucap wanita itu sembari mendongakkan kepalanya melihat siapa yang sudah menabraknya sampai ia terjatuh.
"Kamu!" ucap keduanya secara berbarengan.
wanita itu terlihat kesusahan untuk berdiri lututnya terasa sakit karena terbentur cukup keras tadi.
"Maaf ya," ucap Ken setelah wanita itu berdiri dengan bantuannya.
"Gapapa. Terimakasih," ucap wanita itu.
"Terimakasih untuk apa? saya tidak melakukan apa-apa, malah saya membuatmu kesakitan seperti ini," ucap Ken.
"Kamu udah nolongin saya, malam itu," ucap wanita itu.
"Tak apa. Mau makan?" tanya Ken.
Wanita itu tersenyum lalu mengulurkan tangannya! "Alisa," ucapnya menyebut namanya.
Ken membalas senyuman wanita itu lalu menjabat tangannya, "Kendra. Panggil saja Ken," ucap Ken lalu mempersilahkan Alisa duduk dikursi yang ada disampingnya.
Alisa dan Ken duduk berhadapan, belum ada percakapan diantara keduanya tak lama Rendy dan keluarga sudah tiba di tempat itu.
"Ken, inikah calon menantu Mama?" ucap Elma sembari memegang bahu Alisa.
Ken terlihat salah tingkah, ia tak menyangka Mamanya akan bertanya seperti itu.
"B_bukan Ma. Dia ... dia itu ... ."Ken tidak tahu harus berkata apa, jika ia mengatakan kalau Alisa bukan siapa-siapanya ia takut Mamanya akan kecewa dan jika ia mengaku kalau Alisa adalah pacarnya ia takut Alisa akan marah padanya.
"Aku perlu bicara dengan Alisa, sebentar," ucap Ken lalu menarik tangan Alisa menjauh dari mereka!
Bersambung
Rekomendasi novel yang sangat bagus karya teman ku, ceritanya pasti seru.
Karena penghianatan pacar dan sahabatnya, Zianna memutuskan untuk pindah sekolah. Namun siapa sangka kepindahannya ke SMA Galaxi malah mempertemukan dirinya dengan seorang cowok bernama Heaven. Hingga suatu ketika keadaan tiba-tiba tidak berpihak padanya. Cowok dingin itu menyatakan perasaannya padanya dengan cara sangat memaksa. "Apa gak ada pilihan lain selain jadi pacar lo?" tanya Zia mencoba bernegosiasi. "Ada, gue kasih tiga pilihan dan lo harus pilih salah satunya!"
"Apa aja?" tanya Zia.
__ADS_1
"Pertama, lo harus jadi pacar gue. Kedua, lo harus jadi istri gue. Ketiga, lo harus pilih keduanya!" ucap Heaven dengan penuh penekanan.